
Keen membuka pintu rumahnya lalu ia berjalan masuk ke sudut ruangan paling belakang dari bagian rumahnya, ia membuka pintu dan dari sana terlihat tangga yang mengarah ke ruangan bawah tanah yang gelap, langkahnya terhenti "Nyalakan lampu!" perintahnya kepada sekretarisnya. lampu pun menyala, seketika ruangan menjadi terang, ia pun menuruni anak tangga satu persatu dengan tenang, sedangkan sekretarisnya menunggu di luar pintu, Keen terus melangkah lalu langkahnya terhenti begitu anakan tangga habis.
Ia menyilangkan ke dua tangannya di dada lalu ia tersenyum melihat pemandangan didepannya, empat orang dalam keadaan tangan kaki terikat serta mulut yang ditutup rapat menggunakan lakban hitam. Keempat orang itu begitu terkejut ternyata orang yang menangkapnya adalah pria yang dikenal oleh mereka, jika diminta memilih, mereka lebih memilih ditangkap oleh polisi dari pada oleh pria ini, karena pengawal yang menangkap mereka memperlakukan mereka dengan sangat kasar.
"Bagaimana kabar kalian? Maaf kan saya paman bibi dan adik adikku tersayang, kalian pasti terkejut kan" ucapnya santai dengan senyum jahat menghiasi wajahnya hingga membuat keempat orang itu bergidik. Mereka sadar bahwa mereka telah berhadapan dengan orang yang salah.
Keen melihat reaksi mereka tampak gelisah "Kalian jangan takut, saya sungguh tidak ada niat untuk membunuh kalian, saya hanya ingin kalian merasakan penderitaan yang istri saya rasakan bahkan lebih darinya karena kalian telah membuat dirinya begitu kesakitan kalian akan terkurung disini sampai istri saya yang saat ini sedang menjalani pengobatan karena tulang rusuknya retak akibat tendangan keras dari seseorang, dan saya tahu orangnya berada diantara kalian, kalian akan berada disini sampai istri saya sembuh dan bisa melihat kalian disini, tentu saja hukuman kalian yang sebenarnya bergantung dari keputusan istri saya,apa kalian ada pertanyaan??"
"Ahh tentu saja disini kalian tidak ada diberi hak untuk berbicara, nikmati waktu kalian dan sampai jumpa" keen melambaikan tangannya dengan senyum puas yang terpampang jelas dari wajahnya kemudian ia kembali menaiki tangga. Keempat orang itu terus meronta namun itu percuma, ketika pria itu pergi ruangan kembali gelap, tanpa sedikitpun cahaya, bahkan mereka tak dapat melihat satu sama lain, hanya terdengar tangisan lirih dari putri mereka.
********
Lys turun dari taxi di depan gedung cafe yang masih dalam tahap pembangunan, ia berjalan mengitari bangunan untuk memeriksa, langkahnya terhenti karena ia mendengar bunyi hp nya lalu ia mengambil hp dari tasnya dan mengangkat televon "Halo bu cassy, ahhh iya nanti saya mampir, kode pintunya? okee".
Tiba tiba ia melihat sekretaris lux berlari kearahnya, ia tersenyum wajahnya memerah hingga ia sama sekali tak mendengar apa yang sedang lux teriakkan kepadanya "Awaaaaassssss!!!!" pria itu menarik tubuhnya hingga mereka jatuh bersama.
Bruuukkkk!!!! wanita itu jatuh dibawah badan pria idamannya itu "Entah apa yang sedang terjadi tapi adegan seperti ini apa aku mimpi? lagi???" begitu isi dalam pikirannya.
"Klontang" sebuah balok kayu besar jatuh tepat di tempatnya tadi berdiri, seketika ia tersadar apa yang baru saja hampir terjadi kepadanya, wajahnya langsung memucat dan nafasnya terasa sesak hanya dengan membayangkannya saja.
"Apa anda baik baik saja?" tanya lux dengan mata yang buram karena kacamatanya terlepas dari tempatnya ketika ia terjatuh.
"Ya, saya baik baik saja!" ucapnya dengan nafas terengah engah.
"Bangunlah terlebih dahulu" lux membantunya bangun karena terlihat wanita itu masih syok.
Lux mengusap usap matanya, lalu melihat kesekelilingnya mencari keberadaan kacamatanya, dan itu ada tepat di bawah kakinya alias terinjak sendiri olehnya, "Ahh sayang sekali" gumamnya seraya mengambilnya.
"Terimakasih banyak sekretaris lux berkat anda saya masih bisa berdiri dan bernafas dengan normal" ucapnya setelah menenangkan diri.
"Ya" jawabnya singkat sembari memandangi kacamatanya yang retak.
"Ahh kacamata anda??? gara gara saya---"
Lux menyela "Tidak apa apa Nona alyssa, kebetulan saya memang ingin menggantinya dengan yang baru, yang penting anda baik baik saja" ucapnya tanpa maksud yang berlebihan namun wanita dihadapannya berfikir lain, ia tersipu dan wajahnya memerah karena ia berpikir bahwa maksud lux adalah dirinya lebih penting dari kacamatanya.
"Kalau begitu ayo sekarang kita ke toko optik"
"Tapi anda sangat membutuhkannya untuk bekerja kan, saya tahu toko kacamata yang menyediakan beberapa ukuran tingkat minus mata"
"Benarkah?"
"Tentu, mari ikut saya"
Mereka pun menaiki mobil lux dan lys menunjukkan arahnya, mereka masuk ke toko optik besar yang berada di sebelah rumah sakit dan segera memilih kaca mata yang dibutuhkannya, setelah itu lys membayarkannya sebagai bentuk kompensasi karena telah menyelamatkan nyawanya, mereka pun keluar dari sana dan lux memakai kaca mata baru yang sangat mirip dari miliknya sebelumnya.
Mereka masuk kembali kedalam mobil "Terimakasih nona lys telah membayarkan tagihan kacamata saya, padahal anda tidak perlu melakukannya sampai seperti itu" ucapnya yang masih merasa tak enak hati.
"Sudahlah, anggap saja itu bentuk rasa syukur saya karena anda menyelamatkan saya"
"Baiklah, terimakasih"
"Saya yang lebih berterimakasih, dan saya minta maaf" seketika ia merasa canggung.
"Maaf? mengapa anda meminta maaf?"
"Itu karena saya sudah mencium anda secara sepihak waktu itu" ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena malu seakan ia tengah mengakui perbuatan jahatnya, lux pun bereaksi malu.
" Ehemmm..Itu bukan sesuatu yang harus dimaafkan"
Lys menoleh kearahnya dan membuka wajahnya "Apa maksud anda?"
"Jujur saja, saya menyukainya, ahhh maksud saya-----" ia terhenti. ia terlihat kewalahan karena ucapannya sendiri, pasalnya setelah kejadian itu ia sendiri pun terus memikirkan wanita yang menciumnya itu, ia merasa berdebar debar selama seharian bahkan hanya karena berpapasan dengannya, dikepalanya hanya teringat bibir lembut dan manis miliknya.
Lys tersenyum menyadari maksudnya "Jika perasaan anda sama dengan saya maka berilah tanda sekarang juga, karena jika sekarang anda tak bereaksi apa apa saya akan benar benar memacari pria lain!"
Lux tersentak mendengar hal itu darinya, lalu ia melihat wanita dihadapannya memejamkan mata, jantungnya berdebar hebat dengan hanya melihat bibir berwarna peach kemerahan itu. Tanpa pikir panjang pun ia segera menghampiri bibir wanita dihadapannya itu, kedua tangannya mulai menyentuh rahangnya, ia merasa semakin dalam semakin manis pula, wanita itupun membalas dengan senang hati ciumannya mengikuti setiap permainannya, jantungnya pun berdegup kencang dan lama kelamaan tubuh mereka memanas, lys merasa pria itu sungguh lihai melakukan hal seperti ini karena ia benar benar telah terbuai dibuatnya.
"TINNN TIIINNNNN" mereka membuka mata karena terkejut menyadari apa yang tengah mereka lakukan dan dimana mereka berada, mereka pun bergegas melepaskan diri satu sama lain dengan canggung, sedangkan bunyi klakson dari mobil belakang semakin berisik. "Untunglah kacanya gelap dari luar" pikir lux dalam hati, mereka merapikan diri masing masing.
Lux segera menginjak gas dan menjalankan mobilnya, lys tersenyum sendirian sembari melihat ke arah luar jalan untuk menutupi rasa bahagianya dari pria disampingnya. Lalu ia menoleh ke arah pria itu dan tatapan mereka bertemu, keduanya saling tersenyum dan suasana canggung menjadi harmonis dan seakan di dalam sana dipenuhi bunga bunga yang baru saja bermekaran.
bersambung..................