
"Rayyan Aldera Arian?!!" Pekik suara itu membuatnya terkejut dan menoleh ke sumber suara.
Di sana ada seorang wanita berlari kecil ke arahnya. "Nahkan bener!" Sambungnya sangat senang.
Rayyan menaikkan satu alisnya karena tak mengenali wanita itu. "Siapa?" Tanya Rayyan.
Dengan sangat percaya diri wanita itu memperkenalkan dirinya. "Aku Berliana Shireen, mahasiswa dari fakultas hukum." Ucap wanita itu menjulurkan tangan nya ke arah Rayyan.
Pria itu hanya melirik tangan wanita itu sekilas, kemudian menatap kembali gadis yang berada di depan nya. "Terus?" Bukan nya membalas uluran tangan itu, Rayyan hanya diam mengabaikan dan malah kembali bertanya.
Dengan malu wanita itu menarik kembali uluran tangan nya. "Aku yang minggu lalu ketemu sama kamu di gedung manejemen." Sambungnya berusaha membuat Rayyan mengingat kembali dirinya.
"Oh." Balasnya tak acuh. Pria itu justru melanjutkan kembali pekerjaan nya dari pada harus berurusan dengan orang yang tidak ia kenal.
Karel yang berada di sisi Rayyan langsung menyenggol lengan sepupunya membuat Rayyan menoleh dan menantap bingung pada kakak sepupunya. "Apa?"
"Itu ada cewek depan lo!"
"Ya terus?"
Karel menepuk keningnya melihat sikap Rayyan yang sangat amat dingin. "Kasian anak orang nanti nangis digituin sama lo!" Bisik Karel di telinga Rayyan. Melirik sekilas wanita di depan mereka melalui ekor matanya. Ia nampak sangat gugup, tangan nya saling menggenggam satu sama lain dan tersenyum kikuk ke arah mereka.
"Gue gak ngapa-ngapain dia."
Rena yang melihat itupun ikut geram dengan tingkah Rayyan yang sangat tidak peduli. "Sini-sini, duduk samping aku!" Ajak Rena menepuk sisi sofa yang kosong. Ia berbicara pada wanita yang sedang berdiri di depan mereka.
Dengan malu-malu ia mengangguk dan berjalan menuju Rena dan duduk di sisinya. "Tadi siapa nama kamu?" Tanya Rena setelah wanita itu duduk.
"Aku Berliana Shireen kak, panggil aja Berlin." Ucapnya sedikit malu-malu.
"Nama yang cantik, kayak orangnya." Puji Rena pada wanita yang terlihat muda darinya.
"Makasih kak." Ucapnya berseri mendengar pujian dari kakak sepupu Rayyan.
"Aku Rena, kakak sepupunya Rayyan." Ucap Rena memperkenalkan dirinya.
"Oh kakak itu kakak sepupunya Rayyan?" Berlin mengulang perkataan Rena. Tersenyum lembut pada sang Kakak sepupu Rayyan. Rena hanya mengangguk sebagai jawaban dengan wajah yang juga membalas senyuman Berlin.
Kemudian tatapan Rena berganti. Wanita itu menatap curiga pada Berlin yang tak melakukan apapun. Membuat gadis itu merasa tak nyaman dengan tatapan yang Rena berikan. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal kemudian tersenyum canggung.
"K-kenapa kak?" Tanyanya tak nyaman.
Kemudian Rena tersenyum licik. "I know your secret," ucap Rena tiba-tiba, membuat gadis di depan nya salah tingkah. Rahasia apa yang Rena ketahui tentangnya? Bukankah ini pertemuan pertama mereka? Batin Berlin tak tenang.
Gadis itu mengikuti arah pandang Rena. Rayyan-pria itu yang sedang ditatap oleh Rena. Kemudian Rena kembali menatap Berlin. "Kamu suka Rayyan." Bisik Rena tepat di telinga gadis itu, yang membuat bulu-bulu halus Berlin merinding.
__________
Di sisi lain, Alma sedang berdecak kesal karena jalan yang saat ini ia lewati dihalangi oleh pria menyebalkan yang berada di depannya.
Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di tempat yang sama karena langkahnya dihalangi. Gadis itu hanya bisa berdecak karena ulah pria di depannya.
"Ayolah… Kita berangkat sama-sama…" Renaldi, pria itu kembali memohon di depan Alma yang sepertinya tak berniat untuk mengubah keputusannya.
Gadis itu memutar tubuhnya, berjalan kembali ke arah mobil yang ia bawa dan langsung masuk begitu saja ke dalam kendaraan yang ia bawa. Renaldi senantiasa mengikuti langkah gadis pujaan hatinya. Setia berdiri menunggu Alma yang sangat ia yakini aksn merubah keputusannya.
Tiin! Tiin!!
Alma menekan klakson mobilnya. Berharap agar jalannya segera dibukakan oleh Renaldi. Pria itu telah menaruh kendaraannya di tengah jalan dan menyebabkan kendaraan yang dibawa oleh Alma tak bisa bergerak.
Bukannya merasa bersalah, Renaldi justru tersenyum puas. Ia yakin, dengan begitu Alma akan mengalah dan menuruti keinginannya.
Lima belas menit sudah berlalu, tak ada juga tanda-tanda bahwa Renaldi akan menyingkirkan kendaraannya membuat Alma frustrasi dengan kelakuan pria itu. Niatnya ingin menghadiri acara sang sahabat, dirinya malah harus terhambat karena ulah pria itu.
Akhirnya Alma kembali keluar dari dalam mobilnya. Kesabarannya telah habis kali ini. "Kamu pergi atau aunty Ilza bakal bikin kamu tidur di dalem rumah sakit?!" Ancam seorang Almasya penuh penekanan. Nada bicaranya benar-benar berubah dari yang biasanya.
Senyum Renaldi perlahan menghilang. Tentu ia terkejut dengan sifat Alma yang lainnya, sangat berbeda dengan biasanya. Di mana gadis itu selalu ceria dan tak pernah marah setahunya, namun kali ini gadis itu seperti benar-benar telah kehabisan kesabarannya.
"Hei, calm down-"
"Diem Ren!!" Alma berteriak lantang. Kenapa ia harus di dekatkan dengan orang se-menyebalkan Renaldi?
"Kamu mau aku ikut sama kamu?!" Alma terkekeh sinis. Ia meraih kunci mobilnya. Memperlihatkan ke arah pria itu dan melemparnya tepat di wajah pria itu membuat Renaldi memejamkan matanya karena kunci mobil Alma mengenai matanya. "Mimpi lo!!" Sambung Alma kembali.
Ia langsung berjalan ke arah belakang, ingin pergi dari jalanan yang sepi ini. Emosinya saat ini memang sedang tidak stabil, entah karena apa, yang jelas ia tak ingin kesabarannya dipancing-pancing seperti sebelumnya oleh Renaldi.
Baru beberapa langkah Alma berjalan, senyum sinis terukir di bibir gadis cantik itu. Menyadari bantuannya telah datang, Ilza dan bodyguard yang lainnya yang selalu menjaganya. Semakin dekat mobil itu ke arahnya, semakin hilang pula senyum yang ada pada dirinya.
Itu bukan kendaraan milik Ilza, melainkan milik… Ayahnya.
Mobil berhenti, Ghifari segera keluar dari kendaraan yang ia bawa. Berlari cepat ke arah Alma membuat gadis itu semakin mengernyit bingung.
"Aba kena… pa?" Suara Alma berhenti sejenak karena ternyata sang Ayah berjalan melewatinya. Dengan beberapa bodyguard yang mengikuti di depan dan di belakang langkah Ghifari.
Melihat ke arah Renaldi yang saat ini seperti sedang disekap oleh sang ayah dan anak buahnya.
Bugh!
Bugh!
"AKHH-" Alma berteriak takut ketika melihat sang ayah yang secara langsung menghajar seseorang di hadapannya. Ia menutup mulutnya, antara terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sedangkan Renaldi, pria itu terjatuh ke atas aspal karena tak siap mendapatkan pukulan tiba-tiba dari Ghifari.
Alma berlari kecil hendak menuju ke arah ayahnya, dengan bertanya, "Aba apa-"
"Orada kal, Alma! (Tetap di tempat, Alma!)" Perintah sang Ayah membuat langkah gadis itu seketika terhenti.
Ghifari tersenyum sinis sebelum kembali berucap. Pria berkepala empat itu beralih menatap Renaldi kembali. "Setelah hampir menghancurkan masa depan sahabat anak saya, sekarang keluarga anda juga mengincar anak saya!! Keluarga brengs*k!!" Umpat Ghifari menatap tajam ke arah Renaldi.
"Aba!" Peringat Alma tak suka dengan apa yang baru saja sang ayah ucapkan. "Kenapa Aba bicara begitu?" Sambungnya heran.
Ghifari melirik sang anak sebentar kemudian menatap Renaldi kembali. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pria yang masih duduk di atas aspal. "Dia…" Ghifari menjeda ucapannya sebentar, meraih senjata api yang dipegang oleh bodyguardnya dan mengarahkannya ke arah Renaldi. "Punya niat lain mendekati kamu!" Sambungnya menatap Renaldi dengan tatapan amarahnya.