
Pintu masuk utama terbuka sangat lebar. Disana, ada Ghibran yang sedang membukakan pintu dengan lebar. Sebenarnya pertengkaran kecil sebelumnya yang terjadi juga didengar oleh pria tersebut. Dimana saat itu Rayyan diminta untuk membuka gerbang yang membuat pertengkaran kecil terjadi.
"Hei, Rayyan! Kita bertemu lagi!" Sapa Ghibran menepuk bahu Rayyan. Setelah itu Arkhan datang dengan memijat lengannya dan mengeluh pegal tangannya.
"Pfft" Ghibran menahan tawanya ketika melihat Arkhan yang kalah dengan tenaga seorang wanita. Arkhan menatap Ghibran datar, ia tau ada yang telah menertawakannya. "Ape?!" Ucap Arkhan mendengus kesal. Ia diremehkan oleh Ghibran. Entah di sini Arkhan lah yang lemah, atau Shasha yang terlalu kuat.
"Nggak, gak papa," balas Ghibran menahan tawanya. Pria itu berbalik badan supaya bisa menertawakan Arkhan.
"Eh kalian di luar aja? Kenapa gak masuk?" Seluruh atensi mereka teralihkan, menatap seorang wanita cantik yang berada di ujung pintu. Memegang lengan Ghibran dan mengelusnya dengan sayang.
Shasha yang berada di sana ikut menoleh. Melihat seorang wanita cantik yang sedang menggandeng lengan Ghibran. Tiba-tiba saja hatinya memanas, tak suka melihat Ghibran bersama wanita lain padahal Ghibran bukanlah siapa-siapanya Shasha.
"Iya Mah," balas Ghibran tersenyum ke arah wanita tadi yang merupakan Ibu dari Ghibran.
Kekesalan Shasha hilang begitu saja ketika mengetahui orang yang bikin ia cemburu adalah Ibunya Ghibran. Tentu Shasha tak tau karena ini adalah kali pertama ia datang ke rumah sang dosen. Lagipula orang yang sedang berdiri di samping Ghibran terlihat sangat muda, hingga Shasha berfikir kalau itu adalah kekasih Ghibran. Ia tersenyum malu karena telah salah paham pada orang tua pria yang ia sukai.
"Yok masuk!" Ajak Ghibran langsung saja. Pria itu masuk ke dalam rumahnya dengan menggandeng lengan sang Ibu.
Nadia-Ibunda Ghibran melepaskan lengannya dari genggaman tangan Ghibran. Wanita itu berbalik menatap seluruh teman-teman Ghibran yang datang hari itu, termasuk Shasha serta Rayyan. Hanya mereka berdua yang Nadia belum kenal.
Wanita itu menatap sang anak yang belum memperkenalkan kedua orang itu padanya. "Ghibran gak mau kenalin ke Mamah, nih?" Tanya sang Ibu langsung. Tersenyum ke arah kedua orang yang Nadia maksud.
"Oh iya. Mamah kenalin, ini Shasha murid Ghibran dan teman baiknya Alma. Ini Rayyan, adiknya Shasha,"
"Shasha, Rayyan, ini Mamah saya" lanjut Ghibran memperkenalkan. Shasha serta Rayyan melangkah maju mendekati Nadia dan mencium punggung tangan wanita satu anak itu.
"Cantik sama ganteng ya?" Puji Nadia kepada kedua orang itu setelah mereka mencium punggung tangannya.
Shasha tersenyum sebelum berucap, "Makasih Tante" balas Shasha. Sedangkan Rayyan hanya tersenyum kecil menaggapinya hingga hampir tak terlihat. Pria datar serta dingin itu tak mengerti bagaimana caranya berekspresi dengan benar.
Shasha merasa tak enak dengan Nadia, ia langsung menyenggol lengan Rayyan supaya mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Rayyan menoleh bingung, tapi sang Kakak berucap bisik padanya agar mengucapkan kata terima kasih.
Shasha tersenyum canggung. Merasa sangat tak nyaman berada di posisi seperti ini. "Maaf ya Tante, Rayyan emang begitu orangnya" ucap Shasha pada akhirnya. Nadia menggeleng pelan menandakan tak apa sedangkan Rayyan menatap heran pada Kakaknya yang meminta maaf dengan menyebutkan namanya. Ia rasa tak ada yang harus dipermasalahkan tapi Kakaknya malah meminta maaf.
"Udah gak papa. Ayo yang ciwi-ciwi ikut Ante. Yang cowok ikut sama Ghibran aja, ya?" Ucap Nadia yang langsung menggandeng lengan Shasha serta Alma dan membawanya ke taman belakang. Entah apa yang ingin mereka lakukan di sana. Rayyan hanya memperhatikan dari jauh apa yang sedang Kakaknya perbuat. Tapi semakin lama mereka semakin jauh hingga tak lagi terlihat dengan kedua matanya.
Puk!
Rayyan menoleh ketika bahunya ditepuk. "Segitunya gak tega ninggalin Kakak lo" ledek Arkhan pada Rayyan yang hanya menatapnya dengan datar. Tatapan datarnya masih terpasang dengan jelas di wajah Rayyan, memang benar apa yang dikatakan oleh Arkhan maka ia tak mengelak sesikitpun.
Merasa candaannya tak menarik dan hanya ditatap datar, Arkhan melepaskan tangannya dari punggung Rayyan dan menggaruk tengkuknya yang tidak merasa gatal.
"Em… Ray, ajarin gue biar bisa sekuat Kakak lo!" Pinta Arkhan mengganti topik pembicaraannya. Ghibran yang sedari tadi diam saja ikut tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Arkhan.
"Itu mah lo yang lemah" cibir Ghibran sengaja memancing emosi Arkhan. Benar saja, Arkhan langsung memincingkan matanya yang tak suka dengan ucapan Ghibran.
"Parah lo Bang, aib gue itu!" Protes Arkhan langsung meninggalkan keduanya dan berjalan menuju tempat gym yang berada di rumah Ghibran.
"Aelah baperan, ya maap" balas Ghibran mengikuti langkah Arkhan yang berjalan lebih dulu di depan. Rayyan yang tak tau harus apa hanya berdiam diri di tempatnya. Kedua pria tadi menoleh ke belakang ketika mendapati Rayyan masih setia berdiri di tempat.
"Rayyan sini lo!" Teriak Arkhan betmaksud mengajak Rayyan. Karena namanya dipanggil maka ia menghampiri mereka.
Arkhan yang suka sok asik langsung merangkul Rayyan agar pria itu tetap berjalan. "Kan gue minta ajarin, gimana sih lo?!" Protes Arkhan kepada Rayyan yang seolah-olah mengenal Rayyan dengan baik. Ghibran yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepala karena tingkah Arkhan membuatnya malu.
Tak lama sampailah mereka di tempat gym milik Ghibran. Ya, hanya milik Ghibran karena kedua orang tuanya memberikan khusus untuk anak semata wayangnya. Semua yang Ghibran dapatkan harus yang sangat istimewa di mata mereka. Padahal, Ghibran bisa saja membeli semua itu sendiri karena ia pun sudah lama bekerja dan mendapatkan gaji yang sangat besar untuknya yang masih pemula.
Rayyan menatap sekeliling tempat gym yang cukup besar ruangannya. Melihat barang-barang yang tersusun rapi di sana, rasanya sangat sejuk di mata Rayyan. Sudah hampir tiga bulan belakangan ini Rayyan jarang sekali mendatangi tempat gym yang berada di belakang rumahnya karena ia lebih fokus pada pelajaran yang akan keluar nanti di ujian nasionalnya.
Hoodie yang saat ini Rayyan kenakan langsung dilepaskan olehnya. Ia begitu bersemangat untuk melatih kembali kekuatan otot-ototnya. Lagipula ia butuh sebuah pelampiasan karena lagi-lagi kalah saing dengan Kakaknya. Dengan semangat Rayyan memukul berkali-kali sasak tinju yang berada di hadapannya saat ini. Hal itu membuat Ghibran maupun Arkhan melongo tak percaya dengan pria yang mereka anggap masih bocah itu.