
Cassy mengambil hpnya di atas meja karena ia pergi tanpa membawa hp, ada notifikasi panggilan tak terjawab dari winter dan pesan darinya.
Jangan salah paham,aku bisa menjelaskan.
Cassy tampak bingung tak mengerti maksud winter, namun setelah ia membuka pesan dari keen ia mengerti mengapa winter mengatakan seperti itu, ia menggigit bibirnya dalam diam sembari berfikir.
Baiklah
Cassy membalas chat winter, ia mencoba untuk mempercayai kekasihnya itu, begitu pikirnya, dan setelahnya ia kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian, cafe telah tutup dan tersisa cassy seorang diri menunggu jemputan dari kekasihnya sembari memainkan ponsel, tiba tiba ia melihat bayangan hitam bergerak di depan pintu kaca cafenya dan merasa diperhatikan dari suatu tempat oleh seseorang. ia mengusap lengannya yang merinding, namun ia tetap menyadarkan dirinya bahwa itu hanyalah pikirannya saja dan bukan apa apa.
Tak lama ia melihat mobil winter yang baru saja berhenti di depan cafe, ia segera meraih tasnya dan keluar dari sana, ia mengunci pintu kemudian berlari masuk ke dalam mobil winter.
"Apa yang terjadi? kau terlihat tegang" tanyanya setelah menutup kembali pintu mobil yang sempat dibukanya.
"Bukan apa apa" cassy tersenyum menatapnya kemudian ia mencium pipi winter.
"Apa karena kau sangat merindukanku?"
"Tentu saja" cassy menyenderkan kepalanya di pundak winter, winter pun lekas menjalankan mobilnya.
"Kau tak marah?"
"Aku akan memutuskan marah atau tidaknya setelah mendengar penjelasanmu"
"Oke, jadi carissa memintaku menemuinya"
"Carissa?"
"Teman jenie yang kemarin aku temui"
"Ahhh, terus"
"Karena kebetulan aku dekat dengan tempatnya meminta bertemu jadi aku sekalian menemuinya"
"Jadi kenapa kalian berpegangan tangan dan tatap tatapan?"
"Itu karena dia menghalangiku saat aku mau pergi"
"Jadi begitu"
"Ya, apa keputusanmu? marah atau tidak?"
"Aku mempercayaimu" tatapnya seraya tersenyum.
"Itu saja?"
"He,emm"
Mereka sampai di depan rumah, "Boleh aku tidur dirumahmu?"
Cassy menggeleng "Besok kau harus bekerja"
"Baiklah" ucapnya murung, ia pun masuk ke rumahnya.
Cassy yang merasa tak enak hati menyusulnya masuk.
Brakkk!! cassy mendorong winter sehingga winter bersandar di daun pintu dan pintu tertutup dengan keras.Mata winter membelalak karena kaget tiba tiba diserang olehnya, cassy tersenyum menatap wajahnya kemudian kakinya berjinjit seraya tangannya merangkul leher winter, kemudian ia mencium bibir pria itu dan mereka mulai memejamkan mata, lalu ia menjatuhkan tasnya ke lantai.Tangan winter merangkul pinggang cassy dan menggendongnya, ia berjalan beberapa langkah kemudian membaringkannya di atas sofa ruang tamu, cassy membuka matanya dan mendorong dada winter, pria itu pun melepaskan ciumannya meskipun sayang. Mata winter menatapnya dengan sorot mata serigalanya, winter kembali mendekatkan bibirnya lalu cassy menutupi bibir miliknya dengan telapak tangan .
"Sudah cukup" ucap cassy bangun dan duduk.
"Haahhhhh, seharusnya kau langsung masuk kerumahmu saja tadi, apa kau belum sadar betapa buasnya aku apalagi kau menyerangku terlebih dahulu?" winter menyenderkan dahinya di pundak cassy, menenangkan hasrat yang telah bergejolak.
"Maaf jika kau tak menyukainya, aku hanya bermaksud menghiburmu"
"Bukan tak suka, malah sangat suka, tapi..."
"Sudah sudah, jangan menggerutu, aku lelah aku akan pulang sekarang" ia bangun dan berjalan ke arah pintu sementara winter terduduk lesu di sofa menghela nafas berkali kali.
***
Esok harinya, seorang wanita paruh baya masuk ke ruangan kerja winter setelah mengetuk pintu, winter menoleh ke arahnya dan menghampirinya.
"Bibi, tumben sekali bibi datang kemari, duduklah" ucap winter, kemudian wanita itupun duduk berhadapan dengan winter.
"Apa bibi mengganggumu?" ucapnya dengan hati hati.
"Tidak, saya senang bibi datang, ada apa?"
"Bukan apa apa, bibi hanya merindukanmu karena kamu tak pernah datang kerumah bibi semenjak kematian ayahmu"
"Maafkan saya, setelah hari itu saya terus sibuk, saya akan menyempatkan diri lain kali"
"Ya, datanglah dan bawa dia juga"
"Dia siapa?" winter tampak bingung.
"Ahhh, benar saya akan membawanya juga, saya pikir belum ada yang tahu hubungan kami"
"Tentu saja aku harus tahu, Baguslah, setelah kalian menikah ajaklah istrimu tinggal di rumah ayahmu, jangan biarkan rumah itu kosong terus menerus"
"Ya, saya akan memikirkannya bersama calon istri saya"
"Baiklah, bibi dan paman akan menyambut kalian di rumah"
"Baik"
Bibi adalah orang yang lembut, dia telah menganggap winter yang kehilangan ibunya dari kecil seperti anaknya sendiri, ia tak pernah membeda bedakan winter dengan anak anaknya.
.
Sedangkan diruangan kerja keen tengah tegang karena ia tengah berhadapan dengan ivana dan ayahnya, ayah ivana merasa sedikit kesal karena lagi lagi dirinya yang harus menghampiri pria itu, karena keen tak pernah menghiraukan panggilan darinya, mereka sengaja datang dengan membawa segerombolan pengawal untuk lebih menekan keen agar ia segera menikahi putrinya.
"Tolong jangan membuat saya memakai kekerasan Tuan Keenan" ucap ayah ivana. sedangkan ivana hanya tertunduk di samping ayahnya, ia merasa malu karena ia menggunakan kekuatan ayahnya untuk menikahinya.
Keen terlihat berfikir, setelah pemikiran yang panjang ia merasa bahwa ia tak bisa terus menghindar, ia harus bertanggung jawab dengan kehamilan ivana, toh pria itu tak memintanya mencintai putrinya, dia hanya malu jika putrinya hamil tanpa suami, keen yakin bahwa pria itu bukanlah ayah yang akan menuntutnya untuk membahagiakan putrinya, yang dibutuhkannya hanyalah suatu kehormatan dan reputasi "Baiklah,silahkan tentukan tanggalnya" ucap keen dingin.
"Keputusan bagus, kalian akan menikah dua minggu lagi"
Keen terkejut "Bukankah itu terlalu mendadak?"
"Anda sendiri yang meminta saya menentukan tanggal, jadi jangan salahkan saya dan juga saya tidak akan membiarkan anak saya menikah dalam keadaan perut yang sudah membesar"
"Baiklah, terserah anda saja" ivana tampak tersenyum lega menatap keen, akhirnya pria itu bersedia menikahinya.
***
Cassy merasa akhirnya ia bisa bernafas dengan lega karena hari ini pun ia tak mendapatkan kiriman bunga, mungkin penguntit itu telah lelah dan bosan,begitu pikirnya, cassy duduk di kursi pelanggan pojok ruangan sembari fokus menatap laptopnya.
Klotak, klotak, tiba tiba seorang wanita cantik berdiri dihadapannya, cassy pun menoleh ke arahnya. Wanita itu menatapnya dengan sinis.
"Masih ingat aku?"
"Maaf, anda siapa?"
"Hahhh..kau sudah melupakanku dengan mudah ya cassy"
Cassy mengingat ingat sosok itu, namun tetap ia tak bisa mengingatnya"Maaf, ingatan saya buruk, ada yang bisa dibantu?"
"Ini aku, carissa" wanita itu tersenyum meremehkan.cassy menilai dari tatapannya itu ia yakin bahwa wanita dihadapannya itu membencinya.
"Carissa?"
"Apa sekarang kamu ingat?"
"Tidak, saya tahunya carissa adalah nama dari wanita yang sedang mencoba menggoda kekasih saya,hehe bukan anda kan?"
"Benar itu saya" ia menyilangkan tangannya di dada.
"Ahhh.. jadi untuk apa anda datang kemari?"
"Apa tidak ada ingatan yang terlintas? saya teman kecil anda satu satunya dan putri kedua dari sekretaris ayahmu yang meninggal bersama dengan orang tuamu, apa kau tak ingat aku?"
"Ahhh" cassy tak ingat pernah memiliki teman kecil, itu karena dia bukanlah cassy yang sebenarnya.
Carissa terus menatapnya "Sepertinya kau tetap tak mengingatku, kau masih sombong dan angkuh seperti dulu, baiklah aku akan katakan keintinya, aku ingin meminta kompensasi atas meninggalnya ayahku"
Cassy tersentak "Apahh?? kenapa baru sekarang? ahh daripada itu kau butuh berapa?"
"Ck ck ck lihatlah dirimu yang sombong itu, padahal kau sudah kehilangan perusahan, aku tahu kau tak bisa memberiku banyak uang maka aku mau kompensasi dengan kekasihmu"
Dahi cassy mengernyit mendengar ucapan tak masuk akal darinya "apa kau bilang?"
"Putuslah dengannya!"
"Kau sudah gila? pergilah jika kau ingin mengatakan ucapan tak berguna"
"Bukankah sejak kau kecil kau selalu mendapatkan apapun yang kau mau? aku muak menemani anak yang hanya bisa dikamar dan sakit sakitan namun aku tahan agar ayahku disukai oleh ayahmu, meskipun perlakuanmu sangat buruk kepadaku, aku hanya minta satu hal padamu apa kau tak rela memberikannya kepadaku?"
"Hemm.. baiklah maaf jika aku telah melakukan hal hal buruk kepadamu sewaktu kecil, tapi kau tak berhak menginginkan apa yang menjadi milikku"
"Hahhhh... ucapanmu sama dengan dulu, kau benar benar egois"
"Kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau sukai dengan cara seperti ini, apa kau tahu? ini memalukan dan kekanak kanakan"
"Tutup mulutmu!!" teriaknya.
"Tolong pergi, jangan mengganggu bisnis orang lain, apa kau mengerti? jika kau menginginkan winter maka mintalah dia memutuskan hubungan kami" ucap cassy dingin.
Carissa menggertakan giginya lalu pergi dari sana dengan cepat karena orang disekitarnya telah berbisik bisik melihat kearahnya.
Bersambung.....................