
Winter memarkir mobilnya didepan cafe, ia melihat dari dalam mobil tampak tersisa hanya dua meja pengunjung, cassy terlihat dipojokan tengah duduk berhadapan dengan Daniel, wanita itu tampak tersenyum bahkan tertawa lepas dan ia beberapa kali mengelus kepala daniel,sedangkan daniel menggenggam tangan cassy, winter mengernyitkan matanya, ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya, ia tahu hubungan daniel dan cassy hanyalah sebatas hubungan antar adik dan kakak, tapi tetap saja ia merasa meradang, karena pikirnya bagaimanapun hubungan mereka berdua,yang jelas mereka bukanlah saudara kandung.
Awalnya ia ingin menunggu sampai cafe benar benar sepi, tapi ia merasa tak sanggup jika hanya menonton mereka dari jauh yang terus menerus melakukan kontak fisik, winter pun turun dari mobilnya, menggertakan giginya sembari berjalan masuk kedalam cafe. Wanita itu tak bergeming ketika ia masuk dan malah asyik mengobrol dengan daniel. Winter berjalan ke konter pemesanan, setelah mendapatkan minuman dan makanannya ia datang menghampiri mereka berdua, winter duduk di samping cassy begitu saja sehingga membuat mata daniel dan cassy terperanjat.
"Hai Tuan Winter, lama tak berjumpa dengan anda" ucap Daniel tersenyum sok akrab. Winter hanya meresponnya dengan mengangguk sembari matanya melirik ke tangan mereka berdua.
Cassy menatap pria disampingnya, memberi kode dengan mata namun winter sama sekali tak memahami kode tersebut, dan malah memakan roti di tangannya "Nona Cassandra, tolong bukakan sedotan saya" ucapnya sembari melirik ke sedotan hitam yang masih terbungkus diatas nampannya.
Daniel menatapnya dengan aneh, cassy pun menurutinya membukakan sedotan itu sesuai permintaannya, wajah winter terlihat senang ketika cassy melepaskan tangannya dari tangan daniel.
"Apa yang membawa anda kesini Tuan Winter?" tanya cassy dengan senyum kaku diwajahnya.
"Apalagi? tentu saja makan roti dan minum es kopi latte" ia tersenyum sembari mengunyah rotinya.
Cassy mengangguk angguk "Benar juga, apalagi yang akan orang orang lakukan ketika datang kesini"
"Apa kalian berdua sedang bertengkar?" tanya daniel heran dengan interaksi kaku keduanya.
"Tidak tuh, kami sangat akur" jawab winter.
Mata daniel mengamati keduanya "sepertinya ada yang aneh"
Cassy merasa tertohok "apa? apa yang aneh?" reaksinya tampak berlebihan.
Daniel menyipitkan matanya "Jangan jangan kalian..."
Cassy dan winter ternganga menantikan daniel meneruskan ucapannya.
"Haiiisss tidak mungkin"
"Anak ini"
"Kak cassy setelah cafe tutup ayo kita minum alkohol bersama"
"Tidak!" winter menolak dengan tegas.
"Saya bukan bertanya kepada anda Tuan!" oceh daniel.
"Tetap tidak boleh!" jawab winter tegas.
"Apa hak anda melarang larang kakak?" jawabnya kesal.
"Karena.." ucapannya terhenti ketika melirik cassy yang menggelengkan kepalanya untuk menghentikan apa yang akan diucapkannya.
"Apa apa?" jawab kesal daniel.
"Daniel.. kau tahu kan kakak pernah melakukan operasi jantung?" ucap cassy.
"Ahhh benar juga, aku lupa, maaf"
"Sebagai gantinya Tuan winter yang akan menemanimu, benar kan tuan?" cassy melihat ke arah winter menyikut sikunya.
"Saya tidak mau!"
"Yasudah, aku akan menemanimu tapi aku akan minum soda, boleh?"
Setelah cafe tutup daniel membawa satu keresek bir kaleng dengan kadar alkohol tinggi dan minuman soda kaleng khusus untuk cassy. pada akhirnya Winter bergabung meskipun bibirnya mengatakan tidak, Lys dan sekretaris Lux pun ikut bergabung di satu meja. Mereka mengobrol dan tertawa bersama, sedangkan Lux dan winter lebih banyak diam dan hanya memperhatikan.Sesekali winter menggandeng tangan cassy di bawah meja. Mereka setuju melakukan itu semata mata karena sedang menghibur daniel yang baru saja dipecat dari pekerjaannya, daniel banyak bicara dan mengeluarkan semua unek uneknya di tempat kerjanya setelah mabuk.
Bruukkkkk!!, tas milik Lys jatuh, ia pun mengambilnya di kolong meja, ia meraih tasnya dan matanya tercengang ketika melihat dua orang dihadapannya tengah bergandengan tangan. lys mengambil tasnya lalu kedua tangannya membungkam mulutnya sembari tersenyum sipu menoleh kearah cassy dan winter yang tak menyadarinya.
Sedangkan Winter yang baru menghabiskan sekaleng birnya tampak telah hampir kehilangan kesadarannya, karena dia adalah pria yang memang toleransi terhadap alkohol sangat lemah, ia baru saja menyenderkan kepalanya di atas meja. "Tuan winter anda tidak apa apa?" ucap cassy khawatir.
Daniel menggeleng geleng "Wahhh... siapa sangka pria bertubuh besar dan bugar sepertinya tidak kuat dengan sekaleng bir ck ck ck sangat payah" ia mencibir winter. "dan kau pria berkacamata, mengapa kau tak ikut minum bir malah minum soda untuk kakakku?" ucapnya menunjuk Lux sembari terus cegukan.
"Karena saya harus mengantar kekasih saya pulang dengan selamat" jawab lux sembari memegangi lys yang sudah mabuk.
"Daniel, sudah cukup minumnya" cassy mengambil bir ditangan daniel.
"Kak, aku masih mau minum"
"Sudah larut malam, kau bisa datang lagi besok"
"Baiklah"
"Anak baik..." cassy mengusap kepala daniel, winter samar samar melihatnya dan menepis tangan cassy, lux yang sadar sedikit mengerti kira kira hubungan antara winter dan cassy.
"Tuan Lucas bisa saya minta tolong antar daniel ke rumahnya? dan lys juga"
"Tentu! tuan winter?"
"Rumah kami sebelahan, saya yang akan membawanya"
"Baiklah"
Sekretaris Lux terlebih dahulu menggendong lys dan mendudukannya kedalam mobil di samping kursi kemudi, kemudian ia menyeret daniel dan melemparnya di kursi belakang, setelah itu lux menjalankan mobilnya, hp nya bergetar panggilan masuk dari atasannya,lux memperlambat laju kendaraannya dan mengankat panggilan dari bosnya. Keen menyuruhnya datang kerumahnya, meskipun merasa berat ia tetap mengiyakan permintaannya, meskipun tak mengatakan detailnya, lux tahu bahwa ia hanya disuruh untuk menemani atasannya itu minum alkohol.
Sementara cassy tak begitu kesulitan membawa winter pulang dengan mobilnya karena ia masih setengah sadar dan bisa berjalan, cassy hanya membantu menopang tubuhnya yang terhuyung. Sampailah mereka didepan rumah winter.
"Berapa kode pintunya?" tanya cassy pelan sembari memegangi tubuh winter.
"Entahlah, sepertinya sama dengan punyamu hehe" ia tersenyum seperti anak kecil.
"Benarkah?" cassy merasa tak yakin, tapi ia tetap mencobanya dan berhasil, pintu terbuka.
"Baguslah, ayo masuk" cassy menariknya masuk dan membawanya ke tempat tidur.
Setelah sampai di depan ranjangnya ia membantunya berbaring perlahan, kemudian cassy melepaskan sepatu dan kaos kaki winter, kemudian melepaskan jas dan sabuknya. "Seharusnya bilang kalau tidak bisa minum alkohol" ucapnya sembari membersihkan wajah winter dengan handuk basah.
Drrrttt drrrttttt.. cassy mencari cari sumber asal suara, ia melihat ponselnya namun tak ada notifikasi, ia masih mencari karena suara getaran hp terus terdengar, kemudian ia mendekati jas yang ditaruhnya di atas meja dengan laci dibawahnya. terlihat layar hp yang menyala di dalam saku dalam jas, ia mengambilnya, hanya pesan teks dari nomor tidak dikenal. cassy segera menaruhnya di atas meja karena meskipun mereka kekasih tidak baik jika mencoba mengintip privasinya, Ia menarik selimut dan menghidupkan pendingin ruangan.
Ketika ia hendak melangkah keluar tiba tiba hp nya berdering suara panggilan masuk, cassy mendekati hp itu lagi.
Sepertinya penting, haruskah aku mengangkatnya?
Cassy tampak ragu ragu, namun akhirnya meraih hp itu dan mengangkatnya, sebelum ia bersuara terdengar suara seorang wanita. "Tuan winter mengapa tidak membalas pesan saya?" degg.. cassy meradang mendengar suara wanita yang terkesan manja itu, kemudian ia langsung mematikannya.
Ia menatap tajam wajah winter yang sedang terlelap, ingin sekali rasanya ia membangunkannya dan menanyakan tentang wanita itu, tapi ia segera menenangkan dirinya dengan menarik dan menghembuskan nafas perlahan, bisa saja rekan kerja atau yang sejenisnya, ia memantapkan hatinya untuk tetap mempercayai pria yang dicintainya itu, ia akan menunggu sampai winter sendiri yang menjelaskannya jika memang ada hal lain yang harus ia ketahui, ia segera keluar dari sana dan masuk ke rumahnya.
Bersambung............................