
"Dia tunangan aku."
"WHAT?!!" Shasha dan Ghibran saling pandang, keduanya pun saling menggeleng satu sama lain, yang artinya keduanya tak ada yang tau mengenai hal itu.
Shasha meraih pergelangan tangan Akasha. "Beneran Kak?!" Tanyanya ikut merasa senang.
Sedangkan Akasha menoleh ke Sadam. "Nggak! Dia emang suka asal kalo ngomong. Lagian gue gak suka sama dia." Bantah Sadam langsung. Ia memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana yang ia gunakan.
Akasha tersenyum miris. Entah mengapa pernyataan yang Sadam katakan sangat menohok baginya. Mengapa pria itu terang-tarangan mengatakan bahwa tidak suka pada dirinya? Apakah ia benar-benar tidak peduli pada Akasha?
"Gak gitu juga kali balesnya. Gak punya perasaan lo!" Cibir Shasha kesal dengan ucapan Sadam.
Akasha menoleh ke sembarang arah. Kemudian meraih ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Ia mengangkat panggilan telepone yang berasal dari ponselnya. Mungkin takdir sedang berpihak padanya sehingga ia dapat pergi dari suasana yang tak mengenakkan tersebut.
Setelah panggilan terputus ia kembali memasukkan ponselnya. "Kenapa?" Tanya Sadam penasaran.
Akasha menggeleng pelan menandakan ak ada yang perlu dikhawatirkan. "Gak papa, Mamah suruh aku buat pulang, ada acara makan malem bersama keluarga besar hari ini. Aku pamit ya-"
"Tunggu!" Pergelangan tangan Akasha dicekal oleh Sadam membuat wanita itu berhenti berbicara.
"Biar gue anter." Sambung Sadam.
Shasha mengulum bibirnya, menahan tawa karena sikap yang ditunjukkan oleh Sadam. "Kalo suka mah bilang aja, cupu amat." Shasha mendengak menatap Ghibran yang tiba-tiba membuka suaranya.
Akasha menggeleng cepat. "Gak usah, makasih." Setelah mengatakan itu ia berlalu meninggalkan mereka bertiga.
"Mulut lo kelewatan, kasian anak orang lo gituin." Ucap Shasha langsung menatap Ghibran, meminta pendapat pada pria itu dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ghibran mengangguk setuju.
"Dahlah pergi aja yuk!" Seperti anak kecil yang sedang merajuk, Shasha langsung pergi dengan tangan nya yang menarik tangan sang suami.
"Gue duluan." Sadam memutar tubuhnya melihat kepergian sepasang suami istri itu.
Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. " Ini kenapa jadi gue yang salah sih!" Gerutunya kesal.
__________
Sesuai dengan perkataan Ghibran yang sebelumnya telah mengatakan pada Shasha bahwa mereka akan pindah setelah barang-barang di rumah mereka telah lengkap, hari ini mereka memutuskan untuk pindah ke rumah tersebut.
"Ghibran, Caca, kalian beneran mau pindah? Mamah sendirian dong," Nadia-sang Ibu mertua berkali-kali menanyakan hal yang sama pada Ghibran maupun Shasha. Ia masih belum rela jika anak semata wayangnya dan menantunya memutuskan untuk tinggal mandiri di rumah mereka.
Shasha menoleh menatap Ghibran yang sedang sarapan bersama di atas meja makan. "Biarin ajalah Mah, kan ada Papah." Belum sempat Ghibran menjawab, Papahnya lebih dahulu menyela dan membalas ucapan sang Istri.
Bibir Ghibran terangkat ke atas dengan sangat lebar. "Nah bener tuh Mah. Mamah sama Papah bisa berduaan di sini, aku sama Shasha juga berduaan di sana." Sambung Ghibran setuju seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Pipi Shasha memerah, ia malu dengan apa yang baru aja Ghibran katakan. Wanita itu semakin menunduk dalam diam di atas meja makan karena tak tau ingin berbicara apa.
Cetak!
Nadia menjentikkan ibu jari dengan jari telunjuknya. Matanya berbinar, padahal ia sendiri belum mengatakan apapun. "Mamah punya rencana!" Ucapnya dengan semangat.
"Uhuk! Uhuk!" Tiba-tiba saja Shasha langsung tersedak oleh makanan yang sedang ia makan. Wanita itu memukul-mukul dadanya karena merasakan perih.
Ghibran yang melihatnya langsung meraih gelas berisikan air mineral. Tangan Shasha yang sedang memukul-mukul dadanya ditarik paksa oleh Ghibran. Kemudian ia memberikan minuman tersebut pada Shasha dan mengusap lembut punggungnya. "Jangan dipukul-pukul, itu malah buat kamu tambah sakit!" Peringatnya dengan tatapan yang tak teralihkan, menatap ke arah Shasha.
Setelah dirasa sudah lebih baik, wanita itu menaruh kembali gelas yang ia pegang. "Iya suami, makasih ya…" Shasha tersenyum karena perhatian kecil dari Ghibran untuknya. Sedangkan pria itu tersenyum senang dan mengusap sayang puncak kepala sang istri.
Brak!
Ketiga anak manusia itu kembali dibuat terkejut dengan suara gebrakan meja yang berasal dari Nadia. Lagi-lagi wanita itu membuat kegaduhan di atas meja makan di pagi hari."Oke deal, you're gonna go honeymoon to Turkey!" Ucapnya dengan antusias.
___________
Seluruh keluarga siang ini mulai berkumpul di kediaman baru Shasha dan Ghibran. Setelah undangan datang dari Shasha seminggu yang lalu, akhirnya seluruh keluarganya dan keluarga besar Ghibran dapat datang menghadiri acara syukuran pengajian.
Shasha dan Ghibran hanya menyambut kedatangan para keluarganya, sedangkan yang mengurus keperluan lain nya telah diatur oleh Nadia dan suaminya yang menyewa banyak maid khusus hari itu.
Melihat motor sport milik sang adik memasuki pekarangan rumahnya, ia berjingkrak senang. Dengan berlari kecil ia menghampiri Rayyan yang sedang memarkirkan motornya.
Grep!
Baru saja Rayyan ingin melepaskan helm full face miliknya, namun gerakan nya langsung terhenti ketika tubuhnya dipeluk begitu erat oleh sang Kakak. Ia tersenyum tipis di balik helm nya.
"Kangen…" gumam Shasha yqng masih memeluk tubuh sang adik.
"Iya gue tau." Balasnya singkat namun ia juga ikut memeluk sang kakak walau hanya sekejap.
"Mana yang lain?" Tanya Shasha setelah melepaskan pelukan mereka. Ia belum menemukan keberadaan keluarganya yang lain, karena itu ia bertanya.
"Mungkin masih di jalan, yang." Shasha menoleh ketika sang suami menyusul dirinya yang sedang berbicara pada sang adik.
Rayyan menyalami punggung tangan sang kakak dan kakak ipar secara bergantian setelah helm full face miliknya terlepas.
"Iya, tadi ayah juga baru jalan sama nenek." Balas Rayyan membenarkan ucapan sang kakak ipar.
"Ya udah yuk masuk dulu." Rayyan mengangguk menyetujui ajakan dari Ghibran. Berjalan memasuki ruangan utama rumah Shasha dan Ghibran.
Ada banyak sekali orang yang datang. Tak semuanya Rayyan mengenali keluarga Ghibran. Hanya kedua orang tua Ghibran dan kedua sepupunya yang pernah membantunya saat itu. Selebihnya ia tak kenal. Karena itu ia memutuskan untuk duduk di tempat keluarganya. Di mana Karel, Rena dan Aland sudah sampai terlebih dahulu di kediaman sang kakak.
Seperti biasa, Rayyan adalah pria yang memiliki sifat yang sabgat dingin dan terlalu cuek sehingga obrolan mereka terkesan sangat singkat. Selagi menunggu acara dimulai, ia mengeluarkan laptopnya dari dalam tas yang ia bawa. Mulai mengerjakan beberapa tugas perusahaan sang ayah yang ditugaskan untuknya. Hingga matanya teralihkan ketika mendengar namanya dipanggil.
"Rayyan Aldera Arian?!!"
__________
Maaf baru bisa update lagi teman-teman😓👉👈