SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 44



Shasha berjalan perlahan. Antara tak percaya dengan gugup menjadi satu. Kedua tangan nya dituntun oleh Alma dan Rena, berjalan mendekati Ghibran yang sedang memberikan senyuman pada Shasha. Hingga sampailah mereka tepat di hadapan Ghibran. Alma dan Rena langsung mundur, mencari bangku kosong untuk menonton acara selanjutnya yang sedang terjadi di depan mata.


Nadia berjalan mendekati anak semata wayangnya dan Shasha yang kini telah menjadi menantunya. Membawakan sebuah kotak berwarna merah cerah yang berisikan dua buah cincin. Nadia menyodorkan kotak itu pada anaknya, meminta agar jari manis Shasha segera dipakaikan sebuah cincin yang melambangkan dirinya sudah menikah.


Ghibran meraih cincin yang berukuran lebih kecil, memasukkan cincin tersebut ke dalam jari manis Shasha. Sekarang giliran Shasha lah yang harus memakaikan hal yang sama kepada Ghibran. Sepertinya otak Shasha ngelag saat ini. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Sha…" teguran halus dari sang Ibu kembali menyadarkan Shasha.


Wanita itu berkedip dua kali. Mengambil sebuah cincin yang berada di dalam kotak dan memakaikan nya pada Shasha. Belum masuk dengan sempurnya, kedua tangan Shasha sudah mulai tremor. Gemetar antara takut dan tak percaya. Bahkan Ghibran sampai dibuat tersenyum melihat tingkah Shasha yang lucu.


Tanpa disuruh, Shasha meraih tangan kanan Ghibran, mencium punggung tangan pria yang sudah berstatus suaminya itu. Tak terasa air mata Shasha mengalir secara perlahan. Kali ini air mata kebahagiaan lah yang yang ke luar dari pelupuk matanya. Setelah hampir tiga bulan dirinya selalu menangis menyalahkan takdir, kini ia dibuktikan dengan berjalan nya sebuah pernikahan yang sangat ia impikan. Masih mencium punggung tangan Ghibran, wanita itu menangis haru. Banyak sanak keluarga ikut meneteskan air mata bahagia seperti Shasha.


Tak lama Shasha melepaskan tangan Ghibran. Kedua pipi Shasha dipegang oleh kedua tangan Ghibran. Pria itu mendekat ke arahnya, mencium kening Shasha. Wanita itu tersenyum dengan mata yang terpejam, air matanya masih mengalir dan pipinya merah merona saat ini. Sama seperti Shasha, Ghibran pun mengeluarkan air mata bahagianya. Berhasil mendapatkan orang yang ia cintai. Bersyukur karena telah berhasil mendapatkan seorang wanita yang ia cintai. Ia pun beruntung karena dirinya tak terlambat. Jika ia terlambat, entah apa yang akan terjadi, pria itu tak dapat membayangkan nya jika hal itu terjadi.


__________


Flashback


Ghibran berjalan memasuki sebuah butik bersama dengan Sadam. Sebuah bangunan dengan interior dibuat semenarik mungkin. Dengan cat dinding berwarna putih dan dipadukan dengan abu-abu muda. Terdapat pajangan dinding yang menggantung indah. Sebuah bingkai gambar dengan menampilkan gaun yang telah dibuat oleh butik tersebut.


Ghibran mengedarkan pandangan nya, tak tau mengapa Sadam mengajak dirinya ke tempat seperti itu. Pria itu menoleh ke arah Sadam, meminta penjelasan dari adik kelasnya semasa SMA dahulu. Pria itu mengacuhkan nya, menunjuk ke arah lantai dua untuk menemui pemilik butik tersebut.


"Di mana pemilik butik ini?" Sadam bertanya pada salah satu pramuniaga di dalam toko butik itu.


"Maaf Tuan, pemilik butik ini sedang ke luar kota." Pria itu mengangguk paham, berjalan memutari ruangan itu dan melihat-lihat pakaian yang butik itu hasilkan.


"Tolong ukur dia!" Sadam menunjuk ke arah Ghibran, menyuruh pramuniaga untuk segera melaksanakan tugas mereka.


"Mari, Tuan." Ghibran menurut, mengikuti seorang pramuniaga yang menunjukkan jalan kepadanya.


"Aldi, ini untuk apa?" Ghibran menatap Sadam penuh tanya. Tubuhnya saat ini sedang diukur menggunakan pengukur baju.


"Buat nikahan lo, Bang"


"Gue?"


"Iya, ntar lo yang gantiin posisi gue di sana. Sayang udah bikin acara malah berakhir sia-sia." Sadam menjelaskan, berniat melarikan diri dan meminta Ghibran untuk mengganyikan dirinya.


Baru saja mulut Ghibran terbuka, ingin mengatakan hal lain, namun Sadam sudah lebih dahulu menyela nya. "Udah ya, lo diem. Tinggal berdiri doang pake banyak tanya"


"Ini untuk ukuran pengantin wanitanya. Dia belum bisa dateng ke sini," Sadam menyerahkan satu buah lembar keryas berisikan ukuran tubuh Shasha. Mulai dari lebar bahu, lingkar lengan dan lain-lain.


Sadam memgangguk. "Yakin, Kakak sepupunya sendiri yang ngukur. Dia desainer juga." Ucap Sadam meyakinkan pekerja itu.


"Bahan nya anda ingin seperti apa Tuan?" Pramuniaga itu mengambil buku tebal yang berisikan sebuah potongan kecil dengan berbagai kain dengan warna dan tekstur yang berbeda.


Ghibran menerima buku tersebut. Mengusap potongan bahan yang tertempel pada buku tersebut. Membuka lembar demi lembar dan mencari sebuah bahan dan warna yang cocok menurutnya. Gerakan tangan nya terhenti di salah satu pertengahan halaman. Menemukan bahan dengan tekstur yang sangat lembut dan berwarna rose gold, seperti warna yang disukai oleh Shasha.


"Jangan lupa sama yang buat resepsi!" Ghibran menoleh, melihat Sadam yang sama seperti dirinya, memperhatikan sebuah katalog tester bahan-bahan.


Ghibran berpikir sejenak, menimbang-nimbang ucapan Sadam. "Oke mba, dia milih bahan satin duchesse. Saya mau diberikan warna seperti ini, rose gold dan aqua!" Ucap Sadam langsung, memesankan apa yang akan dua orang itu kenakan beberapa minggu lagi.


"Woi!" Ghibran berniat memberi protes, namun setelah kembali melihat buku yang ia pegang, ia rasa tak masalah dengan kedua warna dan bahan yang digunakan itu.


"Dah Bang, lo jangan khawatir, gue tau semua tentang lo dan Shasha!" Sadam menyombongkan diri, menepuk dadanya sendiri karena merasa bangga. Ghibran menatap malas ke arah Sadam, merasa tak lucu dengan ucapan dari Sadam. Justru rasa iri dan dengki sedang menguasai lorong hati pria itu.


_____


Tring!


Ghibran segera meraih ponselnya. Berhenti makan dan melihat takjub ke arah ponselnya. Makan siang nya saat ini pria itu diamkan begitu saja, membuat kedua orang tuanya saling menatap bingung. Pesan yang baru saja dikirimkan oleh Sadam membuat jantung Ghibran berdetak tak karuan. Terpesona melihat sebuah gambar yang Sadam berikan kepadanya.


"Ghibran, selesaikan dulu makan nya!" Nadia berjalan mendekat, menyentuh bahu Ghibran yang sedang tersenyum sendiri melihat ponselnya.


Sentuhan lembut dari Nadia hanya dijawab dengan anggukan singkat pria itu. "Liatin siapa sih?" Karena merasa diabaikan oleh anak semata wayangnya, Nadia merebut paksa ponsel milik Ghibran. Melihat dengan intens siapa wanita yang berada di dalam ponsel anaknya.


"Ini Shasha? Shasha mau nikah? Sama siapa, nak?!" Nadia bertanya. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan yang terjadi pada Nadia.


Ghibran tersenyum tipis sebelum membalas pertanyaan dari sang Ibu. "Dua minggu lagi Shasha nikah, Mah"


"Sama siapa? Kenapa Mamah gak tau?" Lirih sang Ibu. Wajahnya berubah sedih mendengar hal itu.


"Sama aku"


"APA?!!" Kedua orang tuanya dibuat terkejut dengan pernyataan yang Ghibran berikan pada mereka. Nadia langsung terjatuh dan duduk di atas kursi meja makan.


"Apa maksud kamu, Ghibran?! Kamu mau menikahi seorang wanita tanpa pendapat dari kami?!! Lagipula Papah belum melamarkan wanita itu untuk kamu!!" Rangga-sang Ayah tersulut emosi. Merasa kalau anaknya sangat semena-mena.


"Ghibran bisa jelaskan, tapi tolong jangan suruh Ghibran untuk berhenti, Mah, Pah." Keduanya mengangguk serempak mengikuti apa yang anaknya katakan. Ghibran menarik napas panjang, ia yakin ini akan terasa sulit. Pria itu mendadak menjadi gugup. Akhirnya setelah menghela napas panjang, ia baru mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya seperti yang ia ketahui.