
Angin sore menerpa wajah cantik seorang gadis yang baru saja selesai menangis. Menatap ke arah laut yang berada di depannya dengan tangan yang bertumpu pada pagar pembatas.
"Eh, Sha!"
"Shasha!" Karena panggilan pertamanya tidak digubris, pria itu kembali memanggil Shasha. Berlari kecil dengan senyum manis pria itu.
Pandangan nya kosong menatap lurus ke depan. Seolah pendengaran nya tertutup sehingga tak mendengar panggilan suara dari siapapun yang memanggilnya. Pikirannya menerawang jauh dari kenyataan. Tak ingin mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Puk!
Karena panggilan dari pria itu tak direspon sedikitpun oleh Shasha, pria itu menepuk pelan bahu gadis itu. Shasha mengerjapkan matanya beberapa kali. Tersadar dari lamunan jauh yang sedang ia pikirkan. Menoleh ke samping, mencari siapa yang menepuk bahunya.
"Sore, Sha!" Sapa pria itu.
Menatap sinis ke arah pria itu dengan kedua tangan bersedekap dada. "Ngapain lo?" Tanya Shasha ketus.
"Sha… kamu gak papa?" Tangan pria itu terangkat, ingin menyentuh bahu Shasha. Namun, belum sampai tangan pria itu di bahu Shasha, gadis itu sudah lebih dahulu menghindar.
"Pergi!"
"Sha?" Pria itu kembali berjalan mendekati Shasha. Seperti sebelumnya, Shasha selalu menghindar. Satu langkah pria itu maju ke arahnya, maka Shasha akan mundur satu langkah pula.
"Pergi! Gue bilang pergi, ya pergi!!! Lo tuli atau gak punya otak, hah?!!" Hina gadis itu di depan pria yang sedang menatap bingung ke arah Shasha. Tak seperti biasanya gadis itu bertutur kata kasar dan tidak sopan.
"Sha, kenapa kamu begitu? Kamu ada masalah?"
"Gak usah sok peduli sama gue! Dengerin gue Aldiansyah Sadam At-Thariq!! Lo pikir dengan bersikap kayak gitu gue bakal tertarik sama lo?! Mimpi lo!!!" Sinis Shasha pada Sadam, pria yang mendatanginya.
"Kamu… Kenapa?"
"Kenapa? Lo nanya ke gue?! Gila lo!!" Shasha berbalik, berjalan cepat meninggalkan Sadam.
Buru-buru Sadam mengikuti langkah Shasha, menghalangi jalan gadis itu. "Kamu ada masalah apa? Aku salah bicara sama kamu?"
Shasha memutar bola matanya malas. "Lo pura-pura gak tau atau emang bego?!"
"SHASHA!!"
"APA?!! Lo pikir gue mau sama lo, hah?!! SAMPAI KAPANPUN GUE GAK BAKAL MAU DIJODOHIN SAMA LO!!!" Bentak Shasha kencang. Beruntungnya keadaan sekitar sepi.
"Kau tau, kalau kita menikah maka kedua pihak yang akan mendapatkan keuntungan." Bisik Sadam di telinga Shasha. Tersenyum sinis setelah melihat wajah tegang yang Shasha tunjukkan.
"Lagipula kamu gak bakal bisa nolak perjodohan ini. Masa depan perusahaan dan semua keluarga sekarang berada di tangan kamu. Salah bertindak, korbannya bukan hanya keluarga kamu, tapi seluruh karyawan di perusahaan utama Ayah kamu bakal kehilangan pekerjaan mereka dengan massal" ucap Sadam seperti mengancam. Ia bejalan memutari Shasha yang masih memasang wajah yang sangat tak bersahabat.
"Bajingan!!" Bentak Shasha. Melayangkan kaki kanannya ke arah Sadam. Mengeluarkan salah satu jurus bela diri yang selama ini ia pelajari.
Tepat di wajah Sadam kaki Shasha mendarat. Pria itu terjatuh ke aspal dengan posisi badan tengkurap dan wajahnya yang langsung terbentur ke atas jalan karena wajahnya yang baru saja di tendang oleh Shasha. Tentu saja pria iru terkejut karena tanpa aba-aba Shasha menghantam wajahnya begitu saja.
Sadam berbalik, memegangi sisi wajahnya yang terkena tendangan Shasha. Rasanya seperti rahang pria itu bergeser. Ia berdiri kembali, merapihkan pakaiannya yang sedikit kusut dan kotor karena terjatuh. "Bodoh!" Hardik pria itu dengan membuang ludah ke sembarang tempat. Hampir mengenai Shasha yang posisinya tak telalu jauh dengan pria itu.
"Perhitungan akan berlaku… Ingat, kamu gak bakal bisa nolak semua rencana yang sudah Abiku susun karena semua itu sudah diatur dan diperhitungkan jauh sebelum kerjasama antara Ayah dan Abiku berjalan!!" Bisik Sadam kembali memperingatkan. Setelah itu Sadam berbalik dan mulai meninggalkan Shasha di tempat.
Menatap ke arah laut dan berjalan mendekati pagar pembatas. Air matanya kembali mengalir tanpa suara. Rasanya berat sekali cobaan yang menghampirinya kali ini. "AAARRRGGHHH!!!!" Shasha berteriak sekencang mungkin, berharap beban yang dipikulnya kali ini terlepas begitu saja darinya. Memukul-mukuli pagar pembatas yang gadis itu jadikan alat pelampiasan. Tak peduli dengan tangannya yang tergores apapun sampai membuat kulit gadis itu robek dan menimbulkan luka yang sangat dalam. Darah segar mulai mengalir dari tangan Shasha hingga terjatuh ke bawah. Tak merasakan sakit apapun di tangannya yang terluka. Seolah luka di tangannya hanya bagian kecil dari masalahnya saat ini.
__________
Karena merasa tak memiliki arah tujuan, Shasha berkendara dengan asal. Membawa mobilnya berkeliling jalan yang jarang ia lalui. Tak ada niatan sedikitpun untuk kembali ke rumah kedua orang tuanya ataupun Kakek Neneknya. Bahkan panggilan yang sedari tadi masuk ke dalam ponselnya selalu ia abaikan.
Shasha menepikan kendaraan yang ia bawa. Memejamkan matanya yang mulai merasa berputar. Pandangannya tak bisa fokus pada satu arah.
Ponsel miliknya kembali bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Namun lagi-lagi tak ada satupun yang ia jawab. Tak ingin diganggu untuk saat ini sampai ia merasa lebih tenang. Bahkan darah yang tadi mengalir dengan deras sudah mengering di tangannya.
Tok! Tok! Tok!
Kaca mobil diketuk dari luar, membuat Shasha terkejut dan langsung menajamkan penglihatannya. Menatap ke samping kaca di pintu kemudi dan melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya.
"Ray?" Lirih Shasha terkejut karena Rayyan tau keberadaannya. Pria itu memakai hoodie berwarna hitam dengan memegang ponsel di tangannya. Memutari bagian depan mobil untuk bisa masuk ke dalam. Mau tak mau Shasha harus membuka central door lock mobilnya agar Rayyan bisa masuk ke dalam.
Setelah terbuka, langsung saja adiknya itu masuk ke dalam dan menutup kembali pintu mobilnya. Menatap tajam ke arah Shasha. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis pria itu.
Grep!
Rayyan menarik Shasha dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Tak lama terdengar isak tangis Rayyan di telinga Shasha. Sedangkan Shasha sendiri masih mematung tak mengerti. Ini adalah kali pertama setelah 10 tahun lamanya pria itu tak pernah menangis di hadapannya.
Rayyan memeluk Kakaknya dengan sangat erat, seolah tak membiarkan Kakaknya itu pergi kemanapun. Shasha tersenyum tipis, mengangkat tangan kirinya dan mengusap punggung pria itu, mencoba menenangkan dan meredakan tangis adiknya. Tak mungkin juga ia menggunakan tangan kananya untuk mengusap punggung Rayyan karena saat ini tangannya berlumuran dengan darahnya.
Beberapa menit kemudian, barulah tangis Rayyan terhenti. Melepaskan pelukan keduanya dan kembali menatap Shasha. Cairan bening masih tertinggal di ujung matanya. Tangan Shasha terangkat, menghapus air mata di kedua sisi menggungakan kedua tangannya. Saat itu juga, Rayyan terkejut bukan main. Mengambil tangan kanan Shasha yang kembali mengeluarkan darah dan luka robekan itu yang semakin membesar. "Ini kenapa? Siapa yang buat lo begini?!" Tanya pria itu begitu khawatir.