SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 47



Shasha turun dari dalam kamarnya. Wanita itu sudah berganti pakaian nya. Pakaian yang ia kenakan berwarna hitam dengan motif batik di sekitarnya. Menggunakan pakaian dengan desain tunik dan mengenakan celana sebagai terusan pakaian yang dikenakan nya.


Alma berjalan mendekat ke arahnya. Tanpa aba-aba, sahabatnya itu langsung memeluknya dengan erat hingga beberapa menit. Setelah itu Alma menatap Shasha dengan genangan air mata yang membasahinya. "Maaf bikin kamu kesel, Sha." Ucap Alma mengingat perkataan nya yang selalu membuat Shasha darah tinggi beberapa minggu yang lalu.


Shasha membalas pelukan sahabatnya itu. Setitik air matanya lolos begitu saja dari pelupuk matanya. "Iya, Alma aku gak papa. Aku pikir kamu bakal biarin aku nikah sama orang itu begitu aja," balas Shasha. Melepaskan pelukan keduanya.


"Nggak mungkin, Sha. Sekarang jangan nangis, ya? Nanti hasil foto pre wedding nya jelek" ucap Alma meledek sahabatnya.


"Kamu cantik banget!" Puji Alma memerhatikan pakaian yang Shasha kenakan dari bawah hingga atas pakaian nya.


"Makasih."


"Udah yuk?" Perhatian keduanya teralihkan. Ghibran-pria dengan jas hitam itu menghampiri Shasha serta Alma yang sedang berdiri di tengah keramaian kediaman nya.


"Emm… Kayaknya Shasha gak bakal peluk aku lagi. Kan udah ada Bang Ghibran" Alma mengeluh. Ia memajukan bibirnya, cemberut karena sahabatnya akan lebih dekat dengan Ghibran yang statusnya adalah suami sahabatnya.


Baik Shasha maupun Ghibran terkekeh mendengar ucapan dari Alma. Tiba-tiba saja tubuh ramping Shasha dipeluk oleh Ghibran. Pria itu juga mencium sejenak pipi kanan Shasha, membuat wajah wanita itu memerah menahan malu.


"Ihh gemes… Jadi mau!" Seru Alma ketika melihat ke-uwuan yang terjadi di depan matanya.


"Boleh! Kamu mau?!" Alma menoleh. Menyipitkan pandangan nya ketika tak mengingat siapa orang yang tiba-tiba datang di antara mereka bertiga.


"Siapa?" Tanya Alma menatap sinis.


Shasha menutup mulutnya. Menahan tawa ketika melihat dua orang itu berada dalam satu bangunan yang sama. "Dia Ren, adeknya Sadam" Shasha menjelaskan. Mencoba membuat sahabatnya kembali mengingat siapa pria tersebut.


"Gue Nazriel Renaldi At-Thariq, lo lupa sama gue my sweety?"


Wajah Alma mendadak memucat. Tak percaya melihat orang itu berada di dalam kediaman sahabatnya. Secepat mungkin Alma berlari menuju taman, meninggalkan Renaldi yang sedang disambut kebahagiaan karena bisa bertemu dengan Alma.


__________


Di dalam ruang ganti, Shasha sedang menatap pantulan dirinya dari cermin. Melihat dirinya yang sudah dirias serupawan mungkin. Pintu ruangan nya terbuka. Seorang wanita mengenakan pakaian kantoran masuk ke dalam ruangan nya. Entah siapa dia, yang jelas Shasha tak mengenalinya.


Orang itu berjalan ke arah meja rias lain nya. Membereskan peralatan rias miliknya ke tempat semula. Shasha tak ambil pusing. Wanita itu memilih memainkan ponselnya, menunggu dirinya dipanggil untuk diminta ke luar.


"Kasian banget, nikahnya diem-diem kayak gak direstui keluarga," ucap wanita itu yang masih fokus pada alat rias miliknya. Shasha menghentikan kegiatan nya di ponsel. Memilih mendengarkan apa yang akan wanita itu katakan.


"Bahkan dia gak tau kalau suaminya cinta atau nggak sama dia." Sambung wanita itu.


Ia berdiri, mendorong cepat wanita yang tadi berbicara padanya. "Maksud anda berbicara seperti itu apa?!" Tanya Shasha tak suka pada wanita tadi.


"Nama gue Chia Arini, coba lo tanyain sama suami lo tentang gue. Bahkan dia lebih kenal gue dari pada sama lo. Mungkin dia terpaksa nikahin lo untuk nyelametin lo dari orang lain yang gak lo suka!" Wanita itu memperkenalkan dirinya. Membisikkan kata-kata yang mampu membuat emosi Shasha menaik.


Napas Shasha memburu. Tangan nya mengayun menanpar wanita yang membuatnya benar-benar kehilangan kesabaran nya. Wanita itu menoleh ke samping karena tamparan dari Shasha. Ia memegangi pipinya yang ditampar begitu kencang oleh Shasha. "Kurang ajar!!" Bentaknya menggema diseisi ruangan.


"Lo yang kurang ajar!! Jangan pikir hasutan dari lo mempan untuk gue!!" Bentak Shasha langsung meninggalkan ruangan tersebut. Membawa ponsel serta tas selempang yang ia kenakan.


Wanita itu tersenyum sinis. Tak lama tawa kencang wanita itu terdengar sangat kencang di dalam ruangan rias itu. "Sepertinya urusan kita belum selesai!" Ucap wanita itu berteriak. Berharap Shasha dapat mendengar suara kencangnya.


__________


20 potret sudah diambil di tempat yang berbeda-beda. Namun hanya beberapa saja hasil fotonya terlihat bagus. Tentu saja hal itu membuat fotografer kesulitan mengambil angel foto yang bagus.


Ghibran, pria itu mengajak Shasha untuk istirahat sejenak. Wajah istrinya itu terlihat sangat lelah dan gelisah. Tentu saja Ghibran khawatir. Pria itu memberikan Shasha sebotol air mineral, meminta agar wanitanya meminum air tersebut.


"Kamu kenapa?" Tanyanya penuh perhatian. Hal itu membuat hati Shasha menghangat. Rasa khawatirnya hilang begitu saja ketika melihat kepedulian Ghibran terhadapnya. Entah apa yang ia khawatirkan dari suaminya itu. Buru-buru Shasha menggeleng dan tersenyum lebar.


"Beneran? Kamu capek ya?" Rupanya Ghibran masih tak percaya. Pria itu menghapus keringat yang membasahi wajah Shasha. Membenarkan hijab yang Shasha kenakan.


Lagi, Shasha menggeleng dan tersenyum. "Aku gak papa kok. Maaf ya bikin kamu khawatir." Balas Shasha membuka suara.


Ghibran tersenyum ketika mendengar suara Shasha yang mengatakan sedang tidak apa-apa. "Kalau kamu ada masalah, langsung cerita ke aku ya? Jangan dipendam sendiri, nanti aku khawatir," Ghibran menjelaskan.


Pria itu membawa Shasha untuk kembali berdiri. Memeluk Shasha dan menempelkan keningnya di kening Shasha. Tersenyum hangat dan memejamkan matanya. Jantung mereka berdegup dengan sangat kencang. Tak dapat dipungkiri, keduanya sangat bahagia ketika mereka berdua disatukan dalam hubungan pernikahan, hubungan yang sakral, hubungan yang tidak dapat dipermainkan begitu saja.


Cekrek!


"Waw, perfect!"


Shasha dan Ghibran menoleh. Mendengar suara jepretan foto dan suara dari fotografer tersebut. Keduanya lupa kalau saat ini mereka berada di tempat umum yang bukan hanya mereka berdua yang berada di tempat itu. Si fotografer itu tersenyum puas ketika melihat hasil jepretan fotonya yang begitu memuaskan.


"Lanjutkan yang tadi, saya akan ambil foto yang kayak gitu!" Suruh sang fotografer pada Ghibran dan Shasha. Fotografer itu tak tau kalau Shasha maupun Ghibran sedang mengatur degup jantung mereka. Seperti tertangkap basah sedang mencuri, mereka malu bukan main karena lupa tempat. Akhirnya dengan gaya yang sedikit kaku, mereka berdua mengulang posisi mereka seperti tadi.


Sementara di sisi lain, seorang wanita sedang memandang ke arah Ghibran dan Shasha. Chia Arini-wanita itu memandang iri pada pasangan pengantin baru itu. Hatinya gondok melihat kemesraan yang terjadi tepat di depan matanya. Wanita itu mengenalkan tangan nya dan memukul meja yang berada di depan nya. "Gue pastikan lo sendiri yang bakal nyerahin Ghibran untuk gue!! Gue yakin itu!!" Ucap wanita itu berbicara seorang diri, namun tatapan nya tak teralihkan sedikitpun dari pasangan baru itu.