SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 11



Di dalam perjalanan Shasha memegangi pergelangan tangannya yang beberapa menit lalu dipegang oleh Sadam. Saat itu amarahnya benar-benar memuncak karena sikap pria yang semena-mena kepadanya.


"Sha…" panggil Alma yang merasa khawatir dengan Shasha. Sejak memasuki kendaraannya, Shasha hanya terdiam dengan menatap ke arah jendela sampingnya. Tak ada pembicaraan yang biasanya terjadi saat itu.


Siempu namanya menoleh ketika dipanggil. "Kenapa?" Tanya Shasha menatap Alma yang sedang menyetir.


"Kamu yang kenapa? Kok diem aja?"


"Shasha mau marah, tapi ditahan aja biar kayak Alma. Tapi susah ya ternyata?" Ucap Shasha dengan mendengus kesal. Jadi orang penyabar memanglah susah, maka Shasha berdiam diri untuk meredam sedikit kekesalannya pada pria tadi.


Alma terkekeh mendengar keluhan dari Shasha. Ia memarkirkan mobilnya di parkiran kampus lalu menoleh pada sahabatnya. "Lama-lama bisa kok. Yuk turun!" Ajak Alma yang langsung membuka pintu di tempat ia mengemudi.


Shasha memperhatikan Alma yang sudah berdiri di depan dan sedang menunggunya. Helaan nafas keluar dari mulut Shasha. "Oke Shasha, hijrah itu banyak tantangannya. Semangat!" Ucap Shasha menyemangati dirinya sendiri sebelum keluar dari dalam mobil Alma.


__________


Mata kuliah yang hari ini Shasha serta Alma kerjakan telah usai. Hari semakin siang dan terik membuat Shasha serta Alma memutuskan untuk mampir ke sebuah cafe. Letaknya tak jauh dari kampus mereka. Cafe yang memiliki nama Alshah itu adalah cafe milik Alma.


Shasha menatap laptop yang berada di depannya. Saat ini ia sedang menonton sebuah film movie bersama Alma di dalam ruang pribadi Alma.


Tok… Tok… Tok…


Suara ruangan Alma diketuk, membuat tatapan keduanya teralihkan menatap pintu yang diketuk dari luar.


"Alma, ini Bang Ghibran!" Ucap orang yang tadi mengetuk pintu ruangan Alma.


"Oh, masuk aja Bang. Alma lagi nonton" suruh Alma yang sudah nyaman dengan posisi duduknya. Sedangkan Shasha menjadi senyam-senyum tak jelas membuat Alma heran melihatnya.


Ceklek…


Ghibran membuka pintu ruangan Alma. Tatapannya langsung tertuju pada Shasha yang juga berada di ruangan Alma. Kali ini yang membuatnya tertarik melihat Shasha adalah karena gaya pakaiannya yang berbeda dari sebelumnya.


Karena merasa diperhatikan, Shasha menunduk akibat salting. Ia malu sendiri ketika melihat Ghibran dari ekor matanya yang memperhatikannya.


"Eh ada Shasha," sapa Ghibran ramah.


Wajah Shasha semakin memerah karena Ghibran mengenalinya. Tak seperti biasanya ia salah tingkah ketika berhadapan dengan seorang pria, bahkan dengan evan-mantan pacarnya saja tak pernah sedikitpun merasakan seperti itu. Apakah itulah yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama?


Ghibran menggeleng pelan. Ia langsung masuk ke dalam ruangan Alma dan duduk di sofa yang berada di dalam ruangan Alma. "Nggak, saya gak kenal kamu. Saya kenalnya sahabat perempuan adik saya," balas Ghibran gamblang. Sudah jelas Ghibran mengenal Shasha, lalu untuk apa wanita itu kembali bertanya padanya?


"Adik, Pak? Kata Alma, Bapak anak tunggal?" Tanya Shasha kembali. Ia seperti tak paham apa yang dimaksud oleh Ghibran.


"Memang saya anak tunggal, tapi Alma itu seperti adik saya sendiri" ucap Ghibran membanggakan dirinya sendiri. Shasha memgangguk mengerti. Sebenarnya dalam hatinya ada rasa cemburu ketika Ghibran mengatakan bahwa Alma sudah dianggap seperti adiknya. Detik berikutnya Shasha tersenyum karena Alma yang ia pria itu anggap adalah adiknya.


"Oh ya Bang, ada urusan apa Abang kesini? Tumben, biasanya langsung ke rumah" Tanya Alma tak terlalu ingin berbasa-basi. Ia ingin melanjutkan kembali acara menonton berdua dengan Shasha.


"Eh iya bener, Abang lupa. Mamah minta kamu dateng ke rumah Abang. Gak tau mau ngapain. Tadi mau datengin kamu di kelas, taunya udah pulang duluan, jadi kesini deh" ucap Ghibran memperjelas tujuannya kemari.


Alma mengangguk mengerti. Ia menatap Shasha yang telihat lebih murung dari sebelumnya. Alma tau apa yang terjadi pada Shasha. Walaupun Shasha tak pernah mengatakan tentang perasaannya pada Alma, tapi Alma sangat mengenal jelas Shasha sejak kecil. Dan akhir-akhir ini gelagat Shasha aneh ketika bertemu dengan anak sahabat Ayahnya itu.


"Bang, Alma ajak Asha boleh kan?" Tawar Alma dengan senyum yang selalu terpasang di wajahnya. Wajah Shasha sedikit berbinar ketika Alma berniat mengajaknya.


Anggukan kepala Ghibran berikan sebagai jawaban. Tak ada ruginya juga mengajak Shasha dalam acara yang dibuat oleh sang Ibu. Lagipula acara mereka khusus wanita, dan Shasha pun termasuk salah satu dari mereka.


Binar wajah bahagia Shasha terlihat jelas. Ia tersenyum senang ketika Ghibran memperbolehkannya untuk ikut datang. Tapi secepat mungkin Shasha merubah mimik wajahnya, tak ingin terlihat aneh di hadapan keduanya.


"Eh-eh, kenapa Shasha diajak? Emang boleh sama Mamahnya Pak Ghibran?" Tanya Shasha berpura-pura bingung.


"Pertama, Mamah saya itu orangnya welcome banget jadi jangan takut. Kedua, ini bukan kampus jadi jangan panggil saya Bapak, panggil aja Abang kayak Alma panggil saya," ucap Ghibran menjelaskan. Ia sedikit risih ketika dipanggil 'Bapak' jika berada di luar kampus. Padahal tugasnya menjadi dosen hanya karena dosen yang sebelumnya sedang cuti setelah melahirkan, jadi ialah yang menjadi pengganti dosen tersebut.


Lagipula perbedaan umur mereka tak begitu jauh. Hanya terpaut tiga tahun lebih tua dari Alma dan Shasha.


"Oke Pak, eh Bang" dengan tangannya yang memberi tanda hormat Shasha menjawab ucapan sang dosen yang ia suka.


"Jam lima sore, jangan lupa ya" ucap Ghibran sebelum berlalu keluar dari ruangan Alma.


"Iya Bang…" balas keduanya kompak.


__________


Berapa hari aku ga up? Maaf yaa, sebagai tanda maaf aku bakal crazy up spesial tgl 1 Februari krna udh satu thn lamanya jadi penulis di NT😆🥳🥳