SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 67



Cassy turun dari taxi, ia berjalan perlahan dengan bantuan sebuah tongkat di sebelah kiri, ia membuka pintu yang tak terkunci, keadaan rumah saat itu gelap gulita karena tidak ada satupun lampu yang menyala. Ia meraih saklar di tembok ruang tamu.


Ctak! cahaya lampu menerangi ruangan.Diruangan itu terlihat Keen yang tengah duduk disana, mata mereka bertemu pandang"Sudah cukup bertemu dengan pria sialan itu?" ucap Keen dengan wajah yang suram.


"Apa yang kau lakukan di tengah kegelapan?" jawab cassy mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Jawaban apa yang kau inginkan?" ia mulai kesal.


"Aku bertanya apa sudah cukup bertemu dengan kekasihmu?"


"Sudah ku bilang berapa kali kalau hubungan kami tidak seperti itu"


"Kau wanita yang sangat munafik"


"Terserah kau saja" ia kembali melangkahkan kakinya.


"Sampai kapan kau akan terus menyembunyikan hubungan kalian?"


Langkah cassy kembali terhenti "Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini"


"Sampai kau mengakui hubungan sialan dengan si sialan itu"


Cassy kembali menoleh kepadanya "Apa yang kau inginkan dariku? bukankah aku sudah sepakat memberikan hal yang seharusnya dilakukan? apa hubungan kerjasama ini masih terasa kurang untukmu mendapatkan hasil?"


"Kau pikir aku pria yang sangat haus harta?" tatapan matanya terlihat sangat kecewa dengan tuduhan yang dilontarkannya.


"Lalu apa? kenapa kau bersikap seperti itu kepada rekan kerjasamamu"


"Berhentilah berhubungan dengan pria bernama Winter Gill!!!" teriaknya.


"Kenapa? Kenapa aku harus berhenti berhubungan dengannya?" jawabnya kesal.


"Karena aku tak suka melihat kalian bersama!!" teriaknya lagi.


"Apakah aku harus selalu menjauhi setiap orang orang yang kau benci ? aku tahu hubungan kalian tidak baik, tapi apa akan menjadi masalah buatmu jika aku berteman dengan musuhmu?"


"Persetan dengan pertemanan kalian!!!!!" teriaknya semakin keras.


"Berhenti meneriakiku!!! kau pikir kau siapa bisa seenaknya padaku!!!!" teriaknya dengan mata merah dan  membelalak.


"Aku suamimu!!"


"Hanya karena selembar kertas kau bersikap seperti ini padaku?"


"Hanya?" ia merasa diremehkan hingga membuatnya semakin marah.


"Jika kau akan terus bersikap seperti ini mari kita akhiri saja pernikahan menyesakkan ini, aku akan membayar denda pembatalan kontrak sepihak"


Keen semakin tersulut amarah, ia bangun mendekatinya "Apa kau pikir kau bisa melepaskan diri dengan mudah dariku? bukankah kau tahu denda pembatalan sepihak sangatlah banyak? itu artinya kau harus menyerahkan perusahaanmu padaku sebagai bentuk kompensasi"


"Ambil saja ambil aku tak peduli lagi"


"Kau merelakan seluruh peninggalan orang tuamu yang berharga hanya agar bisa pergi dari sisiku? apa aku orang yang sangat menjijikan buatmu?" teriaknya lagi di hadapannya.


"Itu semua tidak ada artinya buatku dari pada harus hidup tertekan dengan orang sepertimu!!!"


"Orang menyebalkan yang hanya memikirkan perasaanmu sendiri, orang yang memiliki kepribadian berubah ubah, aku sangat membenci orang sepertimuu!!!" teriaknya hingga suaranya serak. "Kau! berhenti mendekatiku!!"


Keen menundukkan kepalanya sejajar dengan tinggi badan cassy, wajahnya semakin mendekat, kedua tangannya menyentuh telinga wanita itu kanan dan kiri, ia mendongakkan wajah di hadapannya ke hadapan wajahnya, lalu ia berbisik "Bencilah aku sebesar yang kau mau, aku akan membuatmu semakin membenciku" setelah menyelesaikan kata katanya ia mencium bibirnya dengan paksa, wanita itu sangat kaget dan tak menyangka, ia meronta hingga tongkat pegangannya jatuh ke lantai, ia memukul mukul dada pria itu namun ia tetap tak bisa pergi darinya karena tangannya yang merengkuh kepalanya semakin kuat.


Pria itu terus menciumnya semakin dalam, lidahnya semakin bergerilya dan semakin liar, ia sungguh tak menghiraukan pemiliknya yang terus meronta, hingga cassy yang telah lelah akhirnya pasrah, ia menurunkan kedua tangannya, air matanya menetes dari pelupuk matanya,pria itu membuka matanya, ia menyadari air matanya mengalir ketika ia berhenti meronta.


Perlahan ia melepaskan ciumannya meskipun terasa sayang karena tubuhnya telah mulai bereaksi dan ingin melakukan yang lebih dari sekedar ciuman. perlahan ia melepaskan tangannya yang telah menekan kepalanya beberapa saat.


PLAKKK!!!! Cassy menamparnya dengan sekuat tenaga mengeluarkan seluruh amarahnya hingga pipinya memerah, ia menyeka air matanya dengan telapak tangannya lalu melarikan diri dengan kaki pincangnya meninggalkan tongkat yang tergeletak disana, ia mengunci diri dikamarnya. Kini ia telah sungguh sungguh membenci pria itu.


.


.


Keesokan harinya, Cassy terbangun dari tidurnya, ia mulai menggerak gerakkan kaki kirinya yang diperban, bengkaknya telah berkurang namun rasa sakitnya belum sepenuhnya hilang.


"Ting tong" Cassy mendengar suara bel pintu namun ia tak menghiraukannya karena ia belum sanggup melihat wajah pria yang telah membuatnya sangat terhina dengan perlakuannya tadi malam, ia merasa sangat kesal karena pria itu telah mencuri ciumannya dengan kasar dan tanpa ampun "Aku sangat membencinya" gumamnya seraya meremas selimut di tangannya ketika mengingat adegan semalam.


Keen keluar dari kamarnya, wajahnya terlihat sangat lesu, ia membuka pintu "Apa yang kau lakukan dirumah atasanmu pagi pagi sekretaris lux" ucapnya kesal.


"Maaf Pak ceo, jadwal anda dinas ke negara x tidak bisa ditunda meski saya sudah mengusahakannya"


"Jadi?"


"Penerbangan jam delapan pagi ini"


"Baiklah" ia merasa memang untuk beberapa saat ia harus menghindari wanita itu, ia akan memanfaatkan pekerjaannya kali ini.


"Tidak apa apa?"


"Tentu saja tidak, aku sangat ingin dinas keluar negri"


"Apa Bu cassandra sudah membaik? apa anda bisa meninggalkan beliau?"


"Sepertinya dia tidak ingin melihat wajahku, jadi biar aku pergi saja"


"Ha?? apa anda melakukan kesalahan?"


"Tidak usah banyak bicara!"


"Baiklah, dan saya ingin menyampaikan kabar duka"


"Kabar duka?"


"Ya, ayah dari Tuan winter telah berpulang tadi malam, pagi ini pemakamannya di rumah duka xx, apa anda akan menyempatkan diri datang?"


Keen terdiam, ia tampak berpikir, ia ingin datang namun harga dirinya tak mengijinkannya, dan tiba tiba pikirannya terpusat oleh pertengkaran hebatnya dengan cassy semalam, kini ia mengerti alasan mengapa cassy menemui winter pasti karena semalam laki laki itu tengah berduka atas meninggalnya ayahnya, ia mengusap wajahnya lalu rambutnya disisir kebelakang dengan kedua tangannya, tiba tiba ia menjadi resah, ia merasa telah melakukan kesalahan besar kepada istri kontraknya itu, wajahnya memucat karena telah salah sangka dan melakukan hal yang sangat memalukan kepadanya.


Sekretaris Lux memperhatikan atasannya yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri "Ada apa pak ceo?"


"Hahhh" ia menghela nafas "Kau tak perlu tahu, tunggu saya di mobil saya akan segera bersiap"


"Baik" lux berjalan kembali ke mobilnya  "melihat dari ekspresinya pasti dia telah melakukan kesalahan besar kepada istri kontraknya yang sangat dia cintai itu ck ck ck" gumamnya seraya berjalan.


Bersambung.....