
Keen berjalan kembali ke ruangan bar miliknya, ia mengambil sebotol wine dibawanya keluar ruangan karena akhir akhir ini ia mengalami kesulitan tidur jika tidak minum minuman beralkohol, ia duduk di ruangan tengah, ia mengambil remot dan menyalakan televisi, ia menyilangkan kakinya lalu menuang wine ke dalam gelas, ia minum perlahan sembari matanya fokus melihat siaran acara kartun.
Cassy keluar dari kamarnya menuju ke dapur, namun langkahnya terhenti karena mendengar suara televisi, ia mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya, ia mengabil sebuah apel merah dan pisau dari dapur, lalu kembali ke kamarnya, saat ia sampai di sebelah ruang tengah terdengar suara tertawa yang cukup keras "ck ck ck apa akhirnya pria itu menjadi gila?" gumamnya, ia hendak pergi "Hahahahaahah" suara tawanya semakin keras, iapun merasa penasaran dan berniat mengintip tanpa diketahui.
Ia mengintip melalui dinding kaca, Keen yang tengah terpingkal pingkal dengan segelas wine di tangannya seketika sangat terkejut melihat wajah itu "Huaaaa" kakinya naik ke atas sofa, dan wine nya menumpahi baju mandi berwarna putih itu, satu tangannya menutupi kedua matanya. setelah beberapa detik tampak sunyi ia melihat kembali dari selah selah jarinya. "Huaaaaa!!" ia kaget lagi penampakan itu masih berada disana.
Sedangkan cassy merasa heran dengan tinggkah pria itu, menonton kartun sangat tidak cocok dengan kepribadiannya. Ia pikir pria itu bereaksi seperti itu karena tontonannya.
"Si siapa kau !!!" teriaknya.
"Kenapa pria itu? ahhhh dia melihat wajahku hahah" wajahnya sekarang sedang ditempeli masker putih. "Ciiihh dasar penakut" gumamnya.
Cassy pun mengambil kesempatan untuk sengaja menakut nakutinya, ia memelototinya lalu menjulurkan lidahnya kemudian ia pergi diam diam kembali ke kamarnya.
Merasa aneh Keen akhirnya melawan rasa takutnya dan menghampirinya, ia berjalan dengan sangat cepat karena ia mengira jika bukan hantu berarti orang yang tidak waras telah sembarangan masuk kerumahnya.
Ia melihat orang itu berjalan mengendap endap dari belakangnya, ia melihat ke tangannya yang membawa pisau. Ia mulai merasa bahwa itu adalah masalah serius, ia pun diam diam berlari untuk menangkapnya di ruangan yang gelap itu.
"Huaaaaaa" cassy sangat kaget karena tiba tiba tangannya di tarik kebelakang serta mulutnya ditutup dengan satu tangannya, punggungnya menyentuh dada pria yang hanya memakai baju mandi dengan belahan dada dan paha yang terlihat jelas.
"Kena kau ya, berani sekali wanita gila masuk ke rumahku!!!" bentaknya dari belakang.
"Eeemmmm" ia memberontak, lalu keen membuang pisau di tangannya.
"Apa yang sedang dilakukan oleh si menyebalkan ini " batin cassy sembari terus mencoba melepaskan diri. akhirnya ia melepaskan apelnya dan meraih tangan yang mencengkeram bibirnya dengan kuat itu.
"Hah hah, dasar gilaaaaaaa!! apa yang sedang kau lakukan????" teriaknya begitu tangan pria itu berhasil disingkirkan.
Mata Keen membelalak mendengar suara teriakan yang terasa familiar, Saat itu pegangan tangannya melemah, cassy menyalakan saklar di tembok sampingnya, seketika ruangan menjadi terang. Cassy berbalik badan menoleh ke pria di hadapannya kini, "Anda sudah gila yaaa" kemudian ia menoleh ke apelnya yang jatuh ke lantai "Apelku?" ia menatap tajam wajah pria didepannya.
"Apel?" keen masih terkejut "Ternyata kau!! kenapa berkeliaran dengan wajah seperti itu di ruangan gelap!!" ia membalas membentaknya.
"Anda orang kolot ya, ini namanya masker" ia menjelaskan dengan jengkel.
Keen menggaruk kepalanya yang tak gatal, sembari menoleh ke arah lain "Ya, maaf kan saya belum terbiasa, pakai bawa pisau juga, saya pikir orang gila masuk ke sini"
"Bagaimana caranya mengupas apel tanpa pisau??" ucapnya kesal lalu cassy menoleh ke hadapannya lagi, ia baru menyadari penampilan pria di hadapannya itu, ia sangat kaget melihat dada dan paha pria itu tepat didepan matanya sendiri, matanya membelalak tangannya refleks mendorong dadanya dengan sekuat tenaga "Mataku!!! kenapa anda berkelian dengan pakaian seperti itu" teriaknya setelah membuat suami kontraknya jatuh tersungkur di lantai. Ia langsung melarikan diri karena malu melihat sesuatu yang sangat vulgar itu.
************
Malam itu lys tengah berguling guling diatas tempat tidurnya, ia memikirkan seseorang yang semakin lama semakin ia inginkan, sifatnya yang ramah dan lembut serta pekerja keras membuatnya semakin mengaguminya setelah mmemperhatikannya cukup lama perasaannya menjadi semakin menggebu gebu.
Karena mengurus pembangunan cafe dan renovasi, ia hampir setiap hari bertemu dengan sekretaris lux yang semakin sibuk karena cafe itu sekarang adalah milik dari istri bosnya, ia diminta melakukan yang terbaik untuk pembangunan cafe tersebut, hampir setiap hari ia sendiri secara khusus mengamati perkembangan dan kemajuan pembangunan, membuat mereka lebih sering bertemu.
Karena tidak bisa tidur lys mengambil ponselnya disana terlihat jam sebelas malam, ia membuka tombol kontak lalu menemukan kontak yang bertuliskan nama sekretaris Lux, ia sempat ragu namun tetap nekat memencetnya, ia berpikir ia harus mencoba sekali jika tidak diangkat ia akan beralasan salah sambung besok saat ia bertanya.
Dalam hitungan detik ia menjawab panggilan Lys.
"Halo nona alyssa, mengapa menelvon larut malam?" ucapnya begitu panggilan terhubung.
Lys merasa senang sekaligus gugup mendengar suaranya dikesunyiam malam "A apa saya mengganggu anda Tuan Lucas?"
Lux sedikit kaget karena tak biasanya dipanggil dengan nama karena biasanya wanita itu selalu memanggilnya sekretaris lux seperti yang lain "Tidak, ada yang bisa saya bantu? kebetulan saya memang sedang kesulitan tidur"
"Benarkah anda bisa membantu saya?"
"Tentu, jika saya bisa saya pasti akan membantu nona"
"Bantu saya agar otak dan pikiran saya tidak selalu dipenuhi dengan wajah anda!"
Lux tersentak, ia bangun dari tidurannya "Ma maksud anda?"
Ia menjauhkan hp nya sejenak untuk menyiapkan dirinya, ia menghembuskan nafas perlahan dan kembali menaruh hp di telinganya "Maukah anda berpacaran dengan saya? mari menjalin hubungan yang serius" ucapnya gugup, jantungnya berdebar hebat sampai tubuhnya terasa lemas, menantikan jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.
Lux sangat kaget dan tak menyangka, diusianya yang tidak lagi muda ia mendapatkan kembali pernyataan cinta dari seorang wanita, ia bukannya tidak menyangka bahwa lys menyukainya, karena dari gerak gerik atau gaya bicaranya saat bersama dengannya sangat terlihat, ia pun menyadarinya tapi, wanita itu sangat berani menyatakan perasaannya terlebih dahulu padahal kelihatannya ia sangat polos dan ceria.
Sesaat panggilan televon itu sunyi, lys dengan harap harap cemasnya terus menantikan jawabannya "Emmm" saat lux membuka suaranya lys mendengarkan dengan seksama dengan diiringi debaran yang menggelitik hatinya.
Bersambung...................................
Dear pembaca terkasih, jangan lupa tekan like, subcribe, vote, komentar dan hadiah agar penulis semakin semangat.
TERIMAKASIH BANYAK,