
Di koridor sebuah universitas, Shasha, Alma beserta Ghibran sedang membicarakan tugas kuliahnya yang diberikan oleh Ghibran. Sebenarnya saat selesai mengajar tadi, Ghibran mengajak Alma untuk pulang bersama. Bagai kesempatan emas yang tak boleh terlewatkan, Shasha memanfaatkan hal itu.
Sebelumnya Shasha juga telah meminta izin kepada kedua orang tua nya kalau dia akan pulang terlambat karena ingin berkunjung ke mansion Alma. Beruntungnya, Ghibran pun ingin datang ke mansion Alma karena perintah sang Ibu kepadanya. Shasha bersorak girang dalam hati karena mereka akan lebih lama bertemu.
Sepanjang koridor Shasha diam karena tak tau ingin berbicara apa, ia tak memiliki topik pembicaraan saat ini. Sedangkan Alma, sahabatnya itu dengan akrabnya bercerita bersama Ghibran, sesekali pun Shasha ikut menimbrung, namun hanya sebentar.
Tiba-tiba saja dalam benaknya terlintas bahwa ia harus memanfaatkan hal ini dengan cara bertanya tentang materi yang tadi dijelaskan oleh Ghibran. Shasha membalik tasnya ke depan dan memgambil beberapa lampiran kertas berisi materi yang diberikan oleh Ghibran.
"Pak!" Panggil Shasha membuat Ghibran menoleh.
"Ya, ada apa?"
"Saya boleh minta tolong gak?" Lanjut Shasha takut-takut.
"Apa?"
"Saya ingin Bapak menjelaskan kembali materi yang tadi Bapak tugaskan, saya rasa kurang paham" ucap Shasha berbohong. Seorang Shasha Sherly Arian, wanita yang memiliki kecerdasan peringkat lima di dunia tidak paham dengan penjelasan yang Ghibran berikan? Itu mustahil.
Alma terkejut mendengar ucapan Shasha yang meminta Ghibran untuk kembali menjelaskannya. Tak mungkin, Shasha yang ia kenal selama ini tak pernah mengulangi suatu penjelasan yang sudah dijelaskan.
Ghibran mengangguk paham. Perlahan ia berpindah posisi mendekati Shasha untuk menjelaskan kepadanya. Senyum Shasha terus mengembang ketika mendengar suara Ghibran, rasanya ingin meloncat setinggi mungkin hari ini. Ia tak mendengarkan dengan baik pembicaraan Ghibran, lagipula menurutnya ia tak perlu karena sebelum dijelaskan pun Shasha sudah mengerti tentang semua itu.
"Kamu paham?" Tiba-tiba saja Ghibran berhenti berjalan, membuat Shasha reflek ikut berhenti.
"Enggak, Pak. Kurang paham" ucap Shasha menyengir. Sengaja mengatakan hal itu supaya Ghibran terus berada di sampingnya.
"Hmm, ya sudah, kamu ingin ke tempat Alma juga, bukan? Saya akan melanjutkan penjelasannya disana." Shasha mengangguk beberapa kali ketika Ghibran menawarkan dirinya kembali untuk memberikan penjelasan tentang materi hari ini kepada Shasha.
Ghibran sangat senang jika ada seorang mahasiswa yang berani bertanya kepadanya. Walaupun Shasha bertanya di luar jam mengajarnya, Ghibran tetap menjawab apa yang Shasha tanyakan kepadanya. Tapi Ghibran tak tau bahwa Shasha seperti itu hanyalah ke pura-puaannya agar selalu dekat dengan Ghibran.
Ghibran kembali mendekati Alma, entah mengapa ia lebih nyaman berada dekat dengan Alma. Lain halnya dengan Alma yang merasa tak nyaman karena posisi mereka yang sangat dekat, hingga hampir bersentuhan dengan pakaian yang Ghibran kenakan.
"Alma! Alma!" Mendengar namanya dipanggil, Alma berhenti. Memutar tubuhnya ke segala arah untuk menemukan siapa yang memanggil dirinya.
"Ternyata bener, kamu kuliah disini" tubuh Alma langsung memutar ketika mendengar suara itu berada di belakangnya.
Pria yang dipanggil Ren itu menoleh ke arah Ghibran yang bertanya kepadanya. "Lo ngapain disini? Ngapain deket-deket Alma?" Ucapnya bertanya balik membuat kening Ghibran berkerut.
"Kenapa malah tanya balik?"
Pria itu menggeleng kuat. Langkahnya mendekati Alma, ingin memisahkan jarak antara Alma dengan Ghibran. "Lo ngapain deket-deket Alma?!" Tanya pria itu sedikit kesal.
Suara gabungan dari banyaknya langkah kaki menjadi satu. Berjalan dengan cepat mendekati Alma, siapa lagi kalau bukan para bodyguardnya Alma yang selalu setiap melindungi nona mereka.
"Kenapa anda bisa berada disini? Apa peringatan dari saya kurang cukup?" Tanya Ilza yang selalu berada di barisan terdepan sebagai pemimpin dari seluruh bodyguard Alma.
Tubuh mereka telah bersiap untuk menyerang pria di hadapan mereka kapan saja.
"Ja-jangan lagi, saya mohon kak" ucapnya takut. Pria yang beberapa hari yang lalu juga bertemu dengan Alma di sebuah restoran. Renaldi, pria itu bertekad mencari Alma karena rasa penasaran serta kagum yang pria itu miliki kepada Alma.
Shasha yang bingung harus melakukan apa ikut kebelakang menjaga Alma. Ia tau, jadi seorang Alma selalu saja banyak pengganggu yang mengusik kehidupan pribadi wanita itu. Baik itu para wartawan dan paparizi yang selalu mengintainya, ataupun para penjahat yang selalu beraksi.
Suasana koridor tampak menegang karena menyaksikan adegan tersebut. Mereka seperti melihat sebuah tayangan televisi yang menampilkan film movie bergenre action.
"Pergi!!" Usir Ilza tegas. Ia benci orang yang berani-beraninya mengusik ketenangan Alma. Sejak berumur tiga tahun, Alma telah melewati hari-hari yang panjang bersamanya. Saat pertama kali bekerja, Ilza ditugaskan menjadi seorang pengasuh Alma yang akan menjaganya selama Lunara kerja.
Saat itu Ilza adalah seorang remaja yang baru saja lulus sekolahnya. Namun diumurnya yang baru menginjak 18 tahun, Ilza dibuang oleh Ayah tirinya yang menganggap Ilza hanyalah seorang beban di keluarga mereka. Setelah Ibunya tiada, sifat asli Ayah tirinya keluar, selalu memukuli Ilza yang saat itu masih remaja hanya karena kesalahan kecil. Hingga saat Ilza lulus, dengan segera sang Ayah tiri membuang dirinya.
Pernah beberapa kali ia mendatangi rumah Ayah kandungnya, namun ia selalu mendapatkan penolakan keras dari Ayah serta keluarga baru Ayahnya. Ilza adalah seorang anak broken home yang saat itu merasa tak lagi memiliki siapa-siapa di dunia ini. Hingga sebuah kejadian yang membuatnya terpingsan karena tak makan selama hampir dua hari dan saat terbangun sudah berada di dalam rumah sakit.
Justru saat itu Ilza sangat takut dan merasa lebih baik dirinya mati karena ia mikir bagaimana cara membayar biaya rumah sakit itu. Namun ternyata orang yang menolongnya adalah orang baik juga kaya raya. Lunara Rehema Malayeka, ia menolong remaja itu dari kondisi yang mengenaskan hingga saat ini menjadi seorang wanita cantik yang sangat handal dalam ilmu bela dirinya.
Sejak saat itu Ilza berjanji akan terus mengabdi pada keluarga Lunara. Tak pernah sekalipun memikirkan bahwa dirinya harus menikah dan memiliki keluarga baru. Ia sudah terlanjur nyaman dengan keluarga dan pekerjaan ini. Ia juga sangat menyayangi Alma dan menganggap Alma adalah adik kecilnya yang setiap saat harus ia lindungi.
"Kepalan tangan ini akan mendarat tepat di wajah anda jika anda tak juga pergi!" Ancam Ilza membuat kepercayaan Renaldi perlahan menghilang. Hanya mendengar suara itu, seakan jiwa lelakinya melemah.
Karena takut sekaligus malu, Renaldi meninggalkan koridor kampus dengan perasaan campur aduk. Banyak mahasiswa yang tertawa karena pada akhirnya Renaldi menyerah.
Ilza menoleh ke belakang, menatap Alma yang sedang di usap oleh Shasha yang sedang mencoba membuat Alma lebih tenang. Pelukan hangat dari Ilza ia berikan untuk Alma agar lebih tenang. "Gak usah takut, ada Aunty yang akan selalu ngejaga Alma!" Ucap Ilza tegas membuat Alma mengangguk berkali-kali, setelah itu baru Alma bisa tenang kembali.