
Matahari telah meninggi. Membangunkan banyak orang untuk segera memulai aktivitas mereka. Membuat banyak orang sangat sibuk di pagi hari. Kesana kemari mengerjakan apa yang sudah menjadi jadwalnya hari itu.
Berbeda dengan Shasha yang masih tertidur sangat nyaman di atas ranjang tidurnya. Tak peduli dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar dan menyinari sebagian wajahnya. Justru hal itu yang membuat Shasha semakin nyaman dalam tidurnya, ditambah dengan kondisi kamarnya yang sangat sejuk karena pendingin ruangan masih menyala.
Sudah beberapa kali kamar gadis itu diketuk dari luar. Diminta untuk segera turun dan sarapan bersama. Tapi Shasha tak mendengar suara panggilan itu.
Hingga suara dering ponselnya berbunyi, membuat Shasha terkejut dan kali ini ia benar-benar terbangun. Diraihnya ponsel yang berbunyi dan menggeser asal layar ponselnya supaya berhenti bersuara.
"Halo?" Namun rupanya Shasha salah menggeser tumbol pada ponselnya. Justru terdengar suara orang yang berasal dari ponselnya.
Matanya terbuka sempurnya. Terkejut mendengar suara khas seorang pria yang menghubunginya. Ia pikir itu adalah bunyi alarm ponselnya karena nada deringnya sama, tapi ternyata itu adalah panggilan telephone.
Kening Shasha mengerut membaca nomor yang tertera di ponselnya. Seingatnya, nomor itu tidak terdaftar pada list kontaknya dan Shasha sendiri tidak mengenali nomor tersebut.
"Siapa?" Tanya Shasha langsung. Suaranya terdengar serak karena baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Bersiaplah, aku sudah menunggumu di bawah" bukannya menjawab pertanyaan dari Shasha, pria itu malah mengalihkan pembicaraannya. Meminta Shasha untuk segera turun.
"Siapa?!" Tanya Shasha kembali. Kali ini terdengar seperti bentakan. Ia rasa di hari liburnya ini tak memiliki janji dengan siapapun. Bahkan Alma sendiri tengah menghadiri acara keluarganya di Turki, karena itu mereka tak bisa bertemu.
"Aku tunggu." Balasnya yang langsung mematikan sambungan telephone nya. Tak menjawab pertanyaan dari Shasha.
Kening Shasha kembali mengerut tak mengerti. Lagipula siapa yang tau dirinya saat ini berada di mana karena sudah lima bulan lamanya ia pindah rumah setelah satu bulan sang Kakek meninggal. Ia memutuskan untuk tinggal bersama sang Nenek. Dan selama lima bulan itulah tak ada satupun teman yang ia ajak untuk datang ke rumah Neneknya, kecuali semua teman dekatnya.
Tak ingin terlalu lama penasaran, Shasha langsung beranjak dari atas ranjangnya menuju lemari dan mengambil beberapa pakaian gantinya. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandinya untuk bersiap.
Selang beberapa menit Shasha keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai pakaian serba longgar. Mulai dari atas hingga bagian bawahnya. Kemudian mengikat rambutnya dan meraih pashmina miliknya. Menutupi rambutnya menggunakan hijab tersebut sebelum keluar dari dalam kamarnya.
Ya, memang sudah beberapa bulan terakhir Shasha sudah mulai berani mengenakan hijab. Walaupun hijab yang ia kenakan tak terlalu panjang, setidaknya masih bisa menutupi auratnya. Kadang pula Shasha melepaskannya karena kepanasan. Itu semua karena Shasha masih dalam proses.
Satu persatu Shasha menuruni anak tangga. Sampai pertengahan anak tangga ia berpapasan dengan Neneknya yang hendak ke atas. "Nek, ada tamu ya?" Tanya Shasha sedikit berbisik pada Neneknya.
"Iya, katanya temen kamu. Kok Nenek baru pertama kali liat ya?"
Shasha menaikkan kedua bahunya. Ia sendiri tak tau siapa yang datang pagi-pagi ke rumah Neneknya. "Shasha ke bawah ya Nek?" Izin Shasha sebelum meninggalkan Kirana.
Setelah diberikan izin Shasha langsung berlari di atas tangga. Melewati tangga atas hingga kakinya telah menapak di lantai paling bawah.
"Ayah? Rayyan?" Ucap Shasha terkejut melihat kehadiran keduanya.
Tak biasanya di hari sibuk seperti ini Ayahnya berada di rumah sang Nenek. Karena yang pindah adalah Shasha sendiri, tidak dengan seluruh keluarganya. Maka tak heran jika Shasha terkejut.
"Tumben Ayah kesini?" Sambung Shasha tersenyum. Berikutnya ia mencium punggung tangan sang Ayah yang baru saja datang.
"Iya, Sadam minta tolong anter dia kesini"
"Sadam?" Ucap Shasha seperti tak asing dengan nama tersebut. Ia mengetuk beberapa kali keningnya, mencoba mengingat siapa orang yang Ayahnya itu maksud.
"Iya Sadam, anaknya klien Ayah yang namanya Pak Hilmi," lanjut Daffa memperjelas ucapannya.
"Oh Kak Sadam yang itu… Buat apa dia kesini, Yah?" Balas Shasha setelah mengingat siapa orang yang Ayahnya itu maksudkan.
Daffa mengangkat kedua bahunya. Ia sendiri tak tau tujuan pria itu yang tiba-tiba memintanya untuk mengantarkannya pada Shasha. Karena merasa mereka berdua adalah teman, Daffa mengizinkannya.
"Ya udah, Yah, Kakak ke sana dulu, ya?" Daffa mengangguk setuju. Ia ikut memutar tubuhnya dan mengikuti langkah sang putri dari belakang.
Langkah Shasha terhenti ketika melihat seorang pria lainnya yang sedang menunggu tepat di sebelah Sadam. Melihat pria itu ia juga merasa tak asing. Seperti pernah bertemu sebelumnya.
Tak terlalu peduli, Shasha kembali melanjutkan langkahnya. Mendekati dua orang pria yang sedang menunggunya. "Kak Sadam…" panggil Shasha. Kedua pria itu menoleh pada Shasha. Sadam berdiri dari duduknya dan memberikan senyumnya pada Shasha.
"Muka lo kayaknya gak asing deh di mata gue" ucap pria yang berada di sebelah Sadam. Ia mengerutkan keningnya dan berusaha mengingat siapa Shasha.
"Oh my god, lo temennya my sweety?!" Kening Shasha mengerut mendengar ucapan pria tersebut.
"Siapa?"
"Alma!!" Seru pria tersebut dengan semangat. Ia berteriak dengan bangga membuat Shasha mengingat pria tersebut.
"Apa-apaan sih lo?!" Ketus Sadam menyikut pria di sebelahnya.
"Renaldi, ya? Yang ngejar-ngejar sahabat gue?" Ucap Shasha terkekeh. Berusaha menahan tawanya di depan dua pria itu. Hal konyol yang Renaldi lakukan membuat Shasha kembali teringat hari itu.
"Nah bener tuh… Sekarang my sweety di mana? Sumpah dia susah banget gue lacak!" Ucap Renaldi-pria yang berdiri di sebelah Sadam. Ia tersenyum dengan tangan kirinya yang mengusap pinggang sebelah kanan karena baru saja dapat serangan dari Sadam.
"Lo bisa diem gak sih? Sehari aja buat gue gak malu!!" Pinta Sadam menatap tajam Renaldi.
Shasha tertawa mendengar ucapan dari Renaldi. Terlalu jujur membuat pria itu terlihat seperti orang bodoh.
"Ya elah, Bang. Kasian banget gue jadi adek lo, berasa jadi babu" keluh Renaldi membuat Shasha terkejut mendengarnya.
"Oh kalian Adek Kakak?!"
"Nggak/Iya" Dengan kompak Sadam dan Renaldi menjawab. Hanya jawabannya saja yang berbeda.
"Jahat lo bang, gue kagak dianggep" keluh Renaldi dengan tangannya yang baru saja menepuk keras bahu Sadam.
"Gue bukan Abang lo!" Kecam Sadam tak terima.
"Gue bilangin ke Umi nanti!"
"Bilang sono! Dasar anak manja!!" Perdebatan kecil keduanya pun terjadi di dalam ruangan tersebut.
Shasha dan Daffa saling berpandangan. Heran melihat keduanya seperti anak kecil memperebutkan mainan.
"Stop!!" Ucap Daffa pada akhirnya. Ia berteriak membuat kedua pria tersebut berhenti adu mulut.
"Kalian ada perlu apa sama anak saya?! Kenapa malah bertengkar?!" Lanjut Daffa menatap keduanya kesal. Bisa-bisanya bertengkar di hadapan orang lain.
Baik Sadam maupun Renaldi langsung terdiam. Menunduk malu karena telah membuat kekacauan di tempat orang. "Maaf Om." Ucap keduanya kompak. Daffa menghela nafas karena heran dengan dua pria muda di hadapannya itu.
__________
Maaf ya baru update lagi~
Rumah aku lagi di renov jadi jarang megang hp. Paling hp nya buat belajar doang. Maaf ya~