SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 37



Langkah kaki kedua Kakak beradik itu memasuki sebuah gedung tinggi. Kedatangan kedua orang itu dengan segera disambut dengan baik oleh para pekerja kantoran yang melihatnya. Namun kali ini tak ada satupun sambutan yang mereka balas. Berjalan dengan angkuh memasuki area gedung itu. Memasuki lift khusus yang sudah disediakan oleh pemilik perusahaan untuk langsung segera sampai di lantai paling atas gedung itu.


Shasha dan Rayyan, kedua Kakak beradik itu membuat heran orang-orang di perusahaan tersebut terheran-heran. Beberapa kali kedua Kakak beradik itu datang dan membalas semua sambutan dari seluruh karyawan, tapi tidak dengan kali ini. Berita beberapa minggu yang lalu sebelum kejadian 'makan malam itu' Shasha diperkenalkan sebagai calon menantu pemilik perusahaan itu tanpa gadis itu ketahui. Setelah mendengar berita tersebut, itu juga yang membuat Shasha sangat marah ketika mendengarnya.


Ting!


Pintu lift baru terbuka. Namun baru saja Shasha ingin melangkah, mereka seperti ditahan untuk tidak menaiki lift tersebut.


"Nyonya Sadam, maaf anda-"


"Siapa Nyonya Sadam yang anda maksud, Pak?" Dengan cepat Shasha memotong pembicaraan. Tak suka disebut-sebut dengan panggilan seperti itu.


"Anda, Nyonya," sepertinya salah satu karyawan itu langsung takut setelah mendapat tatapan tajam dari Shasha dan Rayyan.


"Saya Sherly, seperti yang kalian kenal sebelumnya. Tidak ada Nyonya Sadam yang anda maksud!" Kecam Shasha yang tak kembali mendengarkan karyawan itu berbicara. Seolah telinga mereka tersumbat sesuatu, masa bodo dengan orang-orang yang berusaha menahan pergerakannya.


Langsung saja Shasha dan Rayyan masuk ke dalam lift. Meninggalkan beberapa karyawan yang sedang berbisik tentang gadis itu. Lift dengan cepat berjalan ke atas menuju ruangan yang sedari tadi mereka tuju.


Ting!


Lift kembali berbunyi, menandakan mereka sudah sampai di lantai paling atas gedung itu. Perlahan pintu lift terbuka. Baru saja mereka hendak berjalan keluar, orang yang sedang mereka cari sudah berada di depan mereka. Sadam-pria itu sedang berdecak pinggang dengan tersenyum sinis ke arah Shasha.


"Selamat datang, sayang. Ayo kemari, biar ku tunjukkan ruangan milik Abi yang sekarang sudah beratas nama aku. Ruangannya sudah aku modis supaya kamu juga suka!" Sadam menyambut gadis itu dengan memasang wajah sok ramah.


"Apa lo ngundang pacar lo ke sini?" Shasha maju ke luar lift. Menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. "Oh, mungkin pacar lo ghaib ya?" Shasha menutup mulutnya. Pura-pura terkejut dan bersikap se-menyebalkan mungkin. Ingin memancing amarah seorang Aldiansyah Sadam At-Thariq.


"Kamu yang aku maksud, sayang!" Ucap Sadam membisikkan kata-kata yang menyebalkan tepat di samping telinga kanan Shasha. Membuat bulu kuduk Shasha merinding dengan kencang.


Rayyan langsung mendorong Sadam dengan keras. Membuat pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang. "Kau tidak sopan, Adik ipar!" Seru Sadam merapihkan kembali pakaian yang ia kenakan.


"Dari mana lo tau gue sama Kak Shasha mau ke sini?!" Tanya Rayyan penuh penekanan. Tak suka dengan sikap Sadam yang seperti ini. Sangat berbeda dengan yang pertama kali ia kenal. Pria itu benar-benar seperti ular berkepala dua.


"Calon Kakak ipar kamu itu tau segala hal, Adik ipar!"


Mereka berjalan mengikuti Sadam yang sedang menunjukkan jalan kepada mereka. Mengumpati pria itu dan mengucapkan sumpah serapah pada Sadam.


Ceklek!


Pintu dibuka oleh pria itu, menampilkan suasana baru di dalam ruangan yang sekarang menjadi milik Sadam. Mereka masuk ke dalam ruangan itu dengan hati yang panas dan dongkol.


Perdebatan terjadi di dalam ruangan itu. Meminta keadilan untuk Shasha dan meminta untuk melupakan rencana awal keluarga bermarga At-Tahriq tersebut. Namun, setiap pemberontakan yang Shasha dan Rayyan lakukan dengan cepat ditolak mentah-mentah oleh Sadam dan selalu menodongkan senjata api ke arah mereka. Memaksa kedua Kakak beradik itu terpaksa menerima ucapan Sadam dan menyusun kembali rencana tersebut.


"Bang, lo-" perdebatan mereka terhenti ketika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan Sadam begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ucapannya tergantung di udara begitu saja ketika melihat Shasha dan Rayyan yang sedang berada di ruangan milik Sadam.


"Sha, loh kok ada di sini? Ada perlu apa?" Renaldi-pria itu tersenyum ke arah Shasha dan Rayyan. Ramah kepada kedua orang yang menjadi tamu di perusahaan mereka.


Baik Shasha maupun Rayyan saling diam. Tak menjawab pertanyaan yang Renaldi lontarkan pada mereka. Hal itu membuat pria 22 tahun itu salah tingkah sendiri karena merasa ada yang salah dengan ucapannya. Renaldi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Eh Bang, kok pada pegang pistol sih? Emang kalian kira itu mainan?! Sini kasih gue!!" Renaldi mengambil alih semua senjata api yang mereka pegang. Seperti guru kesiswaan yang sedang merazia murid-muridnya, Renaldi mengambil barang berbahaya tersebut dengan ceramah panjang lebarnya.


"Mending lo pulang, Nazriel!" Sadam menatap lurus ke sembarang arah. Suara pria itu terdengar sedikit parau.


"Bang… Lo kenapa?" Renaldi mendekati Kakaknya yang langsung berbalik, tangannya terangkat mengusap wajahnya sendiri, seperti sedang gusar.


Semua pria berpakaian serba hitam itu sama seperti Renaldi, tatapan mereka terfokuskan pada Sadam yang bertingkah sangat berbeda dari yang sebelumnya.


Bagaikan mendapatkan sebuah kesempatan, buru-buru Rayyan mengeluarkan benda kecil dari saku kemejanya. Mengeluarkan sebuah alat yang sangat kecil dan menyelipkan benda tersebut ke dalam sela-sela sofa yang sedang mereka duduki. Sebuah benda yang berukuran sangat kecil yang berfungsi sebagai alat perekam suara dan akan mendengar suara sekecil apapun itu. Beruntungnya apa yang sedang Rayyan lakukan tak terlihat oleh siapapun. Mimik wajah datar tanpa ekspresi dari Rayyan mengecohkan semua orang yang berada di tempat itu. Bahkan Shasha sendiri tak tau apa yang sedang adiknya itu lakukan.


"Bang, lo marah gue ambil ini?" Tanya Renaldi masih khawatir pada Sadam. Menunjukkan tujuh buah senjata api yang baru saja Renaldi rebut dari pria yang ditugaskan oleh Sadam.


"Berisik lo!!" Sadam membentak adiknya. Berpura-pura tegar padahal saat ini ia sedang menyembunyikan sesuatu.


Renaldi berbalik, menatap kedua tamu mereka. "Kalian ada urusan apa ke sini?" Tanya pria itu dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


"Masa bodo!! Ren, gue harap lo bisa jaga Kakak lo dengan baik! Kalau bisa ajarin dia tata krama sama sopan santun!!!" Shasha keluar begitu saja dari ruangan Sadam. Merasa tak mendapatkan petunjuk apapun dari Sadam dan memilih pergi dari tempat tersebut. Rayyan dengan segera mengikuti langkah Kakaknya, mengucapkan sesuatu pada Renaldi yang tak diketahui oleh Shasha saat itu juga.