
Brraakk!
Pintu masuk dibanting dengan kuat hingga menimbulkan suara benturan cukup kencang.
"Bang!!"
"Abang!!"
"Keluar Bang!!"
Satu persatu penghuni rumah berjalan ke sumber suara tersebut. Para pekerja di rumah itupun berhambur takut dan lebih memilih untuk bersembunyi karena takut.
"Abang!! Gue bilang keluar, Bang!!" Teriaknya lagi.
Sang ibu keluar dari dalam kamarnya. Berlari kecil ke arah sang anak yang terlihat sedang marah. Menuruni satu persatu anak tangga dengan perasaan bingungnya karena sikap anak bungsunya.
"Riel, kamu kenapa?!" Tanyanya khawatir. Keningnya berkerut bingung.
"Astaghfirullah, ini muka kamu kenapa merah-merah begini, Nazriel?" Tanya sang ibu kembali. Kekhawatirannya akan kondisi sang anak semakin menjadi ketika melihat wajah anaknya merah-merah.
Renaldi tak menjawab, ia menurunkan tangan ibunya dari wajahnya yang penuh dengan luka pukul. "Abang di mana, Umi?" Bukannya menjawab pertanyaan sang ibu, Renaldi justru mengabaikannya dan meilih untuk menanyakan kabar sang kakak.
"Masih di kantor. Sadam bilang bakal pulang larut hari ini." Ucap sang ibu akhirnya memberitau. Masih dengan ekspresi wajahnya yang sangat khawatir.
Renaldi langsung berbalik, hendak keluar kembali dari rumahnya. Namun dengan cekatan Abeela menghalangi langkah putranya. "Jawab Umi dulu, kamu kenapa?!!" Bentaknya mulai marah. Ia diabaikan oleh anak bungsunya.
"Umi, Nazriel bakal cerita nanti. Sekarang Nazriel mau ketemu sama Bang Sadam dulu." Setelah mengatakan itu Renaldi benar-benar pergi meninggalkan sang ibu dalam kebingungan, cemas, dan khawatir dengan apa yang terjadi.
___________
Sampai di dalam gedung yang menjulang tinggi, Renaldi berlari sekencang tenanga menuju ruangan sang kakak. Mengapaikan sapaan dan salam dari karyawan-karyawan di perusahaannya. Memasuki lift khusus yang langsung mengarah ke lantai paling atas, yaitu tempat di mana Sadam berada.
Ting!
Bunyi lift sampai di lantai teratas gedung tersebut.
"Selamat sore Tuan Nazriel," sapa sang seketaris kakaknya. Langkah Renaldi memelan, berjalan kembali ke arah meja seketaris pria tersebut.
"Kakak gue di dalem?" Tanyanya langsung, tanpa membalas sapaan dari seketaris kakaknya. Yang dibalas dengan anggukan cepat dari sang seketaris.
"Iya Tuan."
Kembali Renaldi berjalan dengan cepat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada sekertaris yang sudah memberitaunya.
Brraakk!
Ia menggebrak kembali pintu untuk yang kedua kalinya. Membuat si penghuni ruangan terlonjak kaget dengan ipadnya yang terjatuh dari genggaman tangannya.
"Nazriel!!" Protesnya merasa kesal karena sang adik yang semena-mena memasuki ruangan kerjanya.
Ia berdiri dari duduknya, meraih ipadnya yang terjatuh kemudian menaruh kembali di atas meja kerjanya. Berganti menatap Renaldi yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lo yang ngirim mereka?!" Tak mempedulikan nada bentakan dari Sadam. Wajahnya merah padam, ditambah dengan bekas-bekas luka yang diterima oleh pria itu.
"What's wrong with you?!!"
"Apa lo yang kirim orang-orang dari perusahaan kita ke perusahaan yang lain?!" Tanyanya lagi. Nada bicaranya yang tinggi dan tak kunjung memelan membuat Sadam kesal mendengarnya.
"Lo ngomong apa sih!? Gak paham gue." Balasnya tak kalah kencang.
Renaldi mengabaikan ucapan Sadam yang menurutnya akan sia-sia. Ia beralih menuju meja kerja Sadam, meraih telepon yang menghubungkan langsung ke meja sang sekertaris. Sadam hanya diam memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh adiknya.
"PANGGIL SEMUA DEWAN PENTING PERUSAHAAN, SEKARANG!!!" Bentak Renaldi dengan sangat kencang. Membentak sekertaris pribadi Sadam.
"Heh lo jangan semena-mena, Riel!! Lo tau kan sekarang udah waktunya jam pulang. Gila lo!! Ada apa sih sebenernya!!?" Sadam mendorong bahu Renaldi dengan kencang. Awalnya ia memang membiarkan adiknya untuk melakukan apa yang ingin dilakukan, namun jika itu merugikan orang lain, Sadam tak bisa membiarkannya.
Dengan cepat Renaldi menepis tangan kakaknya dari bahunya. "Lo tau," ia mengangkat sebuah dokumen bersampul merah ke udara, menunjukkan ke arah Sadam. "Siapa yang suruh kayak begini, hah!!?" Ia melempar dokumen tersebut di atas meja kakaknya. Menyuruh untuk membaca dokumen tersebut. Karena sudah enam bulan terakhir Sadam-lah yang memimpin jalannya perusahaan mereka.
"MZK Company? Malayeka Company? Lo gak salah kan Riel?!" Sadam berucap sinis. Kemudian terkekeh karena merasa adiknya melakukan kesalahan.
"Gak ada yang lucu di sini! Baca!!"
Sadam kembali membaca isi berkas tersebut. Dengan mulutnya yang mengumpati Renaldi karena tidak sopan padanya. Detik berikutnya umpatan kecil dari mulut pria itu berhenti. Keningnya kembali berkerut membaca inti masalah yang disebabkan oleh perusahaannya. Ia mendengak menatap Renaldi dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya.
Ia tertawa hambar. "Lo gak bercanda kan, Riel?" Tanyanya, berharap Renaldi mengatakan 'Iya'. Namun nyatanya tidak, Renaldi justru menggeleng sebagai jawaban.
Brraak!!
Ia bangkit kembali dari duduknya. Menggebrak meja kerjanya dan menatap adiknya. "Umi bakal marah kalo tau."
"Siapa yang ngelakuin ini, NAZRIELL!!" Bentaknya ikut emosi. Ia menatap Renaldi, berharap pria itu juga tau siapa yang melakukan hal itu atas nama perusahaannya.
"Karna itu gue samperin lo, njirr. Lo yang mimpin perusahaan ini, tapi lo gak tau?! Ngapain aja lo! Kalau kayak gini bakal berdampak juga ke perusahaan kita!!"
"Bacot lo!!" Sadam menatap nyalang adiknya yang menyalahkan dirinya. "Gue tau, gak usah sok ngajarin gue, lo!!" Sambungnya kembali.
Tok! Tok! Tok!
Perhatian keduanya teralihkan. Menatap pintu masuk ruangan Sadam yang diketuk dari luar.
"Permisi Tuan Sadam, Tuan Nazriel, saya sudah membawa para dewan yang anda minta."
"Masuk!" Titah Sadam cepat.
Satu persatu orang itu masuk ke dalam ruangan Sadam yang cukup luas. Ada sekitar sepuluh orang lebih yang masukke dalam ruangan Sadam.
Si pemilik ruangan langsung mengambil berkas yang adiknya beri tadi dan memberikannya pada sang sekertaris.
"Baca!" Tanpa menunggu perintah kedua, sang sekertaris mulai membaca isi berkas tersebut dari dalam hati. "Cari inti masalahnya, baca yang keras!!" Perintah Sadam kembali. Meninggikan suaranya, membuat dewan-dewan penting di perusahaan mereka menunduk takut.
Ia mengangguk. Mulai membaca cepat dan mencari inti dari berkas tersebut. "…Sejak bulan Januari lalu, saham menurun pada kedua perusahaan Muzzaki dan Malayeka sebesar 4,5% setiap bulannya karena-"
"Ah sudah!!" Renaldi menarik paksa berkas tersebut. Melempar ke sembarang arah dan menatap dewan-dewan yang masih senantiasa menunduk takut.
"Siapa yang menyamar di perusahaan mereka?!" Tanya Renaldi menatap tajam. "Siapa yang menyusup ke dalam perusahaan milik Muzakki dan Malayeka!! JAWAB SAYA, KALIAN BISA BICARA KAN?!!!" Renaldi kembali berbicara ketika tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Mereka justru terdiam.
"JAWAB CEPAT!!" Sadam membentak mereka. Membuat ketakutan tersendiri dalam diri mereka.
"Sa-saya Tuan," ucap salah satunya mengacungkan diri.
Kedua kakak beradik itu menoleh ke sumber suara. Melihat seorang pria setengah baya yang sudah lama bekerja di perusahaan mereka.
Rahang Renaldi mengeras. Mendekati pria itu dengan hati yang terasa memanas. "Siapa yang memerintah anda?" Tanyanya menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Terdengar sangat menakutkan di telinga pria setengah baya itu.
"Atas perintah dari siapa?"
"Tu-Tuan Hilmi, Tuan Hilmi yang menyuruh saya." Balasnya dengan suara yang bergetar ketakutan.
"Sudah berapa lama? Sejak kapan? Jelaskan tujuannya!" Kini Sadam yang beralih bertanya. Memejamkan matanya mencoba meredakan amarahnya
Ia menunduk takut sebelum menjawab. "Sejak tiga tahun yang lalu Tuan. Saya cuma di suruh Tuan Hilmi saat itu. Orang suruhan saya yang setiap hari kasih informasi ke saya untuk dilaporkan langsung ke Tuan Hilmi." Balasnya sedikit gugup.
"Sampai sekarang?" Dengan cepat pria setengah baya itu mengangguk.
"Abi…" gumam Renaldi dengan tangan yang terkepal. Ia langsung berjalan cepat keluar ruangan, membuka pintu dan kembali menutupnya dengan dibanting.
"Cepat keluar!" Suruh Sadam ketika melihat kepergian sang adik. Menurutnya Renaldi sangat tergesa-gesa, padahal mereka belum ada rencana yang matang setelah ini.
"Dan anda, urusan kita belum selesai!" Sadam menunjuk pria paruh baya itu dengan tatapan tajamnya.
Sadam meraih kunci mobil, ponsel serta berkas yang Renaldi lempar sebelumnya. Menatap sang sekertaris sebelum keluar dari ruangannya. "Dika, urus mereka semua dan kunci kembali ruangan saya!" Ucapnya sebelum benar-benar keluar. Segera mengejar langkah sang adik yang sudah lebih dulu keluar.
"Kenapa kau selalu berulah, Abi!!"