
Pagi itu lucas menjemput lys di gang dekat rumahnya, jantungnya berdebar debar mengingat hal hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, dan hari ini adalah keputusannya untuk melanjutkan atau kembali mengakhiri hubungan asmaranya dengan wanita yang belum lama dicintainya itu, wanita itu tersenyum cerah seperti matahari pagi yang hangat, setelah hari ini, apa mata hari itu akan terus menyinari kehidupannya? itulah satu satunya pertanyaan yang ada dibenaknya akhir akhir ini disela sela kebahagiaan yang baru saja kembali ia dapatkan, ia menghampirinya yang menunggu di depan mobilnya.
"Kau sudah lama menunggu sayang?" ucapnya begitu ia sampai di hadapannya.
"Belum"
"Kau mau mengajakku kemana mengapa kau mau bertemu sepagi ini?"
"Ke rumahku"
Ia tersipu malu karena usia hubungan mereka yang masih seumur jagung tapi pria itu mengajaknya menemui keluarga, ia berfikir bahwa pria itu pasti sangat mencintainya "seharusnya kau katakan terlebih dahulu, kan aku harus menyiapkan diri, apalagi masa aku datang dengan tangan kosong?"
"Tidak apa apa, hanya ada adikku seorang keluargaku"
"Benarkah? siapa namanya? berapa usianya?"
"Namanya Miele, dua puluh tahun"
"Dua puluh? usia kalian terpaut jauh ya"
"Ya, memang begitu, ayo kita jalan sekarang"
Mereka masuk kemobil, lux terlihat tegang dan tidak tenang selama perjalanan, lys menoleh kearahnya, dan tersenyum karena ia kira kekasihnya merasakan hal sama seperti dirinya, ia pun menggenggam tangan pria itu untuk sedikit memberikan ketenangan untuknya. tatapan mereka bertemu, namun pria itu masih memasang ekspresi yang sama, mereka pun sampai didepan rumah minimalis berlantai dua itu.
Mereka melangkah berdampingan "ahh seharusnya aku membawakan sesuatu untuk adikmu.." ucapnya gugup.
"Tidak perlu, kita sudah sampai, mari masuk" lys pun mengangguk mengikuti langkah kakinya yang cepat.
Setelah masuk kerumah, lys duduk di ruang tamu sementara lux menjemput adiknya, matanya mengitari seisi ruangan yang rapi dan nyaman itu sembari berharap harap cemas, saking rapinya didinding sama sekali tak tergantung foto atau aksesori dinding lainnya, "Seperti orangnya yang simpel" gumamnya.
Lux pun muncul mendorong kursi roda adiknya, lys menatap mereka yang muncul dihadapannya, ia sejenak terdiam, perasaannya lux bercampur aduk "benar, tatapan seperti itu yang selalu diterima oleh adikku" pikirnya dalam hati sembari menilai reaksi kekasihnya, pikirannya sudah negatif.
Lux pun terkejut ketika melihat wanita itu menghampirinya lalu berjongkok menyesuaikan adiknya "Hai Miele, perkenalkan, namaku Alyssa aku adalah pacar kakakmu, hubungan kita belum lama tapi aku sangat menyukainya, kuharap kita bisa akur dan aku berharap disukai juga olehmu gadis cantik, senang bertemu denganmu" ucapnya seraya bibirnya terus tersenyum.
Miele pun mengangguk angguk seakan ia merasa lega dengan reaksi kekasih kakaknya kepadanya, sedangkan lux terdiam dan matanya merah, lys bangun dan menemukan kekasihnya tengah terpaku menatap dirinya "Apa yang terjadi, mengapa kau terlihat sedih? apa aku melakukan kesalahan?"
Lux berjalan mendekat padanya kemudian memeluknya dengan erat, miele melihat itu dan tersenyum, sedangkan lys tampak bingung dengan sikap pria itu yang tak seperti biasa. "Terimakasih" ucapnya lirih.
"Terimakasih untuk apa?"
"Terimakasih"
"Hmm???"
"Ehemmmm" bibi pengasuh miele berdehem melihat mereka, kemudian lux melepaskan pelukannya.
"Bibi sudah datang?"
"Dia kekasihku"
"Ahhh, halo salam kenal saya pengasuh nona miele" ucapnya seraya tersenyum.
"Ya, saya alyssa salam kenal bibi"
"Saya permisi mau memandikan nona dulu"
"Baik, dahhh miele sampai bertemu lagi" ucap lys melambaikan tangannya.
Karena waktu bekerjanya sebetar lagi tiba lux mengantar kekasihnya itu ke tempat kerjanya terlebih dahulu lalu ia kembali ke kantornya, ia masuk keruangan atasannya dan menemukan atasannya sudah mulai bekerja dengan memfokuskan dirinya dengan setumpuk dokumen di atas meja. "Syukurlah beliau terlihat baik baik saja sejak perceraiannya, apa dia sudah menyerah kepada bu casandra??" pikirnya sembari memperhatikan keen yang duduk dihadapannya.
"Bagus sekali kau sekretaris lux,atasanmu datang terlebih dahulu sebelum kamu!!" ucapnya dingin.
"Maafkan saya" ia menghampirinya dan menyerahkan dkumen yang dibawanya di atas meja kerjanya.
"Mentang mentang punya pacar sekarang kau jadi kurang fokus kepada pekerjaanmu!!!"
"Saya akan berusaha lebih baik lagi" ahh kau hanya iri saja kan? begitu pikirnya.
Mendengar itu Keen hanya menatap sinis sekretarisnya itu.
"Proyek pembangunan cafe hampir selesai--" ucapannya terhenti.
Keen menyela "Aku tidak mau mendengar apapun yang berhubungan dengan wanita itu"
"Tapi--"
"Kau bisa mengurusnya sendiri kan, dan satu lagi, hilangkan semua artikel artikel yang masih membicarakan tentang perselingkuhanku atau apapun yang mengaitkan namaku dengan wanita itu"
"Saya mengerti, saya permisi"
Begitulah sifatnya, lux sangat memahaminya, ketika ia menunjukkan reaksi penolakan yang kuat, ia tengah berusaha mati matian menekan dirinya sendiri untuk tak berlari menghampirinya dan kembali menaruh harapan padanya. Sungguh kasihan, tapi itu adalah kesalahannya sendiri yang tak menggunakan kesempatan yang telah diberikan dengan sebaik baiknya.
***
Setelah cassy menyelesaikan urusannya dengan pihak perusahaan Lian Foods yang secara resmi kini bukan lagi miliknya ia mulai kembali ke aktifitasnya sebelum menjadi pimpinan sebuah perusahaan besar.
Ia berjalan masuk ke dalam cafe setelah memarkirkan mobilnya, ia mengumpulkan semua staffnya dan memberitahukan bahwa mulai hari ini ia kembali, semua orang disana pun tampak senang banyak pula yang mencoba menujukkan simpati atas isu isu yang beredar di internet terkait hubungan pernikahannya, tak sedikit pula yang diam diam membicarakannya dibelakang, namun semua itu bukanlah masalah untuknya.
Ketika cafe sudah mulai beroperasi, ia duduk di pojok ruangan, ia tampak sibuk dengan laptop dihadapannya,dan sesekali menyedot minumannya, belum sehari ia berada disana tapi beberapa pengunjung terdengar berbisik bisik membicarakannya. entah itu simpati atau kritik pedas ia sudah mendengar semuanya hari ini, tak jarang pula yang membanding bandingkan dirinya dengan Ivana. dan yang paling penting adalah berita tentang mantan suaminya yang telah berhasil mengakuisisi Lian Foods dan menempatkan ibu kandungnya sebagai ceo baru di perusahaan itu.
Sejujurnya ia merasa sedih dan bersalah karena menyerahkan perusahaan yang dibangun oleh ayahnya begitu saja demi kehidupan nyamannya, tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada lagi yang perlu ia sesali, itulah harga yang harus ia bayar karena memutuskan perjanjian kontrak secara sepihak. Dan ia merasa sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan perusahaan hingga ia rela dan berniat menjalin hubungan yang sebenarnya dengan Keen yang katanya tulus mencintainya, ia melakukan semua itu semata mata untuk kebaikan semua orang dan perusahaan, siapa sangka akan ada insiden perselingkuhan itu, ia bisa saja tetap mempertahankan pernikahan kontrak demi perusahaan tapi harga dirinya tidak mengijinkannya melakukan itu.
Bersambung....................