
Dua pria yang baru saja bertengkar itu masih saja menunduk. Sudah lima menit lebih mereka menunduk malu tanpa bicara sedikitpun. Justru keduanya saling menyalahkan.
Daffa juga masih setia menunggu tujuan mereka berdua datang mencari Shasha. Tangan kekarnya mengusap puncak kepala anak pertamanya dengan penuh kasih sayang. Sesekali Daffa juga mengecup ataupun mencubit pipi Shasha dengan gemas. Masih tak percaya dengan anaknya yang telah beranjak dewasa. Rasanya baru kemarin ia menggendongnya dan mengajaknya bermain, tapi sekarang anaknya itu sebentar lagi akan lulus dari dunia perkuliahan.
"Ayah…" rajuk Shasha menyingkirkan tangan Ayahnya yang mencubit pipinya berkali-kali. Ia tak suka diperlakukan seperti itu oleh Ayahnya. Entah mengapa rasanya Shasha ingin hilang saat itu juga karena sikap Ayahnya. Ia malu karena merasa tak cocok untuk anak seusianya masih diperlakukan demikian.
Daffa tersenyum tipis melihatnya. Mengikuti apa yang Shasha inginkan, yaitu berhenti mencubit pipinya.
"Jadi, apa tujuan kalian?" Tanya Daffa kembali pada topik pembicaraan utama mereka sebelumnya.
"Emm…"
"Abi ngajak keluarga Om ke rumah kita untuk makan malam bersama" sambung Renaldi frontal. Sadam menoleh dan memberi tatapan tajam pada adiknya itu.
"Apa?" Tanpa rasa bersalah Renaldi justru bertanya balik. Sadam hanya menghela nafasnya karena tak tau lagi harus memberi pengertian seperti apa pada adiknya yang bobrok itu.
Daffa mengangguk beberapa kali. Ia fikir ada hal penting yang ingin Sadam katakan pada Shasha. "Oke, nanti malam kami akan datang. Lalu, ada urusan apa kalian pada Shasha?" Tanya Daffa kembali. Merasa belum puas atas jawaban yang diberikan.
"Emm… Itu Om-"
"Ada yang pengen dibicarain Om. Saya mah gak tau pasti. Tapi kalau gak salah ada kaitannya sama anak Om." Balas Renaldi lagi-lagi yang asal berbicara. Bahkan ucapan Sadam dipotong oleh Renaldi karena menurutnya terlalu lama menjelaskan.
Plak!
Sadam memukul kepala Adiknya dengan kesal. Tak terlalu sakit, namun menimbulkan suara di dalam ruangan yang sepi. Renaldi menatap tajam ke arah Sadam. Tak terima apa yang baru saja Kakaknya itu lakukan padanya.
Plak!
Renaldi membalas balik pukulan yang sebelumnya diberikan oleh Sadam kepadanya. Lagi-lagi perkelahian antar saudara pun terjadi. Baik Daffa maupun Shasha hanya mampu mengehela nafas melihat keduanya. Shasha sendiri tak terlalu peduli mengapa namanya disangkut pautkan dengan Sadam.
"Kalian bisa berhenti?!"
Keduanya dengan segera memberhentikan perkelahian yang terjadi untuk yang kedua kalinya. Saling menunduk karena merasa bersalah.
"Maaf, Om"
"Kalau begitu, kita pamit" sambung Sadam yang langsung berdiri dari duduknya. Ia sudah sangat malu untuk menunjukkan mukanya di tempat ini.
Melirik ke arah Renaldi yang masih setia dengan duduk manisnya. "Nazriel ayo!" Ucap Sadam menarik hoodie yang Renaldi kenakan. Memang adiknya itu tak bisa diajak bicara dengan baik dan benar.
Karena hoodie yang ia kenakan ditarik, mau tak mau ia ikut berdiri. "Apaan sih?!" Keluh Renaldi pada Sadam.
"Pulang!"
"Nggak! Gue mau tanya alamat rumah my sweety!" Tolak Renaldi langsung. Ia membuang mukanya dari hadapan Sadam. Seperti anak kecil yang sedang merajuk saat itu.
"Pfft…" Shasha menahan tawanya yang sedari tadi ia coba tahan. Heran dengan hubungan Kakak dan Adik itu yang suka sekali bertengkar memperebutkan hal aneh. Berbeda sekali dengan Shasha dan adik-adiknya yang jarang sekali bertengkar.
Sadam tersenyum pada Daffa dengan tangan yang masih memegang kerah baju milik Renaldi. "Pulang!!" Omel Sadam seperti sedang memarahi anaknya yang tak ingin nurut dengannya.
"Permisi, om. Assalamualaikum" ucap Sadam yang langsung menarik hoodie yang Renaldi kenakan. Menyeretnya hingga ke pintu keluar.
"Waalaikumsalam"
Daffa dan Shasha mengikuti langkah kedua pria tersebut hingga sampai di teras. Melihat Sadam yang memasukkan Renaldi dengan paksa ke dalam mobil yang mereka bawa. Buru-buru Sadam memutari mobilnya dengan berlari menuju kemudi supaya Adiknya tak membuat ulah.
Belum sampai pada pintu mobil, Renaldi kembali keluar dan berjalan mendekati Shasha. Sadam menggeram karena Renaldi yang sangat sulit diatur.
"Nanti lo bilang ke Alma ya? Gue, Nazriel Renaldi At-Thariq nunggu balesan chat dari dia,"
"Oh ya, minta nomor lu buat tanya alamatnya my sweety nanti" sambung Renaldi seraya meronggoh kantung hoodie yang ia kenakan. Mengeluarkan sebuah benda pipih yang biasa disebut dengan smartphone ataupun ponsel.
Grep!
Hoodie yang Renaldi kenakan kembali digenggam oleh Sadam dari belakang. "Gue bilang pulang, ya pulang!!" Kecam Sadam tepat di telinga sang Adik.
"Tunggu Bang, tunggu!" Renaldi melepaskan tangan Sadam yang sebelumnya memegang hoodie bagian lehernya.
"Gece Sha!" Ucap Renaldi menyerahkan ponselnya pada Shasha.
Karena tak ingin ambil pusing, Shasha menuruti pernintaan pria yang seumuran dengannya itu. Memberikan nomor ponselnya pada Renaldi dan menyimpannya pada daftar kontak pria tersebut.
"Udah kan? Ayo!" Ucap Sadam kembali menyeret adiknya. Memasukkan secara paksa ke dalam mobil yang ia bawa dan dengan segera berlari menuju kemudi. Namun sebelumnya juga ia meminta maaf pada Daffa dan Shasha yang membuat ruangan sekitar menjadi berisik karena mereka berdua.
Setelah itu mobil melaju dengan cepat. Keluar dari pekarangan mewah milik orang tua Daffa. Dengan rasa malu yang masih tersisa pada Sadam. Sedangkan Renaldi tengah berbahagia karena sebentar lagi ia akan mengetahui keberadaan rumah orang yang beberapa bulan ini ia suka.
Sudah beberapa kali ia lacak keberadaan Alma tapi tak pernah sekalipun ia berhasil. Nomornya Alma masih aktif namun tak sekalipun pesan darinya dibalas oleh Alma. Tentu saja, siapa yang nyaman dengan pria asing seperti itu.
Lagipula keluarga Alma memiliki penjagaan yang sangat ketat. Sampai-sampai seseorang yang berniat jahat tak bisa melacak mereka walaupun nomor yang digunakan masih aktif. Jika saja seorang Renaldi mengetahui hal itu, mungkin pria itu tak akan membuang waktu sia-sia selama empat bulan terakhir hanya untuk mencari keberadaan Alma melalui internet.
Sadam menoleh menatap Adiknya yang masih senyum tak jelas. "Malu-maluin gue aja, lo!!" Kesal Sadam pada Renaldi.
"Bisa jaga dikit gak sih, sikap lo itu?!" Protes Sadam yang masih terfokuskan pada jalanan di depannya, sesekali menoleh pada Renaldi meminta jawaban.
"Woi, budek?!!" Kesal Sadam karena perkataan darinya tak digubris sesikitpun.
"Apa sih?!" Ucap Renaldi bertanya balik. Padahal ia sedang berhalusinasi tentang Alma. Tapi terganggu karena teriakan nyaring dari arah sampingnya.
"Bodo amat." Ucap Sadam pada akhirnya. Memilih menyerah daripada nantinya bertengkar dan membuat hal itu semakin panjang dan ruwet.
Sementara di sisi lain, baik Daffa maupun Shasha dengan kompak menertawakan pertengkaran antara Kakak dan Adik tersebut. Bahkan keduanya sampai dibuat heran karena pertengkaran konyol tadi yang mungkin tak akan ada habisnya sebelum mereka dipisahkan.
__________