SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 59



Tiiinn!!


Tiinn!!


Renaldi menoleh sebentar ke arah kaca spion mobilnya. Melihat ada dua buah mobil yang mengikutinya. Pertama kendaraan milik Sadam, dan satu lagi entah milik siapa. Detik betikutnya mobil yang tak ia kenali itu berjalan cepat melewatinya dan berhenti secara tiba-tiba di depan mobilnya. Dengan cepat ia menginjak rem mobilnya agar tidak menabrak.


"Anj*ng!!" Umpatnya berteriak. Menekan klakson mobilnya supaya mobil di depannya segera menghindar.


Segera ia turun dari dalam mobilnya. Begitu juga dengan pemilik mobil yang menghalangi jalannya. Ia berjalan cepat, tangannya sudah mengepal, melayangkannya ke udara ketika sampai di depan pria itu.


Sekuat tenaga ia mendorong tangannya. Namun usahanya sia-sia, tangannya lebih dulu ditahan dan justru dirinya diserang balik.


Bugh!


"Itu buat lo karena berani ganggu Alma!"


Bugh!


"Itu buat lo karena ngusik kehidupan keluarganya!"


Bugh!


"Itu buat lo karena selalu menyebabkan masalah!"


Tiga pukulan mendarat di kedua pipinya serta bagian perutnya. Karena tak siap Renaldi terjatuh dan terbaring lemas di atas aspal. Melihat itu Sadam segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari menghampiri sang adik yang terbaring lemah di jalan.


"Cepet jawab, di mana Alma sekarang!!" Bentak pria yang tadi memukul Renaldi. Menarik kerah kemeja pria yang baru saja diserang olehnya.


Sadam mendorong pria yang memukul adiknya hingga terhuyung ke belakang. "Siapa lo, b*ngsat!!?"


"Gak usah jadi pengecut, lo! Buka topeng lo!!" Sadam menarik paksa masker yang dikenakan oleh orang yang memukul adiknya.


Terkejut melihat pria yang sangat familiar di penglihatannya, namun ia lupa siapa dia. Pria itu tersenyum sinis meremehkan Sadam. "Haha… Daya ingat lo lemah banget ya?" Ucapnya dengan tangan yang bergerak melepaskan topi hitam yang dikenakan olehnya.


Vian, pria itu mulai mengabaikan tatapan mengintimidasi dari Sadam. Kembali berjalan menuju Renaldi yang kembali berdiri dengan muka yang sedikit membiru karena sudah dua kali ia mendapatkan pukulan dari orang yang berbeda.


"Di mana lo sembunyiin Alma?!" Nada bicaranya memelan namun penuh penekanan.


Dari wajahnya, nampak Renaldi tak terkejut sedikitpun. Ia pun sudah menduga bahwa yang memukulnya adalah Vian-saingannya. Pria itu menghapus darah yang berada di sudut bibirnya. Memperhatikan darah yang saat ini berpindah ke jari telunjuknya dan menatap remeh Vian kembali.


"Buat apa gue kasih tau lo?" Ucapnya angkuh.


"Riel lo sembunyiin siapa?"


Renaldi mengabaikan pertanyaan sang kakak yang menurutnya tak penting. Bersedekap dada dan menyunggingkan senyum miringnya. "Kenapa gak lo cari aja?" Ujarnya meremehkan.


"Nazriel!"


"Diem Bang!!" Sadam membentak, namun adiknya justru ikut membentaknya. Merasa tak ada yang perlu ikut campur dalam masalahnya.


Vian tertawa hambar melihat interaksi keduanya. Menepuk bahu saingannya dan menatapnya seperti sedang meremehkan. "Bener juga kata lo." Ia memanggut-manggutkan kepalanya. "Hal yang perlu lo inget, sekali lo buat keluarga Alma berantakan, lo gak bakal bisa dapetin dia, dan keluarga lo udah ngelakuin hal itu ke keluarga Alma,"


Ia menjeda kalimatnya sebentar. Memajukan wajahnya dan berhenti tepat di sebelah telinga Renaldi. "Karena itu kesempatan lo untuk dapetin dia udah habis." Bisiknya dengan suara liciknya. Tersenyum puas ketika melihat ekspresi terkejut sekaligus menahan amarahnya dari wajah Renaldi.


Setelah mengatakan hal itu, segera berbalik dan berjalan menuju kendaraannya kembali. "Kavga!!" Teriaknya sebelum memasuki kendaraannya kembali.


Tangan Renaldi mengepal kuat. "We'll see later." Gumamnya penuh penekanan. Masuk kembali ke dalam kendaraannya dan membanting pintu mobilnya dengan sangat kuat. Memutar balikkan arah kendaraannya dan meninggalkan sang kakak seorang diri dengan segala sumpah serapah untuk adiknya.


"Setidaknya dia gak terburu-buru menyelesaikan masalahnya langsung ke Abi." Ucapnya menghentikan kalimat-kalimat kasar yang ia lontarkan pada Renaldi. Tapi ia bersyukur, karena pada akhirnya sang adik mengurungkan niatnya untuk menemui sang ayah yang berada di balik jeruji besi.


__________


Pesawat terbang berwarna merah dan putih dengan sedikit garis hitam itu baru saja mendarat dengan sempurna setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama. Di bagian sisi kanannya terdapat gambar bulan dan bintang berwarna putih yang berada di dalam kotak persegi panjang berwarna merah, gambar tersebut adalah bendera negara Turki.


Alma menggeliat merasa tidurnya terganggu. Merentangkan tangannya dan meregangkan otot-ototnya. Ia terduduk dari tidurnya di atas ranjang pesawat. "Udah sampe?" Tanya Alma memastikan karena sebelumnya ia tak mendengar ucapan Ilza dengan jelas. Ia mengucek matanya dengan tangan yang satunya menutup mulutnya yang menguap.


"Iya, baru aja."


Perlahan ia menggeserkan tubuhnya menuju bibir ranjang. Melepas sandal bulu yang ia kenakan dan menggantinya dengan sepatu sport yang sebelumnya dikenakan olehnya.


"Sebentar Aunty, Alma mau cuci muka dulu." Ujarnya meminta izin. Langsung menuju wastafel yang berhadapan langsung dengan cermin.


Berkali-kali ia membasuh wajahnya. Menatap dirinya di dalam pantulan cermin. "Almasya Shahinaz Muzakki, kamu pasti bisa Alma. Cepat selesaikan masalah kamu, dan kembali ke Indonesia." Ucapnya pada diri sendiri. Menyemangati dan meyakinkan dirinya.


Meraih tisu dan mengelap mukanya yang basa kemudian membuang tisu tersebutke dalam tempat sampah. Menyusul sang bodyguard yang sudah menunggunya.


Pukul 11 malam di kota Ankara, Alma memutar pandangannya ketika sudah sampai di dalam bandara. Mencari Enver, kakak sepupunya yang katanya akan datang menjemputnya. Namun saat ini tak ada satupun seseorang yang ia kenali berada dalam bandara.


Ia langsung menoleh ke arah Ilza yang selalu berjalan berdampingan dengannya. "Abi Enver kemana?" Tanyanya berharap sang bodyguard tau keberadaan pria itu.


"Mungkin udah istirahat, mengingat saat ini udah jam 11 malem." Alma mengangguk membenarkan. Para penghuni rumah sudah pasti sedang beristirahat dan akan terbangun kembali ketika mereka melaksanakan sholat tahajjud berjamaah, seperti biasanya.


"Ke apartemen Alma aja Aunty. Gimana menurut yang lain?" Gadis itu melirik bodyguardnya yang lain.


Dua orang pria yang sedari tadi berjalan di belakang Alma dan Ilza saling pandang. Kemudian salah satunya menjawab mewakilkan ucapan rekannya. "Kita ikuti nona aja." Alma mengangguk setuju.


Akhirnya mereka berempat pergi menuju sebuah apartemen milik keluarganya. Menunjukkan kartu akses cepatnya kepada resepsionis, membuat pekerja yang berada di sana dengan cepat membersihkan apartemen khusus tersebut. Dua apartemen dipersiapkan dengan masing-masing dua buah kamar yang berada di dalamnya.


"Biar Aunty yang bawa Alma," pinta Ilza ingin meraih koper yang Alma pegang.


Namun gadis itu justru menjauhkan kopernya dari jangkauan sang bodyguard. "Aunty juga udah pegang koper sendiri, yang ini biar Alma yang bawa. Ini kan punya Alma." Ucapnya bermaksud protes. Langsung meninggalkan ketiga bodyguard yang di bawa olehnya.


Dengan cepat Ilza berlari dan menghampiri Alma yang hendak menaiki lift khusus menuju apartemen paling atas, di mana tempat tersebut telah dipersiakan olehnya.


Sampai di dalam apartemen ia langsung menuju kamar utama yang letaknya berada di paling ujung, yang menampilkan secara langsung pemandangan kota Ankara melalui balkon kamarnya.


Baru saja ingin memejamkan matanya setelah membersihkan diri, pintu kamarnya diketuk. Alma mengeluarkan kepalanya dari balik pintu, dengan tubuhnya yang bersembunyi di balik pintu kamarnya. "Hmm, kenapa Aunty?" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang sangat imut.


Ilza tersenyum manis pada gadis yang selalu ia anggap adiknya, senyum yang sangat jarang sekali ditunjukkan pada orang lain. Ia menyodorkan segelas cangkir pada gadis itu. "Nih, untuk menghangatkan tubuh kamu." Ucapnya pada Alma.


Gadis itu membuka lebar pintu kamarnya. Menerima secangkir teh hangat khas Turki dengan uap yang masih mengepul, menandakan masih panas. "Makasih Aunty. Mau minum bareng?"


Dengan cepat ia menggeleng. "Gak perlu. Aunty mau bersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh." Ucapnya menolak ajakan Alma. Tangannya terangkat, mengusap sayang puncak kepala Alma. "Jangan kemaleman tidurnya ya, tubuh kamu pasti lelah." Peringatnya pada Alma.


Alma mengangguk cepat. "Iya Aunty. Makasih."


Ilza mengangguk mengiyakan ucapan Alma. "İyi geceler." (Selamat malam.)


"İyi geceler, Aunty." (Selamat malam, Aunty.) Ilza kembali ke dalam kamarnya setelah mendapatkan balasan dari Alma dengan secangkir teh hangat lainnya yang ia buat.


Dengan perlahan gadis itu menutup pintu kamarnya. Berjalan menuju pintu balkon yang tertutup tirai. Menggeser tirai tersebut dan langsung membuka pintu balkon kamarnya.


Berjalan keluar dan menghampiri pagar pembatas. Menghirup sangat dalam udara malam yang terasa sangat dingin saat itu. Tersenyum sinis seolah ada seseorang yang melihatnya dari lantai 85 itu. "Keluarga kalian terlalu berani bermain-main dengan keluargaku, Ren." Ucapnya dengan memandang ke bawah, memperlihatkan keadaan malam hari kota Ankara.


Menyesap teh khas negara Turki yang baru saja Ilza buat dengan perlahan. "Kamu pikir aku sepolos dan selugu itu?" Ia kembali bicara sendiri. Menaruh cangkir yang berada dalam genggamannya di atas meja dan kembali berdiri di pagar pembatas yang tingginya sebahu gadis blasteran tersebut.


Tangannya meronggoh ke dalam saku jaket kulit yang ia kenakan. Mengeluarkan benda ilegal di negara tempat tinggalnya. Sebuah senjata api miliknya yang diberikan langsung oleh sang ayah untuknya. Ia menyentuh ukiran-ukiran indah itu dengan gerakan perlahan. Menarik pelatuk senjata apinya dan mengarahkannya ke arah vas tanaman yang berada di sekitarnya.


Doorr!!


Suara peluru tersebut terdengar sangat kencang, menembus dan menghancurkan vas yang terbuat dari keramik dengan emas di sekitarnya. Ia tertawa puas melihat vas bunga tersebut hancur berkeping- keping. "Akan ku buat kamu seperti itu, Ren. Keluargamu telah mengusik hidupku dan orang-orang terdekatku, kamu harus mendapatkan balasannya." Ucapnya menyeringai jahat.


Ia menarik kembali pelatuk senjata apinya. Mengarahkan ke vas bunga lainnya. "Nazriel Renaldi At-Thariq," ia menjeda kalimatnya sebentar. Menyunggingkan senyumnya yang menyeringai. "Welcome to my game." Ucapnya di sertai dengan peluru yang kembali menembus ke dalam vas bunga yang kedua.