SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 6



Di sebuah perusahaan besar, Shasha masuk ke dalam sana. Mobil Shasha masih terparkir di sebelah mobil sang Ayah. Ia mengambil cermin serta beberapa alat make up nya yang ada di dalam tasnya.


Dengan telaten Shasha memoleskan wajahnya. Riasan tipis Shasha lakukan kepada wajahnya. Ia juga meraih pakaian formalnya yang berada di bangku belakang mobilnya. Susah payah Shasha mengganti pakaiannya di dalam mobil. Tak ingin membuat sang Ayah malu dengan pakaiannya yang menurutnya tak cocok digunakan dalam kantor, walaupun Daffa tak pernah mempermasalahkan hal itu.


Setelah selesai Shasha memperhatikan kembali kerapihan dalam pakaiannya serta riasan wajahnya. Perfect, Shasha tersenyum melihat wajahnya yang berada dalam pantulan cermin.


Langkah kaki jenjangnya memasuki perusahaan yang sudah lama berdiri. Banyak karyawan yang memberikan hormatnya kepada Shasha. Ia terkenal dengan kemurahan hatinya, dengan selalu memberikan balasan senyum kepada siapapun yang berbicara dengannya. Berbeda dari sang Ayah yang selalu bermuka datar, apalagi pada karyawan wanita yang berbicara kepadanya.


Shasha menatap kembali ponselnya yang berdering. Ayahnya kembali menghubunginya. Shasha menjawab panggilan dari sang Ayah.


"Kakak udah di depan lift, Ayah. Sebentar lagi masuk ke ruangan Ayah" balas Shasha saat mengangkat panggilan dari sang Ayah. Setelah mengatakan hal itu panggilan kembali dimatikan.


Kaki Shasha berjalan melangkah memasuki pintu lift yang baru saja terbuka. "Huft…" helaan nafasnya terdengar berat.


Tatapannya mengarah ke pintu lift yang menurutnya sangat lama berjalan. Ponselnya masih berada dalam genggaman Shasha, takut Ayahnya kembali menghubunginya. Bibirnya mengerucut ketika Ayahnya menghubungi dirinya disaat yang tidak tepat. "Harusnya aku di rumah Alma sekarang" ucap Shasha cemberut.


Ia ingin seperti Alma, memiliki keluarga konglomerat namun tidak memaksa keturunannya untuk mengikuti jejak para orang tua. Tidak seperti dirinya yang mau tak mau harus menjadi pewaris dari perusahaan Kakeknya. Karena Ayahnya adalah anak tunggal sedangkan dirinya adalah anak pertama sekaligus cucu pertama dari keluarga Ayahnya. Jarak umurnya dengan Rayyan pun terbilang cukup jauh karena adiknya itu masih bersekolah.


Ting!


Lift yang Shasha naiki berhenti di lantai paling atas yang ada di gedung itu. Kaki kanan Shasha lebih dahulu melangkah meninggalkan lift. Ruangan pertama yang Shasha lewati adalah ruangan sekretaris Ayahnya yang secara tak langsung terhubung dengan ruangan Ayahnya.


Pria berkepala tiga yang menjabat sebagai sekretaris Ayahnya berdiri, menyambut kedatangan Shasha dengan hormat. Seperti biasanya, Shasha pun melakukan hal yang sama kepada orang yang telah Ayahnya jadikan sekretaris. Bagaimanapun tingkat jabatannya, pria itu tetaplah orang yang lebih tua darinya, maka Sahsha harus menghormatinya juga.


Ceklek!


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Shasha langsung masuk ke dalam ruangan Ayahnya. Ruangan luas nan megah itu sedang kedatangan seorang tamu. Mungkin mereka adalah klien penting untuk perusahaan mereka.


Sahsha menunduk memberikan hormat juga senyumnya kepada rekan bisnis Ayahnya. Daffa yang melihat kehadiran putri tertuanya itu tersenyum. Ia berjalan mendekati Shasha yang juga tersenyum ke arahnya.


"Perkenalkan, dia putri saya" dengan bangga Daffa memperkenalkan putrinya kepada kliennya.


Pria itu mengangguk. "Ya, saya mengenalnya. Shasha Sherly Arian, anak anda adalah salah satu orang yang masuk ke dalam tiga besar orang terpintar di Indonesia dan berada di urutan kelima di dunia. Benar begitu?" Tanya pria paruh baya itu dengan senyum ramahnya.


Shasha tersenyum ketika mendengar bahwa rekan bisnis Ayahnya sangat mengenal dirinya. Ia mengangguk beberapa kali. "Ya, anda benar. Dia putri saya." Balas Daffa dengan mengusap lembut puncak kepala anaknya. Orang tua mana yang tidak bangga dengan prestasi yang diraih oleh anak-anaknya? Seluruh anak-anaknya berhasil Daffa dan Kania didik dengan baik hingga mereka semua memiliki prestasi yang dapat membanggakan keduanya.


"Saya kagum dengan anak anda"


"Terima kasih"


"Iya, silahkan. Saya ingin berbicara dengan anak saya dahulu" ucap Daffa mempersilahkan. Pria paruh baya itu mengangguk lalu beranjak pergi dari ruangan Daffa.


Shasha menatap kepergian rekan bisnis Ayahnya yang baru saja menutup pintu ruangan Daffa. Setelah yakin sudah benar-benar pergi, Shasha menatap Daffa yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya.


Dengan langkah kecil Shasha menghampiri Daffa yang sedang memakan snaknya yang berada dalam loker meja di depan sofa. "Ayah… Ayah kenapa gak bilang Kakak kalau nanti mimpin rapat?" Rengekan kesal Shasha ucapkan kepada Ayahnya yang sedang bersantai di sofa ruangannya.


"Emang kenapa? Bukannya Kakak sebelumnya pernah mimpin rapat ya?" Daffa bertanya balik kepada anaknya.


"Ayah… Kakak tadinya mau ke rumah Alma…" Shasha kembali merengek kepada Ayahnya, berharap mengizinkannya untuk pergi ke mansion Alma.


Daffa tertawa melihat tingkah anaknya. "Emang Kakak mau ngapain di rumah Alma? Mau liat pengawalnya latihan?" Tanya Daffa terkekeh dengan ucapannya sendiri. Seingatnya Alma, temannya Shasha itu tak mempunyai adik atau teman wanita selain Shasha, lalu apa yang membuat Shasha sangat ingin datang kesana?


"Bukan Ayah… Semua temen Alma sama sepupunya dateng ke rumah dia hari ini. Shasha mau main sama mereka juga" bantah Shasha menjelaskan.


"Alma punya teman perempuan selain kamu? Ayah baru tau"


"Bukan Ayah… Temen sama sepupu Alma semuanya cowok. Ganteng-ganteng loh, Yah. Kakak kan juga mau ada disana" ucap Shasha. Ia sedikit merajuk dengan Ayahnya karena banyak bertanya.


Daffa menaikkan satu alisnya. "Maksud Kakak mau kenalin mereka ke Rayyan? Kasian Rayyan gak ada temennya di rumah" sebetulnya Daffa paham apa yang dimaksud oleh anaknya namun ia sengaja membuat Shasha kesal karena saat itulah Shasha akan terlihat sangat menggemaskan menurutnya.


"Ayah…"


"Sebenernya Kakak mau ngomong apaan sih?"


"Maksud Kakak, disana banyak temen cowoknya Alma. Kakak juga mau kenal sama mereka" perjelas Shasha. Berkali-kali ia mengusap pelan dadanya dan berusaha untuk bersabar menanggapi Ayahnya yang kadang menurutnya menyebalkan.


Daffa menaggguk beberapa kali, pura-pura baru mengerti maksud Shasha. "Ya udah, tapi Rayyan harus ikut. Harus ada yang ngejaga kamu disana" akhirnya setelah pembicaraan yang cukup panjang dan terbelit-belit Daffa menyetujuinya.


"Oke, baiklah. Kakak pergi, ya Ayah-"


"Eh tunggu! Kan Kakak yang mimpin rapat" potong Daffa cepat. Anaknya itu mengira bahwa ia telah diizinkan untuk pulang dan datang ke mansion Alma.


"Tadi kan udah diizinin sama Ayah…" Lagi-lagi mulut Shasha mengerucut kesal.


"Iya, tapi setelah kamu mimpin rapat" ucap Daffa memperjelas.


"Ya udah deh…"