SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 61



"Abi mau coba?"


Gadis itu berjalan makin dekat, menempelkan pistol yang ia pegang di kening pria itu. Tersenyum sinis melihat ketidakberdayaan kakak sepupunya yang ia anggap sebagai musuhnya saat ini.


Senyum simpul terbit di bibir pria itu. Ia tak merasa takut akan ancaman yang Alma berikan. Justru ia tertawa, sangat kencang, hingga membuat Alma bingung. "Baiklah, Abi kalah." Ucapnya dengan kedua tangannya yang ia angkat. Perlahan, sendi-sendi yang dilumpuhkan sementara oleh Alma kembali berfungsi, membuatnya sanggup untuk mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Alma tersenyum puas. Ia memasukkan kembali senjata apinya ke dalam jaket panjang yang ia kenakan. "Ayolah… Kau seperti itu seolah tidak memiliki benda ini." Ucap Alma menepuk-nepuk kantung jaketnya yang berisi pistol miliknya.


Pria itu terkekeh mendengar ucapan Alma seperti sedang menggerutu. Tangannya terulur meminta bantuan untuk berdiri, namun hingga beberapa detik tangan itu tetap tergantung di udara tanpa ada niatan untuk meraihnya.


Alma bersedekap dada. "Apa?" Tanyanya pada Enver, seolah tak terjadi apapun.


"Bantuin! Gara-gara kamu Abi jadi gini!" Keluh pria itu menyalahkan adik sepupunya.


Gadis itu memutar bola matanya malas. Menoleh ke arah pintu kamar dan melihat ke arah kedua pria berstatus penjaganya. "Bantu dia." Ucapnya menyuruh. Masih dalam mood yang kurang baik karena ulah Enver yang memancing amarahnya.


Salah satunya mengangguk patuh dan berjalan masuk ke dalam kamar Alma. Membantu Enver untuk bangkit dari posisi duduknya.


"Udah sana keluar. Malem-malem rusuh! Bikin kerributan!" Gerutu Alma berjalan menuju ranjangnya. Merapihkan pakaian-pakaiannya yang berserakan karena ia sedang terburu-buru dan belum sempat merapihkannya.


Enver tertawa pelan. Menuruti perkataan Alma, berjalan menuju keluar. Menunggu gadis itu di ruang tamu dengan tangan yang mulai sibuk dengan ponselnya. Memberi kabar pada keluarganya, serta kedua orang tua Alma. Pasti gadis itu lupa memberi kabar jika ia sudah sampai di negara ini, karena itu Lunara serta Ghifari menghubunginya.


Sedangkan di dalam kamar Alma, Ilza masuk hendak membantu Alma merapihkan beberapa pakaian dan menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh gadis itu. "Aunty juga bersiap, Alma bisa sendiri kok." Ucapnya menoleh ke arah sang bodyguard. Suara, sikap, dan wajahnya kembali seperti semula, yang selalu menunjukkan sikap lemah lembutnya serta wajahnya yang imut.


Ilza tertawa kecil. Gadis yang selalu ia anggap sebagai adiknya itu benar-benar pandai menguasai emosinya. Baru moodnya menjadi buruk karena ulah Enver, namun saat ini dengan cepat moodnya sudah kembali seperti biasanya.


"Baiklah."


__________


Di tempat lain, seorang wanita yang tengah bersiap menuju kampusnya. Ia terduduk di depan meja rias, memegang lip serum di tangannya, namun pikirannya kosong. Membiarkan benda yang berada di tangannya terbuka begitu saja. Hingga sebuah tepukan halus mendarat di bahunya. Kedua matanya langsung mengerjap beberapa kali, menyesuaikan keadaan sekitarnya.


"Kenapa sayang?" Tanyanya lembut. Menatap dalam wajah kekasih hatinya.


Ia tersenyum dan menggeleng, menandakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Menutup kembali benda yang berada di tangannya dan menaruhnya pada tempat sebelumnya.


Ia mulai berdiri setelah merapihkan kembali peralatan perawatannya. Kemudian menatap kembali sang suami yang sedari tadi belum lepas pandangan dari dirinya. "Udah, ayo sarapan!" Ajaknya meraih pergelangan tangan suaminya.


Ghibran, pria itu berjalan mengikuti tarikan sang istri. Membawanya turun menuju lantai dasar untuk sarapan bersama.


"Maaf ya mas, hari ini aku cuma masak itu," Shasha menunjuk ke arah makanan yang telah dimasak olehnya.


Ghibran menatap arah tunjuk wanitanya. Tersenyum lalu mengangguk menandakan tidak apa-apa. "Kita mulai makannya?" Tawar Ghibran yang langsung dapat anggukan dari Shasha.


Acara sarapan bersama itu terjadi beberapa menit. Keheningan melanda, hanya bunyi sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring yang mereka gunakan. Shasha yang masih memikirkan kondisi Alma dan Ghibran yang sedang cemas akan perilaku Shasha yang sedikit berbeda hari ini.


"Kamu nggak kuliah hari ini kan?" Sontak Shasha langsung tersadar dari lamunannya. Mengerjapkan matanya beberapa kali dan menoleh ke arah Ghibran.


"Hah? Kenapa mas? Maaf aku gak denger tadi." Balasnya merasa bersalah.


Ghibran tersenyum tipis. "Kamu hari ini libur kan?" Tanya pria itu mengulang. Meraih tisu dan membersihkan tangannya.


Shasha mengangguk. "Iya mas kenapa?" Berdiri dari duduknya dan mulai menumpuk bekas makan mereka berdua.


Membersihkan bekas makan mereka dan menaruhnya ke dalam dishwasher atau alat pencuci piring. Dari belakang, Ghibran berjalan dan memeluk sang istri secara tiba-tiba, membuat wanita itu menegang karena tak siap.


"Aku udah nyiapin tiket ke Turki, kita cari Alma?" Tanya Ghibran menaruh kepalanya di atas bahu sang istri dan berbisik pelan.


Pria itu melepaskan pelukan mereka. Mengangguk pasti memberikan jawaban pada wanitanya. Wajah murung Shasha benar-benar berubah. Wanita itu bersorak senang. Memeluk erat tubuh suaminya dengan sangat erat. "Makasih mas, makasih banyak!!" Ucapnya sangat senang.


Ia tersenyum tipis, mengusap puncak kepala Shasha dan mengecupnya sekilas. "Tiga hari. Mas udah nyiapin semuanya." Ucapnya lagi yang langsung dapat balasan anggukan dari wanita itu.


Shasha melepaskan pelukannya. Sedikit mendengakkan kepalanya menatap Ghibran. "Kapan otw nya, mas?"


"Jam makan siang. Kita harus pamit Ayah, Bunda sama Mamah, Papah." Shasha kembali mengangguk. Setuju dengan rencana pria itu.


____________


Tok! Tok! Tok!


Pemilik ruangan itu menoleh ke arah sumber suara. Di dalam ruangan yang sangat gelap tanpa penerangan sedikitpun, juga sangat dingin. Pria yang sejak kemarin mengurungkan dirinya di dalam kamar, ia hanya berada di dalam satu ruangan yang ada di dalam kamarnya. Duduk di depan layar besar yang sedang ia gunakan.


Tok! Tok! Tok!


Lagi, pintu kamarnya diketuk. Ia menggeram kesal sebelum akhirnya ia bangkit dan keluar dari dalam ruangan kecil itu. Memasuki kamarnya dan berjalan menuju pintu kamarnya.


Ceklek!


Pria itu memejamkan matanya sekejab, menyesuaikan matanya dengan cahaya yang terlihat di depan matanya. Detik berikutnya ia membuka netranya. Mendapati sang ibu yang setia berdiri di depannya.


"Kenapa kamu ngurung diri?" Tanya sang ibu langsung.


Ia hanya tersenyum simpul. Menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal, hanya saja sedikit bingung ingin membalas apa pada sang ibu. "Gak papa," balasnya singkat. Tak memberitau alasan yang sebenarnya.


"Jangan lupa kamu ada jadwal gym setengah jam lagi, siap-siap ya?!" Ucap sang ibu memberitau. Mengingatkan jadwal anaknya.


"Iya, Ane. Sebentar lagi. Aku masih ada kerjaan." Aydan menoleh ke arah pintu rahasia di dalam kamarnya. Bahkan hanya sang ayah yang mengetahui ruangan itu.


Lunara mengangguk. "Tapi jangan lupa ya!" Ucapnya kembali, sebelum wanita itu berlalu.


Aydan mengangguk, menjawab seadanya. Setelah itu wanita yang telah melahirkannya itu berjalan menjauh. Menuju lift rumahnya yang Aydan perkirakan akan menuju lantai dasar.


Setelah yakin sudah tak ada siapapun, segera ia mengunci kembali pintu kamarnya. Berlari cepat menuju pintu yang berbentuk lemari pakaian, namun menghubungkannya menuju ruangan lain yang berada di dalam kamarnya.


Ia kembali duduk di depan komputer di depannya. Ruangan yang selalu ia gunakan untuk menyalurkan hobinya. Peretas, atau lebih dikenal dengan sebutan hacker, sudah hal biasa untuknya melakukan hal itu. Hanya untuk kesenangannya semata, namun kali ini sedikit berbeda.


"Arrggh…"


Ia menggaruk kepalanya, merasa frustrasi karena tujuannya tak kunjung tercapai. Memegang kepalanya yamg sedikit berdenyut karena pekerjaannya yang tak kunjung selesai. Menghabiskan malam panjang untuk membantu sang kakak. Menyusup ke dalam website perusahaan At-Thariq, berniat sedikit mengacaukan perusahaan tersebut dan mencuri beberapa aset mereka. Sebagai balasan atas perlakuan mereka sebelumnya.


"Kenapa susah banget?!" Ucapnya. Menghela napas gusar karena biasanya tak sesulit ini untuk menyusup ke dalam sebuah website perusahaan.


Sudah hampir 15 jam ia tersesat di dalam website yang malah semakin membuatnya terjebak. Pikirannya teralihkan pada sebuah pesan dari nomor asing di dalam ponselnya. Segara ia meraih ponselnya, membaca pesan tersebut.


Napasnya mulai memburu, tangannya mencengkram erat ponsel miliknya. Rahangnya pun ikut mengeras, membaca pesan yang baru saja diterima olehnya.


Detik berikutnya ia mulai menghela napasnya. Senyum sinisnya terukir jelas di bibir pria yang baru berumur 17 tahun itu. "So easy." Ucapnya menyeringai


__________


Maaf baru update lagi, minggu kemaren aku demam dan alhamdulillah udah sembuh sekarang. Insyaa Allah diusahakan up teratur😊🙏