SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 38



"Kita harus gimana, Ray?!" Shasha menoleh ke belakang, melihat beberapa mobil yang terus berjalan mengikuti mobil Shasha kemanapun ia pergi.


Jika saat ini Shasha sedang diselimuti ketakutan, lain halnya dengan Rayyan yang masih mengemudikan mobil dengan sangat santai. Tak ada rasa takut sedikitpun pada pria itu.


Saat ini tepat di belakang mobil yang Rayyan bawa, tiga buah kendaraan yang sama mengikuti kemanapun perginya Shasha dan Rayyan. Mereka juga yakin, di balik orang-orang yang berada di belakang mereka itu adalah orang suruhan Sadam yang diminta untuk memantau pergerakan Shasha.


"Ray?!!" Pekik Shasha kembali. Merasa takut ketika sisi kanan, kiri dan belakangnya di penuhi dengan kendaraan orang-orang suruhan Sadam.


"Tenang aja lah, lagian mereka cuma ngejaga kita." Rayyan berucap santai. Tanpa rasa takut sedikitpun. Membiarkan orang-orang itu mengetahui tempat tinggal mereka saat ini yang sebenarnya sedang diamankan oleh Daffa.


"Usaha Ayah bakal sia-sia, Rayyan!!" Shasha kembali berteriak.


"Biarin. Ayah yang mulai, Ayah juga yang harus nyelesain semua ini."


Mata Shasha memanas, menahan tangis yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya. Hatinya panas karena menahan amarahnya yang akan memuncak dan melampiaskannya pada Rayyan. "Tapi Ayah melibatkan gue, Ray…" lirih Shasha akhirnya menangis. Tak ingin marah pada Adiknya, takut ia akan menjadi sangat liar seperti sebelumnya, karena itu Shasha memilih untuk menangis.


"Tenang, Kak! Tenang!"


"Gimana gue mau tenang?!! Masa depan gue diatur sama mereka terus gue harus tenang, gitu?!!"


Rayyan menoleh sebentar, kemudian tatapan nya kembali terfokuskan pada jalanan di depan nya. Berusaha mengecoh orang-orang yang mengikuti mereka. Memberi jarak yang jauh antara mobil yang saat ini ia bawa dengan mobil yang mengikuti mereka. Shasha yang saat itu tidak siap langsung memejamkan matanya, takut karena Rayyan membawa mobil dengan sangat cepat.


"Denger! Lo jangan takut, mereka cuma mau nguping pembicaraan kita!" Masih dengan kecepatan penuh, Rayyan berbicara pada Shasha. Mengingatkan Kakaknya untuk tidak banyak bicara.


"Apa?! Gimana caranya?!"


"Alatnya kecil. Gue liat ada di pintu bagian lo sama gue. Mereka pake bluetooth, karena itu posisi mobil mereka deket sama kita," jelas Rayyan sesekali melirik ke arah kaca spion, ingin memastikan kalau mobil yang mengikuti mereka tertinggal jauh.


Shasha menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, terkejut mendengar penjelasan Rayyan yang tak ia ketahui. "Jangan khawatir, sekarang sambungan bluetooth mereka terputus karena jarak antara mobil kita sama mereka jauh," sambung Rayyan menenangkan Shasha.


"Gue paham, Ray! Gue paham"


"Abis ini gue bakal pelan-in mobil ini. Lo jangan asal ngomong karena mereka denger apa yang kita bicarain. Oke?!"


"Iya Ray, iya!" Segera laju mobil memelan. Mulai berkendara dengan kecepatan normal.


Dari jauh, ketiga kendaraan itu kembali terlihat dari arah kaca spion. Mendekat ke arah mereka kembali. Setelah itu mereka berdua saling berdiam diri. Sesekali membuka pembicaraan yang tidak ada hubungannya dengan Sadam dan rencana perjodohan mereka. Sengaja membuat orang-orang yang berada di dalam mobil pengikut itu merasa bosan dengan pembicaraan mereka berdua. Hingga sampailah mereka di kediaman Kakek dan Neneknya.


__________


Sampai di kamarnya, Shasha membanting tubuhnya ke atas ranjang. Ia mudah merasa lelah akhir-akhir ini, mungkin karena masalah yang tak kunjung terselesaikan. Tangannya terangkat kemudian menutup kedua matanya menggunakan lengan kanan nya. Berusaha mencari ketenangan saat ini.


"Alma… Ya, aku harus hubungi Alma!" Segera beranjak dari atas ranjang menuju nakas. Mengambil ponselnya yang berada di dalam tas nya sedari tadi.


Shasha mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan ponselnya yang menampilkan banyak panggilan suara dari Alma, tapi tak ada satupun yang dapat ia dengar. Dan yang membuatnya kembali dibuat bingung yaitu ketika melihat panggilan suara dari Alma terjawab olehnya. Ia tak merasa mengangkat panggilan dari Alma sebelumnya.


Tak ingin berpikir negatif, karena mungkin saja ponselnya terkena gesekan di dalam tasnya sehingga panggilan dari Alma terangkat dari ponselnya. Shasha menghubungi Alma kembali, ingin menanyakan mengapa sahabatnya berulang kali menghubunginya. Ia yakin ada hal penting yang ingin Alma sampaikan kepadanya.


Tut… Tut… Tut…


Panggilan dari Shasha masih berbunyi, mencoba menyambungkan panggilan dari Shasha untuk Alma.


"Assalamualaikum. Sha kamu baik-baik aja, kan?!!" Baru saja panggilan nya terhubung. Alma bertanya dengan nada tinggi, seperti orang yang sedang khawatir.


"Waalaikumsalam. Iya aku baik-baik aja, Ma. Kenapa kamu telpon aku?" Tanya Shasha, bermaksud menanyakan tujuan Alma sebelumnya.


Tak lama terdengar isak tangis dari seberang. Alma menangis, dan itu membuat Shasha semakin bingung. "Kamu kenapa, Alma? Kenapa nangis?!" Mendengar Alma nangis, kini gantian, Shasha lah yang dibuat khawatir oleh sahabatnya.


"Tadi aku telpon kamu… Tapi bukan suara Shasha yang kedengeran…" Alma menjelaskan. Sesekali terdengar sesegukan sahabatnya yang masih menangis.


"Cowok, Sha…!! Suara orang itu cowok!!" Jerit Alma seperti orang ketakutan saat ini.


"Cowok? Siapa?!" Karena ucapan Alma, Shasha ikut khawatir mendengarnya.


"Alma gak tau-"


Tut!


Panggilan dari Alma terputus begitu saja. Padahal saat itu Shasha tak menekan tombol apapun di layarnya.


Ia menatap layar ponselnya. Masih dengan posisi menyala, tiba-tiba saja ponselnya bergerak sendiri. Ponselnya menggeser dan menekan aplikasi apapun dengan sendirinya yang ada di ponsel miliknya. Ada yang tak beres dengan ponselnya saat ini. Ia yakin ada virus dari suatu aplikasi atau web yang pernah ia buka sebelumnya. Tapi saat itu Shasha tak bisa mengecek ponselnya karena masih bergerak sendiri.


Akhirnya gerakan layar tadi berhenti di sebuah aplikasi note bawaan dari ponselnya. Menuliskan beberapa kata di sana yang membuat Shasha terkejut.


'Aku tau semua aktivitas yang kamu lakukan di dalem hp kamu.


-Sadam-'


Brak!!


Shasha melempar ponselnya ke lantai dengan kencang. Terkejut sekaligus takut dengan pria yang sedang mengacaukan hidupnya.


Mundur beberapa langkah, menjauhi ponselnya yang sudah hancur lebur. Shasha memutar tubuhnya, mencari barang yang berada di dekatnya.


PRANG!!!


"AARRGGGHH!!!" Shasha berteriak sangat kencang. Meraih dan langsung melempar vas bunga yang berada di dalam kamarnya ke arah ponselnya. Berharap dengan melakukan hal seperti itu Sadam tak lagi bisa mengganggu privasi tentang dirinya.


Brak!


"Kakak kamu-" pintu kamar gadis itu dibanting hingga membentur dinding dan menimbulkan suara benturan yang sangat kencang. "Astaghfirullahaladzim!! Kak!!" Nadhira dan Cyra-kedua Adiknya itu berlari menghampiri Kakanya yang sedang berdiri menatap ke arah pecahan vas bunga. Air mata gadis itu kembali keluar dengan deras.


"BUNDA!!! ABANG!!!" Cyra berteriak memanggil keluarganya untuk dimintai pertolongan. Remaja berusia 15 tahun itu kembali berlari ke luar kamar, berharap ada orang dewasa yang membantu mereka. "GRANDMA!! GRANDPA!!" Cyra kembali berteriak, berharap mereka segera datang.


Tak lama, Rayyan datang dengan berlari, terkejut mendengar teriakan Cyra yang melengking. Berikutnya disusul dengan Kania yang datang dari lantai satu. "Kenapa dek?!"


"Kak Caca, Bun!"


Shasha menoleh ke arah pintu, memperlihatkan kondisinya saat ini. Betapa tertekannya ia menjalani hari-hari selama seminggu terakhir.


"Kenapa? Lo kenapa kayak gini, Kak?!!" Bentak Rayyan. Menghampiri Kakaknya dan mengguncang bahu Shasha. Menatap gadis itu dengan amarah yang memuncak.


Tangan gadis itu terangkat, menunjuk ke arah ponselnya yang sudah rusak saat ini. "Dia… Cowok itu br*ngs*k, Rayyan!!" Setelah mengatakan hal itu, tubuh Shasha melemas, ia langsung terjatuh. Tapi dengan cekatan Rayyan menahan Shasha agar tidak terjatuh. Mengangkat tubuh ringan itu dan membawanya ke atas ranjang.


"Lo istirahat. Gue ada urusan sebentar!" Setelah meletakkan Shasha di atas ranjang, Rayyan berbalik ingin meninggalkan kamar Shasha.


"Bunda, Rayyan ke luar sebentar. Assalamualaikum." Pamit Rayyan pada sang Ibu. Meraih punggung tangan Kania dan mengecupnya sebentar, setelah itu ia bergegas dengan tangan yang baru saja di keluarkan untuk mengambil kunci motornya dari saku jeans yang ia kenakan.


Mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor seseorang dari dalam ponselnya. "Halo. Temui gue di tempat biasa!" Setelah mengatakan kalimat yang singkat itu, Rayyan langsung mematikan panggilannya. Segera bergegas menuruni anak tangga dan berlari ke luar rumah Kakek dan Neneknya.


__________


Sementara itu, di tempat lain. Seseorang tengah berdiri tegap menatap keramaian kota dari atas. Melipat kedua tangan nya di depan dada. Wajahnya terlihat gusar dan tak bersemangat.


"Maaf." Hanya satu kata itulah yang keluar dari mulut orang itu.


__________