
Seperti anjuran yang Aina berikan kepadanya, seharian penuh Shasha tak diberikan izin untuk bergerak sedikitpun. Bahkan jika gadis itu ingin ke kamar mandi, ia harus menghubungi salah satu orang rumah. Beruntung saat ini Shasha sedang datang bulan sehingga ia hanya ke kamar mandi ketika ingin mengganti pembalut ataupun ingin membuang air.
Saking bosannya dengan keadaan sekitar yang tak ada perubahan sama sekali, Shasha memilih untuk memejamkan matanya. Namun matanya tak dapat terpejam sedikitpun karena sedari tadi ia hanya di atas ranjang dan tertidur.
Triing!
Ponsel miliknya yang berada di atas nakas berbunyi, menandakan ada panggilan masuk ke dalam ponselnya. Dengan susah payah Shasha bergerak mendekati nakas dan meraih ponselnya.
"Alma? Ya ampun lupa ngabarin dia!" Shasha baru teringat dari kemarin Shasha tak menghubunginya ataupun memberikan kabar pada Alma. Biasanya hampir setiap saat Shasha dan Alma saling bertukar kabar. Bahkan saat mereka melaksanakan sholat tahajjud, Alma melakukan video-call supaya bisa sholat malam secara bersamaan.
Langsung saja Shasha menyentuh tombol berwarna hijau dan menariknya ke atas supaya panggilan dari Alma segera terhubung. "Assalamualaikum Sha…" Alma memulai pembicaraan. Suaranya sedikit serak dan lebih berat dari biasanya. Berikutnya suara tangis Alma terdengar di telinga.
"Waalaikumsalam. Alma kenapa nangis?" Tak ada jawaban dari Alma. Hanya suara tangisan yang dapat Shasha dengar saat ini.
"Sha-Shasha kenapa gak bales telpon aku?" Dengan suara yang sesegukan Alma bertanya pada Shasha. Tangisnya terjadi selama beberapa saat membuat Shasha menyunggingkan sedikit senyumannya.
"Maaf, Ma. Aku ada masalah di sini…" balas Shasha pelan. Mencoba menenangkan tangis Alma.
"Kamu jahat, Sha! Jahat!" Teriak Alma masih dengan tangisnya.
Shasha diam, tak tau harus membalas apa. "Kamu kenapa gak ngabarin aku…? Kalau aku gak tanya Dhira pasti aku gak bakal tau kalau Shasha lagi gak baik-baik aja sekarang!" Sambung Alma mengomeli Shasha.
"Maaf…" hanya kata itulah yang dapat Shasha katakan pada Alma. Ia mengakui kesalahannya dan saat ini memang ia sedang ingin sendiri.
"Alma mau liat muka Shasha sekarang! Shasha harus bales video-call dari Alma pokoknya!" Setelah mengatakan itu Alma memutuskan panggilan telepone dan kembali menghubungi Shasha lewat video-call.
"Hai, Ma!" Sapa Shasha dengan melambaikan tangan kanan nya. Ia lupa jika saat ini tangan kanan yang itulah yang sedang terluka.
"Astaghfirullahaladzim, Sha kenapa kamu bisa kayak gitu?" Nampak dari layar ponsel, wajah Alma yang mulai sembab dibuat terkejut ketika melihat tangan kanan Shasha yang ditutup dengan banyak perban.
"Eh? E-enggak kenapa-napa kok ini,"
"Bohong! Ayo cerita, Shasha!"
"Ini cuma robek doang. Kemaren gak sengaja kegores benda tajem," Shasha nampak gelagapan menjawab pertanyaan dari Alma.
"Sha! Tolong ceritain semuanya ke aku, please!"
"Aku mohon, Sha! Atau perlu aku balik ke sana dulu? Kalau gitu tunggu, ya besok-"
"Nggak Alma, gak perlu. Aku bakal cerita semua ke kamu tapi kamu harus janji ke aku!" Pinta Shasha sebelum menceritakan awal mula mengapa ia bisa terluka seperti ini.
"Iya apa?"
"Kamu jangan khawatirkan aku. Kamu di sana aja sesuai jadwal awal kamu, oke?!" Shasha tau, pasti Alma akan melakukan sesuatu untuk dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, toh semuanya udah terjadi.
Hening. Alma tak mengatakan apapun. Sulit untuk sahabatnya itu mengatakan 'iya' karena ia sendiri yakin ada yang tak beres dengan Shasha. Jika seperti itu, Alma terpaksa harus berdiam diri melihat Shasha yang seharusnya ia tolong.
"Gimana?" Tawar Shasha setelah sekian lama keduanya berdiam diri.
Perlahan air matanya hampir mengalir. Ia terharu mendengar Alma yang selalu ada saat ia butuhkan. "Baiklah… Aku bakal minta bantuan ke kamu kalau saat itu aku udah gak bisa melakukan apapun, oke?" Shasha mengubah persyaratan yang ia berikan pada Alma. Membuat gadis itu segera mengangguk setuju. Saat itu juga Shasha mulai menceritakan tentang rencana yang Ayah dan klien Ayahnya siapkan untuknya. Tak ada satupun yang terlewat, membuat Alma benar-benar ingin membantu Shasha saat itu juga. Tapi Shasha selalu memintanya untuk jangan bergerak dahulu.
__________
Paginya, keadaan Shasha sudah lebih membaik dari pada yang sebelumnya. Demamnya juga sudah menurun. Ia diperbolehkan oleh Aina untuk bergerak, tapi belum boleh melakukan pekerjaan yang telalu berat. Seperti pagi ini, Shasha turun ke lantai satu dan berjalan menuju halaman. Ia ingin berjemur di bawah matahari pagi yang bagus untuk kesehatan.
Hatinya bisa lebih tenang kali ini. Mungkin karena semalam ia berbagi cerita dengan Alma. Menceritakan keluh kesahnya yang membuatnya merasa lebih ringan menjalani menit-menit berikutnya.
Shasha berjalan ke arah lapangan basket yang berada di dekat halaman belakang rumah. Ia mendengar suara pantulan basket dari arah sana. Ingin melihat siapa yang sedang bermain basket di tempat itu.
"Rayyan!" Shasha memanggil adiknya yang tengah memainkan basket seorang diri. Keringat berjatuhan dari tubuh pria itu. Terlihat bahwa Rayyan sudah cukup lama memainkan basketnya.
Merasa namanya dipanggil, segera pria itu menghentikan kegiatannya yang sedang mendribel basket. Mengangkap kembali bola basket itu dan membawa ke dalam pelukan pria itu. "Kenapa?" Tanya Rayyan tanpa berbalik menatap Shasha kembali. Pria itu malah berjalan mendekati kursi yang berada di tempat itu. Meraih sebotol air mineral dan meneguk minuman itu hingga habis tanpa sisa sedikitpun.
Shasha berjalan mendekati Rayyan. Terlihat dari gerak-gerik pria itu, Shasha yakin adiknya itu sedang menghindarinya. "Ray-"
"Kenapa?" Rayyan memotong cepat ucapan Shasha, berbalik dan menatap datar ke arah Shasha. Adiknya yang satu ini memang sangat sulit untuk ditebak wajahnya karena pria itu jarang sekali mengubah mimik wajahnya.
"Kenapa, apa?" Shasha tak paham apa yang saat ini Rayyan coba bicarakan padanya. Padahal ia ingin meminta maaf pada Rayyan karena telah memebentak, memarahi dan membuat pria itu bingung dengan sikapnya.
Rayyan kembali berbalik. Merapihkan barang-barang yang ia bawa ke dalam tas. "Gak ada. Gue lupa kalo temen itu lebih penting dari pada keluarga menurut lo."
"Hah? Maksudnya apa?"
Rayyan mengangkat tas nya. Menaruh barang itu di salah satu bahunya. "Perjodohan lo," pria itu berbalik. Tatapannya masih sama, datar tanpa ekspresi. Namun di balik itu, Shasha tau jika saat ini Rayyan sedang marah padanya.
"Tau dari mana kamu tau tentang itu? Ayah, Bunda udah cerita sama kamu?"
Rayyan memutar bola matanya. Tertawa remeh setelahnya tersenyum sinis ke arah Shasha. "Jadi gak bakal ada yang mau kasih tau gue? Hah, lucu kalian!" Rayyan terkekeh, berniat menyindir Shasha dan kedua orang tuanya.
"Oh ya, gue lupa. Gue gak terlalu berperan banyak di keluarga ini." Sambung Rayyan. Ia berjalan lurus tanpa memandang Shasha sedikitpun. Berjalan santai dan melewati Kakaknya begitu saja.
"Ray tolong jangan kekanak-kanakan. Kakak diem bukan berarti gak mau kasih tau kamu!" Segera Shasha menyusul Rayyan. Berjalan cepat dan berhenti di depan pria itu. Menghalangi jalan Rayyan karena ia sendiri belum selesai berbicara.
"Kasih tau sekarang. Sejelas-jelasnya!" Setelah itu Rayyan diam, tak membalas kembali perkataan Shasha. Kedua tangannya bersedakap dada dan menunduk, menatap Shasha yang lebih pendek darinya.
"Duduk!" Shasha menunjuk ke arah kursi taman yang sedang terkena sinar matahari. Berbicara yang sebenarnya sekaligus menjemur diri di tempat itu.
Tanpa banyak bicara, Rayyan langsung berjalan ke arah kursi taman itu, menuruti ucapan Shasha begitu saja. Shasha mensejajarkan langkahnya dengan Rayyan. Berjalan bersama ke arah kursi taman dan duduk di sana.
Shasha merapatkan kedua kakinya. Menunduk dan memainkan kakinya, menendang-nendang rumput hijau yang berada di bawah kakinya. "Ayah…" Shasha menggantung ucapannya. Tak rela menceritakan hal itu ke Rayyan. "Ayah dijebak sama Pak Hilmi. Perusahaan Ayah yang jadi sasaran dari rencana orang itu!"
"Apa hubungannya sama perjodohan lo?"
"Dia nawarin Ayah untuk lanjutin proyek asalkan Sadam nikah sama Kakak!!!" Shasha menjelaskan. Emosinya kembali meninggi, tak suka dengan Sadam, apalagi dengan Ayah dari pria itu.
Hening, tak ada balasan apapun dari Rayyan. Pria itu mengepalkan tangannya. Shasha tau Rayyan kenapa saat ini. Detik berikutnya pria itu berdiri. "Cepet sembuh. Buat posisi mereka terbalik secepatnya. Gue punya rencana." Ucap Rayyan sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Shasha seorang diri.