
Di ruangan office cassy berjalan kesana dan kesini mondar mandir dengan raut wajah suram dan penuh dengan kekawatiran, tangannya menyilang di atas dada dan sesekali ia menggigit bibir bawahnya, berkali kali melihat layar ponselnya dan ditaruhnya lagi diatas meja. Sudah jam lima tiga puluh tapi winter tak kunjung mengiriminya pesan, berkali kali ia ingin mengiriminya pesan tapi akhirnya ia hapus kembali sebelum selesai ditulis, semata mata karena ia tidak ingin terlihat kekanak kanakan dan terlalu terobsesi dengan kekasihnya itu, karena konon wanita yang terlalu agresif dan terobsesi akan membuat prianya mudah muak dan bosan lalu berakhir dengan mencari pelampiasan lain.
Sedangkan Lys hanya menggeleng geleng tak mengerti apa yang membuatnya bertingkah seperti itu, akhirnya ia tak tahan lagi. "Apa yang sedang anda lakukan? anda membuat saya pusing"
Cassy menoleh ke arah lys "jangan pedulikan saya lys oke?"
"Ah bagaimana saya tak memperdulikan anda jika anda terus mondar mandir didepan saya, mengapa? ada apa?"
Cassy menghentikan langkahnya dan segera menghampiri lys, ia duduk di hadapannya.
"Lys, ini tentang temanku"
"Ya? katakan saja" ia mulai mendengarkan dengan seksama.
"Temanku itu memiliki kekasih, tapi kekasihnya itu pamit kepadanya akan melakukan pertemuan dengan wanita yang pernah dijanjikan kencan buta dengan kekasihnya itu karena wanita itu terus saja mengganggu orang yang mencoba menjodohkan mereka namun gagal, dan sepertinya wanita itu sangat tertarik dengan kekasihnya, jadi apa seharusnya yang dilakukan oleh temanku?"
Lys tersenyum "Ahhh.. seharusnya teman anda itu hanya perlu bersikap tenang dan mempercayai kekasihnya saja.. itu jika kekasihnya bodoh, kalau saya pasti saya akan membuntutinya dan mencoba menilai dengan mata kepala saya sendiri bahwa apa dia akan setia kepada saya atau akan tergoda kepada wanita itu"
Mendengar ucapan lys membuat cassy semakin tidak tenang, ia mulai menggigiti kuku tangannya seraya berfikir.
Lys mendekatkan wajahnya dan berbisik "apalagi kalau ternyata wanita yang ditemuinya itu lebih cantik lebih modis dan lebih **** dari kekasihnya, tidak ada jaminan pria tidak akan goyah!" lys tersenyum karena sepertinya ia berhasil meniup api di atas minyak.
Wajah Cassy terlihat memucat "Ba baiklah, saya akan segera memberitahukan kepada teman saya"
Lys mengangguk, "Lebih cepat lebih baik" ia sesekali melirik ke wajah cassy.
Tiba tiba cassy bangun dari duduknya sembari mengambil tasnya "saya akan pergi dulu lys, saya ada urusan mendesak, tolong yaa" ucapnya sembari berjalan keluar.
Lys tersenyum "Ternyata anda sedang benar benar jatuh cinta yaa, baguslah.." gumamnya.
Cassy kembali kerumahnya terlebih dahulu untuk berganti pakaian, kini ia tengah berdiri di depan cermin besar dikamarnya, ia telah mengenakan jaket kulit hitam,celana hitam dan juga topi,kacamata dan masker yang serba hitam, ia telah siap melancarkan misinya.
Sampailah ia di depan coffe shop x, ia menyentuh topinya dan sedikit menundukkan wajahnya, ia melangkah masuk dan memesan minuman, setelah itu ia duduk di pojok ruangan agar ia lebih mudah mencari keberadaan kekasihnya, matanya memutari seisi ruangan dan berhenti di meja kelima dari tempat duduknya, sayangnya ia hanya bisa melihat punggung wanita itu, padahal ia sangat penasaran, ia terus memperhatikan dengan sesekali menyedot minumannya setelah menurunkan maskernya.
Dari tubuhnya yang tinggi dan langsing, wanita itu terlihat sangat ****, apa dia sengaja memakai rok sepaha dan memakai baju yang memamerkan bahunya?, dia benar benar berniat menggoda kekasihku rupanya.
Jangan tersenyum, sudah kubilang jangan tersenyum didepan wanita itu, kenapa kau masih saja tersenyum, apa yang mereka bicarakan aku tidak bisa mendengar apa apa gara gara anak anak sekolah yang berisik di depanku.
Cassy menggertakan giginya kearah sekumpulan anak anak berseragam sekolah menengah di hadapannya, tentu saja anak anak itu tak menyadarinya. Cassy memegangi topinya dan menariknya kebawah, anak anak sekolah didepannya mulai berbisik bisik didepannya melihat tingkah cassy yang seperti penguntit.
Ahhh..mereka bangun.
Mata cassy terperanjat dari balik kaca mata hitam yang dikenakannya ketika seseorang mengetuk mejanya beberapa kali, cassy pun menoleh ke arahnya dan mendongakkan wajahnya untuk melihat seseorang wajahbyang berdiri didepannya.
Aku ketahuan...ini memalukan, astagaaaa, bagaimana dia bisa tahu? apa dia seorang dukun? haruskah aku kabur saja.
Winter menarik tangan cassy sebelum ia bisa berusaha untuk kabur, kemudian ia mengajaknya keluar dari coffe shop,setelah sampai di hadapan mobil winter membuka pintu dan menyuruh cassy masuk kesana.
Duhh apa yang harus kukatakan?
Tak lama Winter juga masuk dan duduk disampingnya.
"Kau sudah bisa membuka topi masker dan kacamatamu!" ucapnya lalu menjalankan mobil.
Akhirnya cassy membuka penyamarannya yang gagal.
"Apa kau sama sekali tak bisa mempercayaiku?" tanyanya dengan suara dingin sembari matanya tetap menatap lurus kedepan.
"Maaf" hanya kata itu yang terlintas dikepala kecilnya.
"Hmmmm" Setelah itu mereka sama sekali tak berbicara hingga mereka sampai di depan rumah masing masing.
Cassy menoleh kearahnya "Tunggu, apa sekarang kamu marah karena aku melakukan hal itu?"
Winter tetap diam dan masuk kerumahnya, sedangkan cassy yang merasa tak terima terus mengikutinya masuk kedalam rumah winter, ia merasa situasi itu bukanlah kesalahannya sepenuhnya.
"Kau mendengarku? kenapa kau diam saja?" ucapnya di hadapan pria yang terus memunggunginya.
Winter tetap diam hingga ia masuk kekamarnya dan melepaskan bajunya, cassy segera berhenti dan membalikkan badannya, tiba tiba ia merasa malu karena melihatnya membuka baju, sedangkan winter terus diam dan tak merespon apa pun kata yang diucapkannya. Sementara winter mengganti bajunya cassy terdiam ditempatnya berdiri.
"Yasudah, aku juga akan bertemu dengan pria tampan sekarang juga agar kau merasakan bagaimana perasaanku sekarang!!!" ucapnya keras lalu pergi melangkahkan kakinya keluar.
Ketika tangannya menggapai handle pintu, Winter menahannya dengan memeluknya dari belakang "apakah kau belum juga merasa cukup membuatku merasakan kecemburuan? bukan sekali dua kali atau bahkan sehari dua hari aku melihatmu bersama dengan pria lain, bahkan aku pernah melihatmu bersanding dengan pria lain dipelaminan, apa itu masih belum cukup? dasar wanita pendendam" ucapnya di telinga cassy, pria itu menyenderkan kepalanya di pundak cassy.
Cassy mulai berpikir, benar apa yang dikatakannya, apa yang dilihatnya dan dirasakannya hari ini bukanlah apa apa dibandingkan apa yang telah dilalui pria ini untuk bisa bersama dengannya. Cassy berbalik badan menoleh ke arahnya "maafkan aku"
Begitu ia menoleh, dihadapannya terlihat tubuh kekar yang tak diselimuti oleh baju sehelai pun, cassy terkejut dan wajahnya seketika memerah, ia berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain dan memundurkan tubuhnya, sedangkan winter terus mendekatinya dan semakin menekan tubuhnya "apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku sepenuhnya?" bisiknya di telinga cassy.
Winter terus mendekat sampai akhirnya cassy terduduk diatas sofa karena terus memundurkan langkahnya.
Bersambung.............