
Shasha berjalan cepat mendekati sang Ayah. Ia butuh penjelasan mengapa tiba-tiba lengannya ditarik dan langsung meninggalkan acara makan malam yang bahkan belum selesai.
"Yah! Ayah!" Panggil Shasha. Berusaha mengejar Ayahnya yang terlihat sedang menahan amarahnya. Bahkan Kania hanya menoleh sebentar kepadanya sebelum kembali berlalu.
"Ayah!! Bunda!!" Gadis itu berlari, mencoba mendekati kedua orang tuanya. Ia bingung, mengapa mereka seperti ini? Apa ia melakukan kesalahan? Shasha memutar kembali kejadian beberapa menit sebelumnya, mungkin ia salah bertingkah sampai kedua orang tuanya menghindarinya.
"Sha, besok kita bicara lagi. Sekarang kamu istirahat dulu." Suruh sang Ibu sebelum menutup pintu kamar. Meninggalkan Shasha di depan kamar dengan wajah yang masih bingung, ia tak mendapatkan jawaban sedikitpun.
Shasha menoleh, bahunya ditepuk dari belakang dengan pelan. Kirana, Neneknya sedang tersenyum ke arahnya. "Jangan dipikirin. Sekarang kamu istirahat dulu, oke? Katanya besok mau nganter temen ke bandara?" Shasha mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan oleh Neneknya. Besok, Ghibran akan segera berangkat menuju Istanbul dan ia sudah mengatakan pada pria itu bahwa dirinya juga akan datang mengantar kepergian pria itu.
"Kalau gitu Shasha ke kamar dulu ya Nek." Pamitnya pada sang Nenek. Memeluk tubuh Neneknya terlebih dahulu sebelum berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu.
Melewati ketiga adiknya yang juga masih berdiri mematung. Sama seperti Shasha, ketiga adiknya juga sama tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada kedua orang tua mereka.
Tak ada sapaan dan ucapan selamat malam hari ini untuk Rayyan, Nadhira dan Cyra dari Shasha. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Biasanya, walaupun mereka dipisahkan oleh jarak, Shasha tetap akan menghubungi untuk mengucapkan hal itu.
Nadhira dan Cyra saling menatap bingung. Tak ingin ambil pusing dan lebih memilih untuk kembali ke dalam kamar masing-masing. Selanjutnya disusul oleh Rayyan yang segera mengikuti langkah Kakaknya. Menaiki lantai kedua untuk segera mensejajarkan langkahnya dengan langkah Shasha.
"Kak!" Langkah Shasha terhenti. Tangannya memegang pegangan tangga yang berada di sisi kirinya.
Segera Rayyan mendekat. Menghampiri Shasha dan meraih pergelangan tangan Kakaknya. Menarik Shasha supaya Kakaknya itu mengikuti langkahnya. Shasha diam mengikuti Rayyan yang terus menariknya. Masuk ke dalam pintu lift rumahnya yang menghubungkan lantai tiga dan menatap bagian atas lift, melihat apakah cctv di lift itu menyala atau tidak. Beruntung cctv di sekitar tempat itu sedang tidak menyala, mungkin karena lift itu jarang digunakan oleh orang-orang maka dari itu lift tak menyala.
"Gue tau sesuatu" bisik Rayyan tepat di telinga sang Kakak. Mengeluarkan flashdisk dari saku celana jeans yang ia kenakan. Menunjukkan alat penyimpanan file yang berukuran kecil kepada Kakaknya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Segera Rayyan keluar, setelahnya disusul oleh Shasha yang langsung mengikuti langkah Rayyan. Berjalan menuju ruangan yang menampilkan video cctv. Hanya ruangan itu yang tidak dilengkapi dengan cctv. Sebetulnya bisa saja Shasha atau Rayyan masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membicarakan hal itu, tapi Rayyan rasa bisa saja ada pengganggu yang datang.
"Apa itu?" Tanya Shasha seraya menunjuk ke arah tangan Rayyan yang sedang memegang flashdisk.
"Dokumen pembicaraan." Balas Rayyan. Duduk di kursi dan meraih laptop yang berada di sekitarnya. Laptop yang biasanya juga digunakan untuk menampilkan video orang yang terekam cctv.
"Dokumen pembicaraan?" Rayyan hanya melirik ke arah Shasha sebentar, kemudian kembali mengetikkan beberapa huruf di laptop untuk membuka dokumen yang Rayyan maksud.
'-Tunggu proyek berjalan sampai 80% akan saya peras keuangan perusahaan mereka,'
Shasha menoleh ke arah Rayyan. Menatap pria itu dengan tatapan bertanya. Ingin tau suara siapa yang berada di dalam rekaman suara yang Rayyan tunjukkan padanya.
'Tentu, tradisi kita akan terus berjalan. Tapi kali ini harus yang sederajat. Baiklah sampai jumpa.' Rekaman suara yang Rayyan tunjukkan telah berhenti.
"Tapi… Kapan kejadiannya?"
"Beberapa minggu yang lalu. Waktu itu lo lagi di tempat Bang Ghibran, jadi gue yang disuruh sama Ayah untuk dateng ngegantiin lo." Jelas Rayyan. Matanya menatap ke arah sang Kakak yang langsung terdiam mendengar penuturan Rayyan.
Shasha diam sejenak, mencoba memikirkan apa kaitannya dengan kejadian hari ini. "Apa mungkin yang mereka incar itu Ayah?"
"Maybe, i think so…"
"Ayo kasih tau Ayah!" Segera Shasha meraih flashdisk milik Rayyan yang masih terpasang di laptop. Berbalik ke arah pintu dan berlari keluar ruangan.
Rayyan membelalakkan matanya. Segera ia ikut berlari untuk mengejar Kakaknya. Ia rasa ini bukan saat yang tepat untuk memberitau karena mereka berdua pun belum mengetahui kebenaran dari kedua orang tua mereka.
Grep!
Buru-buru Rayyan meraih pergelangan tangan Shasha untuk memberhentikan langkah gadis itu. Menarik kembali dan membawa masuk Kakaknya ke dalam ruang cctv. Setidaknya Rayyan menjauhkan Shasha dari tangga ataupun lift terlebih dahulu.
"Kenapa-"
"Shhtt… Nanti, jangan gegabah!" Bisik Rayyan dengan menekankan suara beratnya. Merebut kembali flashdisk miliknya yang diambil oleh Shasha.
"Gegabah apanya? Justru Kakak mau kasih tau Ayah Bunda biar mereka waspada sama Pak Hilmi itu!"
"Kita tunggu ke depannya gimana, baru kasih tau ke mereka" ucap Rayyan memberi solusi. Berbalik ke arah laptop. Menghapus semua progam dan histori aplikasi yang ia buka di laptop cctv.
"Gak bisa gitu Ray!"
"Bisa! Ikutin aja ucapan gue!" Shasha terdiam. Tak bisa kembali berkata-kata. Ingin membantah, tapi tak tau alasan apa yang akan ia berikan.
"Tapi… Kenapa Ayah gak mau bicara sama Kakak? Apa hubungannya Kakak sama pembicaraan Pak Hilmi yang itu?" Shasha kembali membuka suara. Benar, tadi Ayahnya langsung menarik tangan dan menatap tajam ke arah Sadam. Sebenarnya ada apa sebenarnya? Apa hal itu juga dikaitkan dengan dirinya?
"Karena itu gue suruh lo untuk jangan gegabah. Kita ikuti aja dulu alurnya. Kita belum tau jelas niat Pak Hilmi itu untuk apa dan mengapa?" Suruh Rayyan kembali. Menjelaskan panjang lebar pada Shasha yang masih tidak bisa tinggal diam.
Menekan tombol power untuk kembali mematikan laptop. Lalu menghapus video cctv yang menunjukkan rekaman dirinya dan Shasha beberapa menit yang lalu.
"Sekarang lo balik, tidur. Katanya besok nganter Bang Ghibran ke bandara." Suruh Adiknya kembali. Mendorong keluar Shasha dengan pelan dari ruang cctv.
"Inget, di rumah ini cuma lo sama gue yang tau tentang ini. Gue mau lo tutup mulut rapet-rapet!" Ucap Rayyan memperingati Shasha sebelum pintu ruangan cctv ia tutup. Ia tak ingin esok hari satpam yang menjaga di rumahnya melihat rekaman video yang menunjukkan gerak-gerik mencurigakan dari dirinya dan Shasha, walaupun itu rumah mereka juga, tetap saja Rayyan tak ingin ketahuan.