SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 78



Sekretaris Lux memberhentikan mobilnya di depan sebuah bar yang biasa dikunjungi oleh keen,ia melihat mobil atasannya terparkir disana, lalu ia masuk kesana matanya menoleh kesana dan kesini mencari keberadaan atasannya itu, kemudian ia berjalan semakin kedalam dan masih belum juga menemukannya, ia menghampiri seorang petugas keamanan berseragam hitam di depan pintu.


"Permisi, apa anda melihat Pak Keenan?"


"Ahh ceo dari perusahaan terkenal itu ya?"


"Ya, apa anda melihatnya kesini?"


"Benar, beliau berada disini semenjak siang lalu tadi sekitar jam tujuh seorang wanita membawanya pergi"


Lux nampak terkejut, apa kali ini ia telah terlambat? firasatnya tidak enak "Apaa?? wanita? siapa?"


"Saya tidak tahu, tapi sepertinya dia seorang model dilihat dari cara berjalan dan postur tubuhnya yang tinggi"


"Model yaa, baiklah.. terimakasih informasinya, selamat bertugas kembali"


"Baik"


Lux masuk kembali kemobilnya, ia berfikir seorang model yang membawanya "Ahhh.. pasti wanita itu" lux teringat pertemuan keen dengan ivana di rumah sakit minggu lalu. Lux mulai berfikir kira kira kemana ivana akan membawa pria yang sedang mabuk. "Apa mungkin ke rumahnya?" gumamnya sembari berfikir. "Itu tidak mungkin, hotel kah?? benar pasti ke hotel terdekat" gumamnya, kemudian ia menginjak gasnya dan menyusuri setiap hotel yang dilaluinya, namun kebanyakan pihak hotel memiliki peraturan untuk tidak memberitahukan informasi tentang pengunjungnya. Namun ia tak menyerah ia terus menyusuri satu persatu hotel yang dilaluinya hingga waktu menunjukkan pukul dua dinihari, dan akhirnya lux memberitahukan kepada cassy tentang situasinya melalui sambungan televon dan cassy menyuruhnya kembali ke rumah dan meminta menunggunya dengan tetap berfikir positif.


***


Pagi harinya, keen membuka matanya ia melihat langit langit kamar yang tampak asing, kepalanya sakit karena terlalu banyak meminum alkohol, matanya mulai menyusuri ruangan itu, betapa terkejutnya setelah ia melihat seorang wanita berbaring di sampingnya, wanita itu berbaring membelakanginya dengan sehelai selimut menutupinya, terlihat ia memiliki rambut pendek, sudah jelas bahwa wanita itu bukanlah istrinya melainkan ivana, kemudian ia melihat dirinya yang hanya tertutupi selimut yang sama dengan wanita itu dan pakaiannya berserakan di bawah tempat tidur. "Aku benar benar sudah gila, apa yang semalam kulakukan dengan wanita ini" gumamnya seraya memegangi kepalanya dengan frustasi.Tak lama ia segera memakai bajunya lalu pergi meninggalkan wanita itu yang masih tertidur pulas.


Keen keluar gedung hotel dan mencari taxi dengan keadaan kepalanya yang masih teramat sakit, setelah masuk ke dalam taxi ia menuju ke rumahnya, ia mengeluarkan ponselnya di kantong celana terlihat nomor cassy dan sekretarisnya menghubungi beberapa kali disetiap jam dan berhenti di jam lima pagi, itu berati cassy menunggunya tanpa tidur, ia memukuk mukul kepalanya sendiri, sesekali sopir taxi pun beberapa kali meliriknya dari kaca spion.


Mobil taxi berwarna kuning itu berhenti di depan gerbang rumah keen, lalu keen turun dan melangkahkan kakinya dengan ragu ragu, ia membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk setelah melepas sepatunya, langkahnya terhenti di ruang tamu disana terlihat istrinya duduk tegap tanpa ekspresi, disampingnya terlihat koper besar miliknya.


Keen mendekatinya duduk disampingnya, "Apa kau menungguku? kau masih marah?"


"Tidak, aku yang salah aku yang seharusnya minta maaf padamu"


"Tapi saat aku mau memejamkan mata aku melihat sebuah artikel yang menyebutkan namamu beserta fotomu yang memasuki gedung hotel bersama mantan kekasihmu"


"Apa?? secepat itu??" ia segera membuka ponselnya dan menemukan beberapa artikel terkait scandalnya bersama seorang model. "A aku bisa menjelaskan ini padamu cassy" ekspresinya tampak merasa sangat bersalah.


"Jelaskanlah" ucapnya lugas.


Ketika cassy meminta dirinya menjelaskan ia malah terdiam tak bisa mengatakan apa apa, hanya wajahnya yang bersalah yang terlihat dimatanya "Maafkan aku, bisakah kau memberikanku satu kesempatan lagi?" tangannya memohon.


Kesempatan? bukankah pria itu sudah kelewatan meminta kesempatan lagi ketika dirinya telah berhubungan badan dengan mantan kekasihnya "Maafkan aku tuan keenan, aku bukanlah orang yang sebaik itu" ia mengambil selembar surat perceraian dan menaruhnya dihadapan pria itu "Jika anda benar benar minta maaf dan merasa bersalah padaku tolong tanda tangani ini"


Keen terdiam menatapi surat perceraian yang telah beberapa saat tak dilihatnya,itu adalah surat perceraian yang sama sebelum mereka bersepakat untuk menjalin hubungan suami istri yang sesungguhnya, alih alih merobeknya cassy malah menyimpannya "Pada akhirnya kau tetap tak bisa menerimaku, apa yang selama ini kuharapkan darimu" gumamnya dengan wajah yang kecewa lalu meraih pena dan menandatangani surat perceraian itu, ia masuk kekamarnya menutup pintu dengan keras. Sampai akhir pria itu tetap hanya mementingkan perasaannya sendiri.


Cassy mengambil selembaran itu dan menaruh kembali ke dalam tas, ia bangun dan meraih kopernya, matanya menoleh mengitari seisi rumah, karena ia pikir ia tak akan pernah kembali lagi kesana, bagaimanapun tempat itu adalah tempatnya menjalin hubungan dengan orang yang mungkin akan selalu membekas dihatinya, orang yang dua kali menghancurkan hatinya, tapi anehnya kali ini ia merasa baik baik saja mungkin karena kali ini bukanlah perasaan cinta melainkan toleransi atau simpati kepada orang yang memperlakukannya dengan baik. Dan kini hubungannya dengan pria itu benar benar telah berakhir.


Cassy mendorong kopernya keluar dari rumah itu, ia memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil merahnya, lalu ia masuk dan mengendarai mobilnya, kini ia benar benar sendiri, tanpa memiliki suami, ayah atau ibunya, entah mengapa tiba tiba saja air matanya menetes saat ia tengah fokus menyetir mobilnya, padahal ia pikir ia tak merasa sakit hati tapi mengapa air mata itu mengalir dengan sendirinya?.


Ia menghentikan mobilnya di depan kantor pengacara yang mengurus perceraiannya, kemudian ia keluar setelah menyelesaikan urusannya, lalu ia kembali mengemudikan mobilnya menyusuri setiap jalan yang jauh dari keramain, setelah perjalanan panjang yang memakan waktu tiga jam ia kembali menghentikan mobilnya, didepan matanya terlihat laut biru dengan angin yang bertiup kencang, laut yang sepi, jalanan yang sepi.


Setelah beberapa saat ia hanya melihat laut dari kejauhan ia kembali mengendaarai mobilnya, ia telah merasa cukup baginya menenangkan diri, angin yang tadi bertiup kencang telah membawa segala keresahan dihatinya dan kini ia telah kembali bersiap menjalani hari harinya yang hanya untuk dirinya sendiri.


Cassy berhenti di tempat parkir apartemen yang telah lama tak dihuninya, ia membuka bagasi mobil dan mengeluarkan kopernya, lalu ia berjalan dengan cepat menuju lift dan sampailah ia di depan rumahnya, ia menekan kode pintu rumahnya dan masuk ke dalam sana.


Bersambung..........................