
Jam mata kuliah telah selesai, Shasha serta Alma berjalan keluar ruangan menuju tempat parkir kendaraan. Sebelum sampai di parkiran, pembicaraan hangat terjadi antara Shasha dan Alma. Membicarakan tentang masakan yang Shasha buat hari ini. Juga memuji masakan Shasha yang menurut Alma juga enak.
Sampainya di parkiran, langsung saja keduanya masuk ke dalam mobil milik Shasha. Tujuannya bukan ke rumah sakit, melainkan pulang ke rumah Neneknya terlebih dahulu. Niatnya ingin datang ke rumah sakit jadi tertunda karena makanan yang ia buat tadi sudah dingin karena kelamaan dimakan.
"Kamu udah tau, Sha?" Tanya Alma di dalam mobil.
Shasha menoleh sejenak kemudian menatap kembali ke arah jalanan di depannya. "Apa?" Ucap Shasha bertanya balik.
"Bang Ghibran mau ke Turki." Shasha mengangguk karena sudah memgetahui rencana Ghibran yang ingin pindah ke Istanbul-Turki.
"Rayyan udah kasih tau"
"Sebenernya Aba yang suruh Bang Ghibran pindah ke Turki,"
Krieettss…
Mobil yang Shasha bawa berhenti mendadak. Membuat Alma yang berada di dalam mobil terkejut. Untung saja jalanan yang lagi mereka lewati sedang sepi saat ini sehingga tak ada banyak kendaraan yang melihatnya, apalagi menjadi korban karena kecerobohannya.
"Sha!"
"Maaf-maaf, Shasha gak bermaksud begitu tadi" balas Shasha yang sama terkejutnya dengan Alma.
Shasha kembali melanjutkan mobil yang tadi sempat berhenti. Sebelumnya juga telah meminta maaf kepada para pengguna jalan yang membuat mereka juga terkejut.
"Huft…" Shasha menghela nafasnya. Beruntung tidak ada satupun yang terluka. Setelahnya Shasha kembali menjalankan mobilnya. Namun tanpa ia sadari ada seseorang dari jauh telah memotret dan merekam kejadian tersebut.
Dengan seringai jahat orang itu melihat hasil jepretan foto dan rekaman video nya. "Bagus… Akhirnya dua orang pewaris itu melakukan kesalahan" ucap orang itu dengan senyum licik.
Bugh!
"Tapi sayangnya anda terlalu ceroboh, tuan" satu bogeman mentah mendarat mulus di rahang pria tersebut.
Seorang pria dengan masker di mulutnya terjatuh ke tanah. Ponsel yang ia gunakan terlempar jauh dari posisinya saat ini.
"Kurang ajar!!" Pria itu berbalik. Memegangi salah satu rahangnya yang baru saja ditinju.
"Siapa yang kurang ajar di sini? Saya, atau anda?" Dengan berani orang itu berjalan perlahan mendekati pria tadi. Mengeluarkan senjata andalannya, senjata api di saku bagian dalam jas hitamnya.
Cetek!
Bunyi pelatuk pistol digerakkan. Posisinya saat ini sudah siap menembak pria di depannya. "Paparazzi memang harus dimusnahkan" ucap orang itu yang langsung menodongkan senjata api tepat di depan pria yang sedang menjadi paparazzi tersebut.
"Kamu pikir saya mudah dibohongi? Mana mungkin wanita seperti anda bisa menggunakan senjata api" ucap pria itu meremehkan.
Dor!
Satu peluru dikeluarkan. Mengarahkan senjata api tepat di sebelah pria itu hingga mengenai pohon besar yang berada di belakangnya. Bersyukur tempat saat ini berada di pertengahan hutan dan jarang dikendarai oleh masyarakat.
"Bagaimana? Anda masih mau menyimpan gambar itu?" Ancam wanita itu. Ia mengusap senjata kesayangannya dengan memasang wajah yang menakutkan.
Pria itu bergemetar takut. Tangannya meraba-raba sesuatu yang berada di sekitar tangannya. Sialnya ia tak menemukan sesuatu yang berguna.
Dor!
Satu peluru kembali dikeluarkan. Kali ini mengarah ke arah tangan pria itu yang sedang meraba sekitarnya. "AAKHH!!! Ampun Nona, ampun!!!" Jerit pria itu ketakutan. Ia memejamkan matanya ketika mendengar suara senjata api yang kembali ditembakkan hampir mengenainya.
"Berikan ponsel anda!" Pria itu menuruti ada yang wanita di hadapannya minta.
Dengan bergemetar pria itu berjalan mendekati ponselnya. Kesempatan emas! Pria itu segera berlari sekencang yang ia bisa, meninggalkan wanita itu sendiri. Namun karena kakinya masih bergemetar hebat, ia tak bisa berlari terlalu jauh.
Wanita itu tersenyum sinis melihat pria itu mencoba melarikan diri darinya. Karena sudah sangat terlatih, wanita itu dengan mudah berlari dan melewati pria yang sedang mencoba membebaskan diri.
Dor! Dor! Dor!
Kali ini tiga buah peluru dilepaskan. Tepat mengenai ponsel yang pria itu pegang. Ponsel yang berisikan foto dan video tentang Alma dan Shasha telah hancur lebur karena mengenai peluru wanita itu.
Pria itu semakin bergetar hebat ketika melihat ponselnya terlempar jauh dan rusak parah. Kedua kakinya lemas. Karena tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya, pria itu terjatuh ke tanah.
"Maafkan saya, sama mohon…" lirih pria itu hampir sujud. Dengan kedua tangan yang disatukan, memohon agar dimaafkan.
Wanita itu mundur beberapa langkah, tak ingin pria itu sampai bersujud di depannya. Ia bersedekap dada, tak suka melihat sikap pria itu.
"Dari situs mana anda bekerja?!" Tanya wanita itu datar namun sangat mencekam bagi si pria itu.
"Maafkan saya…" lirih pria itu kembali.
"Saya bilang JAWAB!!!" Pria itu menunduk takut. Tubuhnya masih gemetar karena takut.
"Tolong saya…"
"Tolong?"
"Iya. Tolong bantu biayakan rumah sakit adik saya, maka saya akan berhenti melakukan pekerjaan ini" ucap pria itu kembali memohon. Wanita itu masih berdiri dengan tatapan menyeramkan.
"Adik saya, dia keluarga satu-satunya yang saya punya sampai saat ini. Dia sedang-"
"Apa saya bertanya tentang itu?!" Potong wanita itu dengan tawa sinisnya.
"Tapi Nona, dengarkan saya dulu. Saya benar-benar butuh bantuan!" Ucapnya lagi memohon.
"Katakan cepat"
"Dia terkena Leukimia dari dua tahun yang lalu. Saat ini kondisi nya semakin parah. Hanya ini pekerjaan yang dapat membantu saya untuk pengobatan adik saya. Kalau anda mau saya berhenti dari pekerjaan ini, tolong bantu saya Nona" ucap pria itu menjelaskan. Posisi nya saat ini masih bertekuk lutut, dengan kepala yang menunduk.
Wanita itu terdiam sekejap. Sedang menimang-nimang keputusannya. "Buka masker dan topi anda, sekarang!" Pria itu langsung menuruti perkataan wanita yang berada di depannya.
"Siapa nama anda?"
"Andhika Zaidan" balas pria itu cepat.
"Berdiri!" Dengan segera pria itu berdiri, menuruti perintah wanita di depannya.
Wanita itu meronggoh saku celana bahan berwarna hitam yang ia kenakan. Meraih dompet miliknya yang ia simpan di dalam saku celana yang ia kenakan. Membuka dompet tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan sebuah kartu nama miliknya.
"Ini untuk pengobatan adik anda. Dan saya harap anda datang ke perusahaan itu" ucap sang wanita dengan menyerahkan beberapa uang lembar miliknya dan sebuah kartu nama yang bertuliskan namanya dan pekerjaannya.
"Ilza Alhaidan…" gumam pelan pria itu. Suaranya sedikit parau karena tangis haru yang coba ia tahan.
"Ya, itu saya" balas si wanita langsung.
"Saya harap anda datang besok pagi" ucap Ilza dengan berlalu dari tempat tersebut.
"Dan, jangan pernah sekali-kali menipu saya. Anda selalu dalam pengawasan saya, ingat itu!" Lanjut Ilza kembali berjalan meninggalkan pria itu seorang diri di dalam hutan. Berjalan dengan gagah dan memasukkan senjata api miliknya ke dalam saku jas hitamnya.
"B-baik. Terima kasih, Nona" ucap pria itu berteriak. Air matanya kali ini ia biarkan mengalir. Terharu dengan wanita yang bernama Ilza karena kemurahan hatinya.
_____
Mungkin flashback sampe 5-7 bab ya ini bab yg ke 4. Berarti bab selanjutnya masih flashback…
Nanti sore aku up lagi~