SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 16



"Kamu haus gak, dek?" Tanya Shasha setelah menghapus keringat yang membasahi wajah sang Adik. Shasha yakin kalau adiknya itu juga tengah kehausan karena baru saja selesai nge-gym.


Rayyan menatap sang Kakak yang juga masih menatapnya dengan tatapan bertanya. Perlahan ia menggeleng lalu menunjukkan sebotol air mineral yang sudah ia pegang sebelumnya. Shasha mengangguk paham apa yang Rayyan maksud.


"Ya udah, sekarang kamu coba kuenya!" Suruh Shasha yang ikut duduk di samping Rayyan. Saat ini wanita itu tengah mencoba untuk fokus ke adiknya terlebih dahulu. Ia masih belum berani melihat sekelilingnya, apalagi ke arah Ghibran.


Rayyan megangguk menuruti ucapan sang Kakak. Menyicipi kue yang baru saja dibuat.


"Enak?" Rayyan mengangguk sebagai jawabannya. Shasha tersenyum senang karena adiknya menyukai kue tersebut. Berkali-kali suapan sendok masuk ke dalam mulut Rayyan karena ia memang menyukainya.


Alma, Ghibran serta Arkhan mendekati keduanya. Mereka bertiga langsung mengambil posisi duduk di dekat keduanya.


"Tadi Ante pamit ke rumah sakit. Katanya ada korban kecelakaan yang harus segera Ante tangani," ucap Alma pada Ghibran.


Gerakan tangan Ghibran terhenti ketika mendengar ucapan dari Alma. Ia langsung menatap Alma, "Kok gak pamit ke Abang?" Tanya Ghibran bingung. Tak seperti biasanya Ibunya itu tak mengatakan apapun padanya.


Alma menggeleng dengan menaikkan kedua bahunya, ia pun tak tau. Lagipula ini sudah menjadi tugasnya Nadia sebagai seorang dokter. Telat sedikit, maka nyawa menjadi taruhannya.


Tring…


Suara ponsel berdering begitu berisik. Karena merasa getaran ponsel itu miliknya, Shasha langsung buru-buru mengambilnya, takut itu panggilan penting.


Helaan nafas pelan terdengar dari mulut Shasha. Lagi-lagi itulah nama kontak yang tertera di ponselnya saat ini. Itu adalah nomor kontak milik sang Ayah dan saat ini sedang menghubunginya.


Rayyan menatap ponsel Shasha yang panggilan dari sang Ayah belum juga diangkat. "Angkat telephone nya" suruh Rayyan yang heran dengan Kakaknya karena hanya menatap ponselnya, tapi tidak diangkat olehnya.


Shasha mengangguk terpaksa. Ia berdiri dari duduknya untuk menghindari suara bising mereka ataupun ada yang mendengar percakapannya. Dengan pelan Shasha pamit untuk mengangkat panggilan itu sebentar pada yang lainnya. Setelah mereka mengangguk setuju, Shasha langsung menjauh ke ujung ruangan dan mengangkat panggilan dari Ayahnya.


Dari tempatnya, Rayyan memperhatikan gerak-gerik sang Kakak yang nampak tidak tenang. Berkali-kali Shasha jalan dan berbalik kembali ke tempat awalnya. Seperti ada yang tak beres dengan Shasha, Rayyan memutuskan untuk menghampiri langsung Kakaknya.


Puk…


Ditepuk pelan bahu sang Kakak dari belakang. Shasha menoleh dalam keadaan menangis. Hal itu membuat Rayyan terkejut melihatnya.


Grep…


Shasha langsung memeluk tubuh Rayyan begitu saja. Awalnya pria itu terkejut, namun di detik berikutnya Rayyan memeluk balik tubuh Kakaknya yang lebih kecil darinya. Ia tak tau apa yang Ayah serta Kakaknya itu bicarakan, yang jelas itu pasti hal penting hingga membuat Kakaknya menangis.


Shasha melepaskan pelukannya dan langsung menggenggam tangan Rayyan. Ia menarik tangan Rayyan supaya mengikuti langkahnya. Tapi Rayyan masih terdiam di tempat karena tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi


"Ayo Rayyan, ayo!" Suruh Shasha yang terus menarik pergelangan tangan sang adik.


Alma, Ghibran dan Arkhan yang melihat itu langsung mendekat ke arah keduanya. Mereka ingin tau apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Shasha sedikit brutal.


"Lo kenapa? Kenapa harus ke rumah Kakek Nenek? Ada apa di sana? Jangan bikin gue bingung, Kak!!" Ucap Rayyan bertanya. Suaranya mengencang, membentak Kakaknya yang mengamuk tak jelas.


Shasha terdiam, gerakannya melemah tapi tangisnya masih terdengar. "Kakek Ray… Kakek meninggal" lirih Shasha melemah.


Bayangan beberapa tahun yang lalu menghampirinya. Ketika ia sangat dekat dengan sang Kakek dari Ayahnya. Ia begitu dimanjakan oleh Kakeknya itu. Semua kenangan dengan sang Kakek terulang di benaknya. Ada rasa menyesal dalam dirinya ketika beberapa hari yang lalu Fahriz-Kakeknya itu memintanya untuk datang, tapi ia menolak karena saat itu sedang sangat sibuk dengan kuliahnya.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap ketiganya bersamaan. Terkejut dengan apa yang Shasha ucapkan. Pantas saja sikapnya berubah dari yang sebelumnya.


Rayyan membeku di tempat. Menggeleng beberapa kali karena tak percaya dengan apa yang Shasha katakan. Tak terasa air matanya ikut mengalir begitu saja tanpa Rayyan sadari. Rayyan menatap Shasha kembali. Kakaknya itu sedang menunduk menatap lantai dengan isak pilu tangisnya.


Tangan Rayyan meraih tubuh sang Kakak dan membawanya dalam pelukan hangat darinya. Membiarkan sang Kakak menumpahkan segala kesedihannya di dalam pelukannya. Rayyan mengusap lembut di punggung Shasha dan memintanya untuk lebih tenang.


"Diam atau kita gak ke sana" ancam Rayyan yang bermaksud meminta sang Kakak untuk berhenti menangis. Tangis pilu dari Shasha juga mampu membuatnya menangis. Sekuat mungkin ia tahan supaya ia sendiri bisa menguatkan hati Kakaknya.


Perlahan Alma berjalan mendekat. Menatap Rayyan sebentar untuk meminta melepaskan Shasha dari pelukan pria itu. Rayyan mengangguk lalu melepaskan Kakaknya. Segera Alma meraih tubuh Shasha dan menguatkan sahabatnya itu.


"Sha, denger Alma!" Pinta Alma pelan. Ia pun ikut sedih jika melihat Shasha sedih. Di saat seperti inilah semangat dari orang-orang terdekat dibutuhkan.


"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Qur'an surah Ali-Imran ayat 185


Juga disebutkan dalam hadist riwayat Abu Dawud, telah menceritakan kepada kami Hanad bin Sariyyi dari Abdah dan Abu Mu’awiyyah, dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya, dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya seorang mayit diadzab dikarenakan tangisan keluarganya kepadanya." Ucap Alma menjelaskan apa yang ia ketahui pada Shasha.


Seketika tangis Shasha mereda setelah mendengar penjelasan dari Alma. Ia tak ingin Kakeknya diazab karena salah satu tangisan dari keluarganya.


"Sha, maksud aku boleh aja kamu nangis asalkan tidak berlebihan. Seperti sebelumnya, kamu berteriak-teriak menangisi Almarhum Kakek kamu, itu yang tidak diperbolehkan." Ucap Alma kembali. Ia meraih tubuh Shasha dan memeluknya dengan erat.


Perlahan Shasha mengangguk. "Iya Ma, makasih udah ingetin aku." Balas Shasha yang sudah bisa mengendalikan dirinya kembali.