
Suara air mengalir terdengar di dalam toilet. Ia menatap pantulan dirinya dari cermin, sesekali menatap ponselnya yang ia letakkan di atas alas cermin, menunggu seseorang membalas pesan darinya. Di dalam acara resepsi yang sangat megah ini, sangat aneh jika dirinya hanya datang seorang diri. Ingin membawa kekasih, tetapi ia sendiri tidak memilikinya. Bukan karena tak ada yang mau, tapi semua wanita yang mengantre untuk menjadi kekasihnya ia tolak semua. Seolah tak ingin menerima perasaan yang baru, ia tetap pada pendirian nya yang hanya akan menyukai satu orang itu.
Kemudian ia mematikan keran air di wastafel dan mengeringkan tangan nya. Meraih ponselnya dan menatap nomor kontak yang berada di dalam ponsel miliknya. Senyum manisnya mengembang setelah menatap profile kontak tersebut. Teringat kembali ketika nomornya sudah di save back oleh sang pujaan hati. Tak bosan-bosan mata itu menatap profile orang yang ia suka.
Brak!
Orang itu menoleh, melihat seorang yang baru saja masuk ke dalam toilet. Tanpa berbicara sedikitpun orang itu mendekat dan meraih kerah jas yang ia kenakan, membuatnya terdorong ke belakang beberapa langkah hingga tubuhnya membentur dinding toilet.
"Lo napa, bro?!" Tanyanya tak mengerti. Ia mengernyitkan keningnya karena tak paham dengan suasana kondisi saat ini.
"Mulai sekarang lo jauhin dia!!"
"Dia?" Ia bertanya balik. Kira-kira siapa orang yang sedang menjadi inti pembicaraan nya saat ini?
"Mending dari sekarang lo mundur secara teratur, oke? Gue yang lebih mengerti dan mengenal Alma, jadi jangan lo percaya diri bakal dapet dia!"
Oh, ia paham sekarang. Alma adalah orang yang sedang menjadi topik pembicaraan saat ini. Kemudian ia tersenyum sinis, menyingkirkan tangan pria yang berada di kerah jasnya dan mendorong pria itu. "Emang lo tau siapa gue?" Tanyanya seraya bersedekap dada.
"Nazriel Renaldi At-Thariq. Lo anak kedua dari dua bersaudara. Hilmi At-Thariq, Abi lo yang merupakan keturunan rakyat negara Arab. Begitu juga dengan Ummi lo, Abeela Ahmad yang terlahir di negara Arab. Lo mahasiswa semester akhir, jurusan bisnis digital di Universitas Pendidikan Indonesia. Alamat rumah lo-"
"Udah-udah! Detail banget cari taunya, ntar naksir!"
"Najis!" Umpatnya cepat. Memutar bola matanya malas dan menatap ke sembarang arah.
"Biar gue tebak," Renaldi memegang dagunya, berpura-pura sedang berpikir keras. "Lo pasti yang Alma panggil Abi Al tadi kan? Ngaku lo!" Renaldi menjentikkan jarinya ketika merasa tebakan nya benar. Sedangkan orang yang dimaksud hanya menatap datar tanpa berniat membalas.
Renaldi menghela napas. "Susah ya kalo ngomong sama orang dingin gitu." Gumam Renaldi pelan, namun masih terdengar sangat jelas di telinga pria itu.
"Oh ya, by the way apa alasan lo suruh gue mundur, Abi? Pfft… Dah tua!" Sambung Renaldi menahan tawanya. Ia menaik turunkan kedua alisnya dan bersedekap dada.
Alvian-pria berumur 23 tahun itu menatap datar ke arah Renaldi. Pria blasteran antara Indonesia dan Turki itu sedikit menundukkan kepalanya karena tinggi antara dirinya dengan Renaldi terlihat sangat jauh perbedaan nya.
"Punya anak berapa, lo? Kayaknya masih muda, tapi kok dipanggilnya Abi, ya?" Renaldi memegangi dagunya. Ia memutari tubuh Vian yang memasang wajah tanpa ekspresinya.
Ceklek!
"Vian, Papah kamu manggil!"
Keduanya saling menoleh ke arah pintu masuk toilet pria. Siempu namanya juga memutar tubuhnya, menghadap ke arah pria yang memanggil namanya.
Dengan memasang wajah remeh, Renaldi mendekat. Jari telunjuknya terangkat, mendorong pelan bahu pria itu. "Lo temen nya?" Tanya Renaldi sinis. Sedangkan pria itu mengkerutkan alisnya, bingung.
"Ada apa?"
"Bilangin sama temen lo, gue gak bakal menyerah!" Ucap Renaldi sangat yakin.
"Menyerah dalam hal apa yang anda maksud?"
"Gue, Nazriel Renaldi At-Thariq akan tetep maju memperjuangkan cinta gue untuk Almasya!" Papar Renaldi dengan sangat bangga. Ia tersenyum ketika menyebutkan nama Alma.
"Almasya?" Pria itu terlihat sudah mulai kesal. Sedangkan Vian berdiam diri, menatap tak percaya dengan apa yang sedang Renaldi lakukan.
Ghifari-Ayah dari Alma itu menggeleng kesal. Bisa-bisanya ada orang tak tau malu dan bersikap seperti itu kepadanya. "Saya tak akan merestui kamu," ucap Ghifari tak suka dengan sikap Renaldi padanya.
"Vian, ayo! Papah kamu manggil!" Suruh Ghifari pada Vian.
Sebelum berlalu, Ghifari berucap sesuatu, "Anak muda jaman sekarang tak tau sopan santun sepertinya!" Ucap Ghifari mengencangkan intonasinya. Kesal dengan kelakuan yang baru saja Renaldi lakukan kepadanya.
Sedangkan Renaldi membeo. Ia tak paham mengapa Ghifari mengatakan seperti itu, padahal ia rasa Ghifari sama seperti dirinya yang masih muda. Ia berbalik, menatap Vian yang berjalan menuju pintu, ingin ke luar dari dalam toilet.
Vian tersenyum miring ke arahnya. "Belum aja mulai, tapi udah ditolak." Ucap Vian melewati Renaldi.
"Tunggu! Apa yang temen lo maksud?"
Vian berbalik dan tersenyum meremehkan. "Temen? Asal lo tau aja, dia Ayahnya Alma." Ucap Vian terkekeh. Setelah itu Vian benar-benar ke luar dari dalam toilet. Meninggalkan Renaldi seorang diri dengan muka yang terlihat sangat-sangat terkejut. Mulutnya terbuka lebar, seolah tak oercaya dengan apa yang baru saja Vian katakan kepadanya.
"Astaga, gue harus gimana?!"
__________
"Sha"
Shasha yang sedang merapihkan pakaian nya itu menoleh sejenak sebelum kembali merapihkan pakaian nya. "Iya kenapa?" Tanya Shasha kembali mengalihkan pandangan nya.
"Sini dong," tangan Ghibran mengayun kecil, meminta Shasha untuk mendekatinya.
Segera Shasha menutup lemari pakaian nya. Memutar tubuh dan berjalan mendekati suaminya. Sampai di depan Ghibran, pergelangan tangan nya ditarik hingga wanita itu terjatuh di atas pangkuan sang suami. Ghibran menaruh dagunya di atas bahu Shasha. Karena itu, tubuh Shasha merinding dan sedikit tegang, belum terbiasa dengan apa yang Ghibran lakukan kepadanya.
"Minggu depan aku harus balik ke Istanbul…" ucap Ghibran pelan.
Netra wanita itu melebar, terkejut dengan apa yang baru saja Gjibran katakan kepadanya. Ia langsung turun dari atas pangkuan sang suami, berdiri di hadapan nya dan memberikan tatapan bertanya pada Ghibran. "Cepet banget."
Ghibran menunduk merasa bersalah. "Aku udah tiga minggu di sini. Aku mau lanjutin kuliah untuk jadi dokter spesialis, Sha…"
"Tapi kamu nggak komunikasi ke aku dulu. Kenapa tiba-tiba?"
Ghibran berdiri, ia memegang kedua sisi bahu Shasha dan menatapnya dalam. "Maaf, Sha. Tapi aku udah terlanjur-"
"Aku mau kamu batalin dulu kuliah kamu. Tahun ini juga aku bakal lulus, kamu mau ninggalin aku sendiri di sini?" Shasha memotong cepat ucapan Ghibran. Tak rela dirinya ditinggal oleh Ghibran.
"Aku janji setiap satu bulan sekali aku bakal balik ke sini. Lagipula kamu gak sendirian di sini, kan?" Ghibran tetap pada pendirian nya. Ia tak ingin melewatkan kesempatan berharga itu. Mendapatkan sebuah beasiswa di negara Turki itu sangatlah sulit. Ditambah lagi dengan dirinya yang dipekerjakan di sana dengan gaji tinggi walaupun dirinya bukan sesorang dokter spesialis.
Shasha terdiam tak menjawab. Matanya memerah menahan tangis. Sedih karena merasa Ghibran lebih menyukai pekerjaan nya dibandingkan dengan dirinya. Detik berikutnya Shasha menggeleng. Ia merasa dirinya terlalu egois jika hanya memikirkan dirinya sendiri saat ini. "Ya udah, terserah kamu aja." Shasha berucap sedih. Suaranya sedikit serak menahan tangisnya.
Shasha melepaskan kedua tangan Ghibran yang memegang kedua bahunya. Menatap sang suami dengan tersenyum. "Udah ya, aku mau bantu Mamah masak di bawah." Setelah mengatakan hal itu, Shasha segera berlalu meninggalkan Ghibran seorang diri. Berjalan menuju lantai dasar dan mengusap pipinya yang basah karena air matanya.
__________
Maaf aku udah jarang banget up. Aku rasa belum bisa up yg teratur lagi gara-gara kegiatan sekolah aku, jadi maafin aku ya