
"Kau tidak pulang lys?" ucapnya melihat lys kembali masuk keruangannya.
"Saya akan menemani anda disini" jawabnya, lalu ia duduk di kursi samping ranjang pasien.
"Kau pasti lelah, saya bisa disini sendiri"
Lys menggeleng "Tidak, biarkan saya menemani anda, saya akan pulang besok pagi"
"Terimakasih"
Lys tersenyum "Tidurlah, saya juga akan tidur di sofa sana"
"Ya" Lys merapikan selimutnya lalu Cassy mulai memejamkan matanya.
***
Keesokan harinya, sesuai ucapan cassy, keen didatangi seorang pengacara di rumahnya pagi pagi sekali, pengacara pria berusia empat puluhan itu mengantarkan surat perceraian padanya.
Keen merasa sangat marah dan tak terima hingga melampiaskan kemarahannya kepada si pengacara.
Ia mencengkeram kerah pria itu karena bersikeras meminta Keen untuk segera menandatanganinya.
"Jika anda memukul saya saya akan melaporkan anda atas tuduhan penganiayaan!" ucap pengacara mengancamnya.
Keen perlahan melepaskannya, ia mengusap kedua tangannya karena merasa kotor setelah memegang pria itu "Saya melepaskan anda bukan karena saya takut dengan ancaman anda! Pergi sekarang juga!!" bentaknya dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
Pengacara itu pun segera mengambil tasnya dan pergi dengan terburu buru.
Seraya menatap punggung pengacara yang semakin menjauh Keen mengepalkan tangannya, lalu ia segera merapikan dirinya dan pergi dengan mobilnya.
.
.
"Tok tok, boleh saya masuk?"
"Ya, masuklah" jawab cassy dari dalam ruang rawatnya.
Winter membuka pintu, ia datang membawa sebuah termos bekal.
Ia berjalan mendekat ke ranjang pasien "Anda sendirian?"
"Ya, lys baru saja pergi, bukankah anda harus berangkat kerja?"
"Waktu masuk kantor masih satu jam lebih jadi tak apa, apa anda tak suka melihat saya disini?"
"Tidak bukan begitu, saya hanya tidak ingin menyusahkan kalian semua"
"Jangan bicara seperti itu, saya hanya melakukan yang saya ingin lakukan, ehemmmm" ia merasa malu dengan apa yang baru saja dikatakannya sendiri.
Cassy tersenyum melihat ekspresinya "Apa yang anda bawa?" liriknya ke bawaan di tangan pria itu.
"Ahh, ini saya membuat bubur untuk anda tapi saya tidak yakin dengan rasanya" ucapnya malu.
"Benarkah, kebetulan saya tidak menyukai masakan rumah sakit" ia melihat winter membuka kotak dengan antusias.
"Kemarikan, saya akan makan sendiri"
"Biarkan saya menyuapi anda apa boleh?"
Cassy mengangguk, Winter pun menyuapinya satu sendok dan menanti respon dari rasa masakannya "Bagaimana? Apa masih bisa dimakan?"
Cassy tersenyum "Ini lezat, saya akan menghabiskannya, aaaaa" ia kembali membuka mulutnya.
Mendengar jawaban darinya membuat Winter tersenyum lega, tidak sia sia usahanya bangun dari jam empat pagi menyiapkan bubur dengan susah payah setelah melalui banyak drama dari bubur pertama yang gosong lalu keenceran, kemudian keasinan dan akhirnya panci ke empatnya lumayan berhasil, bisa dibayangkan bagaimana kondisi dapurnya, ia membuat dapurnya seperti kapal pecah.
Keen datang diwaktu yang tidak tepat, ia membuka pintu dan melihat pemandangan yang membuatnya semakin marah, disana ia melihat istrinya nampak sangat santai dan bahagia disuapi oleh pria itu dan saling menatap dengan hangat, kedua tangannya mengepal, namun itu tak menghentikan niatnya, ia terus berjalan masuk melewati pintu tanpa memberi aba aba ,Cassy dan winter menoleh ke arahnya, mereka berdua tersentak, cassy merasa seakan mereka tertangkap basah tengah berselingkuh gara gara suami kontraknya menyatakan perasaan kepadanya. "Perasaan macam apa ini" pikirnya dalam hati.
Keen melangkah mendekat "Maaf sudah mengganggu waktu menyenangkan kalian berdua" ucapnya dengan nada kesal dan menyindir.
Winter meletakkan sendok ditangannya lalu ia bangun "Apa maumu?"
Keen mengabaikannya, ia melewati Winter dan mendekat pada cassy, ia melemparkan sebuah map coklat kepadanya "sampai matipun aku tak akan pernah menyetujui perceraian ini, kembalilah padaku atau aku akan menghancurkan semua orang yang berani mengganggu, termasuk orang ini!!" ia melirik dan menunjuk ke arah winter.
Winter tersentak "Apa kau bilang???"
"Karena sikapmu yang seperti ini lah membuatku merasa sangat sesak" ucap cassy menatap tajam wajah keen.
Keen terdiam sejenak lalu menyilangkan kedua tangannya di dada, "Karena sepertinya kau akan terus keras kepala dan terus menemui laki laki ini, maka aku harus melakukan apapun agar milikku tetap berada disisiku!!" Cassy hanya mengabaikan omong kosongnya "Kalian yang diluar masuklah!!" ucapnya keras, lalu dua orang pria bertubuh kekar memakai setelan jas hitam masuk, mata cassy membelalak dan tak tahu lagi apa yang akan dilakukan olehnya.
Winter pun tersentak lagi "Apa lagi yang mau kau lakukan??!!" bentaknya kesal.
"Usir pria menyebalkan itu, dan jangan biarkan dia kembali masuk kesini barang satu langkahpun" keen menunjuk ke arah winter, ia memerintah kepada kedua bodyguard itu. ke dua pria itu segera menghampiri winter dan keduanya mencengkeram tangannya.
Mata cassy terperanjat "Berhenti!!! Apa yang sedang kau lakukan disini!!!" bentaknya kesal kepada keen.
Winter mencoba melepaskan cengkeraman para bodyguard namun ia sangat kesulitan, benar saja karena kedua bodyguard itu telah sangat terlatih dan ia pun tak berhasil melawannya, "Jika dia melawan kalian boleh menggunakan kekerasan!!" perintah keen lagi.
"Apa kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu!!!' teriak winter seraya menahan tubuhnya dari kedua pria itu yang ingin menyeretnya.
"Pergilah dengan tenang agar kau bisa keluar dari sini dengan menggunakan kedua kakimu" Cassy merasa gelisaah dan sangat bersalah kepada winter. Apalagi pria itu telah mengancam menggunakan kekerasan, ia sangat tahu bahwa pria dihadapanya akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan keinginannya.
"Keenan!!!!!" teriak winter marah. Namun ke dua pria itu berhasil mengeluarkan winter dari ruangan, lalu mereka mendorongnya hingga ia tersungkur di lantai, dan kedua bodyguard itu kembali berjaga di kedua sisi pintu. Winter tak lekas pergi dari sana, ia sangat menghawatirkan cassy kalau kalau keen akan menyakitinya, tak lama ponselnya berbunyi dan ia mengangkatnya kemudian ia bergegas pergi setelah memastikan cassy baik baik saja di dalam sana lewat selah kaca pintu.
Keen kembali menoleh ke arah cassy, namun wanita itu sama sekali tak mau melihat wajahnya "Ingatlah bahwa kau miliku! Jika aku sampai melihat laki laki itu kembali menemuimu maka saat itu juga aku akan memastikan dia akan benar benar hancur!!!"
Cassy hanya terdiam dengan raut wajah masam dan matanya berkaca kaca penuh dengan kebencian, ia seakan memendam segala kekesalannya kepada pria yang semakin serakah dan terobsesi kepada dirinya itu.
Melihat wanita itu yang sama sekali tak ingin melihat wajahnya, keen berbalik badan dan melangkahkan kakinya.
"Kau sungguh membuatku muak!!" ucap cassy menekankan kata katanya, kemudian keen terhenti sejenak dan melanjutkan kembali langkahnya,ia sama sekali tak menghiraukan wanita itu yang semakin marah dan muak kepadanya, ia keluar dan berhenti tepat di hadapan para bodyguardnya di depan pintu.
"Ingatlah apa tugas kalian disini, jika laki laki tadi berani datang kesini kalian patahkan saja kakinya" ucapnya dingin.
"Baik" jawab bodyguard serentak.
Keen berjalan melangkahkan kakinya seraya berfikir apakah tindakannya ini benar atau salah, ia terpaksa melakukan semua ini karena ia merasa tak sanggup jika sampai melihat wanita yang dicintainya itu pergi, apalagi jika ia sampai melihat dirinya bersama dengan laki laki lain, ia pasti akan merasa hidup dalam neraka.
Bersambung...............