
Flashback
Suara sirine polisi terdengar sangat kencang. Para pengawal yang mendengar itu berhambur memasuki kediaman untuk melapor pada sang majikan.
"Apa?!! Kenapa bisa?! Siapa yang melaporkan saya?!!!" Suara Hilmi melengking di seisi ruangan rumahnya. Terlihat gelagapan karena ada yang melaporkan kejahatan nya.
"Maaf Tuan, kami juga tidak tau"
"Aarrgghh!!!" Hilmi segera ke luar ruangan nya. Berlari dan melihat sisi kanan dan kirinya.
Mendengar suara sirine mobil polisi, anggota keluarga itu ke luar dari ruangan mereka masing-masing. Sadam berjalan mendekat, menahan lengan Ayahnya agar tidak pergi dari rumah mereka. Anak sulungnya itu tersenyum sinis, seperti tak ada belas kasihan nya kepada sang Ayah.
"Mau kemana, Bi? Udah lah gak usah kabur. Percuma, Abi udah disekap." Sadam berucap sinis, memasang wajah remeh nya pada sang Ayah.
"Kurang ajar!!" Tangan pria paruh baya itu terangkat. Melayangkan telapak tangan nya ke arah Sadam. Namun dengan segera ditahan, tangan Hilmi dilempar begitu saja menjauhi wajah Sadam.
Abeela-wanita cantik berasal dari negara Arab itu menahan pergerakan Hilmi, suaminya. Menghentikan gerakan tangan sang suami yang ingin menampar anak sulungnya. "Mau apa kamu?!" Tanya Abeela menantang. Tak terlihat ketakutan sedikitpun pada wajah wanita itu.
"Kamu?!!"
"Abi dari pada marah-marah gak jelas, mending kita ke luar. Polisi ada banyak loh… Mau liat gak?" Renaldi ikut menghampiri, meledek Ayahnya yang sudah terlihat sangat kesal.
Hilmi menggeleng. Pria itu tak lagi mempedulikan keluarganya yang berkhianat darinya. Padahal awalnya ia merasa seluruh keluarganya berada di pihaknya. Namun hari ini membuktikan bahwa keluarganya sendiri pun tidak dapat dipercaya begitu saja. Hilmi langsung berlari menuruni anak tangga, ingin melepaskan diri dari tahanan para polisi dan berlari ke arah taman belakang. Diikuti dengan para pengawal setia pria itu.
Melihat sang kepala keluarga berlari terbirit-birit, ketiga orang itu tertawa puas. Jujur saja, mereka tak ingin melihat salah satu keluarga mereka masuk penjara. Namun karena ulah pria itu, bukan hanya masa depan anaknya yang ia korbankan, tapi masa depan orang lain juga diatur oleh pria itu. Ia pikir siapa dia sampai mengatur keinginan orang lain?
Abeela, wanita itu mendekati anak sulungnya. Mengusap lengan Sadam dan tersenyum. "Semua akan baik-baik saja." Ucap Abeela meyakinkan.
"Semoga seperti itu, Mi"
"Yok, kita ke kantor polisi juga, nganter Abi!" Renaldi kembali dengan memegang kunci mobil di tangan pria itu. Ia mengayunkan lengan nya, bersiap mengantarkan keluarganya untuk datang ke penjara, menemui sang Ayah.
_____
Sadam memasukkan kedua telapak tangan nya ke dalam saku jeans yang ia kenakan. Menatap ke arah sel tahanan dan tersenyum miris. Tak lama polisi datang dengan membawa sang Ayah padanya.
"Apa mau kamu, Sadam?" Hilmi bertanya. Menatap ke sembarang arah dengan sebal.
Anak sulung itu menyunggingkan senyum tipisnya. Segera duduk dan berhadapan langsung dengan sang Ayah yang dibatasi dengan dinding kaca. "Nggak ada, cuma mau liat aja kalau Abi beneran masuk penjara." Balas Sadam memancing emosi Hilmi.
"SADAM!!!"
"Apa Bi?!"
"Kamu keterlaluan, Sadam! Kamu gak tau terima kasih! Kamu anak gak berguna!!" Hilmi meluapkan kekesalan nya. Memberikan sumpah serapah untuk anak sulungnya.
"Maaf Abi, bukan gak tau terima kasih, tapi apa yang Abi lakuin untuk aku dan lain nya udah bener-bener kelewatan. Dan gak mungkin juga aku belain Abi, sedangkan Abi bersalah di sini!"
"Tunggu saja, Sadam! Jabatan kamu akan segera Abi ambil alih-"
"Ambil alih? Kamu pikir kamu itu siapa, Mas?" Ucapan Hilmi dipotong cepat oleh Abeela, menatap miris kelakuan jahat yang suaminya lakukan.
"Bagaimanapun juga perusahaan yang kamu maksud itu punya kedua orang tuaku dan kamu gak bakal bisa ambil alih kembali karena perusahaan yang kamu maksud akan segera pindah ke Sadam dan Nazriel!" Sambung Abeela mengingatkan kembali. Tak ingin harta kedua orang tuanya diambil dan dikuasai oleh orang seperti itu.
"Berani kamu, Abeel!"
"Kamu mau menghindari tradisi keluarga kita?"
"Keluarga kamu, Mas, bukan keluarga aku. Untuk apa ngikutin tradisi konyol itu. Sekarang jaman udah beda, Mas. Anak-anak berhak menentukan masa depan mereka. Kita sebagai orang tua hanya perlu mendukung mereka dan membawa mereka ke jalan yang benar."
Hilmi terdiam merenung. Memang benar apa yang dikatakan oleh istrinya, mereka tidak harus mencampuri urusan pribadi mereka. Mengikuti tradisi kuno yang mulai ditinggalkan oleh orang-orang. Jarang sekali di zaman modern seperti ini orang tua masih melakukan perjodohan karena tradisi turun-temurun dari nenek moyang mereka.
"Semoga selama dipenjara kamu bisa merenungi kesalahan kamu, Mas. Aku pamit, assalamualaikum."
Sadam menatap Ayahnya sejenak untuk berpamit pada pria itu. "Sadam pulang, Bi. Jangan lupa sholat. Assalamualaikum." Sadam mengikuti langkah sang Ibu yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Meninggalkan Ayahnya yang berada di dalam penjara seorang diri tanpa satupun orang yang pria itu kenal.
"Waalaikumsalam." Balas Hilmi pelan. Kedua tangan pria itu ditarik. Dibawa masuk kembali ke dalam sel tahanan nya.
__________
Pukul 17.09 di kediaman Ghibran. Pria itu sedang mondar mandir tak jelas di dalam kamarnya dengan gumaman halus yang hanya dia saja yang dapat mendengarnya. Melirik ke arah ujung kamarnya. Di sana, letak jas serta kemeja di taruh di atas manekin dengan rapi. Kegugupan kembali melanda diri pria itu.
Tok! Tok! Tok!
Konsentrasi Ghibran terganggu ketika mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Pria itu berjalan dan membuka pintu kamarnya.
"Finish." Sadam-pria itu datang menghampiri Ghibran yang sedang berada di dalam kamarnya.
Keringat pria itu bercucuran melihat benda yang berada di hadapan nya. Ghibran merebut benda itu dan membacanya. "Udah dibagiin juga?" Tanya Ghibran.
"Udah Bang. Jangan lupa hapalin ijab qabul biar nggak kagok nanti"
"Apa kata mereka?"
"Bilangnya kok namanya ganti? Bukan nya Sadam ya?"
"Terus?"
"Gue bilang, kemaren salah ternyata soalnya gak dicek ulang. Mereka langsung iya-in aja. Untung gak banyak tanya." Ghibran mengangguk setuju. Akan repot jadinya jika mulut para tetangga tidak bisa diam dan mengorek informasi tentang itu.
Tanpa disuruh, Sadam langsung duduk di atas sofa yang berada dalam kamar milik Ghibran. Menyalakan televisi dan menonton acara yang sedang memutar di stasiun televisi itu.
Tubuh Sadam langsung tegak melihat berita simpang siur yang ada di televisi. Wajah Ayahnya tersorot dan banyak wartawan yang mencoba mendapatkan informasi dari pemilik perusahaan tersebut. Ghibran yang tak sengaja mendengar nama Ayahnya Sadam pun ikut menoleh ke arah televisi.
Tak lama ponsel di dalam saku Sadam bergetar. Ia mendapatkan panggilan dari sang Adik. Tanpa pikir panjang pria itu mengangkat panggilan dari Renaldi. 'Bang, lo udah liat kan?'
"Iya udah"
'Lo urus berita itu. Jangan sampe mereka menggali berita tentang keluarga kita sama keluarga Shasha lebih dalam. Gue yang urus Ummi. Semoga gak ada wartawan yang cari alamat rumah kita.'
"Iya, gue ke sana sekarang!" Segera Sadam mematikan panggilan ponselnya dan kembali memasukkan nya ke dalam sakunya kembali.
Sadam tersenyum simpul ke arah Ghibran. Menepuk bahu teman nya sebelum berlalu. "Semoga pernikahan lo lancar besok. Gue pamit." Ucap Sadam langsung berlalu begitu saja. Bergegas menyelesaikan berita yang belum ada kebenaran nya, atau bisa disebut juga dengan hoaks.
___________
Maaf ya kemaren aku gak up. Minggu ini aku lagi ujian. Mungkin 2 hari sekali up nya. Makasih dah mau nunggu up novel ini...