SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 85



Tak terasa langit sudah gelap, waktunya menutup cafe dan para karyawan tersenyum karena jam kerja mereka telah usai, satu persatu pergi dari sana tersisa lys dan cassy yang tengah memeriksa cctv untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita yang membuat keributan di cafenya. Mereka melihat reka ulang adegan wanita itu menaruh paku di rotinya.


"Kau pernah melihatnya sebelumnya lys?"


"Saya tidak yakin, sepertinya ini pertama kalinya saya melihatnya"


"Motifnya sudah jelas, apa dia saingan kita? apa dia memiliki cafe atau toko roti disekitar sini?"


"Itu kemungkinan terbesar"


Criiingggg, lux masuk "selamat malam nona cassy"


"Hai selamat malam sekretaris lux, kau pulanglah sana, kekasihmu sudah datang"


"Baiklah, anda juga pulanglah, jangan tidur di cafe terus"


"Iyaa, hari ini saya juga berniat pulang"


"Baiklah, dahhh"


Setelah mereka berdua pergi cassy membereskan barang barangnya.


Criiing, kemudian winter masuk dengan membawa buket bunga lili kuning ditangannya, cassy pun menyambutnya dengan senyuman "anda tidak perlu repot repot membawakan saya bunga lagi, lihatlah bunga mawar yang tadi siang masih segar, saya berniat menaruhnya di vas bunga di kamar tidur"


Sementara cassy meraih bunga dari tangannya dan mencium aroma bunga itu Winter terdiam menatap buket mawar di atas meja "saya tidak mengirim bunga tadi siang"


Cassy tertegun menatap buket mawar itu "apah? jadi siapa?"


"Apa tidak ada nama pengirim?"


"Hanya pengagum rahasia"


"Keenan?"


Cassy menggeleng dan mengangkat pundaknya.


Winter mendekat daan meraih pundaknya, kemudian ia menatap hangat cassy "sudahlah jangan dipikirin"


"Anda tidak marah?"


"Untuk apa?"


Cassy tersenyum lega. "Haruskah kita pulang sekarang?"


"Tentu"


Mereka keluar dan cassy mengunci cafenya, Winter membuang buket mawar di tong sampah depan cafe, mereka pulang bersama menggunakan mobil terpisah, setelah sampai di tempar parkir apartemen mereka turun dari mobil dan berjalan berdampingan, dari kejauhan terlihat sosok pria yang mereka kenal baik tengah menyenderkan punggungnya di depan rumah cassy.


Mata winter mengernyit melihat pria itu.


"Apa yang anda lakukan didepan rumah saya?" tanya cassy dingin.


"Mengapa kalian pulang bersama?" Keen menatap tajam winter yang menggandeng tangan cassy.


"Itu bukan urusan anda, apa yang anda lakukan disini?"


"Ada yang ingin saya bicarakan, bolehkah saya masuk?"


"Ini sudah larut malam, apa tidak bisa dibicarakan disini saja?"


"Saya sangat haus" ia memegang lehernya sembari melirik winter yang tampak tegang.


"Baiklah, silahkan masuk" cassy membuka pintu dan keen masuk kedalam sementara winter terdiam meremas tangannya.


Cassy menghampiri Winter "saya tidak akan lama Tuan musim dingin" bisiknya ditelinga winter kemudian ia mengecup pipinya hingga membuatnya kembali tersenyum. kemudian cassy masuk kedalam rumahnya.


Ia mengambil secangkir teh dari dapurnya dan meletakkannya dihadapan keen "minumlah dan katakan apa yang mau dibicarakan"


Keen meletakkan map coklat di atas meja "sertifikat perceraian"


"Terimakasih, mengapa anda repot repot membawakan sendiri"


"Karena aku ingin menemuimu"


Cassy berdecak "tolong jangan katakan hal seperti itu lagi"


"Kenapa? apa kalian berdua sudah menjalin hubungan?"


"Benar"


"Bukankah seharusnya anda bertanya kepada diri anda sendiri?"


"Saya menyesal karena saat itu hati saya melemah dan mengurungkan niat untuk mengurung anda"


"Tolong jangan datang seperti ini lagi, saya tidak mau kekasih saya salah paham dengan kehadiran anda" cassy melangkah membukakan pintu.


Keen mendekatinya "Hahhhhh, Lian Foods, apa anda mau memilikinya lagi? kembalilah ke sisi saya maka saya akan memberikannya kepada anda, tidak masalah jika anda tidak mencintai saya"


"Saya tidak tertarik!!"


"Tidak bisakah kau berpura pura mempertimbangkannya terlebih dahulu?"


"Tidak ada lagi yang bisa saya katakan, pergilah"


"Kau!!!" keen menarik tangan cassy.


"Sakit! lepas!!"


Winter yang terus mengawasi dari luar berlari masuk ke dalam rumahnya karena mendengar suara cassy.


Bruukkkkk.. winter menarik dan menjatuhkannya, saat winter kembali menarik dan mencengkeram kerahnya cassy menghentikannya dan melerai mereka, cassy menatap winter seraya menggeleng gelengkan kepalanya "Jangan"


"Ciihhhh\, dasar laki laki Br******!!!" gumam keen sembari bangun dan pergi dari sana dengan kesal\, ia benar benar tidak terima karena pada akhirnya ia yang kalah.


Cassy menutup pintu rumahnya, sementara winter berdiri terdiam menahan amarahnya.


Cassy menghampirinya "anda baik baik saja?"


"Jangan pernah biarkan laki laki itu masuk kerumahmu lagi!!" teriaknya.


Rupanya dia benar benar kesal, baru kali ini aku melihatnya meneriakiku.


"Maaf lain kali saya akan lebih berhati hati"


"Bagian mana yang dia pegang? tangan kan?" winter memegang tangan kanan cassy lalu menariknya ke dapur.


"Apa yang mau anda lakukan?"


"Mencuci kotoran yang menempel"


"Pfffffttttttt hahaha" cassy tertawa melihat tangannya disabun dan diguyur air berulang kali.


Winter menoleh kearahnya "Jangan tertawa saya serius"


"Saya mengerti"


"Benarkah anda tidak mau kembali kepadanya meskipun anda diberi perusahaan ayah anda lagi?"


"Anda dengar ya? berarti saya tidak perlu menjawab hehe"


Cassy melihat tatapan matanya semakin dalam, dan pria itu semakin mendekatkan wajahnya "bolehkah saya mencium anda?" bisiknya ditelinga cassy.


Cassy mendorong tubuhnya menjauh "seharusnya anda tak perlu bertanya" ia merasa sudah kehilangan momen untuk berciuman.


"Baiklah saya mengerti"


Kemudian winter menarik pinggangnya yang hampir pergi, menyenderkannya di tembok dapur, ia ******* bibir kekasihnya tanpa ragu ragu, dengan lembut, perlahan dan semakin dalam, hingga membuat nafasnya sesak, kemudian ia melepaskannya "hosh hosh" kemudian ia menggendong tubuh cassy di perutnya, kaki wanita itu menyilang di belakang pinggang winter, winter mulai berjalan dengan tatapan mata seperti serigala lapar, ia kembali mencium bibirnya, sementara tangan cassy memeluk lehernya, Winter mendorong pintu kamar dengan punggungnya, ia membaringkan wanita dipelukannya perlahan di atas ranjang, mereka masih terus berciuman menikmati setiap gerakan lembut bibir keduanya yang seakan tak ingin lepas.


Winter membuka matanya, ia menyudahi ciuman pertama mereka yang kelewat panas, dan berbaring di sampingnya. "hari ini cukup sampai disini saja" ucapnya gugup.


"Ohh???" cassy bertanya tanya mengapa ia menyudahinya setelah mereka sampai di tempat tidur.


Apa yang baru saja ku fikirkan?. ia menutupi wajahnya karena malu dengan pikirannya sendiri.


"Saya tidak akan bisa menahannya jika lebih dari ini" ucapnya lagi.


Mengapa harus ditahan? ahh dasar apa lagi yang kupikirkan, enyah kau pikiran kotor!!!


"Saya akan pulang sekarang" winter bangun dan segera pergi dari rumah cassy, sementara cassy hanya bisa ternganga melihatnya.


Winter masuk kerumahnya dengan tubuh panas dan jantung yang berdegup kencang.


Aku sudah tak waras, kami baru saja melakukan ciuman pertama tapi aku malah membawanya ke kamar, ahhh apa yang sekarang dipikirkan olehnya...dasar sampah, aku adalah sampah.


Bersambung.....................