SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 56



"Dia…" Ghifari menjeda ucapannya sebentar, meraih senjata api yang dipegang oleh bodyguardnya dan mengarahkannya ke arah Renaldi. "Punya niat lain mendekati kamu!" Sambungnya menatap Renaldi dengan tatapan amarahnya.


Alma diam, ia tak tau harus bereaksi seperti apa. Sampai saat ini pun ia masih tak memiliki rasa khusus untuk Renaldi.


Cetak!


Ghifari menekan pelatuknya perlahan, senjata api itu siap ditembakkan kapanpun sipemiliknya mengizinkannya untuk mengeluarkan peluru di dalamnya.


"Aba!!" Peringat Alma yang takut akan tindakan Ghifari. Kakinya melangkah maju perlahan, dirinya lemas melihat sang ayah ingin menggunakan senjata api itu.


"Lepas Aba!" Pinta Alma menegaskan nada bicaranya. Ia benar-benar takut jika ayahnya melakukan hal itu.


Melihat ketakutan pada wajah sang anak, Ghifari pun menurunkan senjatanya dari arah Renaldi. Sang bodyguard menarik tuannya ke belakang, takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Berdiri tegak dengan senjata yang ditodongkan ke arah pria tadi.


"Maksud Aba tadi apa?"


"Kita harus pergi, Alma!" Tidak menjawab ucapan peryanyaan ang anak, Ghifari justru langsung menghampiri Alma. Meraih pergelangan tangan gadis itu dan berjalan mendekati mobil yang ia bawa sebelumnya. Mau tak mau Alma harus menuruti perkataan sang ayah tanpa menunggu jawaban darinya.


"Tunggu!!" Langkah Alma berhenti membuat sang ayah ikut memberhentikan langkahnya. Alma berbalik menatap Renaldi yang berteriak dengan lantang.


Pria itu berusaha berdiri. Ia ingin menerobos para prua berbadan kekar dengan pakaian serba hitam itu. Namun uasahanya sia-sia, ia tak dapat keluar dari lingkaran orang-orang tersebut.


"Saya mohon om, saya mau bicara dengan Alma…" lirih Renaldi penuh permohonan. Jujur saja ia tak tau apa kesalahannya maupun kesalahan keluarganya pada keluarga Alma.


"Buat apa? Lebih baik kamu pergi dan suruh semua anak buahmu pergi dari perusahaan keluarga kami!" Ghifari berkata sinis, ia berbalik dan melirik Renaldi melalui ekor matanya.


"Apa?" Gumam pria itu terkejut. "Maksud om apa? Saya gak paham." Ia berteriak, memohon agar Ghifari mendengar ucapannya.


"Aba, tolong perjelas ucapannya," pinta Alma, ia memegang bahu sang ayah membuat pria itu menatap anaknya sebentar sebelum kembali menatap Renaldi.


Pria berkepala empat itu menghela napasnya. Beristighfar untuk meredakan amarahnya saat ini. Setelah dirasa sudah cukup, ia kembali menatap sang anak sulungnya.


"Berkas penting perusahaan Aba sama perusahaan yang dipegang Uncle Derya… Dicuri oleh anak buah keluarganya yang selama ini menyamar sebagai karyawan biasa di tempat kita." Ucap Ghifari menjelaskan. Menunjuk ke arah Renaldi yang terkejut mendengar penuturan Ghifari.


"A-apa? Saya gak pernah- arrggh!!" Ia mengacak rambutnya sendiri. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa, disaat ia sendiri tak tau apa-apa.


Ghifari terkekeh kemudian memandang sinis pada Renaldi. "Tak perlu dijelaskan, reaksimu sudah menjelaskan semua." Ucap Ghifari dengan meraih pergelangan tangan sang anak untuk kembali berjalan.


"Tunggu!!"


"Om!!"


"Atas bukti apa om nuduh keluarga saya berbuat seperti itu!!" Renaldi berteriak lantang. Membuat kedua langkah orang itu kembali terhenti.


"Orang suruhan saya tak pernah salah. Butuh bukti? Tanya sama ayah kamu!" Balas Ghifari sedikit membentak.


"Abi saya di dalam jeruji besi, Abi gak mungkin ngelakuin hal itu!" Elak Renaldi tak terima ayahnya kembali disalahkan.


___________


Di dalam mobil yang Ghifari kendarai, pria itu lebih banyak diam. Dari wajahnya, terlihat bahwa sang ayah sedang memendam amarahnya dengan bibir yang terus-menerus beristighfar.


"Aba… Ada apa ini?" Tanya Alma melirih, ia takut untuk sekedar melihat sang ayah, walaupun Ghifari tak melakukan apapun. Tatapannya menunduk ke bawah, meremat jari-jemarinya menandakan ia benar-benar takut dengan perilaku ayahnya.


Ghifari menoleh sebentar sebelum kembali menatap jalanan yang berada di depannya. "Alma, Aba boleh minta sesuatu dari kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan dari sang anak, Ghifari malah menanyakan hal lain padanya.


Alma hanya mengangguk memberikan jawaban, tapi Ghifari dapat melihat pergerakan Alma yang mengangguk. "Bantu apa, Ba?" Diiringi dengan pertanyaan dari Alma kembali.


"Kamu kembali ke Turki, kendalikan perusahaan keluarga Ane agar kembali seperti semula."


Alma langsung menoleh terkejut. "B-berapa lama Ba?"


"Sampai semuanya memulih. Kamu tau kan, Enver gak mau ngelanjutin Malayeka Company. Kakak sepupu kamu malah milih jurusan hukum untuk jadi jaksa." Ghifari memperjelas ucapannya. Berharap sang anak mau menuruti keinginan seluruh keluarganya.


"Tapi… Kuliah Alma gimana? Alma juga punya bisnis di negara ini, Aba," Gadis itu menahan suaranya agar tidak berteriak pada Ghifari. Tapi ia menatap dalam sang ayah, berharap ayahnya itu dapat mengubah keputusannya.


Tak lama Ghifari menepikan kendaraan yang ia bawa. Menghela napas sebentar kemudian menatap kembali putri sulungnya. "Alma tetep bisa ngelanjutin kuliah. Alma bisa lulus melalui sistem daring. Alma gak perlu takut untuk mengulang materi yang selama ini udah kamu pelajarin, sayang," Ghifari mengusap lembut puncak kepala sang anak. Berharap putrinya dapat mengerti apa keinginan keluarganya.


"Alma juga pasti paham betul tentang masalah ini, iya kan? Kamu selalu mempelajari materi tentang perusahaan di kampus, dan pastinya Enver bakal bantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini." Sambung Ghifari kembali.


Terjadi keheningan sesaat setelah Ghifari mengatakan hal tersebut, namun tak berapa lama Alma membuka suaranya. "Apa separah itu, Aba?" Tanyanya memastikan. Ayahnya itu tak pernah meminta apapun darinya, tak pernah menuntut apapun juga darinya, mungkin untuk hal ini… akan Alma pertimbangkan kembali permintaan dari sang ayah.


Perlahan sang ayah mengangguk membenarkan. "Berkas kerjasama klien kita dibobol sama mereka. Mereka menyalin ulang berkas itu dan bergerak cepat mengambil alih hak kita. Awalnya Aba pikir itu hanya sebuah kebetulan, tapi sudah setengah tahun penghasilan kita semakin menurun dan Aba yakin pasti ada yang tidak beres,"


"And then, dugaan Aba benar."


"Apa MZK Company juga seperti ini?" Ghifari langsung mengangguk menjawab.


"Kalau begitu, siapa yang akan mengurus itu di negara ini?"


"Ada Aba, Om Rayhan dan Arkan. Kami rasa itu sudah cukup. Sedangkan di Turki, hanya ada Uncle Derya dan Aunty Rika yang sedang berjuang di sana. Kamu mau kan?"


Gadis itu memejamkan matanya sekejab. Ia menyandarkan punggung serta kepalanya di sandaran kursi mobil. Tak lama ia kembali membuka matanya. Menoleh pada sang ayah yang masih setia menatap penuh harap pada anak sulungnya.


"Iya Aba, Alma akan kembali ke Turki. Tapi Alma langsung kembali ke sini setelah semuanya selesai." Ghifari mengangguk menyetujui. Tak apa, setidaknya Alma sudah mau mengikuti permintaannya.


"Kita langsung ke bandara, Aunty Ilza sudah menunggumu." Ucap Ghifari kembali menjalankan laju kendaraan yang ia bawa. Sedangkan Alma hanya mengangguk lemah. Seharusnya ia mendatangi rumah sahabatnya saat ini, namun mengapa rencananya menjadi sangat berantakan seperti ini? Ditambah dengan kepergiannya yang sangat tiba-tiba ke tanah kelahirannya untuk memperbaiki semuanya. Bahkan ia belum berbicara apapun pada Shasha, ia takut kehadirannya sangat ditunggu, mengingat Shasha yang selalu mengingatkannya akan hari ini.


Tangannya mengepal di balik tas sling bagnya. 'Tak puas kah keluarga mereka setelah ingin menghancurkan Shasha?!' Batinnya berteriak meronta. Hatinya memanas karena ulah keluarga Renaldi-lah, dirinya harus kembali ke tanah kelahirannya. Akan ia pastikan setelah dirinya kembali ke negara tempat tinggalnya, ia akan melakukan hal yang sama pada keluarga At-Thariq. Janjinya pada diri sendiri.


__________


Insyaa Allah besok aku bakal up 2 bab lagi, pengganti yg kemaren2. Ditunggu yaa