
Seperti apa yang Rayyan katakan kepadanya, Shasha mengikuti ucapan adik lelakinya itu. Sholat tahajjud dan berdo'a supaya permintaan Shasha dapat dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja, karena sesungguhnya Allah lah dzat yang maha membolak-balikkan hati.
Paginya, Shasha yang membuat sarapan bersama sang Ibu dan maid yang sedang bertugas. Banyak bumbu dapur yang ia pelajari. Tentu saja awalnya Kania terkejut dan bingung melihat perubahan Shasha yang sangat tiba-tiba. Tapi berikutnya Kania bersyukur karena anaknya mau belajar hal seperti itu.
"Pulang kuliah Kakak mau langsung ke rumah Nenek, Bun. Bolehkan?" Izin Shasha pada sang Bunda. Untuk hari ini, Shasha sedang menginap di rumahnya karena sudah dua bulan terakhir Shasha tinggal di rumah sang Nenek. Kirana-Neneknya itu tak ingin diajak oleh Daffa dan Kania untuk tinggal bersama di rumah mereka. Kirana merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri. Namun karena sang Nenek tinggal seorang diri, akhirnya Shasha memutuskan untuk menemani sang Nenek di rumahnya.
"Boleh dong. Kasian Nenek sendiri di sana" balas Kania yang masih fokus pada masakannya.
Shasha tersenyum ke arah sang Ibu. Kemudian menatap layar ponselnya kembali, menonton cara memasak yang benar.
Shasha mengikuti apa yang diajarkan kepadanya dari video yang ia tonton. Meraih pisau dapur dan talenan untuk mengiris bawang merah dan bawang putih. "Bunda sama yang lainnya kenapa gak pindah aja ke rumah Nenek?" Tanya Shasha mulai mengiris bawang dengan sangat berhati-hati karena ini adalah kali pertamanya.
"Rayyan sama Nadhira kan sebentar lagi lulus, tunggu mereka dulu." Ucap Kania menjelaskannya pada Shasha. Tatapannya masih terfokuskan pada masakan yang ia buat, tak sedikitpun menoleh pada anaknya.
"Hiks… Hiks… Bunda…" mendengar anaknya menangis, Kania langsung memberhentikan kegiatannya. Ia langsung menoleh ke arah Shasha yang menangis sangat deras.
"Kamu kenapa, Kak?! Kamu luka? Hati-hati motongnya, Kak." Kania menghampiri anak sulungnya. Meraih tangan Shasha dan menatapnya satu-persatu, takut anaknya terkena luka gores karena pisau yang ia pakai.
"Jangan nangis sayang, Rayyan sama Nadhira sebentar lagi lulus kok. Mungkin sebulan lagi kelulusan mereka" ucap Kania kembali. Setelah melihat kedua tangan anaknya, Kania tak menemukan satupun luka di tangan anaknya. Ia memutar kembali perkataannya, mungkin saja itu yang membuat anaknya nangis.
"Bukan Bunda… Bukan gara-gara itu. Bawangnya ini jahat banget. Kakak gak bisa berhenti nangis… Hiks… Bawangnya bikin mata Kakak sakit, Bun" adu Shasha dengan menggeleng. Ia membantah semua pertanyaan yang Ibunya berikan padanya.
"Ya ampun Kak, Bunda kira kamu kenapa" ucap Kania bernafas lega. Ternyata hanya karena sebuah bawang yang anaknya potong, sampai membuat Shasha menangis.
"Bunda mata Shasha perih, Bun…" rengek Shasha meminta pertolongan. Kedua matanya tertutup hingga mengeluarkan air mata karena ulah si bawang.
"Sini pegang tangan Bunda. Kamu ada-ada aja, Bunda takut tau!" Protes Kania seraya meraih tangan anaknya. Menuntunnya hingga ke wastafel dan mencuci wajah anaknya.
"Udah?"
"Udah Bunda. Makasih" Kania mengangguk membalas ucapan terima kasih anaknya. Kembali berjalan mendekati kompor yang saat itu sedang di urus oleh salah satu maid nya.
Shasha mengekor dari belakang. Kembali mendekati beberapa bawang yang tadi ia potong dan memasukkannya ke dalam blender yang berada di sana.
Kania menoleh, melihat hal apa yang saat ini anaknya lakukan. "Eh Kak, kok di blender?!" Tanya Kania terkejut.
Plok!
Kania menepuk keningnya karena kelakuan Shasha. Ada-ada saja idenya sampai membuat Kania geleng-geleng kepala.
"Sini biar Bunda aja yang iris bawangnya" suruh Kania meminta Shasha untuk menghampirinya.
"Nggak mau, Kakak aja yang giniin!" Tolak Shasha tak mengindahkan ucapan Kania. Justru Shasha malah berbalik mendekati mesin blender.
"Kakak, Jangan!" Kania langsung menghampiri Shasha dan mengambil alih blender yang saat ini Shasha pegang. Karena jika bawangnya di haluskan, maka akan berbeda lagi rasa masakannya. Dahulu Kania pun juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
"Kok diambil, Bunda? Bunda gak bolehin Kakak belajar masak?" Lirih Shasha merasa kecewa. Disaat dirinya ingin belajar melakukan hal yang belum pernah ia coba, sang Ibu malah melarangnya.
"Nggak sayang… Shasha boleh kok masak, Bunda gak ngelarang. Tapi, masak juga ada aturannya, sayang. Kalau salah nanti masakannya gak enak. Emang Shasha mau kasih makanan gak enak ke Ayah, Bunda, sama adek-adek kamu?" Ucap Kania membantah ucapan Shasha. Berusaha untuk terus bersabar agar anaknya itu tidak merasa sakit hati karena perkataannya.
"Emang gitu Bunda?"
Kania mengangguk. "Iya dong… Kita kan masak harus pake hati, biar rasanya enak. Kalau masaknya ngasal, yang makan malah kecewa nanti" ucap Kania kembali memberi pengertian. Salah satu anaknya itu memang sedikit sensitif. Jika salah berucap sedikit saja, maka ia akan mudah sakit hati. Namun jika diberi pengertian, Shasha akan dengan mudah mengerti.
"Nih, Kakak liatin Bunda dulu ya? Nanti Kalau Bunda lakuin apa, Kakak ikutin. Oke?" Tawar Kania yang langsung disetujui oleh Shasha.
Dan acara masak di pagi hari itu dilengkapi dengan beberapa drama lucu dari Shasha. Untuk yang pertama kalinya Shasha memasak dengan sedikit kesal karena bawang merah dan bawang putih sudah membuatnya menangis pagi itu. Namun nyatanya usaha Shasha tidak sia-sia, masakan yang pertama kali Shasha buat tidak mengecewakan. Justru masakan itu sudah termasuk sedap karena itulah masakan pertama Shasha.
Karena merasa bangga dengan hasil masakannya, Shasha membuat ulang kembali masakan yang tadi ia buat. Setelah selesai masak untuk yang kedua kalinya, segera Shasha memasukkannya ke dalam kotak bekal miliknya. Menaruh masakannya dan ia bagi ke dalam tiga kotak bekal. Salah satunya untuk Kirana-sang Nenek, Alma dan yang terakhir sudah pasti untuk Ghibran. Ia ingin Ghibran juga merasakan masakan pertamanya.
Dengan semangat Shasha menuju kampus tempat ia berkuliah. Mengendarai kendaraannya dengan bahagia. Ia juga sudah menghubungi Alma untuk tidak membawa kendaraan karena Shasha yang akan datang menghampiri Alma di kediamannya. Ia juga berharap Ghibran sedang berada di kediaman Alma untuk sekedar mampir. Setidaknya nanti Shasha bisa langsung memberikan kotak bekalnya pada Alma dan Ghibran sekaligus.
Sampai di kediaman Alma, rupanya hari ini Ghibran tidak mampir pagi itu. Terpaksa Shasha harus menunggu sampai jam mata kuliah selesai baru mengantarkannya pada Ghibran nanti. Tentu saja ditemani oleh Alma agar Shasha bisa memberikan alasan pada Ghibran nanti, karena tak mungkin juga Shasha datang ke rumah sakit hanya untuk menemui Ghibran tanpa ada alasan yang jelas.
_____
Sesuai janji aku tadi ya…
Bab selanjutnya juga masih flashback. Cerita Shasha yg nyoba PDKT ke Ghibran…