
Shasha diam beberapa saat. Berdiri tegak karena terkejut setelah mendengar suara microphone yang menggema di seluruh ruangan yang berada di rumahnya. Saking terkejutnya sampai membuat wanita itu tak berkedip sedikitpun.
"Ghibran?" Lirih Shasha bingung.
Shasha menoleh ke arah Alma, meminta penjelasan. Ia tak tau jika Ghibran berada di negara ini. Berada di dalam acara pernikahan yang diadakan karena jebakan. Tapi mengapa pria itu yang mengucapkan ijab qabul? Bukankah seharusnya kata itu tak terucap sedikitpun dihari ini?
Alma hanya memberikan senyum ketika Shasha menatapnya seolah meminta jawaban. Tak lama setelahnya pintu dibuka, menampilkan wajah wanita di keluarganya. Ada Kakak sepupunya-Rena tersenyum ke arahnya. Berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung membawa Shasha ke dalam pelukan wanita itu.
"Adek aku udah gede ternyata" gumam Rena dalam pelukan keduanya. Menintikkan air mata bahagia sekaligus haru pada Shasha.
"A-apa yang terjadi di bawah, Kak?" Tanya Shasha masih tak percaya.
Alma berdiri, memasukkan ponselnya ke dalam saku gamis mewah berwarna rose gold seperti tema acara akad itu. Meraih pergelangan tangan Shasha dan mengajak sahabatnya untuk ke luar, melakukan hal yang sama seperti yang Rena lakukan.
"Nanti kamu juga tau." Balas Rena membawa Shasha ke luar. Berjalan memasuki lift agar tidak terlalu lama sampai di lantai paling dasar. Tak mungkin juga wanita dengan memakai wedding dres yang menyeret lantai menuruni satu persatu anak tangga hingga lantai satu.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai paling dasar. Kedatangan mereka bertiga memicu perhatian orang-orang. Menatap kagum ke arah pengantin wanita yang terlihat sangat anggun.
Shasha melangkah ke luar, matanya berkeliling melihat keadaan sekitar. Banyak sekali polisi yang berkeliling di rumahnya. Matanya terfokuskan pada satu objek. Seorang pria menatap terpana ke arahnya. Dengan memakai pakaian yang sama seperti Shasha kenakan, namun dengan model untuk pengantin pria. Ghibran-pria itu mengenakan sebuah setelan pakaian pernikahan sama seperti dirinya. Menunggu Shasha untuk berjalan dan datang menghampirinya.
__________
Flashback
Di sebuah tempat umum, tempat berpisah atau bertemunya sebuah keluarga ataupun orang-orang terkasihnya, bandara. Ghibran, pria itu berjalan ke luar dari dalam bandara. Berpisah dari keluarga Alma yang sebelumnya memberikan ia sebuah tumpangan di pesawat pribadi milik keluarga Malayeka.
Cafe bandara, itulah tujuan utama Ghibran setelah sampai di negara ini. Beruntung pria itu tak membawa barang apapun, hanya membawa sebuah tas kecil untuk menyimpan keperluan pentingnya. Ia ingin menemui seseorang yang sebelumnya sudah membuat janji dengan orang tersebut.
Kring!
Pintu cafe berbunyi, menandakan ada yang datang ataupun pergi dari cafe tersebut. Pria itu mengedarkan pandangan nya, mencari orang yang sudah membuat janji dengan nya.
Drrrtt
Ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Langsung saja Ghibran membuka isi dari notifikasi di ponselnya. 'Gue yang pake masker sama topi hitam.' Itulah isi pesan yang Ghibran terima dari dari orang yang ingin bertemu dengan nya.
Itu dia! Ghibran menemukan orang itu, langsung berjalan mendekati pria memakai pakaian serba tertutup. "Apa kabar?" Ghibran menarik kursi di depan pria itu dan menanyakan kabarnya.
"Alhamdulillah baik, lo sendiri?"
"Gue baik."
"Langsung aja ya," pria itu menoleh ke kanan dan kirinya, sedang memeriksa keadaan.
"Kenapa?"
"Mereka ngikutin gue, makanya make masker." Ghibran mengangguk paham. Mengerti ada apa dengan pria itu.
Pria dengan pakaian serba tertutup itu meronggoh saku jaketnya. Mengeluarkan banyak sekali benda yang sangat kecil dan memberikan nya pada Ghibran. "Gue harap lo langsung lapor ke kepolisian!" Bisik pria itu memperingatkan.
"Kenapa gak lo atau keluarga lo yang lain aja?"
"Dan, gue kasih kepercayaan untuk lo karena gue yakin lo bisa nyelesain ini. Anggap aja ini adalah ujian dari keluarga gue untuk lo supaya bisa mendapatkan Kakak gue." Lanjut pria itu. Bersedekap dada dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang didudukinya.
Ghibran terdiam. Terkejut ketika pria di depan nya mengetahui banyak hal tentang dirinya. "Gak usah kaget, sikap peduli lo udah nunjukkin semua, Bang. Lagipula Kak Shasha masih berharap lo bisa jadiin dia istri lo." Pria itu tersenyum dari balik masker yang menutupi sebagian wajahnya. Rayyan-pria itu berhasil membuat Ghibran menganga tak percaya.
Puk!
Bahu Ghibran di tepuk dari arah belakangnya, membuat pria itu menoleh. "Wah Bang, apa kabar?!" Seru seseorang, menyapa Ghibran.
"Nazriel, Aldi?!"
"Yoi. Kita duduk ya?" Tanpa menunggu mendapatkan izin dari Ghibran, kedua pria yang baru saja disebut namanya itu langsung duduk di sebelah Ghibran dan Rayyan.
"Ada apa kalian di sini?" Tanya Ghibran basa-basi. Sedangkan Rayyan mulai menunduk, menurunkan topinya dan bergegas ingin pergi.
"Tunggu dulu lah, Ray" lengan Rayyan dicekal. Manahan kepergian pria itu. Tubuh Rayyan langsung merasa panas dingin, ketakutan dengan orang yang berada di sebelahnya.
Ghibran menatap bingung. Alisnya mengkerut tak mengerti. "Rayyan denger gue! Mumpung lo di sini dan berpakaian kayak gitu!" Ucapan kedua pria itu berubah serius. Menatap dengan harap supaya Rayyan tidak pergi.
"Kalian saling kenal?"
"Duduk Ray! Ini penting!" Desak salah satu pria itu kembali. Mengabaikan pertanyaan dari Ghibran. Hal itu semakin membuat Ghibran heran. Akhirnya Rayyan menurut, kembali duduk di tempatnya semula.
Kedua pria itu menatap serius ke arah Rayyan. "Gue butuh bantuan lo!" Bisik pria itu. Menatap Rayyan dengan harapan penuh.
Rayyan bersedekap dada, memasang wajah tak suka pada pria itu. "Kayak gak ada kerjaan lain aja" celetuk Rayyan yang malas menanggapi salah satu pria yang sedang duduk berhadapan dengan nya.
Pria itu meronggoh saku jeans yang ia kenakan, memberikan sebuah kertas yang dilipat-lipat menjadi bagian yang sangat kecil. Ghibran hanya diam, memoerhatikan apa yang ingin mereka kerjakan. "Bantu gue untuk ke luar dari perjodohan ini!" Ucap pria itu serius.
"Keluarga lo yang ngejebak keluarga gue, tapi kenapa lo bersikap seolah-olah gak mau menerima perjodohan itu?!" Rayyan bertanya. Memasang wajah masam yang tak dapat orang ketahui karena Rayyan menggunakan masker.
Netra Ghibran melebar, terkejut mendengar ucapan Rayyan yang sudah menjelaskan semua pada Ghibran. Dia-teman semasa SMA Ghibran, Sadam dan Renaldi-salah satu diantara keduanya akan dijodohkan dengan Shasha.
Tangan Ghibran terkepal di bawah meja, mencoba menyembunyikan amarahnya di tempat umum seperti ini. "Jadi lo yang bikin Shasha sengsara?" Ghibran membuka suara. Dengan penuh penekanan di setiap perkataan pria itu.
Sadam menoleh, tak paham yang dimaksud oleh Ghibran. Rayyan menunjuk ke arah Ghibran. "Dia Bang Ghibran, orang yang Kakak gue suka, begitupun sebaliknya. Dan lo, lo seenaknya masuk ke dalam hubungan mereka yang bahkan belum dimulai." Sinis Rayyan menatap Sadam.
Sadam terdiam. Ternyata Ghibran adalah orang yang sama dengan orang yang ia hubungi beberapa minggu yang lalu. "Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Sadam.
"Karena itu kita minta tolong bantuan lo! Emang lo pikir Kakak lo doang yang dijebak? Nggak!" Balas Renaldi mewakili isi hati Kakaknya. Pria itu menunjuk ke arah Sadam. "Dia, Abang gue, anaknya sendiri dijebak sama Abi gue!" Sambung Renaldi, tak terima jika Sadam yang disalahkan padahal itu ulah Hilmi-Ayah mereka.
Rayyan mematung mendengar kenyataan yang sebenarnya. Hilmi, pria tua itu benar-benar sangat licik bahkan menjebak anaknya sendiri. "Tolong terima ini. Isinya surat perjanjian yang Abi gue buat ngejebak gue. Semoga lu bisa ngelaporin khasus ini ke kepolisian langsung!" Pinta Sadam penuh harap. Tak ingin pernikahan itu terus berlanjut padahal tak ada rasa suka di antara keduanya.
"Gak bisa. Orang suruhan Bokap lu selalu pantau gerak gerik keluarga gue. Noh, sama calon Kakak ipar gue aja." Rayyan menatap Ghibran. Hanya pria itu yang tak mungkin di awasi oleh orang-orang suruhan Hilmi. Ghibran bisa dengan mudah melakukan pekerjaan ini.
Ketiga pria itu menatap Ghibran, yakin bahwa pria itu akan melaksanakan tugas yang mereka berikan dengan baik. "Ada bukti yang lain?" Ghibran mengambil alih dokumen perjanjian yang berada di tangan Sadam dan memasukkan semua barang bukti ke dalam tas miliknya.
"Hubungi gue kalau ada hal penting." Setelah mengatakan hal itu, Ghibran langsung bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan cafe tersebut dengan perasaan emosi yang coba ia tahan sedari tadi.
__________