
Tuk tuk tuk, seseorang menepuk pelan pundak cassy yang sedang tertidur di samping ranjang rumah sakit "Ariel..." Suara lembut seorang wanita yang begitu familier ditelinganya.
Tunggu...ariel?
Ia membuka matanya dan menoleh ke belakang, ia melihat Cassandra Lilian didepannya. memakai baju serba putih dengan Wajah yang pucat pasi, wajahnya tersenyum kearahnya.
Mengapa aku melihat diriku sendiri?
"Maafkan aku baru sekarang aku menemuimu"
"Apa maksudnya?" ia masih tampak kebingungan.
"Ariel, aku adalah cassy"
"Cassy, ariel?" wajah itu tersenyum mengangguk.
"Terimakasih telah menggantikan hidupku dan memberikan kebahagiaan kepada orang tuaku dan orang orang disekitarku yang tak bisa kulakukan, aku yang memiliki sifat buruk dan tak ingin lagi menjalani hidup, terimakasih kini aku lebih bahagia karena sekarang kami sudah berkumpul kembali di keabadian"
Tanpa sadar ia meneteskan air matanya setelah menyadari situasinya.
"Jangan khawatir, dia akan segera bangun, sekali lagi terimakasih banyak Ariel,bersemangatlah.. sampai jumpa" perlahan lahan tubuh itu semakin menjauh darinya dan pada akhirnya menghilang.
"Tunggu... cassyy cassyy!!!!" ia tersentak dan membuka matanya, ia menyeka air matanya yang mengalir dipipi.
Apa yang barusan itu mimpi?jika benar maka syukurlah kalian sudah bahagia disana.
Cassy menggenggam erat tangan winter yang masih tak sadarkan diri terbaring dirumah sakit, telah dua minggu berlalu sejak kejadian itu, tapi keadaan winter belum menunjukan kemajuan, setelah hari itu cassy menghentikan seluruh aktifitasnya dan hanya memfokuskan dirinya merawat winter. Ia tak ingin winter menjalani hari harinya dengan kesepian jika ia meninggalkannya meski sebentar saja.
Wajahnya kuyu dan tubuhnya semakin kurus, ia menghabiskan hari harinya dengan berdiam diri disamping kekasihnya, ia terus menggenggam tangannya dan berharap ia kembali menggerakkan jarinya yang terus ia genggam.
Tok tok, Bibi winter masuk setelah mengetuk pintu, mereka telah bertemu beberapa kali dirumah sakit, cassy merasa lega karena setidaknya ada seseorang yang tulus menyayanginya.
"Kau masih disini nak?" ucap lembut wanita itu menghampiri cassy. cassy mengangguk dan tersenyum tipis.
"Pulang dan istirahatlah, bibi akan menjaganya"
Cassy menggelengkan kepalanya dengan matanya yang berkaca kaca.
"Jangan menyiksa dirimu sendiri, kau harus menjaga kesehatanmu agar saat winter bangun nanti dia tak merasa sedih"
"Saya akan tetap menjaga kesehatan saya bibi, terimakasih karena bibi sangat perhatian padaku"
Wanita itu mengelus kepala cassy dengan wajah haru "saya yang berterimakasih karena kau selalu setia mendampingi anak yang selalu kesepian ini, dia anak yang malang ibunya meninggal saat dia masih kecil sedangkan ayahnya selalu saja memaksakan kehendaknya kepadanya tanpa memikirkan perasaan anak penurut ini, dia tak pernah mengeluh dan selalu berusaha menjadi seperti yang ayahnya inginkan, dia rela mengorbankan keinginannya sendiri, entah sejak kapan dia berubah, tapi saya senang dengan perubahannya itu, bibi berharap kedepannya kalian bisa hidup bahagia"
"Terimakasih bibi"
Wanita itu pun pergi dari ruangan rawat , cassy kembali menggenggam tangannya, menatap wajahnya yang teduh, ia mengingat momen momen pertama kali pertemuan mereka, pertemuan yang diawali dengan kecerobohannya menujuk sembarang orang untuk menjadi kekasihnya, siapa sangka ia menunjuk orang yang tepat meskipun hubungan itu beberapa kali diawali dan diakhiri beberapa kali dan terus kembali ketitik awal, ia teringat hingga hal hal kecil yang mereka lakukan bersama, ia tak pernah melupakan sedikitpun perjuangan pria itu meluluhkan hatinya yang telah membantu.
Perlahan mata cassy terpejam disamping winter..
Keesokan harinya, cassy terbangun karena merasakan tangan yang ada digenggamnya itu mulai bergerak pelan, cassy segera keluar mencari dokter, setelah dokter datang ia menunggu diluar, ia benar benar berharap winter segera bangun dan menatapnya kembali dengan senyuman.
Dokter keluar dan mengatakan padanya bahwa winter telah sadar dan kondisinya berangsur membaik, cassy tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk, ia sungguh bahagia karena sekarang pria itu telah membuka matanya.
Cassy duduk disampingnya "kau sudah merasa baikkan?"
Winter menoleh kearahnya dan mengangguk pelan "kau baik baik saja?" cassy pun mengangguk, ia menggenggam tangan winter.
Cassy mulai menangis "kau sangat jahat, teganya kau tidur sangat lama hiks"
"Berapa lama aku tertidur?"
"Dua minggu"
"Apaa?? pasti kau sangat kawatir, jangan menangis lagi, aku minta maaf" tangannya menyeka air mata cassy.
"Tentu,apa kau tahu? aku bermimpi.. mimpi yang sangat panjang..."
"Apa ada aku dimimpimu?" winter tersenyum mengangguk.
"Pria itu apa yang terjadi dengannya?"
"Dipenjara"
"Baguslah, sebenarnya kenapa dia menyerangmu?"
"Dia penguntit yang telah lama menguntitku, kau ingat buket bunga itu kan? setiap hari aku mendapatkan kiriman bunga yang sesuai dengan warna bajuku, meskipun sempat berhenti tapi aku tak mengira dia akan melakukan itu"
"Pria mesum sialan" gumamnya pelan, kemudian winter tampak terdiam dan berfikir.
"Penguntit itu sudah lama melakukan itu tapi kau tak pernah mengatakan padaku sedikitpun, bagaimana jika sampai dia melakukan yang lebih parah dari itu?" wajah winter seketika terlihat sangat marah.
"Ahh.. kenapa kau terlihat sangat marah? aku baik baik saja"
"Apa aku terlihat sangat payah sampai kau tak bisa bersandar padaku sedikit saja?"
"Apa maksudmu, aku tak mungkin berfikir seperti itu"
"Aku sangat kecewa padamu" winter mengalihkan pandangannya membelakangi cassy, dia benar benar marah.
"Baiklah, aku minta maaf"
"Pergilah, sepertinya kita membutuhkan waktu untuk berfikir haruskah kita melanjutkan hubungan ini atau tidak"
"Apa maksudmu? jangan seperti ini"
Ia bangun dan terduduk "Kalau kau tak mau pergi aku yang akan pergi!" ucapnya sembari memegang selang infus yang menempel di lengannya.
"Tunggu tunggu, jangan dilepas, aku aku akan pergi sekarang juga" cassy pun terburu buru pergi meninggalkan ruangan.
Cassy mengusap usap rambutnya "ahhhh.. mengapa dia sangat marah karena hal yang sudah berlalu" gumamnyaa frustasi.
Keesokan harinya, cassy datang kembali membawakan sekotak bubur, ia masuk dan meletakkannya perlahan dimeja. tiba tiba winter membuka matanya "Jangan datang lagi, pergilah" suara yang tenang namun tegas.
"Maaf" ucapnya lirih.
Saat cassy hendak keluar ia berpapasan dengan bibi winter, "hai, kau sudah mau pulang nak?" cassy hanya menggangguk dengan murung dan pergi dari sana.
Bibi winter tampak bingung dengan situasi yang tak nyaman itu, ia menghampiri winter "bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik bibi"
"Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, aku hanya menyuruhnya pergi dan jangan kembali"
Bibi tersentak "apa yang terjadi?"
"Aku tak ingin membicarakannya"
"Jangan seperti itu, redakanlah amarahmu, apa kau tahu bagaimana cassy menjagamu selama ini? dia tidak pulang dan terlihat sangat lelah tapi dia tetap berada disampingmu,jangan membuat masalah dan lekas berbaikan!" bibi meletakkan keranjang buah di meja samping ranjang.
"Kenapa bibi terus membelanya?"
"Itu karena dia pantas dibela"
Winter terdiam dan berfikir.....
Bersambung..............................