
Satu persatu orang berhambur pulang. Setelah ijab qabul telah ucapkan, banyak para tetangga dan kerabat berpamitan pulang. Menikmati acara yang sangat-sangat singkat, namun sangat berharga.
Shasha sendiri masih termenung memikirkan hari. Matanya masih menatap tak percaya. "Indah banget mimpiku" gumam Shasha. Duduk di atas sofa panjang dan memegangi kepalanya.
Dagu Shasha ditarik perlahan, kepalanya langsung menoleh mengikuti pergerakan dari tangan yang menarik dagunya. 10 cm di depan wajahnya, Ghibran sedang tersenyum ke arahnya. "Mimpi? Apa perlu aku cium untuk membuktikan kalau ini bukan mimpi?" Suara Ghibran terdengar seperti menggodanya. Membuat wajah Shasha merah seperti kepiting rebus. Detak jantung wanita itu berdetak tak karuan, napasnya tertahan karena wajahnya dan Ghibran berjarak sangat dekat.
"Ekkhemm!"
Keduanya menoleh, menjauh satu sama lain dan melihat siapa yang berdehem di depan mereka. "Kalian bisa lanjutin di kamar." Lanjutnya ingin berbalik tapi oleh Ghibran ditahan. Sedangkan Shasha menunduk malu, wajahnya semakin memerah karena malu.
"Gue banting tau rasa lo!" Ancam Ghibran tak serius.
"Aww, polisi diancem sama pengantin baru. Takut ah," ledek orang itu kembali.
"Rean Hasan, Abang gue, anak Om gue, please lah ya jangan ganggu gue. Kalo mau ngomong sesuatu bilang, gak usah banyak drama!" Kesal Ghibran pada pria yang berada di depan nya.
"Eh gak boleh gitu! Itung-itung kan lumayan nikahan di datengin sama jendral polisi." Pria itu menepuk dadanya bangga dengan pangkat yang ia raih di dunia kepolisian yang memiliki tingkat tertinggi.
Rean Hasan-pria berumur 33 tahun, dengan kemampuan yang tinggi di bidang pertahanan pria itu mampu mencapai tingkat tertinggi di dunia kepolisian. Hingga di umurnya yang baru menginjak 33 tahun itu sudah menjadi pemimpin di sebuah kepolisian. Panggil saja Hasan, ia adalah Kakak sepupu Ghibran. Datang ke tempat tersebut karena tugas yang ia dapatkan dari Ghibran. Awalnya tak begitu percaya hingga pada akhirnya mereka menyerahkan bukti-bukti tersebut.
"Aelah, kalau bukan karena gue juga lo gak bakal percaya!" Ucap yang lain nya. Merasa percuma memiliki jabatan yang tinggi jika laporan dari mereka tak segera diproses.
"Bukan gitu! Lo berdua kan suka jail sama gue, karena itu gue gak mudah percaya sama kalian." Ucap Hasan beralibi, tak terima dirinya disalahkan.
"Seorang Ibra gak mungkin bohong tentang itu. Gue pengacara profesional yang gak mungkin main-main tentang hukum keadilan!" Balas pria itu bersedekap dada. Ikut menyombongkan profesi yang ditekuni pria itu.
Shasha memberanikan diri menatap kedua pria yang sedang bertengkar itu. Terlihat keduanya tak ada yang ingin mengalah dan makin menyombongkan diri. Adu mulut terjadi hingga keduanya terlibat sebuah perkelahian kecil.
"Heh, stop!!" Bentak Ghibran yang frustrasi melihat dua pria di depan nya bertengkar seperti anak kecil.
"Kalian gak malu berantem? Yang satu jendral, satu lagi pengacara, kok keliatan nya gak ada yang bener?!!" Sambung Ghibran bermaksud agar keduanya mengintropeksikan diri.
Keduanya menunduk, saling menyenggol lengan satu sama lain dan saling menyalahkan. Seperti seorang anak yang sedang dimarahi oleh orang tuanya. Ghibran menghela napas panjang, bingung dengan kedua orang tersebut. Dari sana membuktikan, yang tua belum tentu dewasa begitupun sebaliknya.
Ghibran menoleh ke arah Shasha, istrinya itu masih menatap bingung ke arah kedua pria yang sedang berdiri dan menunduk. "Oh iya. Sha, kenalin mereka sepupu aku. Ini Bang Hasan, yang ini Bang Ibra-adeknya Bang Hasan." Ghibran menunjuk satu-persatu orang yang berada di depan nya. Memperkenalkan kedua sepupunya pada sang istri yang ia yakin belum mengenali kedua pria itu.
Ibrahim Rean, pria berusia 27 tahun yang memiliki profesi sebagai seorang pengacara. Tak ingin tertinggal jauh dari Kakaknya yang terjun ke dalam dunia kepolisian. Tak jauh dari profesi Ayah mereka yang bekerja menjadi seorang jaksa hukum. Ingin menegakkan keadilan dengan cara mereka masing-masing.
Shasha berdiri dari duduknya, memberi senyum ramah pada kedua Kakak sepupu Ghibran. Menangkupkan kedua tangan nya di depan dada.
"Dah ya, gue mau balik ke dinas. Selamat atas pernikahan lo. By the way, Nyokap sama Bokap belum tau nikahan lo, resepsi jangan lupa undang!" Hasan berlalu setelah mengatakan hal itu. Pergi dari rumah mewah dan megah Shasha. Mendapatkan panggilan dari dinas kepolisian untuk segera kembali menjalankan tugasnya.
Shasha menatap Ghibran intens, seperti sedang menginterogasi suaminya. "Kamu berhutang penjelasan atas kejadian hari ini sama aku!" Shasha mengerutkan alisnya, menyipitkan pandangan nya dan menatap ke arah Ghibran. Pria itu tersenyum, mengangguk dan langsung mencium singkat pipi Shasha, membuat istrinya itu langsung bersemu merah karena ulah Ghibran.
__________
Flashback
Di sebuah bangunan tinggi bercat abu-abu dan hitam, Ghibran berjalan memasuki gedung tersebut bersama dengan Ibra, sang Kakak sepupu. Membawa sebuah map-map berisikan dokumen penting dan membawanya ke dalam gedung polisi tersebut.
Melaporkan masalah itu kepada salah satu polisi yang sedang bertugas. Dan kebetulan sekali, Hasan berjalan melewati Ghibran dan Ibra. Seluruh polisi junior yang berada di tempat itu berdiri, menyambut kedatangan sang pemimpin ke tempat mereka yang sangat tiba-tiba. Namun langkahnya terhenti ketika mengenali dua orang itu, ia berbalik ingin memastikan bahwa yang ia lihat adalah orang yang sama dalam pikiran nya saat ini.
"Tuh kan betul. Ada apa ke sini?" Tanya Hasan langsung pada intinya.
Ibra membuka mulutnya, ingin memberitau tujuan mereka, namun ucapan nya terhenti ketika tangan Kakaknya terangkat. "Bicarain di dalem!" Ucap Hasan dengan berlalu. Berjalan di depan dan masuk ke dalam ruangan khusus miliknya.
Kedua pria itu duduk di depan Hasan. Menceritakan apa yang ingin Ghibran sampaikan. Ucapan panjang lebar dari Ghibran hanya dibalas tawa yang menggelegar memenuhi ruangan pria itu. Merasa tak yakin jika ada orang seperti itu dan menjebak sebuah keluarga kaya raya hanya karena perjodohan yang tidak jelas.
"Gue serius, Bang" Ghibran menatap datar. Tersinggung jika ucapan nya hanya dianggap sebagai bualan semata mencari sebuah hiburan.
Tubuh Hasan langsung duduk tegap, yakin jika yang adik sepupunya katakan itu adalah kenyataan. Ia sudah sangat kenal dengan Ghibran, adik sepupunya itu akan berubah sangat drastis sikapnya ketika ucapan nya tak dianggap serius. "Serahkan bukti-buktinya!" Suruh Hasan. Menatap sang adik-Ibra yang memegang sebuah map. Ia yakin bukti-bukti itu berada di tangan adiknya yang berstatus pengacara.
Hasan membaca isi surat itu sebentar dan mendengarkan kumpulan chip yang merekam suara orang-orang yang menjebak itu. Tak sampai selesai, pria yang berprofesi sebagai jendral polisi itu sudah dapat menyimpulkan nya. Benar yang dikatakan oleh Ghibran, keluarga bermarga Arian dijebak oleh salah satu petinggi perusahaan.
Hasan berdiri, meraih senjata api yang terletak dalam ruangan nya. Bersiap dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Dari semua yang ia dengar, keluarga itu memiliki banyak mata-mata dan pengawal yang selalu menyekap keluarga Arian hingga tak bisa memberikan mereka sebuah kebebasan hingga kemanapun mereka pergi selalu diikuti.
"Kemana Bang?" Ghibran menahan pergerakan tangan kakak sepupunya, begitupun dengan Ibra yang bergerak cepat menahan pergerakan kakaknya, takut ada hal berbahaya selanjutnya yang akan terjadi.
"Kepung mereka"
"Jangan!!" Baik Hasan maupun Ibra terdiam. Menatap heran ke arah Ghibran sekaligus terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ghibran. Lalu untuk apa pria itu melapor? Batin mereka masing-masing.
"Besok! Besok lu sekap mereka di alamat ini," Ghibran menyerahkan alamat rumah milik keluarga Shasha. Hasan melihat ke arah tangan nya, membaca alamat tersebut.
"Kenapa gak sekarang?"
"Gue nikahnya besok" balas Ghibran jujur.
"NIKAH?!!!" Kompak keduanya karena sangat terkejut sekaligus bingung sebenarnya apa maunya Ghibran. Bahkan kedua pria itu tak diberi tahu tentang hari penting adik sepupunya mereka itu.