
Ghibran menatap pantulan dirinya yang berada di cermin. Menghela napas dan mengusap kasar wajahnya, ia terlihat sangat gelisah. Sekitar 15 menit sudah pria itu berada di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia menimang-nimang keputusan nya. Antara tidak tega dengan Shasha, dan tidak ingin melewatkan beasiswa itu. Sungguh keputusan yang sangat sulit baginya.
Tok! Tok! Tok!
"Mas, makanan udah siap, ayo makan!" Shasha mengencangkan suaranya agar terdengar sampai ke dalam kamar mandi.
Ghibran menoleh ke arah pintu. Setelah mendengar suara Shasha yang memanggil dirinya, rasa bersalahnya pada Shasha semakin besar.
'Mas' panggilan yang Shasha sematkan untuk dirinya setelah sehari setelah menikah. Saat dirinya bertanya mengapa Shasha mengubah panggilan dirinya dari Abang menjadi Mas, Shasha menjawab "Karena kalau Abang, itu panggilan dari temen-temen kamu, aku kan udah bukan temen kamu lagi-"
"Kata siapa kamu bukan temen aku?" Belum selesai Shasha berbicara, Ghibran sudah lebih dahulu menyela ucapan nya.
"E-emang iya kan…" cicit Shasha saat itu, ia takut salah dalam berbicara.
"Kita sekarang temen, temen se-hidup, se-mati dan se-surga. Hidup kita harus seiras mulai sekarang. Kita harus berdiskusi dulu kalau mau ambil keputusan, sekecil apapun itu, oke?" Ghibran memperjelas ucapan nya saat itu.
Tok! Tok! Tok!
"Mas?" Shasha kembali mengetuk pintu kamar mandi setelah tak mendapatkan jawaban dari sang suami.
Ghibran menggeleng pelan, kembali ke keadaan awalnya dan menoleh ke arah pintu. Pria itu berjalan menuju pintu dan membukanya. Menampilkan sosok istrinya yang terlihat mungil di matanya. Wajahnya tampak terlihat sangat khawatir.
"Kamu kenapa, Mas?" Tanyanya khawatir. Wanita itu memutari tubuh Ghibran dan mencari letak keanehan suaminya, kemudian tatapan nya tertuju pada Ghibran. Ia menatap lekat sang suami, memegangi tangan nya karena khawatir.
Ghibran tersenyum manis melihat tingkah Shasha yang sangat menggemaskan menurutnya. Pria itu melebarkan tangan nya, segeramembawa Shasha ke dalam pelukan hangatnya. "Maafin aku." Ucap Ghibran mempererat pelukan mereka, membuat Shasha bingung dengan sikap suaminya.
"Aku terlalu egois, aku gak mikirin perasaan kamu, maafin aku ya? Aku mengaku salah, Sha. Aku udah ingkar sama ucapan aku sendiri." Sambung Ghibran kembali. Ia menuturkan kesalahan nya kepada Shasha.
Wanita yang berada di dalam pelukan nya itu mendengak menatapnya dengan tersenyum padanya. "Alhamdulillah kamu paham, Mas…" ucap Shasha bersyukur. Kemudian Shasha membalas pelukan sang suami.
"Aku bakal ngelanjutin study aku setelah dapat izin dari kamu"
"Makasih Mas, makasih udah ngertiin aku." Ucap Shasha terharu.
Hingga beberapa detik berikutnya, terjadi keheningan di antara keduanya setelah pembincangan singkat itu. Tak ada yang berbicara kembali, menimbulkan kecanggungan di antara kedua manusia berbeda gender itu.
Shasha melepaskan pelukan nya. "S-sekarang ayo kita makan malem. Mamah sama Papah udah nunggu di bawah." Ajak Shasha. Ia terlihat salah tingkah karena kecanggunangan yang baru saja terjadi. Ia menggaruk salah satu pipinya yang tidak gatal dan melihat ke arah lain.
Pria itu tertawa melihat tingkah Shasha. Ia mengangguk dan menggandeng Shasha, memberikan hijabnya sebelum ke luar kamar, membuat wanita itu mengerutkan alisnya heran.
"Ayo pakai!"
"Kenapa?" Shasha bertanya. Tak mengerti mengapa Ghibran menyuruhnya untuk mengenakan hijabnya.
Ghibran membulatkan matanya karena terkejut. "Dari tadi kamu masak gak pake kerudung?" Shasha menggeleng jujur. Ia rasa tak perlu mengenakan hijab di dalam rumah, lagipula sekarang Shasha merupakan bagian dari keluarga Ghibran juga.
Tangan nya terangkat, memakaikan sang istri hijab dan sesekali merapihkan anak rambut yang ke luar. "Di bawah kan ada sepupu cowok aku, ada Om aku, ada Papah aku, jadi kamu harus pake kerudung kamu"
"Emang begitu, ya?" Shasha bertanya, baru paham jika auratnya pun tidak boleh diperlihatkan pada keluarga suaminya walaupun dirinya telah menyambung hubungan keluarga dengan Ghibran.
Pria itu mengangguk disertai dengan senyumnya. "Iya sayang." Ucapnya dengan mengecup singkat puncak kepala Shasha.
"Ayo turun, Mamah Papah sama yang lain nya pasti udah nunggu!" Ajak Ghibran kembali bersuara. Karena masih malu dan tidak berani menunjukkan wajahnya yang memerah, Shasha hanya mengangguk pelan mengikuti ucapan dari Ghibran.
__________
Suasana sekitar terasa sangat sejuk. Pagi yang sangat di nanti-nantikan oleh wanita itu setelah kembali ke negaranya. Keadaan di sekitarnya sangat ramai. Banyak sekali para mahasiswa baru yang berdatangan di kampus tempat ia berkuliah. Alma-gadis itu ke sana dan ke mari, mencari sosok sahabatnya yang katanya akan sampai di kampus sekitar lima menit lagi, namun saat ini Alma sudah menunggu kehadiran Shasha lebih dari 15 menit dan wanita itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sembari menunggu kehadiran Shasha, Alma berjalan ke kursi taman kampusnya dengan diikuti oleh lima orang bodyguard setianya. Itu pula yang menjadi pusat perhatian para mahasiswa baru. Mereka menatap heran melihat kehadiran para wanita memakai pakaian serba hitam dengan tinggi tubuh hampir mencapai dua meter.
"Eh tau gak, senior itu yang paling ditakuti di kampus ini!"
"Emang iya?"
"Liat aja tuh, dia sampe punya pengawal pribadi. Gue gak mau deket-deket ah, takut."
Alma memutar bola matanya malas. Selalu saja seperti ini. Pandangan orang-orang terhadap dirinya sama saja. Mereka takut kepada Alma hanya karena dirinya dijaga oleh para bodyguard suruhan sang Kakek. Karena itu pula Alma merasa tak nyaman dengan kehadiran bodyguard di sisinya. Namun ia tak bisa menolak, itu permintaan sang Kakek, lagipula itu untuk kebaikan dirinya sendiri.
Alma menaruh ponselnya di atas pakaian nya. Wanita itu menghela napasnya, omongan tentang dirinya makin menjadi-jadi. Mengatakan kalau dirinya adalah anak dari seorang mafia karena itu banyak bodyguard yang menjaganya.
"Emang bener ya kata orang. Manusia tuh gak bisa sehari aja untuk gak ngomongin orang lain. Kayaknya makanan yang mereka makan kurang banyak, karena itu kerjaan mereka suka ngomongin orang lain." Alma menoleh ketika mendengar suara seseorang yang ia kenali. Ia berdiri dari duduknya dan memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan orang tersebut.
Seketika suasana taman kampus menjadi hening ketika mendengar suara orang seperti sedang menegur mereka. Senyum manis Alma mengembang saat itu juga ketika menemukan sesosok orang yang sedang berjalan ke arahnya.
"Makasih Abi." Alma berucap senang. Menatap orang yang baru saja membela dirinya di tempat umum seperti ini.
Vian-pria itu mengangguk. Tangan nya terangkat, ingin mengelus puncak kepala Alma. "Di halalin, bro. Jangan asal pegang!" Pergelangan tangan Vian dicengkeram.
"Maaf, hampir khilaf." Vian menyadari kesalahan nya. Ia lupa diri karena biasanya ia akan mengelus puncak kepala adiknya jika merasa gemas saat melihat tingkahnya. Tangan pria itu kembali ia turunkan. Wajahnya terlihat sangat merasa bersalah.
Alma mengangguk mengiyakan, toh Vian belum sempat menyentuh dirinya. "Iya Bi. Kaget Alma."
"Yok, lo ngapain di sini? Lo kan dah lulus!" Bahu Vian dirangkul, membuat tubuh pria itu berbalik.
Vian melepaskan tangan yang berada di bahunya. "Bentar Bang Ghibran, gue mau kasih ini bentar. Tadi Aunty Luna nitip ini ke gue." Ucap Vian pada pria yang tadi merrangkulnya. Ghibran menyipitkan matanya. Ia mengulum bibirnya dan menatap aneh ke arah Vian.
"Napa lo Bang?"
"Alasan lo. Lo kira gue gak tau!"
Vian tampak gelagapan ketika melihat wajah Ghibran yang sedang mengintimidasi dirinya. "Diem Bang!" Vian menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Kemudian pria itu berjalan menuju Alma dan Shasha yang sedang berbincang. Setelah memberikan kotak bekalnya pada Alma, segera Vian kembali berjalan ke arah Ghibran.
Pria itu mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ghibran yang sudah lebih dahulu meninggalkan nya. "By the way, di hp lu banyak banget foto Alma. Lo hutang penjelasan ke gue!" Ucap Ghibran terkekeh. Mengingat beberapa bulan yang lalu ketika dirinya sedang memainkan ponsel milik Vian, ia tak sengaja membuka gallery ponsel. Dan siapa sangka, Vian yang terkenal dengan muka datar tanpa ekspresi itu menyimpan banyak foto Alma dan beberapa puisi cinta yang sepertinya dituju untuk Alma.
Manik coklat milik Vian melebar saking terkejut ketika Ghibran mengetahui tentang rahasianya. "Bang lo…?" Ghibran mengangguk cepat.
Triing!
Vian meraih ponselnya. Mengangkat panggilan telepone yang ia dapatkan di pagi hari ini. Sepertinya takdir sedang berpihak pada dirinya. "Lain kali Bang, pagi ini gue ada meeting sama klien Papa. Maaf ya." Setelah mengatakan hal itu, dengan cepat Vian berlari meninggalkan Ghibran seorang diri di sana. Membuat Ghibran tertawa melihat tingkah gelagapan yang ada pada diri Vian saat ini. Tanpa perlu penjelasan dari siempu, Ghibran sudah dapat menebak apa yang sedang terjadi.
__________