
Sebuah mobil berwarna hitam melaju mengikuti kemanapun Rayyan pergi. Rayyan, pria itu sendiri sudah menyadari kalau salah satu mobil yang mengikutinya dari tadi adalah mobil yang sama seperti sebelumnya. Perlahan Rayyan menepikan motornya membuka sebentar helm fullface yang ia kenakan dan menyalakan bluetooth handsfree yang sudah bertengger apik di telinganya sedari tadi. Menghubungi seseorang untuk dimintai bantuan.
Panggilan telepone masih mencoba memanggil orang dari seberang. Kembali memakai helm nya dan memutar gas motornya. Berjalan dengan sangat cepat agar mobil yang mengikutinya mulai terkecoh.
"Mereka ngikutin gue. Halangi mereka!" Suruh Rayyan tanpa basa basi. Langsung mengatakan apa tujuan ia menghubungi orang itu.
"Oke." Jawaban singkat itu memberi kepastian untuk Rayyan bahwa orang-orang penguntit itu akan segera tersingkirkan.
__________
Di sebuah cafe bergaya klasik-modern, seorang pria memakai jaket kulit memasuki cafe tersebut. Sebuah bagunan mewah dengan dua lantai yang tersedia. Tempat yang sangat sering dijadikan tempat perkumpulan para anak-anak muda. Rayyan, pria itu masuk ke dalam cafe dan mencari seseorang yang sudah memiliki janji dengannya untuk bertemu.
Tangan orang yang ingin Rayyan temui melambai ke arahnya, meminta agar Rayyan menghampiri pria itu. "Gimana?!" Tanpa banyak bicara, Rayyan langsung masuk ke dalam inti pembicaraan mereka.
"Gue belum dapet info yang jelas. Tenang aja, alat yang lo taro masih berfungsi. Dia gak bakal tau kalau lo naro alat itu di ruangannya."
"Aishh…" Rayyan mendesah pelan. Memang untuk mendapatkan percakapan penting itu harus lebih bersabar. Sehari bukanlah waktu yang tepat untuk mendengar suara percakapan penting mengenai perjodohan itu.
"Kakak gue sampe hancurin hp nya karena di hack sama dia." Rayyan bercerita. Menatap lurus ke arah luar. 'Dia' yang Rayyan maksud adalah Sadam, pria yang sudah sangat berani mengganggu kehidupan Kakaknya.
"Tadi dia bilang maaf, gak tau ke siapa. Gue lagi di luar, jadi kurang jelas sama ucapannya."
Tubuh Rayyan langsung tegap, mulai sangat yakin jika Sadam sedang membongkar satu-persatu tentang perjodohan itu tanpa ia sadari. "Kejadian nya sekitar jam berapa?" Tanya Rayyan langsung. Berharap agar pria yang berada di depan nya mengingat kejadian tersebut.
"Tadi, waktu lo hubungi gue. Sekitar dua menit setelah lo telpon gue." Rayyan langsung membuka ponselnya. Melihat riwayat panggilan di ponselnya yang menunjukkan pukul 11. 03 yang berarti kejadian itu tak berselang lama setelah Kakaknya merusak ponselnya.
"Apa lagi yang lo tau?"
Pria itu mengangkat kedua bahunya, tanda tak mengetahui hal lebih selain itu. Rayyan mengangguk samar, mengerti karena kondisi pria itu juga tidak terlalu memungkinkan untuk terus mendengar ucapan Sadam berikutnya. "Gak papa. Yang penting chip perekam suara itu masih berfungsi." Ujar Rayyan.
"Oh ya, orang-orang yang ngikutin lo tadi ternyata mereka juga lagi diikuti. Gue gak tau mereka siapa tapi di alat pelacak gue keliatan nya kayak gitu!" Pria itu kembali memberi informasi. Merasa ada yang janggal dengan kejadian hari ini.
Rayyan tersenyum sinis. Kembali menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi dengan tangan yang melipat di atas dada. "Lo pikir gue bakal diem aja?"
"Jadi… Itu orang suruhan lo?" Tanya pria itu tak percaya.
Rayyan menggeleng pelan. "Bukan, Ayah gue yang ngatur semuanya." Balas Rayyan merasa puas dengan sikap Ayahnya yang bergerak dengan cepat mencari informasi lebih detail tentang Sadam dan keluarganya.
__________
Alma menatap layar ponselnya. Berkali-kali pula ia memukul ponselnya. Merasa ada yang salah dengan benda pipih yang ia pegang itu. Sudah lebih dari 10 panggilan Alma mencoba menghubungi Shasha, namun lagi-lagi suara pria asing itu yang terdengar. Entah ponselnya yang rusak atau memang ponsel milik Shasha lah yang sedang bermasalah.
Akhirnya Alma membongkar asal ponselnya. Mencoba mencari tau bagian mesin rusak yang mana agar ia bisa perbaiki, walaupun Alma tidak terlalu mengerti tentang mesin itu. Selama hampir dua setengah jam lebih gadis berusia 22 tahun itu mencari asal-usul kerusakan pada ponselnya, tapi tak kunjung ia temukan. Mungkin karena memang Alma tak mengerti tentang itu.
"Hei… Kenapa nangis, hmm?!" Alma mendengak. Enver-Kakak sepupunya baru saja datang dan langsung menghampirinya. Tepat di samping pria yang berstatus Kakak sepupunya itu, seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi dengan almameter dokter di lengan pria itu. Ghibran-pria yang memegang almameter dokter itu tengah memandang Alma pula.
"Shasha…" lirih Alma menggantung ucapan nya. Berusaha menghapus air matanya yang masih turun.
"Shasha kenapa?!" Tatapan Alma beralih ke arah Ghibran. Raut wajah pria itu terlihat sangat khawatir ketika ia menyebutkan nama Shasha.
"Shasha gak bisa dihubungi… Setiap Alma telpon yang muncul suara cowok mulu!" Rengek Alma tak tau harus bagaimana. Menatap Enver, berharap mendapatkan solusi dari Kakak sepupunya itu.
"Tunggu, Abang coba hubungi Shasha dulu!" Segera Ghibran meraih ponselnya. Membuka layar kunci dan mencari kontak milik Shasha. Menekan nomor Shasha dan mulai mencoba menghubungi gadis itu.
Tak lama panggilan mulai terhubung. Ghibran bernapas lega setelah panggilan darinya diangkat.
"Halo, Sha!"
"Selamat sore, mantan." Ghibran menjauhkan ponsel dari telinganya. Menatap layar yang menunjukkan nomor dan kontak Shasha, tetapi suara yang terdengar adalah suara seorang pria.
"Anda siapa?" Alis Ghibran mengerut. Pria itu menekan loud speaker agar Alma dan Enver juga dapat mendengar apa yang sedang dikatakan oleh pria yang berada di seberang telepone.
"good question!"
"Perkenalkan, saya Aldiansyah Sadam At-Thariq-calon suami Shasha Sherly Arian." Ucap pria dari seberang itu. Suaranya terdengar seperti sedang memancing amarah Ghibran.
Alma menutup mulutnya. Jadi orang yang Shasha ceritakan padanya adalah orang yang sama seperti beberapa bulan yang lalu. Di pagi hari, di mana Alma datang ke kediaman Shasha dan menemukan pria itu seperti sedang memaksa Shasha.
"Pembohong!" Ghibran tersenyum sinis. Tak percaya dengan yang pria itu katakan padanya.
"Terserah. Sepertinya anda sedang iri karena saya berhasil mendapatkan hati Shasha!" Sadam kembali mencoba memanas-manasi Ghibran.
Dan sepertinya usaha Sadam berhasil, Ghibran mencengkram kuat ponselnya, tak terima mendengar ucapan yang Sadam lontarkan padanya.
"Pembohong!" Alma berdiri, langsung merebut ponsel Ghibran dan berteriak dengan kencang di depan ponsel Ghibran. Tanpa pikir panjang Alma langsung mematikan ponsel milik Ghibran.
Gadis itu langsung berjongkok. Memegang kepalanya dan bergumam-gumam tak jelas. Kemudian Alma kembali berdiri, memberikan ponsel milik Ghibran kepada orangnya. "Shasha dijebak sama orang itu!" Alma menjelaskan. Tak ingin membuat Ghibran salah paham apalagi sampai merelakan Shasha sama pria itu padahal perjuangan Ghibran belum dimulai.
"Dijebak?!" Baik Ghibran maupun Enver terkejut.
"Iya! Sadam, keluarga cowok itu udah buat perusahaan Ayahnya Shasha berada di atas kendali keluarga dia. Mereka ngejebak keluarga Shasha biar anak pertama keluarganya bisa nikah sama Shasha. Katanya itu udah tradisi di keluarganya, tapi kali ini mereka ngincer keluarga yang sederajat sama mereka!!" Jelas Alma panjang lebar. Suaranya menggebu-gebu, dengan semangat menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada kedua orang yang berada di depannya.
"Gilaa tuh orang!!" Enver mengumpati keluarga Sadam. Berdo'a dalam hati supaya mereka segera mendapat balasan secepatnya.
Tatapan Ghibran lurus ke depan. Tangan nya terkepal kuat. Ikut merasa kesal dengan apa yang batu saja Alma ceritakan padanya. "Abang balik, ada urusan!" Pamit Ghibran begitu saja. Meninggalkan Enver dan Alma di sana. Alma-gadis itu menatap punggung Ghibran yang mulai menjauh, merasa kecewa karena ia pikir Ghibran tidak peduli dengan Shasha.