
Keesokan harinya, matahari menyengat masuk menembus dari jendela kaca besar di kamar winter, ia membuka matanya dan melihat kearah cahaya yang cukup menyilaukan meskipun tertutup tirai putih itu, ia menyadari matahari sudah tinggi, ia memegangi kepalanya yang sakit, untunglah hari ini adalah hari sabtu, ia tak akan berani nekat meneguk alkohol jika esok harinya ia harus pergi bekerja.
Ia bangun dan melangkahkan kaki membuka pintu kamarnya, ia berjalan keluar, langkahnya terhenti di meja makannya. Ia melihat semangkuk sup dan termos kecil di penutup makanan diatas meja, dan juga ada secarik kertas yang tertempel di sampingnya. Ia mengambil kertas itu dan membacanya dengan tersenyum.
Minumlah sup pengar dan air madu hangat ini sesudah kau bangun..
"Kekasih yang perhatian" gumamnya senang, ia merasa hanya mendapat tulisan seperti itu pun sudah cukup membuat tubuhnya kembali segar.
Ia menarik kursi dan duduk lalu meminumnya dengan perlahan. setelah selesai ia kembali ke kamarnya, meraih hp di atas meja dan mengirimkan chat kepada cassy.
Aku baru saja selesai meminum sup dan air madu yang kau buatkan, terimakasih..
Sebagai balasannya apa yang kau inginkan dariku?
Cassy tersenyum memegangi ponselnya menerima pesan teks dari winter. "Ehemmmmm" lys berdehem disampingnya dengan keras, namun cassy sama sekali tak menggubrisnya.
"Duuhhh... sepertinya ada yang sedang berbunga bunga nih..." sindir lys sembari menyenggol lengannya.
Cassy menoleh ke arahnya dengan acuh "apa sih?" ia tak paham dengan apa yang dikatakan lys barusan.
Tok tok tok, terdengar bunyi suara ketukan pintu.
"Masuklah" jawab lys, sementara cassy tetap fokus dengan ponselnya.
Seorang karyawan wanita masuk dengan membawakan sebuah buket bunga "Permisi, seorang kurir mengantar bunga untuk Bu cassy" ucapnya tersenyum. Mereka yang tidak tahu pasti merasa iri dan tersenyum melihat bunga bunga cantik yang dikirim setiap hari.
Deg. cassy segera menoleh ke arahnya, sedangkan lys menerimanya dan karyawan itu keluar setelah melakukan tugasnya. Kali ini bunga mawar berwarna salmon yang senada dengan kemeja yang dikenakan oleh cassy.
"Haruskah langsung kita buang saja?" ucap lys ragu ragu dan merasa takut.
Cassy yang berekspresi tak nyaman mengambil buket itu dan menaruhnya diatas meja, ia mengambil kartu ucapan yang tersalip di bunga.
Hari ini juga cantik.
Setelah membacanya cassy melempar kertas kecil di tangannya ke sembarang tempat.
"Ini menyebalkan, bisa tolong kau buangkan lys" ucapnya merasa kesal.
"Tentu" lys segera bangun dan membawa buket itu keluar.
Cassy tampak terdiam dengan kesal, semakin lama pengirim bunga itu semakin membuatnya terganggu, lys kembali masuk ke dalam ruangan. "Anda baik baik saja?"
"Ya, kau tak perlu kawatir, jam berapa ini?"
"Jam setengah satu"
"Ahhh, kau tidak pergi makan siang dengan lucas?"
"Tidak, sepertinya dia sedang sibuk" jawabnya dengan wajah murung.
"Makanlah terlebih dahulu, saya harus pergi sekarang?" cassy bangun dan meraih tasnya.
"Anda mau kemana?"
"Saya ada janji dengan seseorang"
"Ehemmm.. siapa itu?" kira kira lys sudah bisa menebak siapa orang itu.
"Ra ha si aaa" cassy segera keluar dan berjalan dengan cepat.
Ia melangkah keluar cafe dan menuju sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Cassy membuka pintu mobil dan masuk kesana.
"Sudah lama menunggu?" ucapnya begitu melihat wajah tampan dengan senyuman cerah di hadapannya. sudah lama cassy tak melihatnya mengenakan pakaian casual, itu membuatnya semakin terlihat bersinar, sungguh gaya apapun akan terlihat cocok dengannya.
"Tidak, haruskah kita jalan sekarang?" jawabnya sembari tangannya membelai rambut cassy.
"Ya" Winter tersenyum dan menjalankan mobilnya. sementara tangan satunya menggenggam tangan cassy.
"Ngomong ngomong kita belum pernah melakukan kencan pertama ya, haruskah kita melakukannya? kapan kau ada waktu?"
"Aku bisa kapan saja" ucapnya dengan memaksakan senyumnya.
"Apa ada masalah?"
"Ha?? tidak tidak ada masalah"
"Tapi di wajahmu tertulis seperti aku sedang tidak senang sekarang"
"Apa sihh? dari pada itu apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?"
"Katakan? apa itu?" ia terlihat tidak mengerti.
"Hahhh.. sudahlah!"
"Kau marah?"
"Kau marah kau pasti marah"
"Tidak aku bilang tidak!!" ucapnya ngotot dengan wajah yang penuh kekesalan.
"Katakan agar aku mengerti"
"Hmmm.. wanita.."
"Wanita??"
"Wanita yang menelfonnmu semalam siapa?"
"Siapa yang menelfon?"
"Sudahlah"
"Katakan, jangan salah paham sendirian"
"Wanita yang menelfonmu semalam aku yang menjawabnya, dia bilang kau tak membalas pesannya"
"Ahhhh" winter sudah mengerti maksudnya. Namun ia ragu untuk mengatakannya sekarang karena pada akhirnya ia harus menjelaskannya dari awal, ia kawatir jika cassy akan lebih kesal dari sekarang.
"Tidak perlu katakan kalau memang tidak ingin!" ucapnya dingin setelah winter tak kunjung menjawab pertanyaannya, lalu ia menoleh ke arah luar dan melepaskan tangannya dari genggaman winter.
Winter meliriknya sesekali, raut wajah wanita itu sudah kesal bukan main "aku akan memberitahumu setelah kita sampai di restaurant, oke?" bujuknya pelan namun cassy sama sekali tak meresponnya, wajahnya tetap terlihat murka.
Setelah beberapa saat suasana diantara keduanya terasa sunyi dan mencengkam akhirnya winter menghentikan mobilnya di depan sebuah restaurant. Ia turun terlebih dahulu sebelum membukakan pintu untuk cassy yang terlihat tak lagi memiliki selera makan. Cassy pun turun dengan malas, kemudian winter menggandeng tangannya dan membawanya ke sebuah ruangan vip di lantai dua yang telah direservasi olehnya.
Mereka duduk berdampingan, makanan satu persatu datang dan cassy hanya diam tak bersuara, ia terkesan sibuk dengan ponselnya mengabaikan ucapan winter yang memintanya segera makan. Winter pun sudah tak tahan lagi dengan keheningan darinya, ia meletakkan sendok dan garpu yang telah dipegangnya.
Winter menarik kursi dan membuat cassy duduk menghadap kearahnya "apa yang kau lakukan?" ucap cassy bingung.
"Akhirnya kau bersuara lagi, oke aku akan mengatakannya sekarang juga" cassy tampak menatapnya dan mulai menyimak apa yang akan dikatakan oleh pria dihadapannya.
"Jadi wanita itu adalah teman dari sekretarisku, sekretaris jenie kau kenal kan?" cassy mengangguk.
"Dia.. ahhh kau ingat apa yang aaku katakan saat aku menyatakan perasaan kedua kalinya?" cassy mengangguk lagi.
"Kau mengajakku ikut pergi ke kencan butamu dan ingin melihatku yang sedikit cemburu?" jlebbbb.. winter merasa malu setelah ia mengulangi perkataannya waktu itu.
"Wanita di kencan buta itu adalah teman baik dari Jenie dan dia sangat kecewa dan terus mengganggu jenie karena dia menungguku dan aku tak datang atau menghubunginya"
"Jadi?" wajahnya mulai mengeras, ia telah memiliki firasat buruk.
"Jadi wanita itu ingin sekali saja menemuiku dan setelah itu selesai sudah"
Wajah cassy semakin suram "Jadi kau akan menemuinya demi si jenie itu?"
"Tentu, itu adalah kesalahanku dan aku harus bertanggung jawab untuk itu"
"Apa wanita itu pernah melihatmu di suatu tempat?"
"Jenie bilang dia pernah melihatku"
"Wanita itu tertarik denganmu dan kau akan tetap menemuinya?"
"Apa tidak boleh?" winter merasa terintimidasi oleh sorot mata kekasihnya yang semakin tajam.
"Ya, pergilah.. lakukan sesukamu, aku laparrrr!" ia menekankan ucapannya, lalu ia makan dengan cepat.
"Kau marah?"
"Jangan ajak bicara orang yang sedang makan!" ucapnya sembari mengunyah dan menyuapi mulutnya makanan.
Setelah mereka menyelesaikan makan, cassy menyeka mulutnya.
"Kapan kau akan menemui wanita itu?"
"Teman Jenie?"
"Ahhh.. entah mengapa aku merasa kesal mendengar nama jeni jeni jeni" gerutunya pelan.
Winter kembali menggeser kursinya menghadap kearahnya, menyeka bibir cassy dengan perlahan dengan tissu "aku akan menemuinya jam lima sore ini di coffe shop X, jangan kawatir, aku tak akan lama dan aku akan langsung mengatakan keintinya, bahwa aku sudah memiliki kekasih yang sangat kucintai, apa itu cukup?" Cassy mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu Winter kembali mengantarnya ke cafe, dan ia segera pergi lagi.
Bersambung....................