SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 88



Mereka duduk berdampingan di atas pinggiran tempat tidur dengan canggung.


"Pfffttttt... hahahahahah" winter masih saja menertawakannya.


"Berhenti tertawa!" ucapnya sembari melengos.


"Hehe, anda pasti belum makan malam kan?"


"Ngomong ngomong mengapa nada bicara kita seperti robot padahal kita adalah kekasih?" tiba tiba ia terfikirkan hal yang tak terduga.


"Iya benar juga, mari bicara lebih santai" jawab winter mengangguk.


"Oke, ahhh aku sangat lapar, mau makan bersama? saya yang akan masak" ia mengusap perutnya.


"Saya..ahh aku sudah makan malam, kau saja yang makan aku akan menemanimu"


Cassy bangun "Baiklah, pasti kau sudah menikmati makan malammu bersama seorang wanita cantik, hehh" ucapnya sembari berjalan menuju ke dapurnya dengan sesekali melirik sinis ke arah winter yang mengikutinya.


"Apa maksudnya?" ia benar benar tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh cassy.


Kini mereka tengah duduk berhadapan di meja makan, winter melihatnya makan mie instan dengan bertopang dagu "Seharusnya aku memberimu makanan yang lebih baik, maaf"


"Tidak, sejujurnya mie instan adalah makanan favoritku saat tengah malam"


"Jangan terlalu sering oke?"


"Aku mengerti, kamu terlihat sangat lelah, pulanglah dan istirahat" ia meletakkan sendoknya dan membawa mangkuk kotornya ke tempat cuci piring.


"Tidak bolehkah aku tidur disini malam ini?"


Deg deg. Bisa bisanya pria itu mengatakan hal seperti itu dengan entengnya, membuatku malu saja, aku harus jawab apa?.


"Kenapa diam saja? kau tak suka aku tidur disini?"


Cassy mengibas ngibaskan tangannya karena tiba tiba ia merasa wajahnya terasa panas, ia kembali duduk di hadapannya "bukannya tidak suka, aku takut kamu akan kelelahan" ucapnya gugup.


"Baiklah karena kau tak keberatan aku akan cepat" ia bangun dari duduknya dan pergi keluar rumah.


... "Wahhh.. benar benar deh, mengapa dia malah pergi setelah mengatakan hal vulgar seperti itu" gumamnya setelah sembari menepuk nepuk wajahnya setelah mendengar suara pintu ditutup.


Cassy bangun dan menuju kamar mandi, ia menyikat giginya, setelah itu ia kembali merebahkan tubuhnya diranjang, tiba tiba terdengar suara pintu terbuka, ia bangun terduduk lalu Winter kembali membuka pintu kamarnya.


"Kamu belum tidur?" ucapnya sembari mendekatinya.


"Kamu baru mandi?" ia melihatnya dari ujung kepala sampai kaki, pria itu telah memakai baju tidurnya.


"Tentu saja aku harus mandi terlebih dahulu agar kau merasa nyaman"ia berbaring di sisi sebelah cassy.


Apa aku juga perlu ikut berbaring? atau...


"Kemarilah" ia menepuk tempat tidur, menyuruhnya berbaring di sebelahnya.


"Ya, ba baiklah" ia berbaring miring memunggungi winter, seketika winter membalikkan tubuh cassy menghadap ke arahnya. Winter memeluk cassy dalam dekapannya.


Wangi sabun, ini menyenangkan.. tapi, mengapa dia diam saja dan tak melakukan sesuatu?.


Cassy menatap wajahnya dan pria itu telah memejamkan matanya, mereka benar benar hanya tidur bersama.


Apa hanya aku yang terlalu banyak berpikir? astaga...


Tangan cassy membelai wajah tampan di depan pandangannya "kau sudah tidur?" bisiknya.


"Hmmmm" ia mengeluarkan suara pelan.


Rupanya kau benar benar kelelahan.


Cassy mulai menguap, ia tersenyum merasa nyaman, lalu menarik selimut perlahan dan kembali masuk dalam pelukannya lalu tertidur.


Maaf aku pergi terlebih dahulu, banyak yang harus kukerjaan hari ini, jangan melupakan sarapanmu.


"Hahh... pasti dia sangat sibuk" ia termangu mengingat semalam mereka tak banyak bicara karena winter langsung tidur begitu berbaring.


Setelah beberapa saat cassy sampai di depan cafenya, saat itu pengunjung telah memenuhi kursi pelanggan dan para karyawan terlihat sibuk,


"Nona Cassy?" Ia menoleh kebelakang karena seseorang memanggilnya, kurir dari toko bunga terlihat didepan pintu.


Degg..dengan langkah ragu ragu Cassy menghampirinya, kali ini buket bunga mawar hitam sesuai apa yang dikenakannya, ia pikir ia sengaja memakai blous dan celana panjang hitam agar penguntitnya kesusahan mencocokkan warna bunganya, tapi apa ini? ia baru pertama kali melihat bunga mawar berwarna hitam, benar benar membuatnya merinding.


"Maaf bisakah saya tahu siapa pengirim sebenarnya??" ucapnya dengan hati hati.


"Maaf nona, kami menerima pemesanan secara online dan pembayaran melalui aplikasi online juga, kami benar benar hanya menerima dan mengantar pesanan" ucap kurir yang memakai sarung tangan dan masker hitam itu.


"Ba baiklah, saya hanya perlu menerimanya kan? sungguh memuakkan!" ucapnya tak senang.


Kurir itu mengangguk dan memberikan kertas tanda penerima, setelah itu dia pergi.


Deg deg deg, ia menatap buket itu dan perlahan membuka kartu ucapan yang tersalip di antara bunga.


Hitam pun masih tetap cantik. 


Kali ini ia benar benar merasa ngeri, ia segera melempar bunga tersebut di tong sampah depan cafe, ia kembali melihat sekitarnya "hahh.. ini benar benar menyesakkan" gumamnya, ia kembali masuk ke dalam cafe


***


Akhirnya winter bisa bernafas dengan lega di ruang kerjanya setelah ia kembali dari pertemuannya dengan lily dan ayahnya untuk membahas hal hal yang berjkaitan dengan produk dan kebutuhan toko, mereka terlihat sangat bersemangat dan berterimakasih karena telah mendapatkan kesempatan mereka untuk memperluas usaha mereka,.winter pun merasa itu adalah kerjasama yang akan saling menguntungkan kedua belah pihak dan secara tidak langsung ia telah membantu perkembangan bisnis dari seseorang. permasalahannyapun telah berhasil ditangani berkat itu, tinggal menunggu waktu sampai produk siap untuk disuplai kepada mini marketnya.


Meskipun penjualan akan sangat menurun untuk beberapa hari kedepan tapi aku masih sanggup menanganinya.


Sekretaris jenie masuk setelah mengetuk pintu. Ia meletakkan berkas di hadapan winter yang sedang tersenyum melihat ponselnya.


"Anda terlihat senang Tuan" jenie merasa untuk pertama kalinya ia melihat atasannya tersenyum secerah itu.


"Tentu saja, permasalahan kita telah berkurang berkat bantuan sekretaris jenie"


"Syukurlah saya bisa membantu anda, karena anda sudah banyak membantu keluarga saya, anda bahkan sampai memberikan uang pribadi anda dengan cuma cuma kepada saya, itu pun bukan jumlah yang kecil"


"Tak usah memikirkan itu lagi"


"Tetap saja, putra saya bisa menjalani operasi berkat anda, anda adalah malaikat bagi keluarga saya Tuan"


"Anda berlebihan, itu karena saya tidak bisa kehilangan orang berbakat seperti anda"


"Dan, saya senang sepertinya akhir akhir ini anda terlihat bahagia"


"Saya?"


"Ya, tapi tuan maaf apa boleh saya meminta anda menemui teman saya?" ucapnya ragu ragu.


"Siapa? kenapa saya harus menemui teman anda?"


"Itu karena anda sudah janji akan menemuinya, dia sudah tahu anda, dia bilang ingin sekali bertemu dengan anda, sebagai balasan pada malam itu anda tidak datang menemuinya, dia sangat kesal karena itu"


"Ahhhh.. tapi bagaimana ya, sekarang saya sudah memiliki kekasih, tidak baik jika saya pergi menemui wanita lain kan?"


"Saya tahu karena anda sangat memperlihatkannya, saya turut senang karena akhirnya cinta anda yang bertepuk sebelah tangan selama bertahun tahun akhirnya berhasil" Jlebbbb... dada winter serasa ditusuk dari belakang, kata kata yang adalah fakta sungguh menyakitkan.


"Hanya sekali, tolong temui dia sekali agar dia berhenti meneror saya Tuan, apa tidak bisa? hmm??" ucapnya sembari memperlihatkan wajah memelasnya.


"Hahhhh.. baiklah, hanya sekali dan terakhir kali!!"


"Terimakasih tuan, anda benar benar penyelamat saya" ia tersenyum senang setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.


Bersambung..........................