
"Jawab, Kak!" Desak Rayyan. Tatapannya seolah sedang mengintimidasi sang Kakak.
Shasha menunduk. Menatap tangan kanan nya yang ternyata kembali mengeluarkan darah. Mengapa ia tak merasa sakit sama sekali? Apa karena ia rasa sakit itu tak sebanding dengan takdir yang seperti sedang mempermainkannya?
Tatapannya kembali mendatar ketika melihat luka di tangannya. Teringat kembali perkataan Sadam yang terus-menerus terngiang di kepalanya. Tangisnya kembali keluar. "Kakak harus gimana, Ray?" Lirih Shasha dengan tatapan kosong, lurus ke depan. Pikirannya semakin berkecamuk karena merasa tak bisa keluar dari jebakan yang dibuat oleh keluarga Pak Hilmi.
"Apa? Gue harus gimana? Apa masalah lo, Kak?!" Ternyata tebakannya salah. Shasha pikir Rayyan mencarinya karena sudah tau inti dari semua masalah di keluarga mereka.
Shasha diam membisu. Tak mau menjawab pertanyaan dari Rayyan. Gadis itu langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Memejamkan matanya kembali, merutuki nasibnya. Air matanya kembali menetes, entah itu sudah air mata yang ke berapa yang Shasha keluarkan dari pagi.
"Kak…" Rayyan menyentuh bahu Shasha, mengguncangkan dengan pelan karena merasa belum dapat jawaban dari Kakaknya.
"Pergi Ray…!" Usir Shasha dengan mata yang masih terpejam. Ia tak ingin kembali diganggu, biarlah ia mengasingkan diri sampai keadaannya lebih membaik.
"Nggak bakal! Setidaknya lo harus periksa ke dokter, luka lo bisa infeksi kalo dibiarin begitu!" Suruh Rayyan kembali. Masih sangat khawatir dengan keadaan Kakaknya yang sedang tidak baik-baik saja.
"PERGI, RAY!! PERGI!!!" Shasha menutup kedua telinganya. Berteriak sekencang mungkin di dalam mobil.
"Gak bisa, ini tugas gue yang harus bertanggung jawab atas keadaan lo dan adek-adek!"
Shasha menatap nyalang ke arah Rayyan. Terlihat gurat kebencian dari mata Shasha ditunjukkan kepada Rayyan. Napasnya memburu menahan amarah yang kembali menyelimuti dirinya. "Gue gak butuh dikasihani. Gue gak butuh bantuan orang-orang! Jangan anggep gue remeh, Rayyan!!!" Bentak Shasha pada Rayyan yang masih sangat khawatir. Tak peduli dengan Shasha yang selalu memintanya untuk pergi.
Emosi Shasha tak bisa dikontrol hari ini. Sangat terlihat berbeda dari hari-hari biasanya yang selalu tersenyum walau sekesal apapun keadaannya. Untuk hari ini gadis itu tak bisa mengontrol emosinya. Ia merasa tertekan dan dikecewakan oleh keadaan yang memaksanya untuk menerima satu-persatu masalah yang datang pada dirinya. Mulai dari pagi hari ketika dirinya ditolak oleh orang yang selama ini ia suka. Berikutnya kenyataan yang mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan hanya untuk mempertahankan sebuah perusahaan. Ancaman dari Sadam yang mengingatkannya untuk tidak menolak perjodohan itu.
Rayyan semakin dibuat tak mengerti. Padahal dirinya khawatir, bukan sedang mengasihani Kakaknya. "Kenapa lo mikir kalo gue kasian sama lo? Gue di sini karena rasa tanggung jawab gue ke lo!"
"Gue khawatir lo gak kasih kabar apapun ke gue, Kak." Sambung Rayyan kembali. Tak ingin membuat Shasha salah paham pada dirinya.
Hening. Tak ada yang kembali bersuara. Rayyan masih menatap Kakaknya, berharap Kakaknya mengubah keputusan yang sebelumnya mengusir dirinya. Sedangkan Shasha masih bergelud dengan pikirannya sendiri, menimang-nimang ucapan Rayyan yang ingin memberinya bantuan.
Shasha kembali memejamkan matanya. Kepalanya kembali berdenyut hebat, menciptakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Shasha memijit pelipisnya, berharap rasa sakitnya dapat berkurang dengan melakukan hal seperti itu. Lagi-lagi Rayyan dibuat sangat khawatir dengan kesehatan Shasha. Tapi kali ini pria itu bersikap biasa saja, tak ingin Kakaknya merasa kalau dirinya sedang dikasihani oleh dirinya.
"Terserahlah." Ucap Shasha pada akhirnya. Secara tak langsung gadis itu telah mengizinkan Rayyan.
"Sini gue yang bawa"
"Kamu ke sini pake apa?" Tanya Shasha pelan. Kepalanya masih pusing, suaranya juga sedikit serak.
"Mobil, sama supir Grandma," balas Rayyan. Keluar dari mobil dan memutari bagian depan untuk membuka pintu kemudi.
Rayyan berdiri, menunggu Shasha keluar dari tempat kemudi. Tapi Shasha tak kunjung bergerak dari tempatnya. "Mau gue gendong?" Tawar Rayyan karena Shasha masih berdiam diri.
Perlahan Shasha menggeleng. Bergerak keluar dari kemudi. Dengan memaksakan diri Shasha berdiri. Baru saja berdiri, kepalanya kembali berdenyut hebat. Buru-buru Shasha mencari pegangan sekitar agar dirinya tidak terjatuh.
"Lo… Gak papa?"
"Keras kepala!" Gumam Rayyan berdecak kesal.
Rayyan menggeleng pelan. Masuk ke dalam kursi kemudi dan menguncinya. Mulai mengendarai mobil Shasha menuju rumah sakit, niatnya untuk mengecek kondisi Shasha yang dapat ia pastikan sedang tidak baik-baik saja. "Kita ke rumah sakit dulu, ya?" Izin Rayyan sudah setengah jalan menuju rumah sakit terdekat.
"Gak perlu"
"Harus. Gak mungkin gue biarin lo kayak gitu!"
"Kalau gitu gue turun" ancam Shasha. Mendudukkan kembali tubuhnya. Melihat jalan sekitar yang ia kenali sudah dekat dengan rumah sakit. Nampaknya Rayyan tak mempedulikan ancaman Shasha yang menurutnya sangat tidak mungkin dilakukan oleh gadis itu.
"Gak mau, Ray. Gue gak mau ketemu banyak orang!" Kembali memejamkan matanya karena sakit kepalanya tak kunjung mereda juga. "Gue harap lu ngerti, Ray." Lirih Shasha mulai tertidur. Memegangi luka robek di tangannya yang mulai terasa sangat nyeri.
Melirik Shasha dari kaca spion tengah yang berada di dalam, melihat luka robek yang terlihat cukup besar di tangan kanan Kakaknya. Dari sana, Rayyan dapat menyimpulkan kalau Shasha sedang menghindari paparazzi yang sedang mengorek-ngorek informasi lebih dalam mengenai dirinya. Apalagi ditambah dengan kondisi Shasha yang sedang tak baik seperti ini. Akhirnya Rayyan menuruti ucapan Kakaknya. Ia memutar balikkan mobil menuju kediaman Kakek Neneknya dan akan memanggil dokter kepercayaan mereka ke rumah.
__________
Mobil milik Shasha akhirnya sampai. Semua orang yang mengetahui kedatangan Shasha langsung keluar. Mereka langsung berhambur mendekati mobil milik Shasha yang Rayyan bawa. Rayyan keluar dari dalam mobil dan langsung disambut dengan tatapan khawatir dari sang Ibu. Berjalan sedikit untuk membuka pintu bagian belakang. Perlahan mulai membawa Shasha ke dalam gendongan pria itu.
"Astaghfirullahaladzim, Sha!!" Jerit Kania terkejut ketika melihat tangan kanan Shasha yang terluka parah. Begitupun dengan para keluarga yang melihat hal itu.
"Dia kenapa Ray?!" Kania mengikuti langkah Rayyan yang berjalan masuk ke dalam rumah. Menggendong ala bridal style dan berniat menaiki anak tangga untuk membawa Shasha ke dalam kamar miliknya.
"Ray gak tau pasti kenapa Kakak bisa sampe begini. Rayyan ketemu Kakak di ujung jalan lagi berhenti." Balas Rayyan tetap melanjutkan langkahnya.
"Kak Caca?!!" Nadhira dan Cyra yang sedang berjalan mendekati Rayyan pun tak kalah terkejutnya. Tubuh mereka menegang ketika melihat tangan Shasha yang terus meneteskan darah segar ke lantai.
"Bunda hubungi dokter dulu, ya?" Al-Fira hendak berjalan namun dengan segera di halangi.
"Biar Ayah aja yang langsung samperin dokternya!" Husein menahan pergelangan tangan sang Istri. Dengan segera berjalan mengambil kunci mobil dan memanggil salah satu supir pribadinya.
"Makasih Ayah, Bunda. Nia ke kamar Caca dulu." Pamit Kania kembali mengikuti langkah Rayyan.
"Rayyan, kenapa gak bawa Caca ke rumah sakit? Gak mungkin tangan Caca kayak gitu ditangani di rumah, susah Ray!" Usul Kania sangat khawatir.
"Banyak paparazzi, Bun. Kakak gak mau sampe ketemu mereka!"
Kania langsung menatap salah satu anak perempuannya yang masih berdiri mengikuti langkahnya. "Pinjam hp kalian, Bunda mau hubungi Ayah" Kania menatap satu-persatu ke arah Nadhira dan Cyra.
"Ini, Bun" Cyra memberikan ponselnya dengan segera pada sang Ibu. Tak ingin membantah, apalagi mereka sedang berada di keadaan yang cukup genting.
Langsung saja Kania meraih ponsel milik Cyra. Mencari nomor milik suaminya yang disimpan dengan nama 'Ayahku' di ponsel milik anak bungsunya. "Pulang Mas, Caca udah ketemu. Kita perlu bicara!" Setelah panggilan terhubung, Kania langsung mengatakan inti pembicaraan yang ingin ia katakan. Langsung memutuskan panggilan secara sepihak dengan napas yang memburu menahan rasa kesalnya.