SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 28



Sadam melirik ke arah Adiknya dan Shasha yang asik berbicara berdua. Walaupun pembicaraan mereka saling berbisik supaya tidak didengar banyak orang, tetap saja Sadam seperti nyamuk di sana. Hanya sesekali Sadam ikut menimbrung, ataupun mengganggu pembicaraan Renaldi karena memang Sadam tak mengenal siapa 'My sweety' atau 'Alma' yang mereka maksudkan.


"Jadi kapan My Sweety balik?"


"Emm… Aku gak tau pasti. Biasanya kalau mau masuk kuliah dia baru balik" Shasha menaruh jari telunjuknya di pelipisnya, pura-pura sedang berfikir. Berbohong tentang kepulangan Alma yang berarti masih sekitar tiga bulan lagi. Sengaja menjawab pertanyaan dari Renaldi dengan berbohong, ingin tau reaksi pria itu seperti apa.


"Lama banget…" gumam Renaldi. Menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Frustrasi karena menurutnya itu akan sangat lama sekali. Shasha menggeleng pelan, lucu melihat tingkah Renaldi yang sangat bobrok.


"Emang kenapa?" Masih tertarik dengan pembicaraan tentang Alma, Shasha kembali bertanya pada Renaldi.


"Dia kan kagak save nomor gue," Renaldi menaruh kepalanya di atas meja makan yang bertumpuan dengan kedua lengannya yang dilipat. Wanita mana yang tidak risih jika didatangi orang seperti itu? Sama seperti Alma, mereka pasti akan melakukan hal yang sama.


Shasha berfikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Renaldi, Alma tak ingin menyimpan nomor pria itu. Bahkan Alma telah membuang nomor ponselnya yang lama untuk menghindari pesan tak jelas dari Renaldi. Padahal Shasha meminta Alma untuk dibiarkan saja karena Renaldi pria yang humoris, sudah pasti asik untuk diajak bercanda.


"Alma itu siapa? Gebetan lo?" Bisik Sadam pada Renaldi. Tak ingin dijadikan gantungan saja, ia pun ingin berbicara akrab dengan Shasha dan lainnya.


"Bukan, Kak! Namanya Almasya Shahinaz Muzakki sahabatnya Kak Caca, bukan gebetannya Kakak itu" Cyra membalas pertanyaan dari Sadam yang dapat didengar dengan jelas oleh Cyra. Dengan protes, Cyra menunjuk ke arah Renaldi yang tak suka kalau Alma disebut gebetan pria itu.


Nadhira menoleh. Menyenggol lengan Cyra, berbisik pada Adiknya supaya tidak mengatakan apapun. Lebih baik ia dan Cyra hanya diam mendengarkan, takutnya mereka akan salah dalam berbicara.


Kompak Shasha dan Sadam tertawa. Setuju dengan ucapan asal yang keluar dari mulut Cyra. Karena Alma sendiri tidak menganggap Renaldi teman, apalagi gebetan. Bukan karena terlalu sombong sampai tak ingin berteman dengan Renaldi, tapi pria itu sendiri yang membuat Alma risih.


"Bocil, jangan sok tau!" Balas Renaldi bersedekap dada. Memicingkan matanya ke arah Cyra karena tak terima dengan ucapan anak itu. Cyra menoleh ke sembarang arah, menatap satu-persatu Kakaknya agar dirinya diberi pembelaan. Toh apa yang dikatakan oleh Cyra tak ada yang salah.


Plak!


"Dia takut, bego!" Dengan kencang Sadam melayangkan lima jari di tangan kanannya dan mendarat dengan sempurna di puncak kepala Adiknya. Kesal dengan Renaldi yang tak mau mengalah dengan anak yang baru remaja di depannya. Mengusap beberapa kali kepalanya yang baru saja ditabok oleh Sadam.


Tangan kekar Rayyan terangkat, mengelus dengan sayang Adik terkecilnya yang sedang mengadu. Menatap datar ke arah Renaldi, namun tatapannya setajam elang yang akan menikam Renaldi. Membuat sekujur tubuh pria 22 tahun merinding dengan hebat.


Tanpa diminta, Renaldi paham betul apa yang Rayyan inginkan. Karena takut dengan tatapan yang Rayyan berikan, Renaldi berjalan beberapa langkah ke arah Cyra. Meninggalkan kursi yang sedang ia duduki hanya untuk meminta maaf. "Maaf ya, dek," Renaldi menepuk bahu Cyra. Meminta maaf dengan tubuh yang sedikit gemetar kerena tatapan mengintimidasi dari Rayyan.


Cyra berbalik, menatap garang Renaldi. Menaruh kedua tangannya di pinggang. Dengan wajah yang memerah menahan tangisnya, Cyra menunjuk Renaldi. "Kamu jahat!" Protes Cyra kembali. Setelah menjulurkan lidahnya, Cyra kembali memeluk Rayyan dengan erat.


Shasha berdiri, menghampiri Cyra yang sedang mengadu kesal pada Rayyan. Mengambil alih Cyra dari Rayyan dan ikut memeluk Adiknya. Shasha berjongkok, sedikit mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Cyra. "Dek…" panggil Shasha, meminta agar Adik bungsunya menatap wajahnya.


"Udah, ya? Kakak itu kan udah minta maaf. Kalau Cyra gak maafin, gantian Kakak itu yang nangis" ucap Shasha berusaha membujuk Cyra. Menatap memohon agar tidak berkelanjutan kejadian yang sebelumnya.


Dengan cepat Cyra menggeleng. Tidak ingin memaafkan Renaldi yang sudah membuatnya takut. "Biarin aja dia nangis!" Balas Cyra masa bodo. Mengusap beberapa kali air matanya yang sedari tadi turun.


Shasha menoleh ke arah Renaldi sebentar, kemudian kembali menatap Cyra. "Liat tuh!" Shasha menunjuk ke arah Renaldi, meminta Cyra agar melihatnya juga. "Kakak itu gemeteran. Dia takut soalnya sama Bang Rayyan diliatin," sambung Shasha kembali menunjuk. Cyra hampir tertawa melihat pria yang tadi membuatnya takut sekarang sedang berdiri gemetar. "Dia lagi nahan pipis"


"Pfft…" Sadam segera menutup mulutnya. Menahan tawa nya ketika melihat Adiknya seperti sedang dipermalukan di depan anak kecil. Renaldi melirik sebal ke arah Sadam yang tidak membantunya sama sekali. Dalam hati ia sedang melafalkan mantra-mantra sihir untuk Kakaknya yang menyebalkan.


"Kalau gak dimaafin nanti dia pipis di sini. Cyra mau?" Lanjut Shasha kembali memberi pengertian. Menatap Cyra dan menunggu jawaban dari Adiknya. Perlahan tapi pasti, Cyra mengangguk memberi maaf pada Renaldi. Kembali berbalik dan segera duduk di kursinya semula.


Helaan nafas terdengar setelah Cyra memaafkannya. Segera kembali ke kursi tempat ia duduk sebelumnya dan menatap makanan nya yang belum selesai ia makan. Menyuapkan beberapa kali makanan nya ke dalam mulutnya. Shasha juga ikut kembali duduk di tempatnya semula. Meneguk air mineral, mencoba kembali mencairkan suasana.


Dari jauh, terlihat Ayah, Bunda dan Neneknya berjalan ke arah mereka. Terlihat dari ekspresi wajah Ayahnya, dapat di tebak mereka sedang marah. Mendekati Shasha dan meraih pergelangan tangan Shasha. "Ayo kita pulang!" Suruh Daffa pada anak-anaknya. Menatap tajam ke arah Sadam yang juga sedang kebingungan.


Tanpa niat menolak, Shasha langsung meraih tas yang ia selempangkan pada sandaran kursi. Berjalan mengikuti langkah Daffa yang terus menggenggam pergelangan tangannya. Tanpa penjelasan sedikitpun yang Daffa berikan pada Shasha. Tak apa, kali ini ia akan menurut dan menunggu penjelasan dari Ayahnya yang tiba-tiba meminta ia dan adik-adiknya untuk segera pulang.


__________