SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 69



Cassy mencoba melarikan diri saat mereka lengah, ia hampir menggapai pintu dengan berjalan perlahan sekuat tenaga menahan rasa sakit di kaki dan perutnya, namun Kenzie memergokinya, pria itu segera berlari menghampirinya yang hampir saja memegang gagang pintu. "Kena kau" ia menarik rambutnya dengan kuat hingga cassy menjerit kesakitan, "mau melarikan diri yaa, tak akan bisa" bisiknya.


"Lepas!! apa kalian tahu apa yang sedang kalian lakukan!!!" teriaknya lagi seraya menahan sakit.


DUAAAKKKK!!! kenzie membenturkan kepalanya dengan keras ke pintu yang yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu hingga darah keluar dari dahinya lalu ia kehilangan kesadarannya "Kan sudah kubilang jangan berteriak kepadaku!!!"


Kemudian yang lain menghampirinya "Kenapa dia?" tanya razak menunjuk keponakannya yang terbaring di lantai dengan darah di dahinya.


"Aku kesal karena dia terus saja berteriak kepadaku dan mencoba melarikan diri, dia hanya pingsan" ucap kenzie menjelaskan.


Kemudian mereka bersepakat sementara waktu sebelum mereka menemukan cara untuk menyingkirkannya sesudah mengambil semua hartanya, mereka mengikat tangan dan kakinya lalu melakban mulutnya agar tak bisa melakukan apapun, kemudian memasukkannya ke dalam gudang di pojokkan rumah dan mengunci pintu gudang.


Keesokan harinya, Cassy membuka matanya,ia terbangun dalam ruangan yang gelap, hanya percikan kecil cahaya matahari yang masuk dari selah selah jendela besi yang tertutup kayu, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, seolah tubuhnya telah remuk, kemudian ia menyadari tangan dan kakinya terikat serta mulutnya yang tertutup, "mereka benar benar kejam, kapanpun mereka mau mereka bisa membunuhku dengan mudah, seharusnya aku lebih berhati hati" pikirnya dalam hati sembari merasakan sakit yang teramat.


Ia terus mencoba melepaskan ikatan tangannya, namun tali yang menempel sangat kuat meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga, ia mulai melihat sekelilingnya namun gudang itu sangat rapii dan hanya dipenuhi dengan kardus kardus besar yang telah usang, tidak terlihat sama sekali benda tajam yang bisa melepaskannya dari tali, Ia hanya berharap seseorang segera menyadari dan mencarinya.


Siang berganti malam lalu malam berganti siang lagi namun ia masih terkurung disana, keluarga pamannya sama sekali tak memberinya makan atau minum, bahkan melihat keadaannya pun tidak, mereka seolah ingin benar benar membiarkannya mati didalam sana.


Ternyata keluarga pamannya tengah sibuk berusaha mencari surat surat dari seluruh aset aset kekayaan milik cassy, namun ia tercengang ketika melihat sebuah surat perceraian yang belum ditanda tangani dan surat pengalihan seluruh saham perusahaan yang telah dialihkan di dalam koper cassy yang masih berada di bawah tangga, meereka mengeluarkan isi koper itu satu persatu hingga seluruh isinya berserakan.


Kini mereka mulai menggeledah kamar orang tua cassy yang masih tertata rapi seperti semula, mereka mengobrak abrik seluruh ruangan, dan berhasil menemukan sertifikat rumah mewah itu dan sejumlah uang tunai di dalam brangkas yang tak terkunci, shanet tersenyum puas melihat harta yang diinginkannya telah berada di genggamannya. "Aku menemukannya" ucapnya seraya tertawa puas.


"Bagus sekali istriku" sahut razak merasa puas.


"Sekarang kita harus segera pergi dari sini dan menjual rumah ini, ayo kita beresi barang barang kita"


"Kau tenang saja suamiku, anak anak kita tercinta sedang membereskannya"


"Bagus, ayo cepat sebelum ada yang menyadari bocah itu menghilang!"


"Ya" setelah menyelesaikan urusan mereka dirumah itu mereka pergi dengan terburu buru tanpa memikirkan nasip dan keadaan seseorang yang mereka kurung di dalam gudang yang gelap.


Lys terus mencoba menghubungi cassy di sela sela kesibukannya mengurus cafe menggantikan bosnya, awalnya ia mengira bahwa bosnya itu tengah sibuk kerja dikantor setelah absen beberapa hari, ia pikir ia pasti sangat sibuk hingga mematikan ponselnya.


Namun setelah hari berikutnya ia harus melaporkan pekerjaannya dan kembali menghubunginya namun masih sama, ia pun menghubungi kantornya dan sekretarisnya mengatakan bahwa ceo nya belum masuk kerja sampai sekarang.


Pagi harinya lys mendatangi kediaman milik keluarga cassy namun pintunya terkunci, security pun sudah tak nampak disana, keadaan rumah itu seperti rumah kosong yang tak berpenghuni. Dari situ lys mulai panik, ia berjalan kesana dan kesini mengitari rumah besar itu sembari matanya fokus mengintip saat ia bertemu jendela kaca, ia tak menemukan apapun, lalu ia kembali ke teras rumah, "ada yang tidak beres" lys berfikir sembari menggigit kuku tangannya, kemudian ia mengambil ponselnya lalu menghubungi sekretaris lux yang tengah ia hindari, namun ia tetap menghubunginya tanpa ragu.


"Selamat pagi nona lys, maaf untuk yang waktu itu--"


Lys segera menyela "Apa tuan keen bersama anda?"


"Pak ceo ada di samping saya, ada yang perlu disampaikan?"


"Baik"


"Haloo, ada apa lys"


"Anda dimana? apa bu bos bersama anda?"


"Aku baru saja tiba di bandara negara x untuk pulang dari dinas"


"Hahhh, apa yang sedang terjadi.." gumamnya semakin panik.


"Apa yang terjadi?"


"Bu cassandra tidak bisa dihubungi selama dua hari, orang perusahaannya juga tak tahu keberadaannya, saya datang ke rumahnya tapi rumah ini seperti rumah kosong, saya harus mencari kemana lagi tuan keen" ucap panik.


"Bukankah seharusnya kau mencari ke rumahku?"


"Dua hari lalu beliau memintaku mengantarkannya ke rumah orang tuanya serta membawa koper besar"


"Apaaahhh?? apa dia kabur, tidak itu tidak penting sekarang, tunggu saya akan menghubungi security di pos gerbang, jangan matikan teleponnya"


"Baik"


"Pak kita sudah harus masuk" ucap lux mengingatkannya karena sebentar lagi mereka harus masuk ke dalam pesawat. namun ia sama sekali tak mendengarkannya dan sibuk dengan televonnya.


Keen mematikan hp nya setelah menelpon security rumahnya, ia kembali menggunakan hp lux yang masih di genggamnya di tangan kanan. "Lys, mereka bilang cassy tidak kembali setelah pergi denganmu itu berarti, ahh aku harus naik pesawat sekarang, dalam tiga jam saya akan sampai, tolong teruslah mencari keberadaannya"


"Baiklah"


Keen menutup ponsel dan menyerahkannya kepada pemiliknya, ia masuk kedalam pesawat dengan terburu buru, ia terlihat sangat panikĀ  setelah ia duduk di kursi vip.


"Apa yang membuat anda begitu gelisah pak? apa yang nona lys katakan?"


"Cassy menghilang sejak dua hari lalu" ucapnya pelan, keningnya terus berkerut karena tegang. Baginya, perjalanan selama tiga jam di pesawat saat itu sangatlah lama dan menyesakkan, karena fikirannya hanya terpaku pada satu hal.


Karena tak bisa hanya menunggu selama tiga jam ia berusaha untuk menghubungi polisi, namun ia terhenti karena memikirkan dampak jika polisi ikut campur, karena ia masih belum tahu masalah itu separah apa, atau mungkin itu bukanlah suatu masalah, kemudian ia mengurungkan niatnya dan menghapus kembali nomor kantor polisi yang telah ia ketik di ponselnya.


Lalu ia terfikirkan satu orang yang sekiranya bisa membantunya membuka pintu rumah itu tanpa menimbulkan perhatian. lys mengangguk angguk setelah beberapa saat berfikir, hanya satu nama yang terfikir olehnya yaitu Winter, satu lagi pria yang ia yakini mampu melakukan apapun jika itu demi Cassy.


Bersambung................................