
Menikmati cuaca yang cerah dari Sang Surya di pagi hari. Merasakan anugerah Sang Pencipta dan bersyukur karena masih dapat bangun dan menikmati cuaca indah untuk menghadapi hari ini.
Bangun pagi lebih awal meskipun semalam begadang. Berharap di pagi ini dan detik-detik berikutnya mendapatkan kebahagiaan tiada tara. Shasha mengangkat tangan nya, meregangkan otot-otot nya yang kaku sehabis bangun tidur.
Manik matanya meredarkan pandangan, menatap sebuah manekin yang berdiri di ujung kamarnya. Manekin itu yang akan digunakan untuk menaruh wedding dress nya. Tersenyum dan bangkit dari atas ranjang. Berjalan mendekati sebuah patung manekin yang masih polos tanpa busana yang menggantung di sana.
"Aku gak sabar kapan kejahatan mereka terungkap." Gumam Shasha. Tangan nya memegang patung manekin tersebut dan membayangkan gaun seperti apa yang akan ia gunakan di hari bahagia nya. Bahagia? Ya, ia harap semua akan terbongkar sebelum acara akad nikahnya.
Wanita itu segera masuk ke dalam kamar mandi. Bersiap dengan kegiatan hari ini yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Mereka akan pergi bersama ke sebuah tempat. Mereka, Shasha dan Sadam akan mengunjungi sebuah butik dan diminta untuk memilih gaun nya sendiri.
Shasha tak sabar, ingin segera datang hari-H itu yang akan membongkar kelicikan keluarga mereka. Entah siapa saja yang berada dalam rencana itu, ysng jelas ia hanya tau bahwa Sadam dan Hilmi lah yang merencanakan nya. Bahkan di saat acara pertunangan nya, Ibu nya Sadam membisikkan kata maaf berulang-ulang kali pada Shasha. Ia yakin wanita itu tidak ada kaitan nya dengan rencana jebakan itu. Dan untuk Renaldi, pria itu sendiri tak ingin datang di malam pertunangan nya. Sorot mata Renaldi selalu menatap Hilmi dengan tajam dan menghunus, bahkan pria itu tak menyukai Ayahnya sendiri.
__________
Sampai di sebuah butik ternama, Shasha masuk bersama Sadam secara bersamaan. Kedua Ibu mereka tidak ikut melihat anaknya mencoba pakaian pernikahan anaknya. Mereka sendiri tak bersemangat akan hal itu. Alhasil hanya Shasha dan Sadam lah yang datang. Tak apa, toh bukan pernikahan seperti inilah yang Shasha harapkan.
Saat memasuki butik itu, mereka berdua disambut dengan hangat oleh petugas-petugas yang sedang bekerja di butik itu. Keduanya langsung diajak menuju lantai paling atas butik itu, menunjukkan sebuah hasil karya gaun mereka yang sebelumnya telah dipilih oleh Sadam.
Netra Shasha terbuka lebar, terkesima melihat sebuah gaun yang sangat indah berada di depan matanya. Ada dua gaun di sana, yang satu berwarna rose gold, seperti warna kesukaan dirinya. Dan yang lain nya berwarna aqua. Tatapan wanita itu berubah sendu. Teringat kembali pria yang berhasil menarik perhatian nya dan membuat dirinya langsung menyukai sosok pria itu pada pandangan pertamanya. Ghibran, pria yang selalu ia do'a kan di sepertiga malamnya, berharap suatu saat nanti ia akan disatukan kembali dalam hubungan yang sakral hingga maut memisahkan.
"Silahkan dicoba dulu, Nona. Takut kurang cocok dengan anda." Pramuniaga itu bersuara. Menyadarkan Shasha dari lamunan yang tak ada batasnya.
"Anda meragukan saya?!" Sadam berdecak pinggang. Memasang wajah sinis kepada pramuniaga tersebut.
Wanita yang bertugas sebagai pramuniaga itu menunduk. "Maaf, Tuan. Maksud saya ukuran gaun nya." Pramuniaga itu membenarkan ucapan nya. Takut customer mereka marah dan kurang puas dengan pelayanan yang ia berikan.
"Ada apa ini?" Atensi seluruhnya teralihkan. Menatap kedatangan seorang wanita anggun dengan rambut berwarna coklat yang digerai begitu saja. Menampilkan senyum yang menawan, menambahkan kecantikan dan keanggunan dari wanita itu.
"Nggak, nggak kenapa-napa kak! Cuma salah paham dikit!" Seru Shasha. Tak ingin memperburuk keadaan hanya karena sebuah perkataan yang tak dapat Sadam telaah. Wanita itu mengangguk paham.
"Atas nama butik ini, tolong maafkan kami." Wanita itu menunduk, mewakili pramuniaga yang tadi melakukan sedikit kesalahan.
"Nggak papa. Kak Sadam aja yang terlalu berlebihan." Shasha kembali mengeluarkan suara. Sadam memutar bola matanya malas, tak suka dengan keadaan suasana saat ini.
Wanita itu tersenyum, menatap ke arah belakang yang memperlihatkan dua buah gaun yang sangat indah disertai dengan tudung yang khusus untuk gaun itu. "Apa kalian Tuan Sadam dan Nona Sherly?!" Wanita itu bertanya. Ada rasa penasaran sekaligus terkejut melihat orang-orang yang berada di depan nya. Shasha mengangguk membenarkan, bingung dengan reaksi wanita itu.
"Oh my god, maafkan saya, saya tidak tau itu kalian!" Shasha mengkerutkan dahinya, semakin tak paham dengan wanita itu.
"Perkenalkan, nama saya Akasha Sania, pemilik butik ini. Panggil saja Akash." Tangan wanita itu mengulur ke arah Shasha, memperkenalkan dirinya pada customer.
Shasha paham sekarang mengapa wanita di depan nya itu terkejut melihat mereka berdua dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Shasha menerima uluran tangan wanita itu. "Sherly." Shasha memperkenalkan dirinya, menjabat tangan pemilik butik tersebut.
Tak lama uluran tangan keduanya terlepas. Akash-wanita itu menatap kembali gaun rancangan yang ia buat. Saat Sadam datang dan menjelaskan detail ukuran tentang Shasha, pemilik butik itu sedang berada di luar kota untuk menyelesaikan beberapa keperluan nya di tempat itu. Saat wanita itu kembali, ia langsung mendapatkan tugas membuat gaun untuk sebuah pernikahan anak salah satu pemilik perusahaan terbesar di negara ini. Tentu ini menjadi sebuah tantangan yang sangat besar untuk Akash menyiapkan gaun itu. Tak ingin membuat kesalahan pada klien pentingnya ini.
"Mari, dicoba dulu gaun nya!" Ajak wanita itu, menggiring Shasha menuju ruang ganti. Sedangkan gaun yang telah ia buat selama sebelas hari, sepuluh malam itu dibawa dengan sangat hati-hati oleh pekerjanya.
Sedangkan Sadam sendiri memilih untuk menunggu Shasha selesai menggunakan gaun nya. Memainkan ponselnya dan mengetikkan beberapa pesan ke teman nya.
Tak lama Shasha keluar dengan gaun yang dikenakan wanita itu. Menambah kecantikan yang wanita itu miliki. Sadam sendiri sampai dibuat terpaku melihat Shasha mengenakan gaun itu. Shasha merasa sangat tak nyaman ditatap begitu intens oleh pria yang menjebak keluarganya itu. Wanita itu langsung mengalihkan pandangan nya dari Sadam.
Sadam berdiri, membuka kamera di ponselnya dan berkali-kali mengambil potret gambar Shasha. Akash dan pramuniaga itu ikut salah tingkah ketika melihat Shasha diperlakukan seperti itu oleh Sadam. "Apa yang kamu lakukan?" Tanya Shasha tak suka. Muak dengan tingkah Sadam yang ia yakini hanyalah drama belaka di hadapan orang-orang.
"Mau kasih tunjuk Umi sama Bunda." Balas Sadam cepat. Menggerakkan jarinya di atas ponsel dengan lincah. Sedangkan Shasha sangat jijik ketika mendengar Sadam memanggil sang Ibu dengan sebutan 'Bunda' sama seperti ia memanggil Kania. Karena tak terlalu peduli, Shasha membiarkan Sadam mengirimkan foto dirinya pada orang lain.