
Bising-bising di dalam keramaian gedung terdengar. Merayakan bersatunya dua orang dalam suatu pernikahan. Mengucapkan selamat pada pasangan baru tersebut. Setelah sembilan hari lamanya mereka menyembunyikan status barunya, menunggu keadaan sekitar membaik. Berita miring tentang pernikahan mereka terdengar di media sosial. Untung saja Daffa-Ayahnya bergerak dengan cepat, menghapus berita yang belum benar kejelasan nya dan mengadakan konferensi pers yang dihadiri banyak wartawan dari berbagai stasiun televisi.
Di sana, Daffa datang untuk memberikan kejelasan pada para wartawan. Shasha dan Ghibran pun turut andil di dalam konferensi pers tersebut. Menjelaskan tentang hubungan mereka yang sebenarnya tanpa menjatuhkan nama baik perusahaan keluarga At-Thariq. Ghibran-pria itu yang sebelumnya tidak pernah diwawancarai oleh banyak wartawan menjadi sedikit gugup. Takut membuat kesalahan yang berujung fatal. Namun kehadiran Shasha membuat Ghibran dapat mengendalikan kegugupan nya.
Ghibran dan Shasha, keduanya tengah berdiri menyambut para tamu yang datang dan bersalaman dengan mereka berdua. Tamu-tamu undangan pun banyak yang meminta untuk foto bersama.
Gaun lebar dan panjang yang menjuntai ke bawah dikenakan oleh Shasha. Gaun berwarna aqua atau berwarna biru laut sedikit kehijauan Shasha kenakan. Sama seperti istrinya, Ghibran mengenakan jas yang senada dengan yang dikenakan oleh Shasha. Senyum keduanya mengembang ketika para tamu mendekati mereka.
Hingga suatu keributan kecil terjadi di atas panggung. Baik Shasha maupun Ghibran saling berdiam diri, menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan mereka. Alma, sahabatnya itu tengah menjadi bahan perebutan orang-orang.
"Alma punya gue, jangan berani-beraninya lo ambil dia dari gue!!"
"Sembarangan! Siapa lo?!" Sinis lawan nya tak terima. Bersedekap dada dan menatap sinis ke arah lawan bicaranya.
Sedangkan Alma-wanita itu tengah memegang kepalanya dan memejamkan kedua matanya, pusing dengan kelakuan dua orang tadi yang sedang memperebutkan dirinya.
"Bisa minggir gak? Aku mau ambil foto sama sahabat Alma." Karena kesal Alma mengusir orang-orang tersebut. Mengibas-ngibaskan tangan nya agar orang itu turun dari atas panggung.
"Liat? Alma lebih milih sahabatnya dari pada lo, orang asing!!" Sinis pria itu meremehkan.
"Heh Upin, Ipin! Lo berdua dicariin ama Kak Ros, sana pergi!!" Tak terima jika dirinya diusir, ia mengusir dua orang itu.
Ziy dan Zay, pria kembar itu saling menjauh satu sama lain. Tak ingin dibilang kembar oleh orang asing. Mereka menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangan nya. Mengubah posisi rambut mereka agar tidak terlihat terlalu mirip.
"Ren, kamu bisa diem gak? Kamu turun dulu sana. Aku, Abi Enver, Abi Al, Arkan sama si kembar mau foto. Sebentar aja, oke?"
Renaldi, pria itu menatap sendu ke arah Alma. Perkataan Alma mampu membuat hatinya berdenyut sakit. Ia seperti tak dianggap kehadiran nya oleh Alma-wanita yang ia sukai. Kemudian pria itu tersenyum miris, seperti meremehkan dirinya sendiri.
Tubuh pria itu melemas. Melangkah lemah menuju ujung panggung untuk turun dari tempat itu sesuai permintaan dari Alma. Sedangkan Alma sendiri menatap punggung Renaldi. Merasa bersalah pada pria itu. Alma menatap Shasha dan Ghibran bergantian, meminta pertolongan pada keduanya agar Renaldi kembali bersikap seperti semula.
"Nazriel!" Langkah pria itu terhenti ketika namanya dipanggil. Ia berbalik, menatap Ghibran yang baru saja memanggil dirinya.
"Kok turun? Kan belum ambil foto," sambung Ghibran bertanya.
Senyum tipis Renaldi berikan kemudian menggeleng pelan. "Nanti, tunggu sahabat-sahabat lo kelar fotonya"
"Lo kan temen gue juga. Sini lah bareng!"
"Cuma temen, bukan sahabat." Balas Renaldi dengan menatap satu persatu sahabat-sahabat Ghibran.
"Aelah sama aja. Sini! Lemes amat sih lo!" Ucap Ghibran bermaksud meledek teman semasa SMA nya. Ghibran maju beberapa langkah, menarik pergelangan Renaldi dan membawanya kembali ke tempat semula.
Alma tersenyum canggung. Merasa tak enak hati pada Renaldi. "Maaf ya? Aku gak bermaksud gitu kok awalnya," ucap Alma meminta maaf karena merasa bersalah. Karena ucapan nya, sikap Renaldi berubah.
"Kamu jangan kayak gitu lagi, ya? Aku takut kalau ada orang yang sikapnya kayak gitu ke aku." Sambung Alma menunduk. Jujur saja, wanita itu sangat tak terbiasa dengan kedatangan orang asing dalam kehidupan nya. Selama 22 tahun ia hidup, tak ada satupun orang yang ingin berteman dengan nya kecuali Shasha dan anak dari teman-teman Ayahnya. Dan tiba-tiba saja Renaldi datang dan bersikap sok dekat dengan nya. Padahal Alma belum terbiasa dengan kehadiran pria itu.
"Ada apa?" Lengan Alma disentuh, membuat wanita itu menoleh untuk melihat siapa yang baru saja menyentuhnya.
"Kok Aunty ada di sini?" Tanya Alma bingung.
"Abi yang panggil Aunty. Buat jaga-jaga aja. Gak papa kan?" Wanita itu berbalik, menatap Kakak sepupunya yang baru saja membuka suara. Enver-Kakak sepupunya itu tersenyum ke arah Alma.
Pelan-pelan Alma mengangguk. Tak terlalu mempermasalahkan nya karena yang memanggil Ilza adalah Kakak sepupunya. "Gak papa kok Aunty. Abi cuma mau jaga-jaga. Alma mau foto dulu ya, Aunty." Ilza mengangguk. Wanita itu turun dari atas panggung setelah memberikan selamat pada sahabat Alma. Untuk pertama kalinya bagi Shasha, ketua bodyguard Alma tersenyum ke arahnya. Benar-benar manis di mata Shasha ketika melihat wanita itu tersenyum.
Setelah drama panjang yang terjadi di atas panggung, akhirnya mereka semua memotret secara bersamaan. Bermacam-macam gaya yang mereka lakukan di depan kamera. Sekitar 12 foto yang diambil saat itu, membuat banyak tamu-tamu lain nya yang mengantre panjang demi menunggu mereka semua turun.
Karena merasa sudah cukup, mereka turun dari atas panggung dengan teratur. Menghampiri sang fotografer untuk melihat hasil potret mereka. Tamu-tamu berbondong-bondong menaiki panggung dan kembali turun setelah bersalaman pada pengantin baru tersebut.
Tatapan Shasha terhenti ketika melihat orang yang sedang berjalan ke arahnya. Seorang wanita memakai gaun setinggi lututnya, dengan rambut yang digulung ke atas dan memegang sebuah tas kecil di tangan nya. Ia berjalan dengan anggun dan tersenyum ke arah Ghibran.
"Kak Ghibran!!" Pekik wanita itu. Berlari kecil dan sedikit merentangkan kedua tangan nya, hendak memeluk tubuh Ghibran. Dengan cepat Shasha menghalangi tubuh wanita itu yang hendak memeluk tubuh suaminya. Begitupun dengan Ghibran, pria itu bergeser untuk menghindari wanita itu.
"Tolong jaga sikap kamu!" Shasha menatap tajam ke arah wanita itu. Menekankan setiap kalimat yang baru saja ke luar dari dalam mulutnya. Tak terima jika suaminya dipeluk oleh wanita lain selain dirinya dan Ibu mertuanya.
"Kenapa lo yang ke sini, Arin?" Tanya Ghibran memasang wajah bingungnya. Terkejut ketika dirinya kedatangan teman lamanya.
"Kenapa? Kamu bingung ya?"
"Mami sama Papi ada halangan, jadi gak bisa dateng ke sini." Sambung wanita itu. Memasang wajah sok imut yang membuat Shasha bergidik geli melihatnya.
"Selamat ya Kak Ghibran!!" Pekik wanita itu kembali.
Shasha menatap Ghibran, meminta penjelasan dari suaminya karena ia tak mengenali wanita yang saat ini berada di depan nya. "Dia Chia Arini, temen Sadam. Dulu kita sering kumpul bareng kalau pulang sekolah." Ucap Ghibran memperkenalkan wanita yang berada di depan nya saat ini.
Shasha terdiam. Ia ingat sekarang, Chia Arini, wanita itu yang ia temui beberapa hari yang lalu saat ia sedang melakukan foto untuk acara resepsinya. Wanita itu juga yang membuatnya kesal karena perkataan yang diucapkan.
Chia Arini, dia mendekat ke arah Shasha. Memeluk tubuh Shasha dan tersenyum sinis di balik tubuh Shasha. "Sampai saat ini kamu belum tau perasaan suami kamu kan? Karena dia gak pernah cinta sama kamu!" Bisik wanita itu tepat di telinga Shasha.
Napas Shasha memburu. Dengan gerakan cepat Shasha mengayunkan lengan nya. Jari telunjuk dan jari tengahnya mendarat di bagian tepi leher Arini. Karena kesal, tanpa pikir panjang Shasha melumpuhkan pergerakan Arini. Membuat wanita itu terkejut dan merasa kesakitan karena aliran darah terganggu.
Wanita itu reflek memegangi lehernya yang merasa sangat sakit. Mulutnya terbuka lebar karena terkejut. Ia menatap Shasha tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan padanya. Tanpa rasa bersalah, Shasha tersenyum ke arah Arini. "Ups, kayaknya kamu harus banyak-banyak berlatih deh kalau mau main-main sama aku!" Kini posisinya terbalik, Arini yang dibuat kesal karena ulah Shasha.
Jari telunjuk Shasha mendorong pelan Arini. Karena serangan tiba-tiba yang ia dapatkan dari Shasha tadi, Arini jatuh begitu saja di atas panggung, membuat tatapan orang-orang terfokuskan pada panggung bagian depan. Semua orang terkejut melihatnya, termasuk Ghibran yang saat itu sedang berbicara dengan teman nya. Sedangkan Shasha tersenyum sinis melihat wanita lemah yang mau mengganggu kehidupan barunya.
"Cih, baru digituin aja udah pingsan!" Gumam Shasha meremehkan.
Shasha menoleh, memegang pergelangan tangan Ghibran agar pria itu tidak membantu Arini yang tengah tak sadarkan diri. "Ada bodyguard Ayah. Tuh mereka dateng, kamu gak usah khawatir, ya?" Ucap Shasha membuat Ghibran mengangguk setuju begitu saja.
'Bahkan Ghibran lebih nurut sama aku dibandingkan nolong kamu.' Batin Shasha menertawakan kelakuan Arini. Sama saja seperti sedang mempermalukan diri sendiri.
__________
Maaf ya aku baru update lagi. Kalau semua urusan aku udah selesai, semoga aja aku bisa up lagi. Makasih yang masih mau nunggu novel ini up