
Makan malam berjalan dengan sangat lancar. Klien mereka sangat menikmati pelayanan yang diberikan oleh keluarga Daffa. Perbincangan terjadi di dalam makan malam mereka. Daffa berbincang mengenai bisnis yang mereka jalankan, sedangkan Kania berbincang bersama istri dari klien mereka seputar rumah tangga.
Disana, Shasha hanya terdiam menikmati makan malamnya. Tak ada yang spesial malam itu menurutnya. Seperti makan malam dengan klien sebelum-sebelumnya, Shasha dan adik-adiknya di perkenalkan sebagai pewaris perusahaan sang Ayah.
"Maaf, saya terima telephone dulu" pamit sang klien yang diketahui bernama Hilmi. Ia berjalan menjauhi meja makan dan mengangkat sebuah panggilan dari ponselnya.
Beberapa menit setelah itu, ia kembali duduk di bangku meja makan. "Maaf lama. Tadi anak saya bertanya alamat rumah anda" ucap Pak Hilmi disertai senyum ramahnya.
"Oh iya, anak yang anda ceritakan pada saya tadi pagi?" Tanya Daffa membalas perkataan sang klien.
"Benar sekali. Dia sudah berada di jalan utama menuju sini, mungkin sebentar-"
"Assalamualaikum" atensi seluruhnya teralihkan, termasuk Shasha yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Waalaikumsalam"
"Nah, itu dia anak saya" ucap Pak Hilmi bangga. Tanggannya melambai meminta sang anak untuk menghampirinya.
"Perkenalkan, ini anak sulung kami, namanya Aldiansyah Sadam At-Thariq. Panggil saja Sadam" ucap Pak Hilmi memperkenalkan anak sulungnya yang baru saja datang di Arab Saudi untuk melanjutkan usaha sang Ayah, sekaligus mengunjungi kerabatnya disana.
Pria keturunan Arab itu menunduk sopan setelah dirinya diperkenalkan oleh sang Ayah. Diumurnya yang baru menginjak 24 tahun itu Sadam sudah membuat banyak keluarganya bangga. Banyak prestasi yang dia dapatkan sejak usia dini. Salah satunya adalah menyelesaikan hapalan juz 30 nya diumur 10 tahun.
Setelah itu perbincangan malam mereka berlanjut hingga pukul 10 malam. Entah mengapa, Shasha merasa Ayah dan kliennya sedang berusaha mendekat-dekati dirinya dengan Sadam, anak klien Ayahnya itu. Tak ingin berfikir yang lainnya, Shasha langsung pamit menuju kamarnya setelah makan malam telah usai. Semakin lama ia merasa tak nyaman berada di antara mereka.
__________
Tok… Tok… Tok…
"Shasha, Alma udah dateng tuh!"
"Iya Bunda, Kakak keluar sebentar lagi"
Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, Alma datang menghampiri Shasha untuk berangkat kuliah bareng. Jika Alma tidak datang, maka Shasha yang datang menghampirinya.
Sebelum keluar dari dalam kamarnya, Shasha memperhatikan penampilannya terlebih dahulu. Kali ini ia akan mengejutkan sahabatnya kecilnya. Ia yakin Alma pasti akan terkejut melihatnya. Setelah merasa telah beres, Shasha langsung bergegas keluar dengan memegang tas kuliahnya.
"Alma!!" Panggil Shasha dari lantai atas kamarnya. Ia berjalan dengan bersenandung riang menuju lantai bawah.
Karena merasa dipanggil, Alma menoleh ke atas yang mana sumber suara itu berasal. Mulutnya terbuka saking terkejut sekaligus tak percaya apa yang berada di depannya. Detik berikutnya ia tersenyum senang.
"Sha, itu kamu? Masya Allah, cantik banget" puji Alma yang terkagum-kagum melihat penampilan Shasha yang berbeda hari itu.
"Gimana? Cocok gak?"
Sebuah gamis yang menjuntai hingga ke lantai dan lebar berwarna merah maroon Shasha kenakan hari ini. Beberapa gamis yang kemarin malam Kania bawakan untuknya Shasha kenakan. Dengan hijab pashmina yang senada dengan warna gamisnya Shasha kenakan.
"Aamiin… Makasih Alma. Ini juga lagi coba-coba pake baju Bunda" ucap Shasha jujur membuat Alma beberapa kali mengangguk paham.
"Ya udah yuk langsung cuss, berangkat!" Ajak Shasha yang langsung menarik lengan Alma.
Mau tak mau Alma ikut tertarik karena Shasha. Tapi baru beberapa langkah Shasha kembali berhenti.
"Ayo kita ke halaman belakang dulu, Bunda ada di belakang!" Ajak Shasha yang langsung menarik pergelangan tangan Alma kembali. Sedangkan yang ditarik hanya mengangguk mengikuti langkah Shasha.
Setelah berpamitan pada Kania, Shasha serta Alma kembali menuju ruang tamu untuk keluar dan memasuki mobil Alma yang terparkir di halaman depan. Disana, ada beberapa bodyguard setia Alma yang selalu ada kemanapun Alma pergi.
Sebelum memasuki mobil yang Alma bawa, mata Shasha tertuju pada sebuah kendaraan yang terparkir di depan garasi rumahnya. Ia tak mengingat sang Ayah mempunyai kendaraan dengan warna dan model seperti itu.
Karena penasaran, ia sendiri yang memastikan kendaraan tersebut. Alma yang melihatnya dari dalam kembali keluar dari mobilnya dan mengikuti langkah Shasha. Ia menyamai langkah sahabatnya yang mendekat pada sebuah kendaraan beroda empat dengan warna black jet di sekelilingnya.
"Sha…" pemilik kendaraan beroda empat itu keluar. Menatap Shasha yang melihat dirinya seolah sedang mengintimidasi dirinya.
"Kak Sadam lagi apa di rumahku?" Tanya Shasha heran. Seingatnya pria tiga tahun lebih tua darinya itu sudah pulang semalam. Tapi kenapa pria itu masih di rumahnya? Ada keperluan apa dia datang di pagi hari pukul delapan itu? Pikir Shasha.
"Emm… Maaf mengagetkan kamu, tadi Umma dan Abba yang meminta saya untuk datang kesini" ucap Sadam, pria itu dengan menunduk. Ia pun tak habis fikir dengan kedua orang tuanya yang sejak malam kemarin selalu membicarakan Shasha di hadapannya.
Alma menoleh ke arah Shasha, tatapannya bertanya-tanya siapa pria itu? "Kak Sadam, anak rekan bisnisnya Ayah." Ucap Shasha yang mengerti tatapan yang Alma berikan untuknya. Setelah mendapatkan jawabannya, Alma mengangguk pelan. Ia merasa tak nyaman berada di antara sahabat dan orang asing itu, Alma memutuskan untuk kembali dan memberikan kode untuk Shasha.
"Kenapa Tante sama Om minta kamu kesini? Ada perlu sama Ayah?"
Pria blasteran Arab itu menggeleng. Sebenarnya di waktu ini ia pun sudah mulai sibuk, tapi kedua orang tuanya memaksa untuk mengunjungi rumah yang semalam ia datangi. "Maaf sedikit lancang, kamu mau saya antarkan?" Tanya Sadam tak enak.
Cepat-cepat Shasha menjawab dengan gelengan. Bahkan pria di depannya ini tak terlalu ia kenal. Baru semalam ia bertemu, tapi dengan sangat berani pria itu datang kembali dengan menawarkannya untuk berangkat bersama.
"Aku berangkat bareng temanku, maaf Kak" ucap Shasha yang ingin berbalik.
Grep!
"Tunggu!" Pergelangan tangan Shasha di pegang oleh Sadam, membuat Shasha reflek menepisnya.
"Saya mohon, ini permintaan kedua orang tua saya" pinta pria itu memelas. Tatapannya sangat memohon kepada Shasha untuk dikabulkan permintaan kedua orang tuanya.
"Maaf Kak Sadam saya tidak bisa. Pertama anda sangat lancang dan yang kedua anda tidak sopan dengan menyentuh lengan saya. Ingat, anda bukan siapa-siapa saya!" Kecam Shasha sebelum berlalu meninggalkan Sadam seorang diri disana.