
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
Alma mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia terganggu dalam tidurnya. Posisi tidurnya juga berantakan, senjata api miliknya masih dalam genggamannya, sepatunya pun masih menempel di kakinya.
Dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya, Alma duduk dengan mata yang masih terpejam. Meraba-raba mencari ponselnya yang sedang mengisi daya sebelum ia tertidur.
Tanpa melihat nama kontak yang menghubunginya, Alma langsung mengangkat begitu saja. "Ya, halo?" Tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Assalamualaikum." Ucap di seberang sana.
Gadis itu menguap sangat lebar dan langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. "Hmm, waalaikumsalam." Balasnya pelan.
"Kamu di mana?"
"Ini siapa sih? Ngantuk tau!" Ia mengucek kedua matanya. Mencoba memfokuskan pandangannya. "Cepet bilang mau apa!" Ucapnya lagi membentak, ia kesal karena orang tersebut tak kunjung memberikan jawaban.
"Cepet keluar, Abi mau bicara sama kamu!"
Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap ponselnya yang masih buram di penglihatannya. "Abi? Halo? Ini Abi?" Tanyanya pada seberang telepon. Namun telepon tersebut sudah lebih dahulu dimatikan.
Ia melempar asal ponselnya, kesal karena waktu tidurnya terganggu. Berjalan menuju kamar mandi dengan menggerutu kesal.
Alma, gadis itu memakai kembali hijabnya setelah mencuci wajahnya dan merasa lebih segar dari sebelumnya. Melepaskan sepatu yang menempel di kakinya dan menaruhnya di ujung ranjang dan menggantinya dengan sandal kamarnya.
Ceklek!
Ia membuka pintu dan langsung mengedarkan pandangannya. Apartemennya itu masih gelap, menandakan bahwa Ilza pun belum terbangun.
Gadis itu menyalakan layar yang menghubungkan langsung keluar pintu apartemennya. Matanya langsung membulat sempurna ketika menyadari siapa pria yang berada di depan pintu apartemennya saat dini hari seperti ini. Segera ia berlari dan meraih gagang pintu tersebut, membukanya dengan cepat dan langsung tersenyum dengan rasa bersalahnya pada pria di depannya.
"Hehe, maaf Abi." Ucapnya menyengir, menampilkan deretan giginya yang rapih dengan senyumnya yang manis.
Enver, pria itu berdecak kesal dan menggulungkan kedua tangannya di depan dada. "Kamu membuat Abi menunggu." Ucapnya protes.
Alma mengerucutkan bibirnya, tak terima dirinya disalahkan. "Siapa suruh dateng malem-malem? Alma gak minta untuk dijemput. Kan Alma ke sini karna gak mau ganggu orang-orang yang udah istirahat!" Ucap Alma cepat, mengomeli kakak sepupunya yang tadi menyalahkannya.
Bukannya marah, Enver justru tertawa pelan karena memang ini kesalahannya. "Kan penjaga rumah pagi udah ganti, sekarang waktunya penjaga malem, kamu aja yang banyak alasan biar gak ke mansion langsung kan?" Enver kembali memancing emosi Alma. Ingin melihat sampai mana Alma akan memarahinya.
Alma membuka mulutnya, tak percaya akan ucapan Enver yang menuduhnya. "Terserah! Terserah Abi! Sekarang Abi mau apa? Aunty Ilza masih tidur!" Enver kembali dibuat tertawa karena Alma yang berteriak kesal padanya.
"Ayo pulang, yang lain udah nunggu kamu di mansion." Ucapnya menjelaskan kedatangannya.
Mata Alma memicing menatap kakak sepupunya yang jarak tingginya tak terlalu jauh dengannya, sekitar 10 cm jarak tinggi dengan pria itu. "Aku ngantuk Abi. Abi tau? Aku sampe jam 11 malem, sekarang jam berapa?" Alma memutar tubuhnya mencari jam di sekitarnya.
"Jam 12."
Alma menjentikkan jarinya. "Nah itu, Alma baru tidur satu jam, sekarang masih ngantuk." Ia memundurkan tubuhnya, berniat menutup kembali pintu apartemennya.
Belum juga pintunya tertutup, Enver langsung mendorong pintu tersebut membuat Alma terdorong ke belakang beberapa langkah. Pria itu langsung masuk ke dalam apartemen adik sepupunya. Dan dengan lancang masuk ke dalam kamar Alma.
Alma menghela napasnya, menahan kekesalannya. Detik berikutnya matanya membulat sempurna, teringat akan senjata api miliknya yang tergeletak di atas ranjang miliknya. Kaki jenjangnya segera berlari menuju kamarnya dan memelankan langkahnya ketika Enver sudah memegang senjata api miliknya.
"Apa ini?" Tanya pria itu dingin. Mengelus senjata miliknya dan menarik pelatuknya. Mulut Alma tercekat, ia tak berani mengucapkan sepatah kata pun pada kakak sepupunya. "Buat apa ini, Alma?!" Enver membentaknya. Menekan pemicu pistol tersebut ke arah pintu balkon yang terbuat dari kaca.
Doorr!!
Suara pecahan kaca terdengar sangat kencang. Bahkan Ilza dan kedua bodyguard pria itu langsung datang menghampiri sumber suara.
"Nona ada apa ini?" Tanya Ilza begitu khawatir.
Rupanya suara nyaring yang berasal dari senjata api itu tak membuat Alma gentar. "Hah…" menghela napas dan melempar asal pandangannya. Amarahnya tertahan, tangannya mengepal kuat. Gadis itu terkekeh hambar dan menatap kembali kakak sepupunya dengan tajam.
"Aunty keluar." Ucapnya dingin, tak ingin dibantah. Ilza hanya mengangguk membiarkan Alma menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketiga bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Alma itu keluar dari dalam kamar gadis itu.
Tangannya terangkat hingga tingginya sejajar dengan bahunya. "Berikan." Ucapnya meminta untuk dikembalikan barang miliknya.
"Jawab Abi, buat apa ini Alma!" Bentak pria itu kembali. Namun tak berhasil membuat gadis di depannya takut.
"Berikan Abi!" Pintanya sekali lagi. Menekannya kalimatnya yang terdengar sangat menakutkan.
Hening, Enver tak menjawab ataupun melakukan apa keinginan Alma. Tangannya mengepal menggenggam erat pistol tersebut.
"Sesusah itu kamu menjawab pertanyaan dari Abi? Jangan memancing amarah-"
"Shut up!!!" Sela Alma cepat. "Berikan. Abi gak perlu tau, itu urusan pribadiku." Suaranya masih terdengar sedang menahan amarahnya. Giginya saling bergemeletuk dan matanya memancarkan kebenciannya.
Kening Enver berkerut mendengar ucapan Alma. "Kenapa kamu marah?" Menatap kembali pistol yang berada di dalam tangannya. "Apa kamu pernah membunuh seseorang?" Tanyanya lagi.
"Abi!!"
"Kenapa? Apa Abi betul?" Enver tersenyum miris menduga Alma pernah melayangkan nyawa seseorang.
"Cukup!! Kamu udah keterlaluan!!" Ia melangkah cepat mendekati Enver, ingin meraih kembali senjata api miliknya. Dengan cekatan Enver menjauhkan dari Alma.
"Benarkah?"
Gadis itu menggeram kesal. Mencari cara untuk mendapatkan kembali harta terpentingnya. Tangan kanan Alma bergerak cepat menyentuh leher Enver dengan kedua jarinya, membuat sendi-sendi otot pria itu melemah karena mendapatkan serangan mendadak dari adik sepupunya.
Tentu Alma tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menarik tangan Enver yang memegang senjata apinya, memutar ke belakang hingga pria itu mengaduh kesakitan. Merebut kembali pistol miliknya dan segera menjauhkan tubuhnya dari Enver.
"Kalau kamu ingin tau, akan ku tunjukkan cara memakai benda ini dengan benar," Alma menyentuh permukaan pistolnya. Berbisik dengan suaranya yang terdengar menyeramkan. Gadis itu segera menodongkan pistol tersebut ke arah Enver. Menarik pelatuknya dan siap mengeluarkan isinya.
"Kau bisa jadi bahan percobaanku." Sambungnya menyeringai.
Pria itu mendengakkan kepalanya, saat ini ia jatuh terduduk, sendi-sendinya terasa lemas karena ulah Alma. Tak percaya jika gadis seperti Alma terlihat sangat licik menghadapi musuhnya.
"Abi mau coba?"