
Gerimis kecil turun malam itu. Menemani malamnya seorang wanita muda. Dari dalam kamar, ia berdiri di pintu balkon yang terbuat dari kaca, menatap ke luar balkon. Merasa waktu berjalan sangat lama. Shasha, wanita itu belum bisa tertidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Rasa-rasanya ia tak ingin tertidur dan terjaga sampai hari esok berakhir. Tak ingin terlewat sedikitpun kejadian di hari esok. Meskipun dalam hati wanita itu masih merasa ragu apakah Ayah ataupun Rayyan berhasil dalam mencari-cari bukti kelicikan klien mereka.
Tatapan wanita itu berganti, menatap ke arah dua patung manekin yang dipakaikan dua buah gaun yang sangat indah. Ia berjalan mendekat, meraba gaun itu dengan penuh kelembutan. Melihat gaun yang indah itu dan menjamin bahwa tak akan lagi ia pakai setelah hari 'itu'.
Tiba-tiba saja Shasha teringat sahabatnya, Alma. Ia mendapatkan kabar bahwa sahabatnya itu telah kembali ke Indonesia, tapi mengapa tak menemuinya? Mereka hanya bertukar kabar tanpa menceritakan hari-hari wanita itu. Shasha kembali mengingat story media sosial yang Alma buat. Memajang foto dirinya dan Alma saat mereka masih remaja. Dengan caption yang tertuliskan tentang dirinya. Tulisan story yang Alma pajang di media sosial sahabatnya itu terus terngiang di benaknya.
'Gak nyangka besok sahabat aku dari kecil bakal nikah. Karena pernikahan bukanlah sebuah permainan, jadi aku do'a kan semoga acara pernikahan kamu lancar hingga hari-H. Aamiin…' tulis sahabatnya dalam story media sosialnya. Entah apa maksud dari Alma mengatakan itu kepada khalayak umum. Shasha hanya melihat tak suka dengan topik yang Alma bicarakan di media sosialnya. Shasha merasa tersinggung dengan tulisan Alma di sana. Tak ingin menciptakan keributan, maka Shasha diam saja ketika melihat story milik Alma.
Tak ingin terlalu lama memikirkan Alma yang menurutnya ada yang sedang tak beres, akhirnya Shasha naik ke atas ranjang king size nya, dan mulai memejamkan matanya, berharap esok pagi mendapatkan apa yang ia inginkan.
__________
Suara bising terdengar, Shasha yang sedang tertidur akhirnya terbangun karena suara tersebut. Ia menguap beberapa kali karena merasa masih sangat mengantuk. Wanita itu meraba-raba ranjangnya, mencari ponsel miliknya yang semalam tidak ia isi daya.
Dengan mata yang masih sepet, Shasha menekan tombol power di ponselnya ketika sudah menemukan letak ponselnya berada. Wanita itu menyipitkan matanya, merasa cahaya ponsel menusuk penglihatan nya. Shasha menyesuaikan penglihatan nya, melihat di dalam ponselnya waktu menunjukkan pukul empat subuh. Shasha mengingat, sudah pasti karena akan ada acara di rumahnya maka dari itu suara rumah sangat bising.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja Shasha ingin menarik kembali selimutnya dan melanjutkan tidurnya, pintu kamar miliknya sudah lebih dahulu diketuk. Wanita itu menatap ke arah pintu tanpa ada niatan untuk membukanya. Tidak terlalu peduli, Shasha lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya karena ia terbangun terlalu cepat.
"Shasha… Bunda buka, ya?" Ternyata itu suara dari sang Ibu. Mencoba berusaha membangunkan dirinya.
Setelah mendengar ucapan dari Ibunya, buru-buru Shasha memejamkan matanya, belum ingin terbangun. Rasa malas itu menghampiri Shasha saat ini. Ia seperti mendapatkan panggilan dari ranjangnya untuk kembali tidur. Dan dengan mudah wanita muda itu kembali terlelap dalam tidurnya.
Ceklek!
Tanpa menunggu jawaban dari putrinya, Kania langsung membuka pintu kamar Shasha yang ternyata tidak dikunci. Ibu empat anak itu menghampiri putri sulungnya. Menaiki ranjang dan duduk di ujung ranjang Shasha. Menurunkan selimut tebal yang menutupi tubuh anaknya. Tangan nya memegang bahu Shasha, memberi sedikit guncangan agar anaknya terbangun.
"Kak… Ayo bangun!" Ajak Kania dengan guncangan yang ia berikan supaya Shasha terganggu dan terbangun dari tidurnya.
"Kakak masih ngantuk, Bun…"
"Ayo sayang, bangun nya harus pagi" suruh Kania kembali.
"Sebentar Bunda, kan belum adzan."
"Sekarang Kak, acaranya jam 10"
"Masih lama Bun"
"Shasha…" si pemilik nama langsung terbangun. Ia menyibakkan selimutnya dan langsung duduk. Wanita itu tau, jika namanya sudah dipanggil, maka tak bisa ia bantah kembali.
"Mandi dulu, ya?" Sambung Kania memerintahkan anaknya. Tanpa disuruh dua kali, Shasha langsung mengangguk, berjalan menuju kamar mandi untuk menjalankan perintah sang Ibu.
"Pake baju biasa aja dulu ya Kak!" Suruh Kania kembali. Sedikit berteriak agar Shasha yang berada di dalam kamar mandi mendengarnya.
__________
Shasha menatap pantulan dirinya di cermin. Dirinya memakai sebuah gaun berwarna rose gold yang menjuntai hingga menyeret ke permukaan lantai dengan pernak-pernik yang menambah keindahan dan keanggunan pada gaun itu. Wajahnya ditutupi dengan riasan yang biasanya selalu dikenakan saat acara pernikahan. Di atas tudung kepalanya, ia dipakaikan sebuah mahkota yang sangat indah. Berkali-kali seorang perias itu memuji kecantikan yang ada pada diri Shasha.
Pukul 09. 47 sudah, seperti yang sudah di jadwalkan, tertulis di dalam sebuah kartu undangan bahwa tepat pada pukul 10 pagi, pengucapan ijab qabul terlaksanakan. Tapi bukan itulah yang Shasha tunggu. Di jam itu, semua akan terbongkar, kejahatan yang keluarga At-Thariq lakukan pada keluarganya, berharap mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Kenapa harus make up segala sih, lagian ijab qabul nya gak bakal diucapkan." Gurutu Shasha berkali-kali. Tak suka dengan riasan tebal yang dikenakan di wajahnya.
"Gak mungkin, Sha, ijab qabul pasti bakal terdengar. Akad nikah bakal terus berlangsung." Shasha menoleh ke arah belakangnya. Alma, sahabatnya itu sedang duduk di atas single sofa yang berada di ruangan itu. Sebuah ruangan yang sangat tertutup yang berada di lantai tiga, bangunan tertinggi di rumahnya.
"Maksud kamu apaan sih, Ma?!" Shasha membentak Alma, semakin tak suka dengan Alma yang asal bicara.
"Nggak kok, gak papa."
Shasha memilih diam, tak ingin memperburuk keadaan hanya karena sebuah omongan tak jelas dari sahabatnya. Dari kemarin Alma bersikap seolah tak peduli tentang masa depan dirinya yang akan terjadi jika menikah dengan Sadam. Justru Alma terus membicarakan hal itu sampai membuat Shasha muak.
Wanita itu memutar kembali, duduk seperti semula yang menghadap ke arah cermin. Mulai jengah ketika ia tak mendengar suara bising-bising penangkapan orang-orang itu. Penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sebenarnya. Tak mungkin juga jika suasana di lantai satu terdengar hingga lantai paling atas rumahnya.
"Baik, kita mulai saja ya?" Terdengar suara seseorang berbicara dengan menggunakan microphone.
Tubuh Shasha mematung mendengarnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Pikiran nya kalut, air matanya ingin keluar begitu saja.
"Alma… Apa ini?" Tanya Shasha melirih. Tubuhnya lemas ketika ia yakin bahwa suara itu ada suara dari seorang penghulu yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Shasha sangat yakin, suara itulah yang pernah Shasha dengar ketika bertemu dengan penghulunya.
"Kan udah aku bilang, Sha… Pernikahan bukan buat dipermainkan." Reaksi yang Alma berikan mampu membuat emosi Shasha memuncak.
"ALMA, GUE GAK MAU!!!" Shasha berteriak sangat kencang. Membentak sahabatnya karena merasa telah hilang sudah stok kesabaran nya untuk Alma.
"Tunggu Shasha-" ucapan Alma menggantung di udara. Memilih mendengarkan suara seorang penghulu yang berbicara menggunakan microphone.
"Bismillahirahmanirahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Ghibran Ananta Rean bin Rangga Aditya Rean dengan Shasha Sherly Arian binti Daffa Arian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya Shasha Sherly Arian binti Daffa Arian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Shasha terdiam. Emosinya pada sang sahabat mereda begitu saja. Masih mencoba mencerna ucapan orang-orang yang berada di lantai satu.
"Ghibran?"
__________
Lanjut?? Komen yg byk ntar aku update lagi😉😁