
Sudah dua minggu sejak hari itu, sejak itulah cassy tidak pulang kerumahnya dan malah tinggal di cafe, ia tidur di ruang office tempat kerjanya dan alyssa.
Ia sadar apa yang dilakukannya adalah hal yang sangat konyol selama hidupnya, tapi ia merasa teramat takut jika sampai ia berhadapan atau hanya saling berpapasan dengan Winter.
Ia takut jika sampai melakukan hal hal diluar nalarnya, karena sejak malam itu hati, fikiran dan tindakannya selalu sangat tidak sinkron, terlebih jika dihadapan orang itu.
Winter bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu setelah malam itu hingga ia sama sekali tak melihat batang hidungnya untuk berhari hari, pikiran bahwa ia kembali ditolak tak jarang menghantuinya, tapi ia yakin dari reaksinya kali ini akan berbeda, ia yakin bahwa wanita itu kini memiliki perasaan yang sama, sesuai janjinya ia hanya akan terus menunggu.
^^^Tunggu, ngomong ngomong soal menunggu.. Aku jadi merasa kesal mengapa aku harus mengatakan hal seperti itu, padahal pada kenyataannya semakin hari menunggu semakin aku tak sabar untuk menghampirinya, salahkah diriku yang mencoba bersikap gentle ini? Hahhh...ini sudah hari ke lima belas tapi dia tetap tak datang menemuiku, bolehkah aku saja yang datang menghampirinya sekli lagi? Andai, ini hanya andai yaa.. Apabila dia sengaja menghindariku dan tak mau bertemu denganku aku harus apa? Bisakah aku menyerah setelah semua ini? Tuhan.. Wanita itu terus saja membuatku frustasi.^^^
Winter menyandarkan tubuhnya dikursi kerjanya sesekali ia membolak balikkan satu dokumen diatas meja kerjanya, pikirannya sama sekali tak bisa fokus.
Tiba tiba ia bangun "tidak bisa begini terus, aku akan benar benar gila jika tidak mendapatkan kepastian hari ini juga"
Ia melihat jendela, langit telah gelap, ia tak mengira kini tinggal dia seorang yang berada di kantor besar itu, ia terus termenung sejak sekretarisnya berpamitan pulang.
Sekretaris Jenie kembali menawarkan kencan buta untuknya, ia sedikit memaksa karena ia merasa bersalah sahabat yang dikenalkannya ternyata sudah memiliki kekasih saat melakukan pertemuan dengan bosnya. Padahal winter sudah menjelaskan bahwa ia baik baik saja dengan itu, tapi wanita itu masih tetap ingin bertanggung jawab.
Ahh..aku sampai lupa seharusnya hari ini aku menemui teman jenie, apa aku terlihat sangat menyedihkan karena menyandang status jomblo seumur hidup? Sampai sampai dia memaksakan pendapatnya untuk pertama kalinya? Baiklah aku hanya perlu menemuinya jika memang aku sudah mendapatkan kepastian.
Ia mengangguk angguk setelah menjernihkan pikirannya, lalu ia merapikan jas dan rambutnya lalu mengambil kunci mobil dan pergi dari ruangannya.
Ia berhenti di depan cafe tempat cassy berada, ia melihat wanita yang sudah lama tak dilihatnya dari kejauhan, wanita itu tampak sibuk dengan laptopnya diantara tempat duduk pelanggan, winter melihat jam di pergelangan tangannya, sudah jam setengah sembilan, itu artinya ia hanya perlu menunggu selama tiga puluh menit sampai cafe tutup dan hanya tersisa pemiliknya seorang.
Tuk tuk tuk, winter mengetukkan jarinya pelan di stir mobil, kepalanya menyender tapi matanya hanya memperhatikan ke satu arah, ia kembali melihat jam nya dan akhirnya logo open di depan pintu telah berubah menjadi close,ia tersenyum kembali bersemangat.
Tak lama pun para staff keluar satu persatu dari tempat kerja mereka, cassy menarik rolingdoor penutup kacanya, satu persatu lampu dimatikan.
inilah waktunya..
Ia bersiap siap menyiapkan hatinya, mengatur nafas dan menjernihkan pikirannya, kemudian ia turun dari mobil dan berjalan membuka pintu yang untungnya belum dikunci.
"Criiing" suara pintu dibuka.
"Maaf kami sudah----" ucapannya terhenti ketika melihat pria yang tengah dihindarinya mati matian berada di depan matanya.
Begitu tatapan mata mereka bertemu jantung cassy mulai kembali bereaksi, sekujur tubuhnya panas. Hal seperti inilah yang membuatnya menghindarinya hingga tak kembali kerumah berhari hari.
"Ap apa yang anda lakukan disini?" ucapnya tergagap.
Ohh..ini memalukan, aku pasti terlihat seperti wanita bodoh.
"Bolehkah saya duduk?"
"Ten ttentu saja, duduklah"
Jika dia mendekat sedikit lagi aku yakin dia akan mendengan detak jantung yang memalukan ini.
Winter duduk dihadapannya, lalu cassy mematikan dan menutup laptop dihadapannya.
"Apakah anda tidur disini selama ini?"
"Ahhh..itu.. Ya karena akhir akhir ini pekerjaan saya banyak dan saya juga sedang mempersiapkan pembukaan cabang kedua"
Alasan yang lumayan, tapi itu bukan seratus persen kebohongan.
"Ahh jadi begitu" ia mengangguk angguk mengerti namun terlihat tak sepenuhnya percaya.
"Mengapa anda datang kesini?" ia bertanya dengan suara yang bergetar.
"Padahal saya sudah berjanji akan menunggu anda selama waktu yang anda butuhkan, tapi mengapa saya muncul disini sekarang? Pasti anda berfikir seperti itu kan?"
Cassy tersentak, ia mengalihkan pandangannya tak mampu membalas perkataannya.
"Tidak" tidak sepenuhnya salah, begitu pikirnya.
"Saya baru mengetahui ternyata saya adalah orang yang tidak memiliki kesabaran yang luas, Jujur saja sekarang saya akan pergi ke kencan buta, apa anda mau ikut dengan saya?"
Wanita itu tersentak "bukankah itu tidak memungkinkan? jika berniat menemui wanita lain untuk apa anda disini? Haha" ia tertawa hambar dan mencoba berpikir.
Apa yang ia katakan barusan? ikut kencan buta? apa dia sadar apa yang baru saja dikatakannya?.
Meskipun ucapannya begitu tetapi hatinya terasa ngilu.
Winter melanjutkan setelah melihat reaksi dari wanita dihadapannya "Saya berharap anda ikut disamping saya sehingga saya dapat melihat reaksi sedikit kecemburuan dari anda, hahhh.. Saya mengerti, kalau begitu saya permisi"
Cassy tertegun, pikirannya cemas tak karuan ia berfikir apa sebaiknya ia bersikap lebih jujur dan bagaimana caranya mencegahnya pergi menemui wanita lain, hanya itulah yang saat ini ada di pikirannya, ia tak ingin kehilangan orang yang sudah jelas ia cintai dan mencintainya, tangannya mengepal, ia menguatkan tekadnya.
Winter bangun dari duduknya dan melangkah ke arah pintu, kemudian secara spontan cassy menyusulnya, ia menarik lengan bajunya dan menghentikannya saat ia memegang handle pintu.
Dengan raut wajah memerah dan malu malu ia berkata "apa anda tidak akan datang ke kencan buta jika saya melarang?"
Deg, winter terhenti,matanya membelalak lalu ia berbalik badan menghadap ke arahnya,menatap wajahnya lekat lekat, kepalanya sedikit menunduk mengingat perbedaan tinggi mereka.
"Maksud anda?" ia hanya mencoba meyakinkan yang didengarnya bukanlah sebuah ilusi.
"Maaf karena membuat anda menunggu terlalu lama, tapi bukankah sekarang saya masih belum terlambat untuk datang kepada anda?"
Winter terdiam menelaah apa yang baru saja ia dengar, ia terpaku begitu ia yakin. Tatapan keduanya semakin dalam, akhirnya setelah semua yang mereka lalui wanita itu mengatakan kata kata yang begitu dinantikannya.
"Datanglah padaku" ia melebarkan kedua tangannya dengan wajah tersenyum cerah, kemudian cassy meraihnya tanpa ragu ragu menjatuhkan tubuhnya dipelukan pria itu.
Winter merangkul dan mengelus kepala mungil di pelukannya "terimakasih karena anda mau meraih saya yang tidak sempurna ini, terimakasih banyak" ia tersenyum dan memejamkan matanya, menikmati aroma tubuhnya, menikmati momen yang sangat dinanti nantikan olehnya.
"Saya yang berterimakasih karena anda masih terus sabar dan menunggu saya yang jauh dari kata sempurna"
Mereka berpelukan semakin erat, seolah kini mereka tengah memeluk kebahagiaan yang begitu dinantikan, cassy pun tersenyum cerah menyandarkan kepalanya didada bidang kekasihnya, ia merasa sangat nyaman dan aman.
bersambung..............................